BAB II LANDASAN TEORITIS
D. Ciri-Ciri Makanan dan Minuman yang Halal
Barang siapa meminum minuman keras hingga masuk ke dalam perutnya maka tidak diterima shalatnya selama 7 hari, apabila meminum minuman keras sampai hilang akalnya (mabuk) maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari, apabila ia mati, matinya dalam keadaan kafir, apabila ia bertaubat maka Allah akan menerimanya, apabila ia mengulanginya lagi maka hak Allah nanti akan memberikan minuman dari darah campur nanah.23
D. Ciri-ciri Makanan dan Minuman yang Halal
Untuk mengetahui halal haramnya jenis makanan dan minuman tersebut kita bisa mengetahui cirri – cirinya antara lain :24
1) Penjelasan dalam Al qur’an dan hadis
2) Bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan manusia
22
Shihab, M. Quraish. "Tafsir Al-Misbah." (2002). Jakarta: Lentera Hati 11. hal. 350.
23Howard, I. K. A. "al-Kutub al-Arbaah: Empat Kitab Hadis Utama Madzhab
Ahlal-Bait, terj." ArifBudiarso, dalam Jurnal Kajian ilmu-ilmu Islam Al-Huda, hal 100
24Rahman Ritonga, MA dan Zainuddin, MA. 2000, “Fiqh Ibadah”, Penerbit Gaya Media Pratama, Jakarta,hal. 17.
23
3) Tidak merusak badan , akal maupun pikiran 4) Tidak kotor, najis dan tidak menjijikkan
Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa kita disuruh memakan makanan dan minum minuman yang halal dan baik. Serbagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 168:
ﺎﯾ
ﺎًﺒﱢﯿَط ًﻼَﻠَﺣ ِضْرَﻻْا ﻰِﻓ ﺎﱠﻤِﻣ اْﻮُﻠُﻛ ُسﺎﱠﻨﻟاﺎَﮭﱡﯾ
ِتا َﻮُﻄُﺧ ا ْﻮُﻌِﺒﱠﺘَﺗَﻻ َو
ِنﺎَﻄْﯿﱠﺸﻟا
ِﻦْﯿِﺒﱡﻣ ﱞوُﺪَﻋ ْﻢُﻜَﻟ ﮫﱠﻧِا
}
ةﺮﻘﺒﻟا
{
Artinya :Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat dibumi dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S. Al Baqarah/2:168)
Dalam menafsirkan ayat di atas Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ayat Al Baqarah ayat 168 maksudnya adalah Allah swt telah membolehkan (menghalalkan) seluruh manusia agar memakan apa saja yang ada dimuka bumi, yaitu makanan yang halal, baik, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri yang tidak membahayakan bagi tubuh dan akal pikirannya.
Segala apa saja yang akan dikonsumsi sudahlah mendapatkan standar kelayakan dari Allah swt. Standar itu adalah Halal dan Baik, apa saja yang hendak orang beriman konsumsi entah itu makanan, minuman, pakaian, kendaraan haruslah berstatus halal dn baik. Sebagaimana firman Allah swt ; ( ْاﻮُﻠُﻛ ُسﺎﱠﻨﻟا ﺎَﮭﱡﯾَأ ﺎَﯾ ًﺎﺒﱢﯿَط ًﻻَﻼَﺣ ِضْرَﻷا ﻲِﻓ ﺎﱠﻤِﻣ ) “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari
apa yang terdapat di bumi”. ( ُسﺎﱠﻨﻟا ﺎَﮭﱡﯾَأ ﺎَﯾ ) “Hai sekalian manusia” dalam kaidah ulumul Qur’an jika ada ayatnida’ (orang yang dipanggil) menunjukan keumuman seperti ( ُسﺎﱠﻨﻟا ) manusia, maka ayat ini ditunjukan oleh Allah kepada seluruh manusia tidak hanya orang islam saja. Meski sedemikian setiap nida’ yang berlafaz umum lebih berlaku khusus untuk orang beriman (orang islam), jadi ayat ini secara lafaz menunjukan keumuman dan secara makna lebih ditekankan kepada kaum muslimin.25
Dan maksud dari ( ْاﻮُﻠُﻛ ) disini secara bahasa artinya memakan, atau lebih spesifiknya segala sesuatu yang dimasukan keperut melalui mulut dinamakan makan. Jika ada seorang yang ludahnya tertelan berarti orang itu telah memakan air ludah meski ia tidak sengaja memakanya. Dan juga jika ada seseorang memasukan roti kemulutnya dan kemudian ditelan dan masuk keperut maka ia telah makan,namun jika ia hanya mengunyah dan tidak memasukanya kedalam perut maka orang itu tidak makan. Inilah makna dari ( ْاﻮُﻠُﻛ ) dalam arti sempit .26
Namun ( ْاﻮُﻠُﻛ ) disini tidak hanya berarti makan atu memakan semata melainkan ( ْاﻮُﻠُﻛ ) disini bisa ditafsirkan dengan makna lebih luas yaitu ( ْاﻮُﻠُﻛ ) disini artinya adalah mengkonsumsi, oleh sebab jika dimaknai hanya cukup memakan saja maka akan menyempitkan makna. Selain itu setelah lafaz ( ْاﻮُﻠُﻛ ) diiringi lafaz makna yang memiliki sifat makna luas yaitu ( ِض ْرَﻷا ﻲِﻓ) “Di muka Bumi”. Jadi ( ْاﻮُﻠُﻛ ) maknanya tidak hanya makan atau memakan saja namun bisa dimaknai
25Imam Al Qurtuby, Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an, (Kairo-Mesir : Dar El Hadith, 1428 H), hal. 375.
