• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

2. Cd-tersedia Tanah

Hasil sidik ragam pada Lampiran 6.1 memperlihatkan bahwa pemberian beberapa sumber P (pupuk) berpengaruh nyata terhadap Cd-tersedia tanah, waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap Cd-tersedia tanah tetapi interaksi beberapa sumber P dengan waktu inkubasi berpengaruh tidak nyata terhadap Cd-tersedia tanah. Pengaruh interaksi pemberian beberapa sumber P terhadap waktu inkubasi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Pengaruh Pemberian Beberapa Sumber P, Waktu Inkubasi, dan Interaksi Sumber P dan Waktu Inkubasi Terhadap Cd-tersedia Tanah (ppm). Waktu

Inkubasi (hari)

Sumber P (Pupuk)

Rataan

SP-36 RP Kompos Kotoran kerbau

--- ppm --- 0 26.94 13.72 34.61 31.90 26.79 AB 5 17.41 19.76 12.75 15.52 16.36 B 10 14.81 19.78 23.58 23.33 20.37 B 15 20.80 27.62 15.37 24.60 22.10 B 20 30.14 52.50 34.39 34.09 37.78 A 25 16.73 44.68 17.54 16.33 23.82 B 30 11.50 33.76 24.05 10.72 20.01 B Rataan 19.76 b 30.26 a 23.19 ab 22.35 ab

Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf sama berarti berbeda tidak nyata (5% dan 1%) menurut uji DMRT.

Dari Tabel 2 diketahui bahwa nilai Cd-tersedia tanah yang terendah pada perlakuan sumber P yaitu perlakuan SP-36 (P1) dengan rataan sebesar 19,76 ppm. Hal ini berbeda tidak nyata dengan perlakuan kotoran kerbau (P4) dan kompos (P3). Sementara nilai Cd-tersedia tanah yang tertinggi adalah perlakuan Rock Phosphate (P2) dengan rataan sebesar 30,26 ppm.

Nilai Cd-tersedia yang terendah dari perlakuan waktu inkubasi yaitu pada perlakuan inkubasi 5 hari (T2) dengan rataan sebesar 16,36 ppm. Sementara yang tertinggi adalah perlakuan 20 hari (T5) dengan rataan sebesar 37,78 ppm. Hal ini berbeda tidak nyata dengan perlakuan dan 0 hari (T1) dengan rataan sebesar 26,79 ppm dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan lainnya. Pengaruh pemberian beberapa sumber P dan waktu inkubasi terhadap Cd-tersedia tanah dapat dilihat pada gambar berikut:

0 5 10 15 20 25 30 35 40 0 5 10 15 20 25 30

Waktu Inkubasi (hari)

C d -t ers ed ia (p p m ) (a) (b)

Gambar 2. (a) Pemberian Beberapa Sumber P Terhadap Cd-tersedia Tanah dan (b) Waktu Inkubasi Terhadap Cd-tersedia Tanah.

Dari Gambar 2a dapat dilihat bahwa perlakuan Rock Phosphate menyediakan Cd sangat tinggi lalu diikuti dengan perlakuan kompos dan kotoran kerbau, sementara perlakuan SP-36 merupakan perlakuan terbaik dengan Cd-tersedia terendah. Dari Gambar 2b terlihat bahwa perlakuan inkubasi 20 hari merupakan perlakuan dengan Cd-tersedia tertinggi dari perlakuan lainnya. Perlakuan inkubasi 0 hari merupakan perlakuan tertinggi kedua dengan perubahan

Cd-tersedia meningkat lagi sampai pada waktu inkubasi 20 hari kemudian menurun pada inkubasi 25 hari dan 30 hari. Perlakuan inkubasi 5 hari merupakan perlakuan terbaik dengan Cd-tersedia terendah. Pengaruh waktu inkubasi mengakibatkan meningkatnya Cd-tersedia tanah,

3. pH Tanah H2O.

