• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

CATATAN LAPANGAN 2 Metode Pengumpulan Data : Wawancara

Hari, Tanggal : Selasa, 26 November 2013

Pukul : 10.00-11.30 WIB

Lokasi : Ruang Tamu (depan ruang guru)

Sumber data : Ibu Nur Atikah Hanum, S.Pd.I

Deskripsi Data:

Wawancara dilakukan dengan Ibu Nur Atikah Hanum selaku guru Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 6 Yogyakarta. Hasil wawancara yang diperoleh antara lain sebagai berikut: Metode pembelajaran yang digunakan oleh ibu Atikah adalah dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, kelompok, dan ketika pembentukan kelompook ibu Atikah yang menentukan kelompoknya, agar siswa tidak hanya membentuk kelompok dengan teman yang sama.

Ibu Atikah membentuk kelompok dengan cara berhitung secara urut absen ataupun dengan mengurutkan sesuai dengan lokasi tempat duduk. Ibu Atikah juga selalu memberikan kesempatan bertanya kepada siswa-siswinya, karena beliau ingin menggali potensi yang dimiliki oleh seluruh siswa salah satunya dengan menggali keberanian siswa terlabih dahulu yaitu dengan cara aktif bertanya serta menjawab. Karena siswa tidak hanya dilatih untuk berani mengajukan pertanyaan akan tetapi juga dilatih untuk berani mengemukakan pendapat, baik secara individu ataupun kelompok. Beliau juga menganjurkan kepada siswanya untuk memilih duduk secara bergantian, artinya siswa tidak dianjurkan untuk duduk hanya di satu tempat saja setiap pertemuan pembelajaran, akan tetapi siswa diharpkan mau memilih tempat duduk secara acak dan tidak hanya satu tempat yang sama dalam setiap pertemuan Dalam proses pembelajaran ibu Atika selalu memberikan contoh yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Intinya beliau selalu mengaitkan matri pembelajaran dengan kehidupan nyata yang ada saat ini.karena dengan begitu siswa akan lebih mampu menguasai materi yang disampaikan dengan baik. Karena saat ini banyak anak yang belajar dengan lebih baik ketika mereka melihat secara langsung dan nyata mereka lihat.

Penanaman nilai pendidikan multikultural ibu Atikah tidak hanya memberikannya di dalam proses pembelajaran saja. Akan tetapi beliau juga memberikan pemahaman akan nilai pendidikan multikulturan di luar proses pembelajaran, seperti halnya ketika ada kegiatan yang diadakan oleh sekolah.

Kegiatan tersebut sangatlah mambatu guru dalam proses penanaman nilai pendidikan multikultural seperti kegiatan bakti sosial dan kegiatan qurban.

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, ditambah lagi itu berasal dari lingkungan kelurganya. Ketika keluarga sudah memiliki permasalahan didalamnya, dan orang tua tidak mampu mnegatasinya, maka akibatnya anaklah yang akan menjadi ikut bermasalah. Hal tersebut mengakibatkan anak memiliki kecenderungan melampiaskan kekurangannya sehingga mencari-cari perhatian di sekolah.

Ibu Atikah memberikan nilai sesuai dengan keadaan siswanya. Tidak pernah beliau membeda-bedakan siswnya. Penilaian yang diberikan kepada siswanya tidak hanya penilaian dalam bidang akademik yang dimiliki siswa, akan tetapi juga bagaimana dengan sikap dan sifat yang baik yang dimiliki oleh siswa.

seperti bagaimana keaktifan siswa ketika pembelajaran, serta keaktifan siswa yang selalu melaksanakan ibadah dengan tepat waktu, bagaimana siswa mampu bergaul dengan semua teman tanpa memilih-milih teman. Ada penilaian yang dilakukan dengan mengabsen siswa yang melaksanakan sholat, baik sholat 5 waktu ataupun sholat Dhuha.

Guru juga memberikan contoh langsung akan rasa toleransi kepada siswa-siswi dengan selalu memberikan bantuan kepada siswa yang tidak mampu. Setiap bulan guru diharuskan untuk menyisihkan gajinya agar uang tersebut dapat diberikan untuk membatu anak-anak yang kuarng mampu, sehingga mereka dapat mendapatkan keringanan dalam biaya sekolahnya. Di smping itu, setiap guru juga memiliki tanggung jawab dengan satu anak yang dianggapnya membutuhkan bantuan seperti menjadi anak asuh. Hal tersebut dilakukan oleh para guru dengan inisiatif masing-masing guru tanpa adanya paksaan dari pihak sekolah. Contoh tindakan para guru tersebut merupakan salah satu wujud dari bagaimana guru

mampu memberikan contoh yang baik dalam hal toleransi kepada siapa saja tanpa memperhatikan perbedaan yang ada di sekolah tersebut.

