• Tidak ada hasil yang ditemukan

Chi Square Test

Dalam dokumen BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 32-45)

C. Kepemilikan Aset

1. Chi Square Test

Uji Chi-Square (independent test) berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua peubah kategorik atau bisa juga antara peubah respon dengan masing-masing peubah penjelas tanpa bisa menjelaskan sesuatu tentang tingkat hubungan maupun arah hubungannya. Uji Chi-Square menggunakan teknik tipe goodness of fit yaitu uji tersebut dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antara observasi yang di amati dengan banyaknya harapan berdasarkan hipotesis nol.

Pengujian ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel kesejahteraan masyarakat relokasi bencana alam terhadap penyelenggaraan sarana yang telah diberikan. Sarana tersebut antara lain pengadaan rumah, air bersih, listrik, sanitasi, jalan, banjir, kebakaran dan kriminalitas.

Hipotesis yang bisa diterapkan dalam masalah ini adalah

Ho : Tidak terdapat hubungan antara ketersediaan sarana dengan persepsi kesejahteraan oleh masyarakat.

kesejahteraan oleh masyarakat

Dengan menggunakan alpha sebesar 10%, maka tabel 5.15 berikut menjelaskan tingkat signifikansi hubungan antara variabel – variabel tersebut diatas. Output secara keseluruhan bisa dilihat pada Lampiran C-J.

Tabel 5.7

Nilai Signifikansi Uji Chi Square

Sarana Nilai Chi Square Korelasi Signifikansi Kondisi Rumah 0,356 0,206 Tidak Signifikan

Air Bersih 0,001 0,436 Signifikan

Listrik 0,000 0,483 Signifikan

Jalan 0,000 0,376 Signifikan

Banjir 0,002 0,389 Signifikan

Kebakaran 0,027 0,321 Signifikan

Kriminalitas 0,004 0,349 Signifikan

A. Faktor yang signifikan

Hubungan yang signifikan terdapat pada kondisi Air bersih, listrik, jalan, banjir, kebakaran, kriminalitas. Lokasi pemukiman harus aman dari potensi bencana alam, seperti gempa, badai, tsunami banjir, longsor. Serta aman dari bencana lingkungan, seperti pencemaran udara, air dan tanah (akibat industri, transportasi, industri listrik, pembuangan sampah, kebakaran dan kerugian berbahaya lain), kebakaran dan kriminalitas. Pemilihan lokasi pemukiman harus memperhatikan potensi tersebut. Keamanan dari faktor lingkungan juga dapat diartikan sebagai kualitas dari bahan bangunan, bangunan tersebut harus kokoh, kuat dan mampu mengampu beban-beban yang diterima, baik beban-beban yang diterima, baik beban bangunan itu sendiri, maupun beban yang ditimbulkan akibat dari adanya fungsi dari rumah. Selain segi kualitas bahan bangunan yang dipakai, faktor keamanan juga dilihat dari segi kepastian hukum dari kepemilikan rumah.

Lokasi permukiman korban bencana alam banjir terletak di Desa Sumber Kolak berada dalam radius alam dari Sungai Sampeyan. Untuk segi keamanan dari ancaman tindak kriminal, pihak pengembang belum membangun pos satpam

di depan pintu gerbang lokasi pemukiman.

Salah satu faktor utama adalah faktor kemanan dalam relokasi penduduk yang kawasan tempat tinggalnya terkena hempasan bencana alam banjir. Sebaiknya pemerintah mempertimbangkan relokasi penduduk dengan aspirasi masyarakat yang hendak tetap tinggal. Sesuai dengan teori yang berkaitan faktor keselamatan menyebutkan bahwa lokasi pemukiman harus aman dari potensi bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan bencana alam lainnya. Apalagi untuk lingkungan pemukiman yang memang diperuntukkan bagi korban bencana. Jadi diharuskan untuk memilih lokasi pemukiman yang mempunyai radius cukup jauh dari ancaman bencana serupa, selain untuk mencegah terjadinya bencana alam serupa juga untuk meminimalkan timbulnya kerugian yang diterima korban baik dari segi fisik maupun psikis. Selain itu lokasi pemukiman juga harus aman dari tindak kriminal, kualitas bangunan dan juga status hukum kepemilikan rumah di lokasi pemukiman tersebut. maka dalam pengembangan pemukiman bagi korban bencana sebaiknya dilengkapi dengan sistem keamanan yang cukup tinggi seperti disediakannya pos-pos keamanan di tiap-tiap cluster rumah mereka sebelum terkena bencana, disediakan lampu penerangan di sepanjang jalan diluar lingkungan pemukiman maupun di sepanjang jalan di perumahan tersebut untuk menghindari ancaman tindak kriminal serta diposisikan di daerah yang cukup aman dari ancaman serupa atau potensi bencana alam lainnya sehingga tidak akan menimbulkan kerugian lagi baik itu moriil maupun materiil.

