• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cirebon dan Sunda Kalapa sebagai Pelabuhan

CIREBON DAN SUNDA KALAPA SEBAGAI PELABUHAN DAN KOTA DAGANG

B. Cirebon dan Sunda Kalapa sebagai Pelabuhan

Kedudukan Cirebon sebagai kota pelabuhan sudah berlangsung sejak zaman kerajaan Sunda Pajajaran yang bercorak Hindu-Budha. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, menceritakan bahwa Cirebon dulunya adalah sebagai dukuh yang diperintah oleh seorang juru labuhan (syahbandar) dan kemudian menjadi desa yang diperintah oleh kuwu. Pelabuhan awal adalah Muara Amparan Jati yang berada di Dukuh Pasambangan, kurang lebih 5 km sebelah utara Kota Cirebon. Pada saat itu, kerajaan Sunda Pajajaran yang beribukota di Pakuan, di perintah oleh Prabu Siliwangi yang setiap tahunnya menerima upeti berupa garam dan terasi sebagai hasil daerah Cirebon.11

Dukuh Pasambangan dan pelabuhan Muara Amparan Jati sudah mulai disinggahi kapal-kapal dagang dari beberapa daerah di Indonesia, seperti dari Pasai, Palembang, Jawa Timur, Madura, juga beberpa pedagang negeri asing, seperti Arab, Persia (Iran), Irak, India, Tionghoa, Malaka, Tumasik dan Campa. Itulah sebabnya Dukuh Pasambangan menjadi ramai dan banyak penduduk yang hidupnya menjadi makmur.

Pada saat kapal Tionghoa, di bawah Panglima bernama Wai Ping dan Laksamana Te Bo dengan para pengikutnya yang berjumlah banyak, singgah di Pasambangan dalam perjalannya ke Majapahit. Oleh juru labuhan, mereka diterima baik dan selama di dukuh itu mereka membuat menara api di atas Bukit Amparan

11 Atja, Carita Purwaka Caruban Nagari, Karya Sastra sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah, (Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat, 1986). Lihat Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, hal. 159.

20

Jati. Sebagai imbalannya mereka diberikan hadiah beruba garam, terasi, beras tumbuk, rempah-rempah dan kayu jati.12

Cirebon mempunyai pelabuhan yang baik. Banyak kapal berlabuh dan terdapat tiga atau empat jung di sana. Cirebon juga mempunyai banyak hasil bumi berupa beras dan bahan makanan. Menurut Tome Pires, bahwa pelabuhan Cimanuk yang merupakan pelabuhan keenam yang masuk dalam kekuasaan Sunda Pajajaran, banyak terdapat orang-orang Muslim, padahal pelabuhan Cimanuk atau Indramayu merupakan batas dari kerajaan Sunda Pajajaran.13 Adapun bukti arkeologis bahwa Cirebon sudah mengalami pertumbuhan dan masuk wilayah kerajaan Sunda Pajajaran, yaitu ditemukannya sebuah prasasti batu dari Huludayeuh dekat Cirebon yang aksara dan nama rajanya serupa dengan tulisan dalam Prasasti Batu Tulis Bogor.14

Sedangkan, Pelabuhan Sunda Kalapa, terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.15 Tepatnya berada diantara 160.40’ dan 170.0 Garis Bujur Timur. Hal ini menjadikan Sunda Kalapa dikelilingi oleh berbagai pulau yang terkenal dengan sebutan Kepulauan Seribu.16 Keadaan geografis Sunda Kalapa dengan teluk yang dikelilingi kepulauan, menjadi faktor potensial bagi pertumbuhan

12 Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, hal. 160.

13 Armando Cortesao (ed), Suma Oreiental karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodrigues, hal. 232-276.

14 Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, hal. 162.

