DalaM trEn nEgatIf EKonoMI halal global aKIbat panDEMI CovID-19, InDonESIa naIK pErIngKat. MoDal SEbagaI paSar tErbESar proDuK halal tErbESar DunIa haruS DIIMbangI targEt MEnjaDI proDuSEn Dan pEngEKSpor noMor wahID.
P
encapaian Indonesia men-jadi peringkat empat da-lam daftar negara-ne ga ra dengan ekosistem ha lal terbesar dunia di sam but baik oleh banyak kalangan.Wakil Presiden RI K.H. Ma’ruf Amin menyambut baik pen ca paian, seperti tercatat dalam State of the Global Islamic Economy Re port (SGIER) 2020/2021 itu, dan me nye-butnya sebagai bagian dari opti mis me menggerakkan ekonomi Islam In do-nesia, baik dalam skala nasional mau-pun global.
Seiring dengan itu, Chairman In donesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar, yang meng inisiasi dan bekerja sama de-ngan DinarStandard dalam
pe-lun curan SGIER itu di Indonesia, me nempatkan pencapaian sebagai ba gian dari progres upaya pemerintah un tuk memenuhi target menjadikan In donesia sebagai produsen ekonomi ha lal terbesar dunia pada 2024.
Seperti apa peluang dan tan-ta ngan Indonesia berdasarkan la-po ran itu? Untuk dapat mencapai tar get tersebut, Wartawan GATRA Bambang Sulistiyo, Fitri Kumalasari, dan pewarta foto Eva Agriana Ali me wawancarai Sapta Nirwandar di Ho tel Rafles Jakarta, kawasan bisnis Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Se-la sa, 17 November 2020 Se-lalu. Berikut pe tikannya:
Bagaimana pandangan umum IHLC terhadap SGIER 2020/2021
DinarStandard ini?
Pertama yang menarik perhatian sa ya adalah naiknya Indonesia ke pe-ring kat empat dalam daftar negara-ne gara dengan ekosistem ekonomi ha lal berdasarkan Global Islamic Economy Indicator (GIEI). Tahun se belumnya, kita ada di peringkat li-ma. Sebelumnya lagi, malah di pe-ring kat sepuluh. Pencapaian itu kian membuka peluang Indonesia un tuk meng imbangi potensinya se ba gai pa-sar terbepa-sar ekonomi Islam de ngan tar get menjadi produsen dan peng-eks por produk ekonomi Islam ter be-sar dunia, baik dari sisi industri pro-duk halal maupun keuangan Islam.
Seperti telah kita ketahui, Wakil Pre siden Ma’ruf Amin beberapa wak-tu lalu menargetkan Indonesia men ja-di produsen halal industri terbesar ja-di du nia pada 2024.
Apa isu yang menarik di balik ke naikan peringkat Indonesia itu?
Ada idiom yang menyebut every cloud has a silver lining. Selalu ada hik-mah atau hal menguntungkan dari se-tiap situasi sulit. Kenaikan peringkat itu ada di periode ketika ekonomi Islam dan ekonomi konvensional glo-bal tentunya, terpukul oleh pan de mi Covid-19. Dalam SGIER 2020/2021 ini, pandemi diperkirakan menurunkan angka pertumbuhan eko -nomi hingga minus 8% dan da lam tren negatif itu, Indonesia naik pe ringkat.
Bahkan menurut salah seorang pa nelis saat diskusi peluncuran report ini, peringkat Indonesia bisa saja lebih ting gi satu level lagi jika report ini mem pertimbangkan informasi soal pe ningkatan pertumbuhan sektor per tanian dan farmasi Indonesia di ma sa pandemi. Saya melihat ada sinyal re siliensi ekonomi Islam Indonesia di tengah pandemi
dengan kenaikan pe ring kat itu.
Dalam report-report se be-lumnya, Indonesia kerap di ta balkan sebagai pasar ekonomi Islam atau pasar industri halal ter be sar dunia.