Dalam hal ketersediaan air minum, memang menurut permen PU No.20 Tahun 2006, air minum adalah merupakan kebutuhan dasar yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia secara berkelanjutan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat; untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut diperlukan sistem penyediaan air minum yang berkualitas, sehat, efisien dan efektif, terintegrasi dengan sektor-sektor lainnya terutama sektor sanitasi sehingga masyarakat dapat hidup sehat dan produktif. Sumber air bersih berasal

dari air pemukaan (sungai, danau, waduk , dan lain-lain) dan air tanah (sumur, pemompaan, dan lain-lain).

Kondisi di dalam permukiman korban bencana alam di Kabupaten Situbondo belum dilengkapi dengan fasilitas air bersih. Untuk mengatasi persoalan tersebut, masyarakat mengambil air di Dinas Kebersihan Kota Situbondo yang berjarak 4 km dengan lokasi permukiman korban bencana alam.

Sama seperti air bersih, pengadaan listrik juga belum ada di kawasan relokasi ini. Akhirnya masyarakat menggunakan lilin atau petromaks. Sistem sanitasi yang ada juga tidak memadai, sehingga masyarakat merasa dirinya tidak sejahtera dibandingkan dengan kondisi sebelum relokasi dilakukan.

Untuk masalah kondisi jalan, memang jalan yang ada di daerah relokasi kondisinya lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Begitupula dengan kondisi banjir. Kawasan ini bukanlah kawasan rawan banjir. Sehingga meskipun sarana prasarana yang ada kurang memadai, namun masyarakat merasa cukup tenang karena merasa aman, jauh dari banjir.

Inilah keunikan masyarakat yang ada. Meskipun dari sarana prasarana tidak memadai untuk hidup layak, seperti tidak tersedianya air bersih dan listrik, namun masyarakat merasa hidupnya sudah lumayan. Ketika ditanya secara mayoritas apakah sudah merasa sejahtera, mereka mengatakan sudah. Meskipun sarana air bersih dan listrik tidak terdapat disana. Tapi kepuasan batin, berhubungan dengan aman dari terkena banjir, membuat mereka mengatakan bahwa mereka telah sejahtera.

B. Faktor yang tidak signifikan

Faktor yang tidak signifikan dalam hal ini adalah kondisi rumah. Maksud dari tidak signifikan adalah tidak ada hubungan antara persepsi sejahtera ataukah tidak dengan kondisi rumah mereka. Meskipun dari sisi kondisi rumah mereka memang sudah membaik namun tidak berhuungan dengan persepsi sejahtera ataukah tidaknya mereka secara keseluruhan.

C. Perbedaan Pendapatan dan Pengeluaran Sebelum dan Sesudah Relokasi Pendapatan dan pengeluaran masyarakat sebelum dan sesudah relokasi juga patut untuk diteiliti. Karena dua variabel ini mampu menggambarkan seberapa besar tingkat kesejahteraan yang dialami oleh masyarakat yang direlokasi.

H0 : Tidak ada perbedaan antara pendapatan dan pengeluaran baik sebelum maupun sesudah relokasi.

Ha : Ada perbedaan antara pendapatan dan pengeluaran baik sebelum maupun sesudah relokasi

Hasil Pengujian

Dari Sign Test pada Lampiran A diperoleh bahwa Pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah relokasi berbeda. Perbedaannya bernilai negatif, artinya bahwa pendapatan sebelum direlokasi lebih besar dibandingkan dengan setelah direlokasi. Sedangkan untuk pengeluaran, tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini bisa dilihat pada Tabel 5.8.

