Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya.
MELEWANTO PATABANG
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
Nama : Melewanto Patabang
NIM : E 051050021
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS Dr. Ir. Hardjanto, MS
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Ilmu Pengetahuan Kehutanan
Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena hanya atas perkenaan-Nya sajalah sehingga penulis dapat menyelesaikan segala tugas dan kewajiban selama kuliah serta dapat menyelesaikan tulisan ini. Judul tesis ini adalah “Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat di Kabupaten Tana Toraja”. Tesis ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait dengan pengelolaan hutan rakyat (khususnya hutan pinus) di Kabupaten Tana Toraja dalam upaya pengembangan pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkesinambungan.
Rampungnya tulisan ini berkat adanya bimbingan, masukan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal termaksud maka penulis ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS dan Dr. Ir. Hardjanto, MS selaku komisi
pembimbing yang telah meluangkan waktunya memberikan bimbingan dan masukan untuk penyelesaian tesis ini.
2. Dekan Sekolah Pascasarjana dan Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan
Kehutanan IPB beserta staf pengajar dan staf pegawai yang telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi penulis dalam menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana IPB.
3. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja beserta stafnya, Kepala BP DAS Saddang
beserta stafnya, Tokoh Masyarakat Toraja, Kepala Pusat P3DAS Unhas, LSM di Tana Toraja, PT. Nelly Jayapratama dan segenap masyarakat atas bantuan dan kerjasamanya dalam memberikan data dan masukan dalam penelitian ini.
4. Prof. Dr. Ir. Jusuf Salusu, MA selaku rektor UKI Paulus Makassar beserta
seluruh teman-teman dosen dan staf pegawai di lingkup UKI Paulus yang telah memberikan bantuan moril bagi penulis dalam penyelesaian studi.
5. Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr yang telah memberikan informasi
data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dan juga atas bantuan dana serta dorongan moril yang sangat berharga bagi penulis.
6. Keluarga Ir. Yusuf L. Limbongan, MP; keluarga Harsman Tandilittin, ST;
keluarga dr. Tince Tandirerung; keluarga Ir. Aris Tanan, MM; Jurianto Bintan, SE; Bambang Apriono, S.Hut; Mika Samperompon, M.Si dan Wiro
7. Segenap teman-teman mahasiswa Sekolah Pacasarna IPB khususnya mahasiswa Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan dan anggota Ikatan Pemuda Toraja Bogor (Yosepi, Ina, Nining, Dian dan kawan-kawan) yang telah membantu penulis selama mengikuti pendidikan.
8. Segenap teman-teman di Pondok Agathis dan keluarga Mang Uki atas
bantuannya yang begitu berharga bagi penulis.
9. Segenap keluarga Patabang dan Paseru atas segala bantuannya berupa doa,
bantuan dana dan dorongan moril bagi penulis.
10.Ayahanda M.H. Patabang dan ibunda A. Paseru, sudaraku tercinta : Santy,
Lina dan Herdi serta sahabatku Rina Ratma atas doa, kasih sayang, cinta dan dukungannya sehingga penulis dapat mengikuti pendidikan.
Penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan bagi segala keperluan yang sifatnya membangun dan penulis mohon maaf atas segala kekurangannya. Apa yang penulis sampaikan dalam tesis ini mungkin tidaklah berarti apa-apa dan hanya seperti sebuah benih pohon di tengah rimba raya. Namun setidaknya benih itu dapat tumbuh menjadi sebatang pohon yang akan turut menciptakan tegakan hutan dan kemudian tegakan ini akan turut membentuk hutan yang merupakan paru-paru bagi dunia.
Bogor, Maret 2007
Penulis dilahirkan di Rantepao Tana Toraja pada tanggal 9 September 1973 dari ayah M.H. Patabang dan ibu A. Paseru. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.
Tahun 1992 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Rantepao. Penulis kemudian melanjutkan studi program sarjana pada Program Studi Manajemen Hutan Universitas Hasanuddin dan lulus pada Tahun 1998. Setelah lulus dari program sarjana penulis bekerja sebagai dosen tidak tetap pada Jurusan Kehutanan Universitas Hasanuddin dari tahun 1998 sampai tahun 2005. Pada tahun 2001 sampai sekarang penulis bekerja sebagai dosen tetap pada Fakultas Pertanian Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar.
