• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

3. Cerita rakyat “Sendang Senjaya”

a. Analisis Struktur Cerita Rakyat “Sendang Senjaya”

Analisis struktur cerita rakyat “Sendang Senjaya” terdiri dari tema, alur, latar dan penokohan.

1) Tema yang terdapat dalam cerita rakyat ini adalah tema sosial. 2) Alur yang terdapat dalam cerita rakyat ini berupa alur campuran. 3) Latar tempat yang terdapat dalam cerita rakyat “Sendang Senjaya” di

antaranya Sendang Senjaya, Pengging, Tingkir, Sela, Hutan Renceh, Gunung Prawoto Demak Bintoro, Pajang, Kudus, Jipang, Sungai Kedung Srengenge, Sungai Caket, Gunung Danarejo, Mataram Islam, dan Pati. Latar Latar waktu yang ada dalam cerita rakyat “Sendang Senjaya” kurang detail. Latar waktu dapat diketahui berdasarkan masa pemerintahan Sultan Trenggana (kerajaan Demak Bintoro) yaitu tahun 1521-1246, dan kerajaan Pajang dengan raja Sultan Adiwijaya tahun 1546-1582. Latar sosial yang terdapat dalam cerita rakyat ini di antaranya hubungan kekeluargaan atau persaudaraan, hubungan atasan dengan bawahan, hubungan persahabatan dan hubungan guru dengan murid.

4) Tokoh dan penokohan yang terdapat dalam cerita rakyat dibedakan atas berdasarkan peranannya dalam cerita (tokoh utama dan tambahan), berdasarkan fungsi penampilan (tokoh protagonis dan antagonis) serta berdasarkan jenisnya (bulat dan pipih). Raden Sanjaya termasuk tokoh tambahan, protagonis dan bulat. Karebet termasuk tokoh utama, protagonis dan tokoh bulat. Ki Kebo Kenanga termasuk tokoh tambahan, antagonis dan tokoh bulat. Nyai Ageng Tingkir termasuk tokoh tambahan, tokoh protagonis dan tokoh bulat. Ki Ageng Selo termasuk tokoh tambahan, protagonis dan bulat. Sunan Kalijaga termasuk tokoh tambahan, protagonis dan tokoh pipih. Sultan Tranggana termasuk toko tambahan, protagonis dan tokoh pipih. Ki Pemanahan termasuk tokoh tambahan, protagonis dan tokoh bulat. Ki Juru Martani termasuk tokoh tambahan, protagonis dan bulat. Ki Panjawi termasuk tokoh tambahan, protagonis dan tokoh bulat. Dadung Ngawuk termasuk

tokoh tambahan, antagonis dan pipih. Sunan Prawoto termasuk tokoh tambahan, protagonis dan tokoh bulat. Arya Penangsang termasuk tokoh tambahan, antagonis dan tokoh pipih. Sutawijaya termasuk tokoh tambahan, antagonis dan bulat. Tukang rumput termasuk tokoh tambahan, antagonis dan tokoh pipih. Sunan Kudus termasuk tokoh tambahan, antagonis dan tokoh bulat. Ratu Kalinyamat termasuk tokoh tambahan, protagonis dan tokoh bulat.

b. Nilai Pendidikan Cerita Rakyat “Sendang Senjaya”

Nilai didik dalam cerita rakyat ini terdiri dari nilai religius, nilai sosial, nilai moral dan nilai budaya. Berikut simpulannya.

1) Nilai religius yang terdapat dalam cerita rakyat ini terlihat dari tokoh-tokohnya yang senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan dan mengakui kuasa Tuhan.

2) Nilai sosial cerita rakyat ini dapat dilihat dari tokoh utamanya yang memperhatikan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. 3) Nilai moral yang terdapat di cerita rakyat ini dapat dilihat dari sopan

santun, etika kepada orang yang lebih tua, serta menepati janji. 4) Nilai budaya yang terdapat dalam cerita rakyat ini yaitu budaya

kesederhanaan, menginap di tempat orang yang meninggal selama tujuh hari, bertapa, dan pertunjukan wayang.

4. Peran Pemerintah Setempat terhadap Perawatan Cerita Rakyat ”Asal-usul Kota Salatiga”, ”Rawa Pening”, dan ”Sendang Senjaya”

a. Pemerintah Kota Salatiga lewat Dinas Periwisata Kota Salatiga telah mendokumentasikan cerita rakyat “Asal-usul Kota Salatiga”, namun belum disebarkan ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.

b. Pemerintah Kabupaten Semarang telah mendokumentasikan cerita rakyat “Rawa Pening” dan akan disebarkan ke sekolah-sekolah, namun belum selesai.

c. Pemerintah Kabupaten Semarang belum mendokumentasikan cerita rakyat “Sendang Senjaya”, baru perawatan sebagai salah satu aset wisata air.