Tabel 5.8 Signifikansi Perbedaan Pendapatan dan Pengeluaran Sebelum dan Sesudah Relokasi

Faktor Signifikansi Perbedaan

Pendapatan 0,004 Negatif

Pengeluaran 0,312 Sama

Dari hasil statistik menunjukkan bahwa pendapatan sebelum adanya bencana tersebut lebih baik daripada pendapatan sebelum terjadi bencana. Perubahan yang terjadi ini mungkin disebabkan karena berkurangnya sektor pertanian akibat banjir, sehingga lahan untuk bertani menjadi berkurang dan hal ini mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat. Berdasarkan hasil observasi dua sektor ekonomi utama adalah sektor pertanian dan sektor perdagangan. Struktur ekonomi Kabupaten Situbondo masih didominasi oleh sektor pertanian. Hal ini dipengaruhi kondisi alam dan potensi ekonomi yang bersifat agraris. Dominasi sektor pertanian banyak disumbang dari tanaman bahan pangan, perkebunan, perikanan laut. Akibat dari dampak bencana tersebut membuat

masyarakat yang sebelumnya memiliki lahan pertanian atau peternakan, setelah terjadi bencana menjadi berkurang atau kehilangan lahan tersebut sehingga menyebabkan pendapatan yang diperoleh juga ikut berkurang. Hal inilah yang dapat menjadi penyebab perbedaan pendapat yang diterima oleh masyarakat yang menjadi korban bencana banjir tersebut.

Dari hasil statistik yang menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan pada pengeluaran tersebut, mungkin disebabkan adanya masyarakat yang tingkat pengeluarannya bertambah dan diimbangi oleh masyarakat yang tingkat pengeluarannya menurun, sehingga tidak terjadi perbedaan tingkat pengeluaran antara sebelum dan sesudah terjadi bencana. Bertambahnya tingkat pengeluaran pada beberapa masyarakat kemungkinan terjadinya peningkatan harga barang akibat membengkaknya permintaan di pasar terhadap material dan bahan baku bangunan. Untuk mengatasi persoalan ini maka pemerintah juga akan menerapkan kebijakan impor bahan baku untuk menyeimbangkan antara permintaan dan pasokan bahan baku yang tersedia di pasar.

5. 3 Pembahasan Hasil Penelitian 5.3.1 Kondisi Permukiman

Kenyataan yang berbeda dari kondisi permukiman lama dan permukiman baru, mempengaruhi kehidupan pemukimnya. Permukiman lama yang berada di pusat kota memudahkan aksesbilitas pemukimnya, sebaliknya letak permukiman pasca relokasi yang relative jauh sangat menyulitkan pemukim yang umumnya berpenghasilan rendah. Demikian pula lingkungan di tepi sungai pada permukiman lama selain kemudahan mendapatkan air bersih dengan sumur gali/sungai untuk kebutuhan harian, masyarakat juga dapat memancing secara tradisional untuk menambah penghasilan. Sedangkan di lingkungan permukiman baru di daerah dataran tinggi sangat menyulitkan masyarakat untuk memperoleh air bersih, kondisi tersebut sesuai dengan pernyataan responden sebanyak 62% atau 31 orang yang menyatakan bahwa kondisi air bersih di permukiman baru lebih buruk. Perhitungan dengan uji statistik chi square menunjukkan juga bahwa fasilitas air bersih merupakan faktor yang tidak signifikan terhadap kesejahteraan

mereka.

Tampak bahwa kondisi lingkungan permukiman lama lebih baik dibanding lingkungan permukiman baru. Jika persiapannya cukup secara teknis sesungguhnya permukiman baru dapat ditempati. Terutama dalam pengelolaan air bersih dan pemanfaatan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian masyarakat akan lebih terikat dengan permukiman baru karena dukungan lingkungan sekitarnya cukup memadai.

Selanjutnya akan dibahas hasil kondisi fisik bangunan, kondisi prasarana lingkungan dan kondisi sarana penunjang permukiman. Pembahasan lebih difokuskan pada pemukiman paska relokasi. Beberapa data diantaranya disandingkan dengan kondisi permukiman lama yang berada di bantaran sungai sampeyan.