Tahun 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Magister dengan Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Selama mengikuti pendidikan pascasarjana penulis juga menjadi pengurus Forum Wacana Mahasiswa Pascasarjana IPB.
DAFTAR TABEL ... v DAFTAR GAMBAR ... vii DAFTAR LAMPIRAN ... ix PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 4 Tujuan ... 5 Manfaat Penelitian ... 6 Alur Pikir Penelitian ... 6 TINJAUAN PUSTAKA ... 7 Hutan Rakyat di Indonesia ... 7 Perkembangan Hutan Pinus Rakyat di Tana Toraja ... 8 Pengelolaan dan Pengembangan Hutan Rakyat ... 13 Penyebaran dan Potensi Pinus (Pinus merkusii) di Indonesia ... 15 Otonomi Daerah ... 17 Analisis SWOT ... 18 Proses Hirarki Analisis ... 23 Teknik Pemodelan Interpretasi Struktural ………..……….. 25 Analisis Finansial ... 31 METODE PENELITIAN ... 33 Waktu dan Lokasi ... 33 Jenis Data yang Dikumpulkan... 33 Metode Pengambilan Contoh ... 34 Alat Analisis ... 34 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37 Analisis Strategis ... 37 Analisis Struktural ... 69 Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat ...106 SIMPULAN DAN SARAN ...112 Simpulan ...112 Saran ...113 DAFTAR PUSTAKA ...113 LAMPIRAN ...117
Halaman
1. Penyebaran dan luas hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja ... 10
2. Perkembangan pemanfaatan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana
Toraja …...……...………... 12 3. Evaluasi variabel internal kekuatan ... 37 4. Hasil analisis finansial untuk masing-masing satuan pengelolaan ... 38 5. Potensi hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja ... 40 6. Luas lahan garapan keluarga pemilik hutan rakyat di Kabupaten
Tana Toraja ... 44 7. Kontribusi pendapatan per tahun dari hutan rakyat pada wilayah
studi ... 44 8. Beberapa contoh aturan/hukum adat dalam aktivitas masyarakat
Toraja ... 47 9. Evaluasi variabel internal kelemahan ... 48 10. Luas penanaman yang dilakukan pada hutan rakyat di Kabupaten
Tana Toraja Selama 15 Tahun Terakhir ... 51 11. Harga jual pinus (Rp/m3) di Kabupaten Tana Toraja. ... 52 12. Evaluasi variabel eksternal peluang ... 57 13. Evaluasi variabel eksternal ancaman ... 61 14. Sektor masyarakat yang terpengaruhi. ... 70 15. Elemen kebutuhan program. ... 74 16. Elemen kendala utama. ... 78 17. Perubahan yang dimungkinkan ... 82 18. Elemen tujuan dari program ... 86 19. Elemen tolok ukur untuk menilai setiap program ... 90
20. Elemen aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan ... 94
21. Ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai ... 98 22. Elemen lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program ... 102
Halaman
1. Alur pikir penelitian …….….……...………... 6
2. Proses pengambilan keputusan strategis ... 19 3. Diagram SWOT ... 20
4. Diagram teknik ISM ………...………...……… 28
5. Hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja yang subur dan
luas ... 40 6. Tanaman pinus rakyat di Kecamatan Mengkendek ... 42 7. Hasil kayu pinus yang digunakan sebagai bahan bangunan dan
kayu bakar ... 43
8. Intersepsi, evaporasi dan transpirasi tanaman pinus (Pinus merkusii)... 45
9. Sawah di Kabupaten Tana Toraja yang tidak kering di musim
kemarau dan berada di dekat lokasi tanaman pinus ... 46
10. Lokasi bekas penebangan di Kecamatan Mengkendek ... 51
11. Bentuk hasil kayu pinus yang dijual ke industri ... 52 12. Kondisi topografi hutan pinus rakyat ... 55 13. Tempat pengumpulan log industri ... 55 14. Balok kayu pinus yang ditempatkan di pinggir jalan ... 59 15. Diagram SWOT strategi pengembangan hutan pinus rakyat di
Kabupaten Tana Toraja ... 65 16. Diagram analisis matrik SWOT strategi pengembangan hutan
pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja ... 67
17. Matriks driver power – dependence elemen sektor masyarakat
yang terpengaruhi ... 72 18. Diagram model struktural untuk elemen sektor masyarakat
yang terpengaruhi ... 73
19. Matriks driver power – dependence kebutuhan dari program ... 76
20. Diagram model struktural untuk elemen kebutuhan dari
program ... 76 21. Matriks driver power – dependence elemen kendala utama ... 80 22. Diagram model struktural untuk elemen kendala utama ... 81
