B. Kajian Teoritis
4. Daya Cerna
Daya cerna dapat diartikan sebagai jumlah zat makanan dari suatu bahan pakan yang diserap dalam traktus gastrointestilis. Hal tersebut menyankut proses pencernaan yaitu hidrolisa untuk membebaskan zat-zat makanan dalam suatu bentuk tertentu sehingga dapat diserap usus. Daya cerna dapat ditentukan dengan mengukur secara teliti bahan pakan yang dikomsumsi dan feses yang dikeluarkan. Dari pengukuran yang didukung dengan analisis kimiawi zat makanan, maka dapat dihitung daya cernanya (Muchhtadi, 2000).
Pengukuran kecernaan atau nilai cerna suatu bahan pakan adalah usaha menentukan jumlah nutrien dari suatu bahan pakan yang didegradasi dan diserap dalam saluran pencernaan. Daya cerna juga merupakan presentasi nutrisi yang diserap dalam saluran pencernaan yang hasilnya akan diketahui dengan melihat selisih antara jumlah nutrisi yang dimakan dan jumlah nutrien yang dikeluarkan dalam feses. Nutrisi yang tidak terdapat dalam feses inilah yang diasumsikan sebagai nilai yang dicerna dan diserap (Suhardjo dan Kusharto, 2001).
Feses ayam merupakan salah satu sumber pencemaran antara lain udara, tanah dan pencemaran badan air serta polusi bau dan meningkatkan perkembangan lalat atau nyamuk. Walaupun demikian, feses ayam dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan unggas setelah mengalami pengolahan (Jamila, 2008).
Upaya peningkatan pemenuhan nutrient unggas dapat dilakukan melalui pembuatan pakan yang berasal dari kotoran ternak khususnya feses ayam sekaligus sebagai salah satu usaha untuk meminimalisasi limbah ternak. Penggunaan feses ayam sebagai pakan dapat mengurangi biaya pemeliharaan ternak unggas karena tidak perlu dibeli dan biaya pengolahannya tidak mahal. Biaya pakan mencapai 60 –80 % dari biaya pemeliharaan ternak unggas (Jamila, 2008).
Salah satu teknologi yang dapat membantu dalam meningkatkan kualitas feses ayam adalah melakukan fermentasi dengan penambahan bakteri
Lactobacillus sp. Proses fermentasi dapat meningkatkan kandungan protein kasar feses ayam tapi tidak berpengaruh nyata pada kandungan serat kasar feses ayam tersebut (Jamila, 2008). Kandungan lemak kasar, BETN, calsium dan phospor sangat berpengaruh terhadap kualitas nutrisi dari bahan pakan. Hasil penelitian Mercedes (2008) menyatakan bahwa penambahan Lactobacillus sp sebanyak 0.2% kedalam ransum broiler dapat meningkatkan secara signifikan pertambahan berat badan dan konversi pakan dari ayam broiler, oleh karena itu perlu diteliti apakah fermentasi feses ayam dengan campuran bakteri Lactobacillus sp akan
berpengaruh terhadap kandungan lemak kasar, BETN, kalsium dan phospor pada bahan pakan khususnya feses ayam.
Untuk menentukan kecernaan suatu pakan maka harus diketahui jumlah nutrien yang terdapat di dalam pakan dan jumlah nutrien yang dicerna. Jumlah nutrien yang terdapat di dalam pakan dapat dicari dengan analisis kimia, sedang jumlah nutrien yang dicerna dapat dicari bila pakan telah mengalami proses pencernaan. Untuk mengetahuinya, terlebih dahulu dilakukan analisis secara biologis yang kemudian diikuti dengan analisis kimia untuk mengetahui nutrien yang terdapat di dalam feses. Diketahuinya jumlah nutrisi di dalam pakan dan jumlah nutrisi di dalam feses maka dapat diketahui jumlah nutrisi tercerna dari pakan tersebut (Suhardjo dan Kusharto, 2001).