Ibu Atikah pernah menemui dan menghadapi siswa yang kemudian masuk Islam (Mualaf). Siswa tersebut berasal dari keluarga yang brokenhome, sehingga anak tersebut memiliki rasa sakit karena keluarganya yang sudah tidak utuh lagi dengan segala permasalahan yang ada didalamnya. Anak tersebut seakan-akan bimbang dengan apa yang iya jalani termasuk dengan agama yang dianutnya.

Mengetahui hal tersebut, bu Atikah melakukan pendekatan kepada siswa tersebut dengan cara memberikan rasa nyaman, motivasi serta melakukan pendekatan dengan memberikan nasehat dan masukan kepada siswa. lambat laun anak tersebut merasa nyaman sehingga mau bercerita mengenai masalahnya, karena siswa tersebut merasa nyaman tiba-tiba siswa tersebut mengatakan kepada ibu Atika bahwa ia ingin masuk Islam.

Interpretasi

Metode pembelajaran yang digunakan oleh ibu Atikah adalah dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, kelompok, dan ketika pembentukan kelompook ibu Atikah yang menentukan kelompoknya, disini bukan berarti tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih teman dalam kelompoknya sendiri. Akan tetapi hal ini dilakukan oleh ibu Atikah karena ibu tidak menginnginkan kalau anak hanya memilih teman kelompok yang itu-itu saja dalam artian tidak mau bergaul dengan teman yang lain.

Ibu Atikah membentuk kelompok dengan menggunakan metode berhitung, secara urut absen ataupun dengan mengurutkan sesuai dengan lokasi tempat duduk. Siswa dibentuk menjadi kelompok yang berbeda dalam setiap kali pertemuan, diharapkan siswa dapat terbiasa dengan perbedaan, karena setiap siswa memiliki karekteristik yang berbed-beda sehingga siswa dapat belajar menerima dan menghargai ciri khas yanng dimiliki oleh semua temannya.

Disetiap sesi pembelajaran Ibu Atikah memberikan kesempatan dan waktunya agar siswa mau bertanya, seandaiya tidak ada yang bertanya Ibu akan tetap memberikan sebuah doronngan dan motivasi kepada para siswanya sehingga para siswa memiliki semangat dan keberanian untuk mengemukakan pendapat. Ibu

Atikah meminta siswa untuk duduk secara bergantian, dan mau memilih tempat duduk secara acak.

beliau selalu mengaitkan matri pembelajaran dengan kehidupan nyata yang ada saat ini.karena dengan begitu siswa akan lebih mampu menguasai materi yang disampaikan dengan baik Ibu Atikah memberikan nilai sesuai dengan keadaan siswanya. Penilaian yang diberikan kepada siswanya tidak hanya penilaian dalam bidang akademik yang dimiliki siswa, akan tetapi juga bagaimana dengan sikap dan sifat yang baik, seperti bagaimana keaktifan siswa ketika pembelajaran, serta keaktifan siswa yang selalu melaksanakan ibadah dengan tepat waktu, bagaimana siswa mampu bergaul dengan semua teman tanpa memilih-milih teman. Ada penilaian yang dilakukan dengan mengabsen siswa yang melaksanakan sholat, baik sholat 5 waktu ataupun sholat dhuha. Beliau juga memberikan pemahaman nilai pendidikan multikulturan di luar proses pembelajaran. Seperti halnya ketika ada kegiatan yang diadakan oleh sekolah.

Kegiatan tersebut sangatlah mambantu guru dalam proses penanaman nilai pendidikan multikultural seperti kegiatan bakti sosial dan kegiatan qurban.

Guru juga memberikan contoh langsung akan rasa toleransi kepada siswa-siswi dengan selalu memberikan bantuan kepada siswa yang tidak mampu, dengan cara menyisihkan gajinya untuk siswa yang tidak dapat membayar sekolah. Ibu atikah juga pernah menemui anak yang berubah menjadi mualaf, awalnya anak tersebut memiliki masalah dengan keluarganya akan tetapi setelah diadakan pendekatan anak tersebut berubah menjadi baik dan bahkan justru berubah menjadi mualaf.

CATATAN LAPANGAN 3

Dokumen terkait