23. Matriks driver power – dependence elemen perubahan yang
25. Matriks driver power – dependence elemen tujuan dari
program ... 88 26. Diagram model struktural untuk elemen tujuan dari program ... 89
27. Matriks driver power – dependence elemen tolok ukur untuk
menilai setiap program ... 92 28. Diagram model struktural untuk elemen tolok ukur untuk
menilai setiap program ... 93
29. Matriks driver power – dependence elemen aktivitas yang
dibutuhkan guna perencanaan tindakan ... 96 30. Diagram model struktural untuk elemen aktivitas yang
dibutuhkan guna perencanaan tindakan ... 97
31. Matriks driver power – dependence elemen ukuran aktivitas
guna mengevaluasi hasil yang dicapai ... 100 32. Diagram model struktural untuk elemen ukuran aktivitas guna
mengevaluasi hasil yang dicapai ... 101
33. Matriks driver power – dependence elemen lembaga yang
terlibat dalam pelaksanaan program ... 104 34. Diagram model struktural untuk elemen lembaga yang terlibat
dalam pelaksanaan program ... 105 35. Alur acuan pengembangan hutan pinus rakyat di Kabupaten
Halaman
1. Rekapitulasi data hasil wawancara dengan responden ... 117 2. Keadaan hutan rakyat Kabupaten Tana Toraja ... 133 3. Jenis tanah hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja ... 134 4. Keadaan toporafi hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja ... 134 5. Jumlah curah hujan dirinci per bulan di Kabupaten Tana Toraja
(mm) ... 135 6. Banyaknya hari hujan dirinci per bulan di Kabupaten Tana
Toraja (dalam hari) ... 135 7. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan I... 136 8. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan II ... 137 9. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan III ... 138 10. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan IV ... 139 11. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan V ... 140 12. Hasil pembobotan faktor internal kekuatan dengan metode AHP ... 141 13. Hasil pembobotan faktor internal kelemahan dengan metode
AHP ... 141 14. Hasil pembobotan faktor eksternal peluang dengan metode AHP... 142 15. Hasil pembobotan faktor eksternal ancaman dengan metode AHP ... 142
16. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen
sektor masyarakat yang terpengaruhi ... 143
17. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen
kebutuhan dari program ……… 144
18. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen
kendala utama ……….. 145
19. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen
perubahan yang dimungkinkan ……… 146
20. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen
tujuan dari program ………. 147
21. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen
tolok ukur untuk menilai setiap tujuan ……….………..…………. 148
22. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen
24. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen
lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program ………….………. 151 25. Peta Penyebaran Hutan Rakyat di Kabupaten Tana Toraja ... 152
Paradigma pembangunan kehutanan yang selama ini lebih menekankan aspek ekonomi dalam rangka mendukung pertumbuhan perekonomian nasional ternyata telah menyebabkan kerusakan sumberdaya hutan yang sangat parah. Melalui dalih mendukung pertumbuhan perekonomian nasional, berbagai pihak seakan berlomba, baik secara legal maupun secara illegal, untuk meningkatkan upaya-upaya eksploitasi sumberdaya alam tanpa mengindahkan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan keberlanjutan atau kelestarian sumberdaya alam itu sendiri (Malamassam 2006)
Berakhirnya masa pemerintahan orde baru yang diikuti dengan bergulirnya era reformasi menyebabkan paradigma tersebut di atas telah mengalami pergeseran dengan lebih memberi penekanan pada aspek pelestarian lingkungan dan aspek sosial. Khusus untuk Kabupaten Tana Toraja Pemerintah Daerah melalui Propeda 2001-2005, telah mencanangkan penataan pola pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan sebagai salah satu program utama pembangunan daerah yang sekaligus juga diharapkan dapat mendukung peningkatan ekonomi wilayah secara berkesinambungan (Pemerintah Kabupaten Tana Toraja 2001).