Potensi suatu bahan pakan dalam menyediakan zat makanan bagi ternak dapat ditentukan melalui analisis kimia. Namun, sayangnya potensi bahan pakan tersebut tidak semuanya dapat dimanfaatkan, karena nilai sesungguhnya bahan pakan dicerminkan dari bagian yang hilang setelah melalui proses pencernaan, penyerapan dan metabolisme. Oleh karenanya bagian bahan pakan maupun zat makanan yang hilang setelah pencernaan urgen sifatnya untuk diketahui.
Bagian yang hilang dapat ditentukan secara langsung yaitu kehilangan secara langsung yaitu kehilangan karena pencernaan(Digestion).Istilah kecernaan atau daya cerna (Digestibility) didefinisikan sebagai bagian zat makanan dari bahan pakan yang tidak diekskresikan dalam feses atau dengan asumsi bahwa zat makanan yang terdapat dalam feses adalah habis dicerna dan diserap. Kecernaan pakan adalah peubah fisik dan kimiawi yang dialami bahan pakan didalam alat
pencernaan. Kecernaan pakan merupakan jumlah pakan yang diabsorbsi oleh saluran pencernaan dan tidak diekskresikan didalam feses (Donald, 2002).
Kecernaan ada dua macam, yaitu kecernaan sesungguhnya (True digestibility) dan kecernaan semu (Apparent digestibility). Kecernaan sesungguhnya memperhitungkan material bukan bahan pakan yang ada di dalam feses seperti mukosa usus, enzim dan bakteri. Sedangkan kecernaan semu menganggap semua nutrisi yang ada di dalam feses berasal dari bahan pakan yang tidak tercerna (Abun, 2007).
Kecernaan ransum dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menilai suatu bahan ransum (Abun, 2007). Kecernaan ransum dipengaruhi oleh jenis ternak, jenis bahan ransum, jumlah ransum dan kandungan nutrisi (Lubis, 1992). Faktor lain yang mempengaruhi kecernaan adalah suhu, laju perjalanan ransum melalui pencernaan, bentuk fisik dari bahan ransum dan komposisi ransumnya (Anggorodi, 1990).
Potensi suatu bahan pakan dalam menyediakan zat makanan bagi ternak dapat ditentukan melalui analisis kimia. Namun, sayangnya potensi bahan pakan tersebut tidak semuanya dapat dimanfaatkan, karena nilai sesungguhnya bahan pakan dicerminkan dari bagian yang hilang setelah melalui proses pencernaan, penyerapan dan metabolisme. Oleh karenanya bagian bahan pakan maupun zat makanan yang hilang setelah pencernaan urgen sifatnya untuk diketahui proses pencernaannya (Muchtadi, 2000).
Bagian yang hilang dapat ditentukan secara langsung yaitu kehilangan secara langsung yaitu kehilangan karena pencernaan(Digestion).Istilah kecernaan
atau daya cena (Digestibility) didefinisikan sebagai bagian zat makanan dari bahan pakan yang tidak dieksresikan dalam feses atau dengan asumsi bahwa zat makanan yang terdapat dalam feses adalah habis dicerna adan diserap (Wahyu, 2002).
Menurut Williamson (1993), yang menyatakan bahwa pengukuran kecernaan dapat dilakukan secara In vitro dan In vivo. Pengukuran kecernaan secara In vitro dilakukan dengan membuat suasana seperti yang terjadi dalam saluran pencernaan ternak di laboratorium. Pengukuran secara In vivo terdiri dari 2 periode yaitu periode pendahuluan dan periode total koleksi. Periode pendahuluan digunakan untuk membiasakan ternak dengan ransum perlakuan dan kondisi lingkungan yang baru serta menghilangkan sisa ransum waktu sebelumnya. Periode total koleksi adalah periode pengumpulan ekskreta sampai akhir percobaan yang kemudian dikeringkan dan dianalisis (Tillman, 2001).