Dari hasil sidik ragam pada Lampiran 7.1 memperlihatkan bahwa pemberian beberapa sumber P (Pupuk) berpengaruh sangat nyata begitu juga dengan waktu inkubasi yang berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan pH tanah. Interaksi beberapa sumber P (Pupuk) dan waktu inkubasi juga berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan pH tanah. Pengaruh interaksi pemberian beberapa sumber P (Pupuk) terhadap waktu inkubasi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh Pemberian Beberapa Sumber P, dan Interaksi Sumber P dan Waktu Inkubasi Terhadap pH Tanah.

Waktu Inkubasi (hari) Sumber P (Pupuk) Rataan SP-36 RP Kompos Kotoran kerbau --- ppm ---

0 5.23 HIJK 5.35 EFGH 5.48 BCDE 5.38 CDEFG 5.36 AB 5 5.24 GHIJK 5.38 CDEFG 5.52 B 5.30 FGHIJ 5.36 AB 10 5.28 GHIJ 5.46 BCDE 5.51 BC 5.36 DEFGH 5.40 A 15 5.32 FGHI 5.30 FGHIJ 5.65 A 5.38 CDEFG 5.41 A 20 5.24 GHIJK 5.12 KL 5.54 AB 5.28 GHIJ 5.30 BC 25 5.17 IJK 5.16 JKL 5.49 BCD 5.27 GHIJ 5.27 C 30 5.02 LM 4.92 M 5.43 BCDEF 5.23 HIJK 5.15 D Rataan 5.21 C 5.24 C 5.52 A 5.32 B

Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf sama berarti berbeda tidak nyata (1%) menurut uji DMRT

Dari Tabel 3 diketahui bahwa nilai pH tanah yang tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos (P3) dengan waktu inkubasi 15 hari (T4) dengan rataan sebesar 5.65. Hal ini berbeda tidak nyata dengan perlakuan kompos yang diinkubasikan 20 hari (T5) dan berbeda nyata dengan perlakuan kombinasi lainnya. Sementara pH tanah yang terendah adalah perlakuan Rock Phosphate (P2) dengan waktu inkubasi 30 hari dan berbeda tidak nyata dengan pelakuan

SP-36 (P1) pada inkubasi 30 hari juga, dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

Pembahasan.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada perlakuan interaksi pemberian beberapa sumber P dan waktu inkubasi menghasilkan:

o P-tersedia tanah tertinggi yaitu pada inkubasi 30 hari dari perlakuan kotoran kerbau, dan hal ini berbeda tidak nyata dengan inkubasi 20 hari perlakuan kotoran kerbau. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Pasaribu (2008) yang mengungkapkan bahwa pada tanah Andisol P-tersedia tinggi menjadi 2 kali, yaitu pada hari ke-10 dan 20.

Perlakuan yang terendah yaitu perlakuan kompos disemua waktu inkubasi. Kotoran kerbau dan kompos keduanya merupakan pupuk organik dengan kandungan P2O5 yang sama (Lampiran 2), perbedaan P-tersedia ini diduga disebabkan oleh bahan tanah yang digunakan mengandung P-organik yang tinggi. Seperti yang kita ketahui bahwa kandungan mikrobia kotoran kerbau lebih banyak dari kompos, dimana mikrobia mampu mengubah P-organik menjadi P-anorganik sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Rosmarkam dan Yuwono (2002) yang menyatakan bahwa pupuk kandang secara kualitatif relatif lebih kaya mikrobia dibandingkan limbah pertanian. Fosfat dengan mudah diubah atau didekomposisi oleh mikrobia, kemampuan mikrobia melakukan hidrolisis senyawa itu dengan mengeluarkan enzim sehingga P lepas sebagai P-anorganik yang dilepaskan ke dalam larutan tanah. P-anorganik yang baru saja lepas ini sering diserap

mikrobia mati, P-organik (jaringan mikrobia) akan lepas lagi sebagai P-anorganik.

o pH tanah tertinggi diperoleh pada inkubasi 15 hari dari perlakuan kompos, dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan kompos pada inkubasi 20 hari. Dari semuanya, perlakuan kompos yang memiliki pH tanah tertinggi dengan perubahan yang berbeda tidak nyata hampir disemua waktu inkubasi, dan yang terendah perlakuan Rock Phosphat 20 hari inkubasi. Pemberian beberapa sumber P memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pH H2O terutama pupuk P seperti yang diungkapkan Young, dkk (1997) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh nyata dari perbedaan pH dari berbagai sumber pupuk fosfat. Akan tetapi, pengaruh-pengaruh ini hanya menyangkut sebagian kecil dari volume tanah total, bersifat sementara, dan tidak mempunyai suatu pengaruh yang besar terhadap pH tanah keseluruhan.