15 Lihat http://www.arsitekcenterpoint.com/bangunan-bersejarah-jakarta-utara

16 Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, hal. 134.

dan perkembangan pemukiman masyarakatnya. Sehingga Sunda Kalapa dapat tumbuh dan berkembang menjadi sebuah perkotaan.17

Sunda Kalapa Berdiri sejak abad ke V dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke XII, yang terkenal dengan aktivitas perdagangannya. Sunda Kalapa merupakan sebutan sebuah pelabuhan tradisional di teluk Jakarta. Asal mula Jakarta atau Pelabuhan Sunda Kalapa telah dikenal sejak abad ke XII. Pada waktu itu, disebutkan adanya sebuah kota bernama Sunda Kalapa yang merupakan pelabuhan kerajaan Hindu-Jawa bernama Pajajaran.18 Pada masa itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada milik kerajaan Hindu Sunda terakhir di Jawa Barat, Pakuan Pajajaran, yang sekarang berpusat di Kota Bogor. Para pedagang nusantara yang sering singgah di Sunda Kalapa di antaranya berasal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makassar dan Madura, bahkan kapal-kapal asing dari Cina Selatan, Gujarat/India Selatan, dan Arab yang sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, wangi-wangian, kemenyan, kuda, anggur dan zat warna untuk ditukar dengan lada dan rempah-rempah yang menjadi komoditas unggulan pada saat itu. Para pelaut Cina menyebut Sunda Kalapa dengan nama Kota Ye-cheng yang berarti kota Kalapa. Hal ini juga disebabkan banyaknya pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pelabuhan.

Pelabuhan yang dapat menunjukkan nilai pentingnya di wilayah tersebut dapat mengambil keuntungan dari pajak dan cukai perdagangan. Inilah tujuan beberapa

17 Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, hal. 134.

18 Susan Blackburn, Jakarta: Sejarah 400 Tahun, seri terjemahan hal. 5.

22

penguasa maritim Asia Tenggara yang membangun kerajaannnya berdasarkan kontrol perdagangan internasional dan mereka mengawasi transaksi secara langsung untuk keuntungan mereka sendiri. Nilai penting pelabuhan Sunda Kalapa juga dipengaruhi hal yang sama, ketika pelabuhan Malaka di pantai barat Malaya semakin kuat, pengaruh Sunda Kalapa dan pelabuhan-pelabuhan lain di wilayah itu memudar.

Namun, saat Malaka ditaklukan Portugis pada 1511, Sunda Kelapa diuntungkan dengan meningkatnya kedatangan pada pedagang Muslim yang memboikot Malaka.

Perdagangan di kepulauan ini mendatangkan orang asing dan pengaruh asing.

Dari India masuk agama Hindu dan Budha yang sudah diterima di banyak wilayah di Indonesia. Agama-agama ini dipeluk oleh para penguasa yang mengharapkan rakyatnya untuk mengikutinya. Pada abad XVI, Sunda Kalapa tetap berada dalam pengaruh agama Hindu dan terjebak dalam persaingan antara dua kekuatan asing baru, yaitu Islam dan Kristen. Walaupun ingin mendapatkan keuntungan dari kedatangan para pedagang Muslim, pemimpin Pajajaran tetap merasa khawatir terhadap invasi agama baru ini di pelabuhan-pelabuhan Jawa lainnya yang berdekatan.

Saat itu, penguasa Sunda Kalapa mengamati permusuhan tajam antara kaum Muslim dengan pengaruh asing baru di wilayah ini, yaitu orang-orang Kristen Portugis yang merupakan pelaut Eropa pertama yang sering mengunjungi Indonesia.

Bangsa Portugis telah membuktikan keberanian mereka dengan merebut Malaka dari orang kafir (kaum Muslim). Sunda Kalapa mengharapkan perlindungan yang sama dari Portugis terhadap ancaman kekuatan Muslim di daerah sekitarnya. Pada tahun

1522, Sunda Kalapa membuat kesepakatan dengan Portugis dan menjanjikan sejumlah lada setiap tahun dengan syarat Portugis harus membangun benteng di Sunda Kalapa. Selanjutnya, pada tahun 1527, ketika Portugis datang untuk membangun benteng ternyata merekatelah didahului oleh kaum Muslim.