Jalur pengeluaran feses dan urin pada unggas menjadi satu sehingga koleksi feses dan urin dilakukan secara bersamaan sebagai koleksi ekskreta. Pengukuran kecernaan pada unggas dapat ditambahkan suatu indikator ke dalam ransum. Metode indikator merupakan pengukuran kecernaan dengan menggunakan senyawa yang tidak dapat dicerna oleh saluran pencernaan unggas seperti krom oksida, methyline blue, karmine dan barium sulfat yang ditambah ke dalam ransum (Wahju, 2004).
Pengukuran kecernaan pada ternak secara langsung tidak akan terlepas dari konsumsi pakan itu sendiri. Secara lansung kecernaan bahan pakan
tergantung pada kondisi fisiologis ternak yang sangat ditentukan oleh ketersediaan dan kemampuan ternak untuk mengkonsumsi pakan (Wahyu, 2002).
Menurut Donald (2002), menyatakan bahwa tinggi rendahnya kecernaan bahan pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis ternak, macam bahan pakan dalam ransum, kandungan protein kasar, level pemberian ransum dan cara penyediaan ransum. Hal ini menunjukkan bahwa penyedian ransum pada ternak broiler pada penelitian tersebut itu dalam bentuk mesh sehingga pakan tersebut tidak menyatu semua dan pada saat ternak mematuk makanannya itu hanya sebagian bahan pakan yang dikomsumsi dan menyebabkan tingkat palatabilitas broiler yang rendah sehingga menyebabkan pertumbuhan yang kurang optimal. Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan pakan tersebut yang dicerminkan oleh sifat organoleptik, seperti kenampakan, bau, rasa dan tekstur.
Menurut Tilman dkk (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi daya cerna makanan adalah:
a. Komposisi makanan, daya cena makanan berhubungan erat dengan komposisi kimiawi, salah satunya serat kasar yang mempunyai pengaruh yang terbesar. Penambahan serat kasar dalam bahan pakan dapat menurunkan daya cerna.
b. Keseimbangan protein, jika imbangan protein dalam pakan menurun akan menyebabkan bahan makanan cepat melewati saluran pencernaan, sehingga menyebabkan turunnya daya cerna dari bahan pakan tersebut.
c. Perlakuan terhadap pakan, misalnya pemotongan, penggilingan dan pemanasan mempengaruhi daya cerna. Bahan yang digiling untuk pakan unggas memberikan permukaan yang lebih luas terhadap getah pencernaan, sehingga dapat mempengaruhi daya cerna pakan.
d. Jenis hewan, bahan pakan yang rendah serat kasarnya dapat dicerna dengan baik oleh hewan non-ruminansia dan hewan ruminansia. Tetapi bahan pakan yang tinggi serat kasarnya dicerna lebih baik oleh hewan ruminansia, dibandingan dengan hewan non-ruminansia.
e. Jumlah makanan, penambahan jumlah makanan yang dimakan mempercepat arus makanan dalam usus, sehingga mempengaruhi daya cerna.
Jumlah air dalam tembolok juga mempengaruhi bergeraknya makanan dan daya cerna pakan. Pada keadaan kekurangan air, akan terjadi penurunan kecepatan pencernaan disebabkan makanan yang yang berada di tembolok akan mengalami penurunan kecepatan untuk mencapai usus halus (Wahyu, 2002).
5. Antibiotik
Antibiotik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari anti, lawan, bios, hidup adalah zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup secara sintesis kimia dengan konsentrasi rendah mempunyai kemampuan menghambat bahkan membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik juga mengalami proses penyerapan dalam saluran pencernaan (Cheeke, 2003).
Antibiotik membantu sistem pencernaan dengan cara membunuh mikroba patogen dalam saluran pencernaan ataupun di tempat sel mukosa usus, akibatnya
mikroorganisme tersebut mati dan luruh dari sel mukosa usus. Konsekuensinya, tempat sel mukosa usus menjadi semakin terbuka (Cheeke, 2003).