Pemberlakukan Undang-undang Otonomi Daerah di Kabupaten Tana Toraja telah memunculkan kekhawatiran baik dari dalam daerah itu sendiri maupun dari daerah di sekitarnya yaitu bahwa daerah cenderung untuk mengeksploitasi sumberdaya hutannya secara berlebihan khususnya hutan pinus rakyat dalam rangka mendapatkan sumber dana untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan pada berbagai bidang. Sudradjat (2002) menyebutkan bahwa otonomi daerah telah menjadikan hutan sebagai ladang pendapatan (PAD) asli daerah sehingga laju kerusakan hutan saat ini telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan dan sulit untuk dikendalikan lagi.
Hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja yang merupakan hasil Program Penghijauan Tahun 1976, pemanfaatannya baru mulai dicanangkan beberapa tahun terakhir yaitu sekitar Tahun 2002. Sejak saat itu sampai tahun 2004 Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, telah mengeluarkan izin pengolahan hasil hutan pinus rakyat kepada tiga perusahaan yaitu PT. Nelly Jaya Pratama
Tahun 2002 dan Tahun 2004, PT. Irmasulindo tahun 2002 dan PT. Global Forestindo Tahun 2003 untuk mengolah hasil hutan rakyat. Luas areal pinus rakyat yang sudah ditebang dan dijual kepada 3 perusahaan ini sejak Tahun 2002
– 2004 adalah sekitar 733 Ha dengan potensi sebesar 69.235 m3, dengan adanya
perusahaan ini tanaman pinus yang selama puluhan tahun ini dianggap bernilai ekonomi rendah sudah mulai dilirik dan ditebang karena dianggap memiliki nilai ekonomi yang tinggi (Pemerintah Kabupaten Tana Toraja 2006)
Perubahan nilai dan pemahaman tentang tanaman pinus tersebut di atas, jika tidak dikelola dengan baik, potensil akan menyebabkan ludesnya tanaman pinus dalam waktu yang tidak terlalu lama. Para pemilik dan juga pihak-pihak yang terkait dengan pemanfaatan tanaman pinus cenderung akan mengejar kepentingan jangka pendek. Mereka cenderung tidak lagi mau memikirkan bahwa kondisi hutan tanaman pinus yang ada saat ini tercipta melalui proses ekologis selama puluhan tahun (Malamassam 2005)
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja sejak tahun 2002 telah memberi izin kepada tiga perusahaan dengan sejumlah pembatasan dan persyaratan untuk mengolah hasil hutan pinus milik rakyat baik dari segi potensi yang harus dibeli maupun sumber atau asal kayu pinus, dimana kayu yang bisa dibeli hanya berasal dari hutan rakyat saja, namun sejumlah pihak khususnya Lembaga Swadaya Masyarakat dan Pemerhati Lingkungan menyangsikan kesanggupan dan kesungguhan perusahaan pemegang izin untuk memenuhi pembatasan dan persyaratan tersebut. Mereka menyatakan keyakinannya bahwa pengelolaan dan pemanfaatan tanaman pinus tersebut akan menimbulkan dampak negatif yang nilainya mungkin lebih besar dari manfaat finansial yang diperoleh dari usaha pemanfaatan termaksud, sehingga mereka menuntut agar usaha pemanfaatan tersebut dihentikan. Bertolak dari tuntutan ini pulalah maka pemerintah kabupaten pada awal Tahun 2005 telah menghentikan kegiatan perusahaan pengolahan tanaman pinus rakyat karena dianggap menyimpang dari aturan yang dibuat dimana perusahaan tidak melakukan seleksi yang baik terhadap kayu pinus yang dibelinya. Kayu pinus yang dibeli pabrik/industri pengolahan kayu pinus yang ada di Tana Toraja dianggap tidak semuanya berasal dari hutan rakyat tetapi sebagian berasal dari Hutan Produksi Terbatas atau Hutan Lindung.