Kekuatan Jawa Barat semakin berkembang dengan adanya Kesultanan Banten di sebelah barat Sunda Kalapa, yang telah mengirimkan seorang panglima bernama Fatahillah untuk menaklukan Sunda Kalapa dan mengubahnya menjadi negarabawahan Banten. Fatahillah berhasil mengusir armada Portugis, lalu mengganti nama pelabuhan Sunda Kalapa menjadi Jayakarta atau “kemenangan dan kejayaan”.19 C. Cirebon dan Sunda Kalapa sebagai Kota Dagang

Cirebon adalah sebuah kota yang tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya sebagai Kota Pelabuhan dan Kota Dagang. Dahulu peranan Cirebon adalah sebagai tempat pemandian suci, namun seiring perubahan zaman Cirebon tempat itu berganti menjadi pelabuhan yang berfungsi sebagai sumber pendapatan ekonomi dan perdagangan serta hubungan dengan dunia luar.20 Pada tahun 1415, armada Cina yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho dan Kun Wei Ping berlabuh di Muara Jati. Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari dijelaskan, armada Cina transit di Muara Jati untuk membeli perbekalan, baik air bersih maupun pangan, dalam perjalanannya ke

19 Susan Blackburn, Jakarta: Sejarah 400 Tahun, seri terjemahan, hal. 7-8.

20 M. Sanggupri Bochari dan Wiwi Kuswiah, Sejarah Kerajaan Tradisinal cirebon, hal. 40.

24

Majapahit. Namun, tidak sebatas itu saja, Ki Gedeng Tapa21 dan Cheng Ho berhasil menjalin kerja sama dalam pembuatan mercusuar.22

Pihak Cina merasa tertarik dengan pelabuhan Cirebon, selain keterlibatan mereka membuat mercusuar, mereka juga membuat perwakilan dagang Cina untuk Nagari Singapura. Pembukaan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Cirebon merupakan pelabuhan yang ramai. Setiap hari banyak orang berjual beli dan banyak perahu berlabuh di Muara Jati, mereka itu diantaranya berasal dari Cina, Arab, Persia, India, Malaka, Tumasik, Pasai, Jawa Timur, dan Palembang.23

Perkembangan pelabuhan Cirebon berlanjut seperti perdagangan internasional, terutama yang berhubungan dengan Cina, mereka selalu membawa barang dagangan berupa kain sutera yang sangat tinggi nilai jualnya dan mereka melakukan selama berabad-abad. Selain sutera, Cina juga membawa rempah-rempah, buah-buahan, porselen, mesiu dan lain-lain. Rute yang mereka tempuh sangat sulit, banyak menghadapi rintangan, seperti badai pasir, cuaca panas dan dingin, serta para penyamun dan perompak. Dalam hal ini, para pedagang mencari jalan alternatif baru yang mudah dan aman, yaitu melalui sistem transportasi laut dan menjadikan sebuah motivasi yang kuat untuk membuka pusat-pusat perdagangan baru, perdagangan kawasan dunia barat dan timur. Dengan demikian, muncullah pelabuhan-pelabuhan

21 Ki Gedeng Tapa adalah syahbandar dari Nagari Singapura. Nagari Singapura dipimpin oleh penguasa yang bernama Ki Gedeng Surawijaya Sakti.

22 Mercusuar tersebut merupakan sarana pelabuhan yang penting sebagai tanda bagi kapal-kapal yang akan berlabuh pada malam hari. Lihat Adeng dkk, Kota Dagang Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra, hal. 49.

23 RH Unang, Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809, 1983, hal. 16.

baru sebagai pusat-pusat perdagangan dari Cina sampai Eropa, dan Nusantara termasuk dalam jaringan perdagangan tersebut.24

Letak geografis Cirebon yang sangat strategis membuat Cirebon masuk ke dalam mata rantai perdagangan internasional pada saat itu. Kedatangan kapal-kapal asing di Cirebon memperjelas keterkaitan Cirebon dalam jaringan internasional.

Pesatnya perkembangan pelabuhan Cirebon didukung adanya politik ekspansi dari Kerajaan Islam (di bawah pimpinan Demak) untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan Pajajaran. Setelah Banten dikuasai (1526) dan Sunda Kelapa (1527), maka seluruh pesisir utara Jawa Barat sudah berada di bawah kekuasaan Islam. Akibat politik ini bandar-bandar lain termasuk Cirebon merupakan tempat jaringan perdagangan internasional atau pasar dunia yang menjadi sumber ekonomi dan perdagangan serta sumber penghasilan kerajaan-kerajaan Islam yang sedang tumbuh dan berkembang, terbentang dari Demak, Cirebon hingga Banten.25

Dari beberapa kegiatan dagang yang dilakukan Cirebon dengan kota-kota pelabuhan lainnya, membuat kota Cirebon ramai didatangi orang-orang asing dari luar Cirebon untuk melakukan transaksi perdagangan atau untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon. Karena letaknya yang sangat strategis itu, membuat Cirebon mudah dipengaruhi oleh budaya luar termasuk Islam.