Tempat utama aktivitas antibiotik adalah dalam bagian Gastrointestinal. Beberapa macam antibiotik yang dapat dicampurkan ke dalam ransum antara lain Bacitracin, Colistin, Oxytetracycline, Kitasamycin dan Spiramycin. Antibiotik umumnya digunakan sebagai pengobatan terhadap infeksi bakteri, namun demikian penggunaan antibiotik dalam dosis rendah dapat menimbulkan pengaruh pemacu pertumbuhan (Growth promotor). Antibiotik dengan dosis rendah juga digunakan untuk meningkatkan performa dan kesehatan saluran pencernaan misalnya Bambermycin atau Flavophospholipol, sedangkan antibiotik dengan konsentrasi tinggi digunakan untuk pengobatan suatu penyakit atau beberapa penyakit (Bolder, 1999).
Antibiotik dipakai secara luas dalam industri peternakan dengan tujuan untuk pengobatan, tujuan lain pemakaian antibiotika adalah sebagal imbuhan pakan sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ternak. Mekanisme kerja atau fungsi dari imbuhan pakan sangat bermacam macam, antara lain sebagai pengawet, obat cacing, anti koksidia, antijamur, meningkatkan Palatabilitas,
memperbaiki sistem pencernaan. Intinya pemberian imbuhan pakan mempunyai tujuan meningkatkan efisiensi dalam beternak, dengan cara mempercepat kenaikan bobot badan atau meningkatkan produksiternak sehingga biaya pemeliharaan dapat ditekandan keuntungan dapat diperoleh secara maksimal. Industri peternakan broiler saat ini senantiasa meningkatkan mutu produksinya dengan mengadopsi ilmu dan teknologi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa 80% penggunaan antibiotik pada ternak unggas. Industri broiler umumnya menggunakan Feed additive berupa antibiotika dengan tujuan meningkatkan produktivitas produk mereka, sehingga produk-produk tersebut terjamin terhindar dari residu yang terdapat dalam pakan yang dimana antibiotik bekerja dalam pencernaan (Bahri, 2005).
Menurut Siswandono dan Soekardjo (2002), cara kerja antibiotik adalah sebagai berikut:
a. Menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi toksin diantaranya menghalangi atau membunuh mikroorganisme yang menimbulkan infeksi subklinis dan yang bersaing dengan induk semang dalam menyediakan nutrisi.
b. Meningkatkan kapasitas daya serap usus, hal tersebut berdasarkan pada pengamatan bahwa pemberian antibiotik menyebabkan dinding usus menjadi tipis sehingga daya serap usus akan zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh semakin meningkat.
Adapun salah satu antibiotik yang baik untuk broiler yaituZink bacitracin
yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri (Parks, 2001). Menurut Parks (2001), juga menyatakan bahwa penggunaan Zink bacitracin dapat meningkatkan bobot badan kalkun umur 12 minggu. Penggunaan Zink bacitracin sebagai Feed additive dapat mengurangi terjadinya peningkatan bakteri patogen dalam saluran pencernaan pada ayam broiler, sehingga dapat membantu proses pertumbuhan pada broiler selama proses pemeliharaan
35 hari. Hal tersebut dipengaruhi juga oleh mekanisme kerja atau fungsi dari imbuhan pakan sangat bermacam macam, antara lain sebagai pengawet, obat cacing, anti koksidia, antijamur, meningkatkan palatabilitas, memperbaikisistem pencernaan.
Menurut Leeson (2001), yang menyatakan bahwa penggunaan antibiotik memiliki efek antara lain:
a. Antibiotik dapat mencegah penyakit terutama dalam saluran pencernaan. b. Antibiotik dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang
menghasilkan amonia dalam jumlah besar.
c. Antibiotik dapat meningkatkan penyerapan nutrien (kalsium, fosfor dan magnesium) dan menghambat kerusakan nutrien (vitamin dan asam amino) oleh mikroorganisme.
d. Antibiotik dapat meningkatkan kemampuan absorbsi zat makanan dan meningkatkan efisiensi penggunaan ransum.