Penghentian kegiatan pengolahan tersebut di atas untuk jangka waktu lama bermakna memperlakukan hutan tanaman pinus di Tana Toraja sebagai aset yang tidak dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pemiliknya karena mereka tidak akan mempunyai tempat pemasaran kayu pinusnya meskipun mereka masih memiliki potensi pohon pinus yang cukup besar. Menurut data Pemerintah Kabupaten Tana Toraja Tahun 2006 luas hutan pinus milik rakyat di Kabupaten
Tana Toraja adalah 12.510,40 ha dengan potensi sekitar 1.679.711,89 m3 atau
sekitar 134 m3/ha, dengan luas terbesar berada di 3 kecamatan yaitu Kecamatan
Mengkendek seluas 2.702 Ha, Kecamatan Rindingallo seluas 2.010 ha dan Kecamatan Rantetayo seluas 1.617 ha. Penghentian izin pengolahan hasil hutan pinus rakyat yang masih memiliki potensi yang cukup besar ini mengindikasikan suatu ketidakadilan, oleh karena tanaman pinus yang telah dipelihara selama puluhan tahun justru tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak yang memeliharanya Hal yang semestinya diberlakukan adalah memberi kemungkinan kepada pihak pemilik dan pemerintah kabupaten untuk memanfaatkan tanaman tersebut, berdasarkan prinsip kelestarian hasil dan manfaat.
Tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Tana Toraja kembali mengijinkan pemanfaatan kayu pinus rakyat dan menawarkan bagi para investor yang berminat untuk menanamkan modalnya dalam pemanfaatan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja melalui pembukaan industri pengolahan hasil hutan pinus. Upaya ini dilakukan untuk membantu rakyat agar supaya dapat menjual kayunya dengan mudah dan dapat melakukan penebangan. Upaya pemanfaatan termaksud di atas tentunya membutuhkan suatu perencanaan jangka panjang dan jangka menengah yang didasarkan atas data yang akurat dan komprehensif. Sehubungan dengan itulah maka diperlukan suatu analisis dalam rangka menemukenali peubah-peubah yang mempengaruhi pengembangan hutan rakyat beserta sistemnya khususnya hutan pinus rakyat yang selanjutnya akan mendasari perumusan strategi pengembangan hutan rakyat untuk mendukung pengelolaan hutan secara berkesinambungan.
Perumusan Masalah
Pemanfaatan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja selama ini menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif. Secara umum, dampak positifnya adalah dapat meningkatkan taraf hidup sebagian masyarakat sekitar hutan rakyat dan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi produksi hutan rakyat. Namun demikian pemanfaatan hutan pinus selama ini juga mempunyai kelemahan-kelemahan. Menurut Pemda Kabupaten Tana Toraja pemanfaatan hutan pinus rakyat selama ini belum sesuai dengan yang diharapkan antara lain karena :
1. Kayu pinus yang disuplai ke pabrik/industri pengolahan kayu pinus yang ada
di Tana Toraja tidak semuanya berasal dari hutan rakyat tetapi sebagian berasal dari Hutan Produksi Terbatas atau Hutan Lindung. Hal ini disebabkan oleh karena perusahaan hanya sebagai pihak pembeli kayu dan tidak mendeteksi asal kayu pinus yang dibelinya.
2. Penataan areal tebangan yang tidak jelas dan rotasi penebangannya tidak
teratur sehingga dapat berdampak kepada kelestarian produksi.
3. Terjadinya tumpang tindih kepemilikan hutan rakyat antara kepemilikan
pribadi dan rumpun keluarga pada sebagian pemilik hutan rakyat sehingga dapat menimbulkan keresahan sosial.
4. Sangat kurangnya kegiatan penanam kembali/pembinaan hutan rakyat pasca
penebangan sehingga dapat berdampak negatif terhadap kelestarian hutan rakyat dan terhadap lingkungan sekitar maupun regional.