B. Implikasi

Cerita rakyat merupakan bagian dari sastra lisan yang berkembang secara turun temurun dari mulut ke mulut. Cerita rakyat menjadi bagian kebudayaan bangsa yang masih berkembang hingga saat ini. Melalui kajian tentang cerita rakyat, berarti membantu perkembangan kebudayaan bangsa. Kebudayaan tersebut mencakup banyak hal yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang mempunyai nilai-nilai adiluhung serta berguna bagi kemajuan bangsa.

Cerita rakyat dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, bahkan cerita rakyat dimasukkan dalam kurikulum kelas VII-IX SMP, X dan XI SMA. Tema yang terdapat pada cerita rakyat “Rawa Pening” dapat digunakan di kelas VII-IX SMP. Hal ini karena tema serta unsur-unsur intrinsik lainnya sesuai dengan perkembangan sosial siswa tersebut. Selain itu, cerita ini juga bisa digunakan kelas X dan XI SMA. Tema yang terdapat pada cerita rakyat “Asal-usul Kota Salatiga” dapat digunakan di kelas VII-IX SMP, X dan XI SMA. Hal ini karena cerita ini mudah dicerna dan mengajarkan untuk tunduk dan patuh pada Tuhan. Cerita rakyat “Sendang Senjaya” juga dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia kelas VII-IX SMP, X dan XI SMA. Hal ini karena tema tersebut mengajarkan tentang kekuasaan serta politik yang dapat digunakan siswa untuk perkembangan kedewasaannya. Selain di tingkat SMP dan SMA, cerita rakyat ini juga dapat diterapkan di perguruan tinggi. Hal ini karena tema-tema dan nilai didik yang diajarkan baik untuk perkembangan kedewasaan mahasiswa.

Dalam proses pembelajaran guru biasanya menggunakan beberapa metode, misalnya dalam diskusi, menjawab pertanyaan secara langsung, membawakan cerita rakyat di depan kelas, atau membawakannya dalam pementasan drama. Pada diskusi, guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok. Kemudian menyuruh siswa melakukan observasi tentang cerita rakyat di wilayah masing-masing. Hasil observasi tersebut, dianalisis unsur-unsur intrinsik dan nilai pendidikannya. Setelah itu, siswa memprensentasikan di depan kelas. Sementara itu, siswa yang lain menanggapi, bisa berupa kritik, saran maupun pertanyaan. Guru di sini sebagai fasilitator. Guru bertugas menjelaskan dan membuat kesimpulan bersama siswa tentang unsur-unsur intrinsik cerita rakyat serta nilai pendidikannya. Dalam menjawab secara langsung, guru membagikan cerita rakyat kepada siswa, kemudian menyuruh mereka mencari unsur-unsur intrinsik dan nilai pendidikannya. Dalam membawakan di depan kelas, guru menyuruh siswa membacakannya dengan intonasi dan artikulasi yang jelas. Dalam pementasan drama, guru menyuruh siswa mengubah cerita rakyat ke dalam teks drama dan membawakannya di depan kelas secara berkelompok, dan yang lain menanggapinya.

Selain dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, cerita rakyat juga mempunyai peranan untuk membentuk mental atau kepribadian siswa. Siswa mengkaji unsur-unsur intrinsik dan nilai pendidikannya, berarti mereka telah mengkaji nilai-nilai yang dapat dicontoh. Nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupannya. Berdasarkan hal tersebut, siswa juga ikut melestarikan budaya bangsa serta mengapresiasi karya sastra.

Cerita rakyat juga dapat diimplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat dapat mencontoh hal-hal yang baik serta tidak mencontoh perbuatan yang buruk. Oleh karena itu, mereka dapat

menerapkannya dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun hubungannya dengan Tuhan serta mahluk yang lain.

C. Saran

Berdasarkan pembahasan di atas, maka peneliti memberi saran sebagai berikut.

1. Cerita rakyat hendaknya dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, karena hal ini sebagai bentuk apresiasi terhadap karya sastra, membentuk mental atau kepribadian siswa, dan pengembangan budaya bangsa.

2. Pemerintah setempat hendaknya lebih memperhatikan cerita rakyat dengan cara mendokumentasikan cerita rakyat tersebut, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

3. Cerita rakyat di kota Salatiga dan sekitarnya jumlahnya sangat banyak. Oleh karena itu, peneliti sarankan kepada peneliti yang tertarik untuk meneliti cerita rakyat yang belum peneliti kaji, karena hal ini sebagai sarana untuk mengembangkan budaya bangsa yang kaya akan nilai-nilai pendidikannya. 4. Masyarakat hendaknya juga membantu mengembangkan cerita rakyat

dengan cara tetap melestarikannya secara turun menurun kepada anak cucunya, sehingga budaya bangsa tidak akan luntur dan mengambil hikmah dari cerita rakyat tersebut.