Pemakaian antibiotik berupa Zink bacitracin dalam bidang peternakan perlu diperhatikan waktu hentinya pemberian antibiotik tersebut, Untuk menghindari adanya residu antibiotik Zinc Bacitracin, pemberian antibiotik Zinc bacitracin sebaiknya dihentikan 13 hari sebelum ayam dipotong. Hal tersebut dapat menghindarkan residu yang akan masuk dalam daging pada broiler. Maka dari itu pemberian antibiotik harus diberikan dengan dosis yang tepat supaya dapat bekerja secara efektif. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dosis dapat mengakibatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik itu sendiri. Selain itu residu dari antibiotik dapat terbawa dalam produk-produk unggas seperti daging dan
telur yang berbahaya bagi konsumen, ketika terlalu berlebihan pemberian antibiotik tersebut akan mengakibatkan dampak negatif juga pada broiler selain antibiotik terdapat juga probiotik yang berfungsi sebagai perangasang pertubuhan pada broiler, samahalnya juga dengan antibiotik probiotik juga memiliki dampak negatif ketika penggunaanya berlebihan (Mulyantini, 2010).
FAO/WHO (2010), menetapakan batas maksimum residu (BMR)
Spiramycin dan Zink bacitracin pada produk ternak asal ayam sebesar 0,06 ppm (600 µg/kg) (hati), 0,3 ppm (300 µg/kg) (lemak) dan 0,2 ppm (200 µg/kg) (daging). Nilai BMR tersebut diperhitungkan sebagai penjumlahan konsentrasi antibiotik Zink bacitracin dan Spiramycin untuk residu dalam daging ayam. Adapun BMR yang diizinkan di indonesia adalah 0,2 ppm (200 µg/kg) (Dewan Standarisasi Nasional, 2000).
Pemakaian antibiotika dosis kecil dalam pakanuntuk memacu pertumbuhan ternak telah dilakukan lebih dari setengah abad yang lalu. Kenyataan menunjukkan bahwa antibiotik dalam dosis yang sangat kecil dapat mempercepat pertumbuhan ternak, sehingga menyebabkan timbulnya kelonggaran dalam memperoleh antibiotik untuk dipergunakan dalam bidang peternakan. Akan tetapi timbulnya kasus resistensi Salmonela pada tahun 1960 telah mendorong utuk berpikir tentang kerugian dan keuntungan pemakaian antibiotik dalam bidang peternakan. Pada bulan Juli 1968 dibentuk suatu komisi di Inggris, yang diberi nama Swann Committe, yang bertugas membahas pemakaian antibiotik dalam bidang peternakan (Phillips, 2005).
6. Probiotik
Probiotik didefinisikan sebagai mikrobia hidup berupa kultur tunggal atau campuran yang diberikan untuk menjaga keseimbangan mikrobia di dalam saluran pencernaan dan memperbaiki sifat dari mikrobia indigenous yang bermanfaat bagi inang. Kompiang (2006), menyatakan pemberian probiotik pada ternak dapat meningkatkan pertumbuhan, memperbaiki konversi pakan dan menjaga status kesehatan.
Penggunaan probiotik sebagai bahan pakan tambahan untuk meningkatkan pertambahan bobot badan, konversi pakan dan kesehatan ternak merupakan alternatif yang aman karena aktivitasnya dalam mendukung perkembangan mikroba yang menguntungkan dan menekan pertumbuhan bakteri patogen dalam saluran pencernaan. Dinyatakan pula oleh Seifert dan Gessler (1997), bahwa penggunaan probiotik pada ternak bertujuan untuk memperbaiki kondisi saluran pencernaan dengan menekan reaksi pembentukan racun dan metabolit yang bersifat karsinogenik, merangsang reaksi enzim yang dapat menetralisir senyawa beracun yang tertelan atau dihasilkan oleh saluran pencernaan. Selain itu juga merangsang produksi enzim yang diperlukan untuk mencerna pakan dan memproduksi vitamin serta zat-zat yang tidak terpenuhi dalam pakan. Probiotik juga menghasilkan sejumlah nutrisi penting dalam sistem imun dan metabolisme Host, seperti vitamin B (Asam pantotenat), pyridoksin, niasin, asam folat, kobalamin, dan biotin serta antioksidan penting seperti vitamin K (Yuet al.,2008).