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja (2006) lebih lanjut mengemukakan bahwa produksi kayu pinus dari hutan rakyat selain dimanfaatkan sendiri sebagai bahan baku bangunan dan perabotan rumah tangga, juga sebagian besar dapat dijual ke industri untuk diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu lapis. Bahkan apabila dapat dikelola dengan baik pinus rakyat di Toraja dapat menghasilkan getah yang sampai sekarang belum dimanfaatkan dan produksi
kayu sebesar 80.479 m3/tahun dengan rotasi 20 tahun. Namun berdasarkan
beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, para pemilik hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja yang memanfaatkan sendiri relatif masih lebih banyak dari pada mereka yang menjual hasil hutan rakyatnya. Hal ini dapat bermakna
bahwa sampai saat ini para pemilik hutan rakyat di Tana Toraja, secara umum belum dapat menikmati manfaat ekonomi dari sumberdaya hutan yang dimilikinya secara optimum, sehingga masih sulit diharapkan bahwa para pemilik hutan rakyat ini dapat melakukan pengelolaan hutan milik mereka secara optimum. Dikemukakan pula bahwa aktivitas pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja tidak berjalan dengan baik, dalam arti bahwa tidak ada keseimbangan antara penebangan dengan penanaman. Kegiatan penanaman cenderung menurun, sedang kegiatan penebangan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu dapat diketahui pula beberapa hal yang merupakan kendala dalam pengelolaan huatan rakyat antara lain : terjadinya kebakaran, batas kawasan yang kurang jelas, pendapatan dari hutan rakyat masih tergolong rendah karena lokasi pemasaran kurang dan bantuan bibit/sumber bibit sangat minim.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Peubah-peubah strategis apa saja yang mempengaruhi pengembangan hutan
pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja
2. Bagaimana struktur sistem pengembangan hutan pinus rakyat di Kabupaten
Tana Toraja yang dapat mendukung keberhasilan pembangunan hutan rakyat
3. Strategi yang bagaimana yang dapat diterapkan dalam pengembangan hutan
pinus rakyat yang dapat meningkatkan pendapatan petani pemilik hutan rakyat dan mendukung pengelolaan sumberdaya hutan secara berkesinambungan di Kabupaten Tana Toraja.
Tujuan
Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk menyusun suatu strategi pemanfaatan hutan pinus milik rakyat yang dapat menjamin manfaat ekonomi disamping manfaat ekologi, baik bagi para pemilik hutan rakyat maupun bagi daerah. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Mengidentifikasi peubah-peubah strategis unsur internal dan eksternal serta
pengaruhnya terhadap pengembangan hutan pinus rakyat
3. Merumuskan suatu strategi pengembangan hutan rakyat yang mendukung pengelolaan sumberdaya hutan secara berkesinambungan di Kabupaten Tana Toraja.
Manfaat Penelitian
Rumusan strategi pengembangan hutan rakyat yang didasarkan atas hasil penelitian ini diharapkan :
1. Dapat bermanfaat sebagai acuan bagi semua pihak yang terkait dengan
pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja khususnya hutan pinus.
2. Dapat mendorong semua pihak terkait untuk berperanserta secara aktif dan
positif dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan penyelenggaraan aktivitas pengelolaan hutan rakyat khususnya hutan pinus di Kabupaten Tana Toraja.
Alur Pikir Penelitian
Alur pikir penelitian, yang secara diagramatis menggambarkan hubungan antara latar belakang masalah penelitian, tujuan penelitian, serta metode analisis yang digunakan disajikan pada Gambar 1.
Identifikasi Variabel Unsur Struktur Identifikasi Variabel Unsur SWOT Pengelolaan Hutan Pinus Rakyat Belum
Optimal Analisis Finansial Analisis Struktural (ISM) Analisis Strategis
(SWOT & AHP)
Perumusan Model Struktural Pengembangan Hutan Rakyat Perumusan Strategi Pengembangan Hutan Rakyat
Arahan Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat ( Hutan rakyat berhasil)
Sejarah hutan rakyat di Indonesia telah dimulai sejak zaman VOC
(Vrseenigde Oost Indische Compagnignie), berupa hutan-hutan yang dihadiahkan VOC kepada pengikutnya yang dianggap berjasa. Kemudian pada Tahun 1952 di
Jawa lahir gerakan ”karang kitri” , yaitu gerakan yang dipelopori oleh Dinas
Pertanian Rakyat untuk menanami tanah-tanah kosong dengan jenis-jenis pohon- pohonan yang melibatkan rakyat atau pemilik lahan yang bertujuan untuk melindungi tanah dari bahaya erosi. Sebagai hasil dari gerakan ini timbullah hutan-hutan rakyat seperti yang banyak terdapat di Jawa saat ini (IPB 1990, diacu