5.3.2 Kondisi Fisik Bangunan

Jika dilihat dari kondisi rumah, stuktur dan konstruksi, genangan air maupun tingkat kepadatan rumah dan penghuni sesuai dengan standar dalam community maping (Tabel 4.1) secara keseluruhan kondisi fisik bangunan permukiman paska relokasi relatif lebih baik dibandingkan dengan kondisi fisik bangunan permukiman lama, termasuk rumah yang dibangun oleh masyarakat paska relokasi di dekat bantaran sungan sampeyan. Pernyataan responden yang signifikan pada uji statistik chi square terhadap kondisi rumah dengan kesejahteraan menunjukkan bahwa kondisi permukiman yang baru lebih baik daripada permukiman lama pada saat tinggal di bantaran sungai sampeyan. Hal ini diperkuat dengan tabel persepsi masyarakat tentang senang tidaknya bermukim saat ini (lihat tabel 5.9) sebanyak 40% menyatakan senang sekali dan 50% cukup senang. Kondisi fisik rumah yang lebih bagus dibandingkan sebelumnya juga merupakan harapan masyarakat korban bencana alam banjir untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, ini dapat dilihat dalam uji statistik chi square bahwa kondisi rumah signifikan dengan kesejahteraan kehidupan mereka di permukiman yang baru.

5.3.3 Kondisi Prasarana Lingkungan Permukiman

Berdasarkan persepsi responden dan standar dari community maping tampak bahwa prasarana lingkungan paska relokasi belum memadai. Umumnya responden menyatakan prasarana air bersih (Tabel 5.2) dan listrik (Tabel 5.3) perlu mendapat perhatian . Di dalam pengujian statistik chi square juga memperlihatkan bahwa prasarana air bersih dan listrik menunjukkan hasil yang tidak signifikan dengan kesejahteraan mereka. Kondisi ini memberi gambaran bahwa kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat di permukiman baru belum mencukupi. Berdasarkan wawancara dengan responden pada permukiman lama mereka dapat menggunakan air dari beberapa sumber dengan gratis, baik melalui sungai maupun sumur yang mereka buat. Sedangkan di permukiman paska relokasi air untuk mendapatkan minumpun harus berjalan 4 km.

Prasarana lingkungan permukiman lainnya seperti persampahan, drainase dan jalan lingkungan sesuai dengan community maping pada permukiman paska relokasi tampak lebih baik dibandingkan permukiman lama (lihat Tabel 4.1). Jalan lingkungan dengan perkerasan dan drainase/got cukup memadai pada permukiman paska relokasi. Kemiringan tanah dan kondisi tanah yang berdaya resap tinggi tidak memungkinkan terjadinya genangan sebagaimana pada permukiman lama. Sampah bagi masyarakat lebih mudah di permukiman lama karena langsung dibuang di sungai tanpa pertimbangan dampak lingkungan, demikian pula dengan limbah rumah tangga lainnnya.

Salah satu sektor penting yang harus direhabilitasi dan rekonstruksi adalah sektor infrastruktur yang meliputi pembangunan jalan, jaringan air bersih, irigasi, dan pelabuhan laut dan udara. Pengadaan air bersih / minum dilakukan secara sentral dan didistribusikan oleh PDAM. Meningkatkan kerjasama antara pemerintah dengan developer maupun investor dalam upaya meningkatkan jaringan air minum di kawasan tersebut.

Sehingga untuk merumuskan konsep relokasi pemukiman adalah menunjang pengadaan air bersih / minum yang dilakukan secara sentral dan didistribusikan ke tiap-tiap unit rumah. Meningkatkan kerjasama antara

pemerintah dengan developer maupun investor dalam upaya meningkatkan penyediaan jaringan air minum di kawasan.

Dari uraian diatas terlihat bahwa diantara prasarana air bersih dan penerangan yang tersedia/dipersiapkan menjadi kendala utama bagi masyarakat korban bencana alam banjir dalam beradaptasi di permukiman yang baru. Ketersediaan/pengelolaan air bersih yang tidak memadai memberi pengaruh yang besar bagi keberlangsungan hidup dan aktivitas keseharian masyarakatpaska relokasi. Keadaan ini cenderung mendorong mereka untuk mencari/menuju daerah permukiman dimana prasarana lingkungan permukiman cukup tersedia dan diperoleh dengan mudah/murah.