Pemberian probiotik pada ternak unggas biasanya diberikan dalam bentuk campuran ransum atau diberikan melalui air minum, atau dalam bentuk probiotik yang hanya mengandung satu macam mikroba saja atau dalam bentuk campuran terdiri dari beberapa mikroba seperti Probiolac atau Protexin. Beberapa keuntungan dari penggunaan probiotik pada hewan atau ternak antara lain adalah dapat memacu pertumbuhan, memperbaiki konversi ransum, mengontrol kesehatan. Saat ini telah beredar produk probiotik yang mengandung mikroba
Lipolitik, Selulolitik,Lignolitik, dan mikroba asam lambung. Beberapa penelitian pada broiler menunjukkan bahwa penambahan probiotik dalam ransum dapat meningkatkan pertambahan bobot badan, menurunkan konversi pakan dan mortalitas. Probiotik dapat mengubah pergerakan pada populasi mikroba di dalam usus halus ayam, sehingga keberadaannya dapat meningkatkan fungsi dan kesehatan usus, memperbaiki Mikroflora pada sekum, serta meningkatkan penyerapan zat makanan (Mountzouris, 2010).
Maka dari itu penambahan probiotik kedalam ransum kontrol, akan membantu pencernaan zat-zat makanan yang tidak terpenuhi di usus halus dan menurunkan populasi bakteri pathogen (Diaz, 2008). Penambahan probiotik ke dalam ransum ayam dapat meningkatkan produksi enzim B-glukanase di semua segmen saluran pencernaan, menurunkan vikosikositas digesta dan dapat meningkatkan pertambahan bobot badan (Mountzouris, 2010).
Secara umum manfaat penambahan probiotik adalah membantu sistim pencernaan unggas, agar lebih mudah mencerna dan meningkatkan kapasitas daya cerna sehingga diperoleh zat pakan yang lebih banyak untuk pertumbuhan
maupun produksi. Pada dasarnya ada dua tujuan utama dari penggunaan probiotik pada unggas, yaitu untuk manipulasi mikroorganisme saluran pencernaan bagian anterior (crop, gizzard, dan usus halus) dengan menempatkan Mikroflora dari
Strain lactobacillus sp. untuk meningkatkan daya tahan ternak dari infeksi
Salmonella (Barrow, 1992). Menurut Suastina (2002), mekanisme kerja probiotik pada saluran pencernaan ternak unggas adalah menetralisir racun, menekan populasi bakteri tertentu yang tidak dikehendaki sebagai anti bakteri atau berkompetisi di dalam saluran pencernaan, dan meningkatkan kekebalan tubuh.
Hal ini sejalan dengan penelitian Siswandono dan Soekardjo (2002), yang menyatakan bahwa dengan penambahan Feed addiitive dapat meningkatkan daya cerna protein lebih baik pada asam laktat bentuk ekapsulasi baru akan teregradasi pada usus halus sehingga dapat menurungkan pH pada saluran pencernaan dan meningkatkan kapasitas daya serap usus, hal tersebut berdasarkan pada pengamatan bahwa pemberian Feed addiitive menyebabkan dinding usus menjadi tipis sehingga daya serap usus akan zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh semakin meningkat. Suasana asam yang tercipta di daerah usus halus itu disebabkan adanya penambahan asam laktat yang dapat menguntungkan bagi perkembangan bakteri patogen sehingga dapat meningkatkan pencernaan zat-zat makan.