Dari hasil penelitian perlakuan pemberian beberapa sumber P diketahui bahwa nilai Cd-tersedia tanah yang terendah yaitu pada perlakuan SP-36 dengan rataan sebesar 19,76 ppm. Hal ini berbeda tidak nyata dengan perlakuan kotoran kerbau dan kompos. Sementara nilai Cd-tersedia tanah yang tertinggi adalah perlakuan Rock Phosphate dengan rataan sebesar 30,26 ppm. Dari hasil analisis awal (Lampiran 2) diketahui bahwa kandungan total logam berat Cd yang terbesar yaitu pada kandungan Rock Phosphate, hal ini diduga yang menyebabkan kandungan logam Cd tersebut tinggi.

Dari hasil penelitian perlakuan waktu inkubasi diketahui bahwa nilai Cd-tersedia yang terendah yaitu pada perlakuan inkubasi 5 hari sebesar 16.36 ppm, perlakuan ini merupakan perlakuan yang terbaik karena kadar Cd-tersedia

di dalam tanah lebih rendah dari perlakuan lainnya. Sementara yang tertinggi adalah perlakuan 20 hari sebesar 37.78 ppm. Peningkatan Cd-tersedia hari ke 20 inkubasi ini merupakan puncak tertinggi, setelah itu Cd mengalami penurunan. Akan tetapi nilai logam berat Cd tersedia ini tergolong tinggi dan dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat seperti yang diteliti oleh Syafrizal (1993) yang menyatakan bahwa logam berat Cd sangat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Pemberian Cd dengan dosis mulai 0,2 mg Cd/kg tanah sudah menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Jika kandungan logam berat Cd terserap tanaman dan masuk ke dalam tubuh manusia dan terakumulasi dalam jumlah yang banyak maka akan berbahaya bagi kesehatan manusia karena dapat menyebabkan berbagai penyakit, oleh karena itu ada baiknya untuk mencari cara mengatasi kelebihan dari logam berat ini.

Dari hasil analisis data dengan menggunakan uji korelasi yang dapat dilihat pada Tabel 4 diketahui bahwa antara parameter yang diuji tidak berkorelasi satu sama lain.

Tabel 4. Uji Korelasi Moment Pearson antara P-tersedia, Cd-tersedia, dan pH Tanah (N=28).

P-tersedia (ppm) Cd-tersedia (ppm) pH Tanah P-tersedia (ppm) 1

Cd-tersedia (ppm) - 0.141 1

pH Tanah - 0.321 - 0.218 1

Nilai negatif mengindikasikan pola hubungan yang tidak searah, artinya tidak terdapat hubungan antara parameter yang diuji, sementara nilai positif

mengindikasikan pola hubungan yang searah artinya terdapat hubungan antara parameter yang diuji.

Dari hasil penelitian ini menurut penulis pelakuan yang terbaik untuk bahan tanah Andisol lahan hutan desa Kuta Rakyat kecamatan Namanteran kabupaten Karo adalah perlakuan dengan menggunakan SP-36 karena dengan jumlah pemberian yang paling rendah dari semua perlakuan dapat menyediakan P dalam jumlah yang cukup tinggi, memiliki nilai Cd-tersedia yang paling rendah dari semua perlakuan, dan nilai pH yang tidak jauh berbeda dengan nilai pH awal tanah. Akan tetapi kemungkinan jauh lebih baik jika perlakuan SP-36 ini dikombinasikan dengan pupuk kandang sepeti kotoran kerbau, tetapi hal ini perlu dilakukan penelitian untuk memastikannya.

Dokumen terkait