Bagaimana dengan ta hun ini?
Dalam summary report memang ti dak tercantum informasi itu, mung-kin karena ada perubahan sistematika pe nyusunan report. Namundalam pre sentasi virtualnya, Raffi-Uddin Shikoh selaku CEO DinarStandard yang menyusun laporan ini menyebut po sisi Indonesia masih sebagai pasar ter besar ekonomi Islam global.
Data dalam road map industri ha lal Indonesia dua tahun lalu juga ma sih di posisi yang sama. Pada 2017, kon sumsi Indonesia terhadap produk ha lal sebesar US$218,8 miliar dan di prediksi akan meningkat menjadi US$330,5 miliar pada 2025.
Apa saja sektor ekonomi Islam yang menopang kenaikan pe ringkat Indonesia dalam SIEGR ta hun ini?
Hampir pada setiap indikator, In donesia masuk dalam daftar 10 besar. Misalnya untuk finansial Islam, ki -ta ada di peringkat tujuh dari sepuluh be sar negara dengan aset finansial Islam, dengan nilai US$99,2 miliar.
Pe ringkat tertinggi ditempati Iran de-ngan nilai aset US$698,2 miliar.
Lalu contoh lain, di sektor ma-ka nan halal. Untuk pertama ma-kalinya, In donesia masuk lima besar negara-ne gara dengan peringkat GIEI ter-ting gi. Tepatnya di peringkat empat, di bawah Malaysia, Singapura, UAE, di atas Turki. Ini sinyal menarik ka-re na biasanya sektor ini didominasi oleh negara-negara seperti Brazil dan Australia.
Namun jika dilihat dari daftar li ma besar pengekspor halal food ke
ne gara-negara OKI, Brazil masih di pe ringkat satu dengan nilai ekspor US$16,2 triliun dan Indonesia ada di pe ringkat pertama konsumen halal food di antara negara-negara OKI de-ngan nilai pasar US$144 miliar.
Apakah dampak pandemi Covid-19 akan memengaruhi tar-get Indonesia menjadi produsen ha lal industri terbesar dunia pada 2024?
Sekarang, dalam situasi pan de-mi, kita ada di peringkat empat. Un tuk menjadi produsen halal ekonomi ter-besar dunia, Indonesia untuk aman-nya harus menempati ranking satu untuk masing-masing sektor halal, me liputi makanan, keuangan, fesyen, far masi, kosmetik, media rekreasi,
dan turisme.
Dalam report ini disebutkan ra-ta-rata semua sektor mengalami ke-nai kan atau stabilitas, seperti sebelum pan demi pada akhir 2021 dan sampai 2024 diprediksi belanja industri halal glo bal akan mencapai US$2,4 triliun pa da Tingkat Pertumbuhan Tahunan Ku mulatif (CAGR) 3,1%.
Kita tidak boleh kehilangan opti misme meski tetap harus mem-per timbangkan waktu pemenuhan tar get yang walaupun masih ada em-pat tahun dari sekarang, tetapi de ngan memperhitungkan stabilitas per-tumbuhan pandemi, jadi tinggal ter-sisa dua tahun saja waktu efektif.
Apakah mungkin? Mengapa ti-dak. Dalam Al-Qur’an Surat Yasin Industri fesyen muslim menjadi salah satu sektor yang bisa mendukung Indonesia sebagai produsen halal
63
25 NOVEMBER 2020
GATRA
Ayat 82, orang Islam akrab de ngan kalimat “kun fayakun”yang la zim-nya dipahami sebagai jaminan per to-longan Allah kepada umatnya apa bi la Dia menghendaki. Kita dapat men ca-pai itu dengan ikhtiar, ikhlas, dan ber-ta wakal kepada Allah.