Penggunaan antibiotik pada ternak mempunyai kekurangan yaitu penggunaan dosis antibiotik harus benar-benar diperhatikan karena penggunaan yang berlebihan dikhawatirkan dapat meninggalkan residu dalam tubuh ayam disamping meningkatkan biaya produksi. Oleh karena itu, dibutuhkan cara yang
lebih aman untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan ayam yang menghasilkan daging tanpa residu antibiotik tetapi tidak membunuh Mikrofloranon patogen di dalam saluran pencernaan dan bahkan dapat memperbaiki daya cerna protein yaitu dengan memanfaatkan probiotik berupa asam laktat (Anonimous, 2002).
Probiotik digunakan sebagai bahan pakan tambahan unggas bertujuan pencernaan dan menciptakan kondisi pH yang sesuai untuk pencernaan zat makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan serta menekan mikroba patogen dan meningkatkan pertumbuhan mikroba yang menguntungkan (Hyden, 2000).
Menurut Hyden (2000), juga menyatakan bahwa asam laktat adalah salah satu probiotik yang dapat mempertahankan pH saluran pencernaan dan menciptakan kondisi pH yang sesuai untuk pencernaan zat makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan, menekan mikroba patogen dan meningkatkan pertumbuhan mikroba yang menguntungkan.
Dilaporkan juga oleh Wahyono (2002), bahwa penambahan kultur bakteri yang berperan sebagai probiotik, dapat menstimulasi sintetis enzim pencernaan sehingga meningkatkan utilisasi nutrisi. Penelitian menunjukkan berbagai spesies bakteri pembentuk spora seperti Bacillus telah digunakan sebagai probiotik untuk hewan dan manusia. Isolasi dari saluran pencernaan ayam menghasilkan beberapa spesies Bacillus yang teridentifikasi diantaranya Bacillus subtilis, B. pumilus, Bacillus licheniformis, Bacillus clausii, Bacillus megaterium, Bacillus
firmus dan spesies dari kelompok Bacillus cereus. Bacillus subtilis merupakan strain yang menunjukkan sifat sebagai probiotik (Murwani, 2008).
Pemberian mikroba hidup dalam jumlah yang cukup dapat mempengaruhi komposisi dan ekosistem Mikroflora pencernaannya. Kondisi ekosistem
Mikroflora dalam saluran pencernaan unggas mempengaruhi untuk kinerja dan kesehatan ternak. Ketidakseimbangan Mikroflora dalam saluran pencernaan karena terjadinya kolonisasi bakteri patogen atau Mikroflora yang dapat mengganggu kinerja ternak. Sebagai bahan alternatif untuk pemacu tumbuh, probiotik dalam penggunaannya pada ternak dapat meningkatkan kinerja ternak. Hal demikian terjadi karena adanya variasi respon yang tinggi dari individual ternak terhadap jenis pakan imbuhan. Probiotik bukan bertindak sebagai nutrien esensial dimana tidak ada dosis respon, tetapi hanya ada level batas pemakaian. Cara kerja probiotik terutama melalui modifikasi populasi bakteri usus dan efektivitasnya tergantung atas status mikroba pada satu kelompok ternak dan pada individu ternak. Dengan demikian, dapat dimengerti jika efek yang terjadi mempunyai variasi yang tinggi. Perbedaan cara kerja dari strain probiotik sejauh ini belum dipahami, tetapi metabolit bakteri yang dihasilkan seperti asam organik khususnya pada bakteri asam laktat yang dapat menurunkan pH atau juga peroksida dan bakteriosin diperkirakan bertanggung jawab atas sifat antagonis terhadap bakteri patogen gram positif seperti Salmonella. Beberapa probiotik diketahui dapat menghasilkan enzim pencernaan seperti amilase, protease dan lipase yang dapat meningkatkan konsentrasi enzim pencernaan pada saluran pencernaan inang sehingga dapat meningkatkan perombakan nutrien. Terdapat
beberapa mekanisme respon probiotik yaitu meliputi produksi bahan penghambat secara langsung, penurunan pH luminal melalui produksi asam lemak terbang rantai pendek, kompetisi terhadap nutrien dan tempat pelekatan pada dinding