Sedangkan, Sunda Kalapa merupakan pelabuhan utama yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Kerajaan ini berdiri sampai abad ke XVI, nama

24 M. Sanggupri Bochari dan Wiwi Kuswiah, Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon, hal. 40-41.

25 Lihat Adeng dkk, Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra, hal. 50-51.

26

pelabuhan ini mengacu pada nama Sunda, yaitu wilayah Jawa bagian Barat yang penduduknya memiliki bahasa dan kebudayaan yang berbeda dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga nama tumbuhan kelapa karena banyak pohon kelapa yang tumbuh di sekitar wilayah pesisir tersebut. Dari data arkeologis, historis dan berita-berita asing pada masa pemerintahan Kerajaan Sunda Pajajaran, Sunda Kalapa merupakan kota pelabuhan yang sangat penting karena pada waktu itu Kerajaan Sunda memiliki enam kota pelabuhan: Banten, Pontang, Ciguede, Tangerang, Kalapa, Cirebon dan Cimanuk.26 Pusat Kerajaan Sunda Pajajaran terletak di daerah pedalaman, namun kerajaan itu mempunyai fungsi sebagai negara-kota (city-state) yang di antaranya melakukan kegiatan perdagangan yang bersifat regional maupun internasional.27Dari Kerajaan Sunda Pajajaran-lah diekspor barang-barang hasil pengumpulan dari berbagai daerah pedalaman melalui jalan perairan.

Dengan adanya perdagangan di kepulauan Indonesia dan sekitarnya, juga di berbagai kota di sekitar Selat Melaka menjadi semakin penting karena ada banyak kapal yang harus melewati selat ini dalam perjalanannya melewati Nusantara dan Barat. Pelabuhan ini memberikan nilai penting di wilayah tersebut untuk dapat mengambil keuntungan dari pajak dan bea cukai perdagangan. Ini merupakan tujuan beberapa penguasa maritim Asia Tenggara yang membangun karajaannya

26 Armando Cortesao (ed), Suma Oriental karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodrigues, hal: 232-276.

27 Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara., hal. 139.

berdasarkan kekuasaan dari perdagangan internasional, dan mereka mengawasi transaksi ini secara langsung untuk keuntungan mereka sendiri.28

Kota-kota pusat kerajaan Indonesia-Hindu di Jawa, seperti: Majapahit dengan kota-kota pelabuhannya yaitu Gresik, Tuban dan Jaratan, serta Pajajaran dengan pelabuhannya Sunda Kelapa, yang mengalami perkembangan yang meningkat sangat pesat sehingga mencapai puncak kekuasaannya di bidang politik-ekonomi dan kultural. Sejak pertumbuhan dan perkembangan Islam di Jawa, secara bersamaan muncullah kota-kota Muslim dengan pelabuhannya, seperti di Jawa Tengah pusat kerajaan Demak dengan kota-kota pelabuhan Jepara, Tuban, Gresik dan Sedayu, yang memungkinkan untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam. Hal itu terjadi karena pelayaran dan perdagangan yang terbentang antara Selat Malaka melalui pesisir utara Jawa sampai Maluku yang sebagian besar ada di tangan pedagang-pedagang Muslim. Bupati-bupati pesisir yang semula merupakan bawahan dari pusat kerajaan Majapahit lambat-laun mulai melepaskan diri dan melakukan hubungan perdagangan dengan pedagang-pedagang Muslim tersebut. Tumbuhnya kota-kota pusat kerajaan di Jawa Barat seperti Cirebon, Sunda Kalapa dan Banten membentuk jalinan perhubungan pelayaran, perekonomian dan politik dengan Demak, sebagai pusat kerajaan besar pada abad ke XVI.29

28 Susan Blackburn, Jakarta: Sejarah 400 Tahun, hal. 5-7.

29 Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-Kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi, (Jakarta: Menara Kudus, 2000), hal. 48.

28 BAB III

KOMODITAS PERDAGANGAN ANTARA CIREBON DAN SUNDA