Ada yang bilang target itu sebagai gimmick motivasional yang ditetapkan un tuk memicu semua stakeholder in-dus tri halal Indonesia untuk bekerja le bih keras dan lebih sinergis untuk mem peroleh hasil besar. Tentu saja, ini bukan sembarang gimmick,karena di dalamnya ada pertimbangan ter-ukur. Misalnya, dari sisi data, ada se-jum lah potensi dan modal ekonomi ha lal Indonesia yang mungkin belum ja di entry analisis dalam report ini.
Con-tohnya, terkait data aset dana so sial syariah Indonesia yang size-nya begitu besar dan pencapaian-pen ca paian lain yang mungkin saja belum ter kalkulasi dalam report.
Untuk mencapai tar get itu, sektor-sektor apa yang harus di-prio ritaskan pe ngua tan eko sis-temnya untuk me lem pang kan upaya mencapai target?
Kalau mengacu dari ranking Indo nesia dalam report ini, pada se-mua sektor kita punya peluang untuk di genjot sebagai prioritas, kecuali mung kin sektor wisata halal.
Pemulihan sektor wisata halal di prediksi berlangsung lebih lama, ka rena di semua negara di dunia ini, sek tor ini mengalami pukulan paling ke ras akibat Covid-19. Dalam SGIER 2020/2021, diprediksi pandemi me-mu kul sektor wisata hingga minus 70%. Beda dengan sektor lain, sektor ini butuh waktu pemulihan lebih lama.
Wi sata halal diperkirakan baru akan men capai level pencapaian seperti di ta hun 2019, pada 2023. Dan kenaikan be lanja wisatanya “hanya” 1,4% dari 2019 hingga 2024.
Jadi, sektor mana yang secara objek tif bisa digenjot untuk men-dapat hasil optimal?
Menurut saya, sama dengan re komendasi pada laporan IHLC-DinarStandard 2018, yaitu food, keu-angan Islam (baik yang kon vensional mau pun yang digital), fesyen, kos me-tik, dan farmasi.
Namun, menurut saya, prioritas itu tidak semata pada matter sektornya, me lainkan juga produk kebijakan yang mendukungnya, karena size da-lam report ini bukan satu-satunya acuan. Yang paling penting adalah pe-ngembangan dan penguatan eko sis-tem yang menunjang industri halal di
suatu negara. Ke depan, salah satu pe-ker jaan rumah besar Indonesia adalah men ciptakan ekosistem industri halal yang terintegrasi.
Sejauh mana report semacam ini memberi kontribusi dalam pen-ca paian target Indonesia menjadi pro dusen halal industri terbesar du nia?
Report seperti SGIER ini mem-beri sejumlah perspektif. Baik dalam tu juan menjadi produsen maupun meng inventarisasi peluang investasi glo bal. Laporan seperti ini dapat men-jadi bekal kita untuk menyusun ren-cana pengembangan menjadi lebih te rang dan terukur. Hebatnya, report-re port semacam ini dibuat berdasarkan da ta, proyeksi, dan hasil analisis yang sis tematis dan metodologis. Pasti lah ada plus minusnya, tapi menurut saya le bih banyak plusnya sebagai salah sa-tu sumber rujukan.
Report ini, menurut saya, tidak ha nya soal ranking atau angka-ang-ka, melainkan peluang untuk meng-imple mentasikan secara nyata target-tar get menuju 2024.
Apa proyek IHLC berikutnya ter kait report?
Saya berharap dapat bekerja sa-ma dengan pihak yang kredibel me-nyu sun report industri halal nasional yang goes global. Dengan begitu, akan me mudahkan pasar global dan para inves tor untuk mengetahui peluang inves tasi industri halal di Indonesia.
Ju ga sebagai referensi pelaku usaha da lam negeri dalam mengembangkan indus tri halal.
Kalau belum memungkinkan un tuk menyusun report menyangkut se mua sektor halal ekonomi, kita bi sa mulai dengan report nasional per sek-tor. Misalnya, report nasional produk halal food.
industri terbesar dunia pada 2024
GATRA/ JONGKI HANDIANTO
E Ko n o M I I S l a M