5.3.4 Kondisi Sarana Permukiman

Berdasarkan pernyataan responden sarana yang paling disediakan/diperbaiki adalah sarana transportasi. Jarak yang relatif jauh dari tempat tinggal ke tempat bekerja bagi mereka yang umumnya berpengahasilan rendah merupakan kendala yang serius, ini dapat dilihat pada tabel 5.14 (tabel kepemilikan aset) yang menunjukkan bahwa dari 50 responden yang mempunyai kendaraan pribadi atau sepeda motor hanya 10 orang saja. Pada permukiman paska relokasi selain jarak yang relatif jauh sarana angkutan umum juga sangat terbatas baik dari segi jumlah dan waktu. Masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi harus berjalan kaki cukup jauh untuk mendapatkan angkutan umum menuju pusat kota atau tempat lainya. Tampak pula mereka yang mempunyai penghasilan kurang dari Rp. 400.000 sebanyak 40 orang. Sebagaimana dikemukakan bahwa bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah cenderung memilih tempat tinggal yang berdekatan dengan tempatnya bekerja. Hal ini dimaksudkan agar waktu tempuh relatif cepat dan jika perlu tidak mengeluarkan biaya tambahan.

Tabel 5.9. Tabulasi Silang Pekerjaan Responden yang Menempati Permukiman Baru dan Kesesuaian Lokasi Rumah

Pekerjaan Lokasi rumah

Total pasca relokasi Responden sesuai kehendak Ya Tidak Pedagang Jumlah 4 15 19 21% 79% Petani Jumlah 1 8 9 11 89 Buruh/Kuli Jumlah 5 7 12 42 58 Sopir Jumlah 0 2 2 0 100 Ojeg Jumlah 0 2 2 0 100

Tukang Becak Jumlah 0 2 2

0 100

Karyawan Swasta Jumlah 1 1 2

50 50 TNI/ABRI Jumlah 1 0 1 100 0 PNS Jumlah 1 0 1 100 0 Total 13 37 50 Total dalam % 32.4 57,6 100

Tabel 5.9 adalah tabulasi silang antara pekerjaan dengan aksesbilitas yang memberikan gambaran tentang pendapat responden tentang aksesbilitas sesuai dengan mata pencaharian sebelum relokasi.

Aksesbilitas yang sulit bagi masyarakat paska relokasi dapat mendorong mereka mencari alternatif lain untuk memudahkan pencapaian mereka terutama ke tempat kerja semula di pusat kota. Jika tidak mereka akan beralih mencari pekerjaan lain yang menunjang kelangsungan hidupnya. Ketidaksesuaian lokasi di kelurahan Sumber Kolak berhubungan dengan alasan mereka yang menyatakan sulitnya transportasi untuk menunjang aktivitas mereka serta jauhnya jarak ke tempat kerja serta alasan lainnya mengenai kurangnya fasilitas penunjang pada permukiman baru

5.3.5 Kondisi Sosial Ekonomi

Seperti dijelaskan sebelumnya umunya responden paska relokasi bekerja di sektor informal. Pekerjaan warga diukur dengan melihat kemapanan pekerjaan, pada pengukuran community maping menghasilkan nilai sebelum relokasi 0.9 adalah kategori baik dan nilai setelah relokasi 1.9 adalah kategori buruk. Hal ini menunjukkan bahwa paska relokasi jumlah masyarakat yang tidak bekerja meningkat lebih dari 10%. Peningkatan ini berhubungan dengan sulitnya lapangan kerja di sekitar kawasan paska relokasi serta sulitnya mereka untuk kembali bekerja di tempat semula. Dan sesuai dengan hasil uji statistik sign test menunjukkan bahwa dari segi pendapatan masyarakat di permukiman yang baru mengalami penurunan dibandingkan pada saat mereka menempati permukiman yang lama. Hal ini juga dipengaruhi oleh pada umumnya masyarakat korban bencana alam adalah mereka yang memilki latar balakang pendidikan yang rendah (Gambar 4.6 diagram Pie Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan).

Mereka yang bekerja sebagai pedagang di sekitar sungai sampayan paska relokasi merasa sulit kembali berjualan di lokasi semula. Bagi mereka yang mampu kembali menyewa lokasi dekat pusat kota tempat kerjanya untuk menyimpan perlengkaan dasangannnya dan beristirahat jika tidak kembali kerumahnya mengingat biaya dan transportasi yang sulit.

Sebagaimana dikemukakan bahwa mobilitas perekonomian akan mempengaruhi proses perkembangan rumah. Dengan demikian kehidupan masayarakat paska relokasi dalam proses pengembangan permukimamnya akan mengalami hambatan. Hambatan secara ekonomi juga akan mempengaruhi ikatan masyarakat dengan lahan yang mereka tempati. Keadaan ini dapat mendorong masyarakat mencari permukiman dimaana dukungan terhadap aspek finansial cukup bagi keberlangsungan hidupnya.

Beberapa kegiatan masyaraakat dikembangkan oleh masyarakat korban bencana alam di permukiman paska relokasi, seperti gotong royong, pengajian, siskamling, posyandu dan arisan PKK. Pada tabel 5.11 dapat dilihat pula partisipasi masyarakat korban bencana alam banjir di permukiman paska relokasi

dalam kegiatan sosial, tampak partisipasi responden yang ikut serta dalam kegiatan sosial adalah 95%, kondisi ini dilatar belakangi oleh lingkungan sosial mereka yang baru.

Relokasi permukiman juga menyebabkan berkurang atau terputusnya ikatan keluarga dan sosial pada pemukiman paska relokasi. Mereka yang terpisah dari keluarga dan kerabat di lingkungan permukiman paska relokasi kembali menyesuaikan dengan lingkungan sosial yang baru.

5.3.6 Kondisi fisik dan non fisik

Sebagaimana ditegaskan dalam UU RI No. 4 Tahun 1992 bahwa tujuan penataan lingkungan permukiman adalah untuk memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat, mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat, memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional dan menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial, budaya serta bidang lain-lain. Juga disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur. Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomer 21 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah rekonstruksi merupakan pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana sedangkan relokasi di kabupaten Situbondo dilakukan karena tidak memungkinkan untuk memukimkan kembali warga bantaran sungai. Dengan demikian kebijakan relokasi hendaknya berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan pemukim dan peningkatan kualitas lingkungan permukiman. Jika dilihat keadaaan yang kontras antara permukiman lama dan permukiman paska relokasi tampak bahwa persiapan yang berkaitan dengan aspek fisik dan non fisik belum cukup memadai.

Alasan sulitnya mata pencaharian paska relokasi juga mengindikasikan kurang siapnya sarana dan prasarana yang menunjang kehidupan masyarakat korban bencana alam di permukiman baru, utamanaya aksesbilitas mereka terhadap tempat kerja dan layanan publik.

5.3.7 Analisis Trianggulasi

Analisa trianggulasi yang dilakukan untuk menyusun konsep penanganan lingkungan permukiman pengungsi setelah relokasi di Kabupaten Situbondo. Menurut Singarimbun, 1989 dalam Rolalisasi, 2009, konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan pada kelompok atau individu tertentu. Agar tidak terjadi kesalahan pengukuran maka konsep perlu didefinisikan dengan jelas, sebab konsep berperan sebagai penghubung antara teori dengan observasi, antara abstraksi dengan realitas. adalah menggabungkan substansi-substansi yang berkesesuaian antara fakta empirik bentuk penanganan relokasi permukiman, kajian pustaka/teori tentang penanganan relokasi permukiman dan penanganan relokasi permukiman oleh pemerintah propinsi Jawa Timur dan pemerintah kabupaten Situbondo. Proses kompilasi adalah dengan penyatuan substansi yang saling berkesesuaian antara ketiganya yang disebut dengan analisa Trianggulasi Skema analisis trianggulasi adalah sebagai berikut :

Gambar 5.14 Skema Analisis Trianggulasi Sumber : Penulis

A. Tinjauan Empiris Keberadaan Lingkungan Permukiman Pengungsi

Dalam dokumen BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 32-45)

Dokumen terkait