26Imam Al Qurtuby,Tafsir Al Qur’anul Adzim, x (Beirut-Lebanon : Dar Al Kotob Al
25
mengkonsumsi sebab semua barang yang ada dimuka bumi sifatnya tidak hanya barang yang hanya bisa dimakan semata namun banyak barang yang bisa dinikmati, dan kesemuanya bersifat kearah makna konsumsi. Seperti menaiki kendaraan, memakai pakaian dan perhiasan maka juga harus bersifat halal dan baik oleh sebab semua itu adalah barang yang sifatnya barang konsumsi manusia. Maka yang disifatkan Allah atas manusia yang halal dan baik tidak hanya makanan semata melainkan semua barang yang dikonsusmi haruslah halal dan baik sifatnya, entah itu kendaraan, makanan, pakaian, perhiasan dan sawah ladang semuanya harus berstatus halal dan baik. kemudian ( ْاﻮُﻠُﻛ ) ini dari segi bahasa juga termasuk fiil Amr atau kalimat perintah, maka ini artinya Allah memerintahkan atas suatu hal, yaitu perintah untuk mengkonsumsi apa-apa yang halal dan baik.27
Kemudian makna ( ًﻻَﻼ َﺣ ) yaitu segala sesuatu yang cara memperolehnya dibenarkan oleh syariat dan juga wujud barangnya juga yang dibenarkan oleh syariat. Gula, dari segi barang adalah barang yang dihalalkan syariat namun bisa jadi haram jika cara memperolehnya dengan cara mencuri. Dan khamer (miras) adalah barang yang sifatnya haram meski khamer itu dibeli dengan uang yang halal maka khamer itu akan tetap haram. Inilah makna dari ( ًﻻَﻼ َﺣ ).28
Dan kemudian makna ( ًﺎﺒﱢﯿَط ) Tayyiban adalah lawan dari khabitsan atau jelek/menjijikkan, perkara yang baik adalah perkara yang secara akal dan fitrah dianggap baik. secara akal (ilmu/pengetahuan) tembakau itu jelek oleh sebab
27Wahbah Zuhaili, Al Fiqh al Islam wa Adilatuh, (Beirut-Lebanon : Dar al Fikr , 1428 H), hal. 382.
28
Imam Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, (Beirut-Lebanon : Dar Al Kotob Al Ilmiyah,tt), hal. 378.
membahayakan kesehatan, maka ini bukanlah perkara yang bukan tayyib namun jelek dan juga kecoa secara fitrah adalah hewan menjijikan meski ada sebagian orang yang tidak jijik, maka kecoa ini adalah hewan yang jelek/khabits dan bukan perkara tayyib. Maka dari itu mengkonsumsi kecoa dn tembakau berarti mengkonsumsi barang yang jelek/Khabits atau bukan yang tayyib sebagaimana Allah perintahkan.29
Dan selanjutnya dimana tadi Allah memanggil manusia secara umum untuk mengkonsumsi apa-apa yang ada dimuka bumi ini atas perkara yang halal dan baik, kemudian Allah tegaskan dalam ayat lain atas orang-orang beriman akan perkara ini. yaitu dalam firman-Nya ( ْﻢُﻛﺎَﻨْﻗَزَر ﺎَﻣ ِتﺎَﺒﱢﯿَط ﻦِﻣ ْاﻮُﻠُﻛ ْاﻮُﻨَﻣآ َﻦﯾِﺬﱠﻟا ﺎَﮭﱡﯾَأ ﺎَﯾ ) “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”(QS.Al Baqarah.172). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk memakan makanan yang baik atas rizki yang Allah berikan agar mereka senantiasa-dianggap-bersyukur atas rizqi Allah yang diberikan tersebut, jika benar mereka itu hamba-hamba Allah yang beriman. Mengkonsumsi perkara halal adalah sarana terkabulnya doa dan diterimanya ibadah sebagaimana mengkonsumsi perkra haram menghalangi doa dan tertolaknya amal ibadah.30
29Syaikh Abu Bakar Al Jazairiy, Aisiru Tafasiir, (Kairo-Mesir : Dar El Hadith, 1427 H), hal. 360.
30Ahmad Mustafa al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Mesir : Mustafa Al Babi Al Halabi, 1394 H), hal.351.
27
Jadi dalam ayat ini ada beberapa point penting diantaranya adalah :
1. Kata (اﻮُﻠُﻛ ) termasuk kalimat perintah. Jadi ayat ini adalah perintah Allah untuk
senantiasa mengkonsumsi segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini adalah yang halal dan baik.
2. Berdasarkan kaidah Mafhum Mukhalafah (pemahaman terbalik) maka dengan ayat ini juga sebagai pelarangan untuk mengkonsumsi segala sesuatu yang haram dan jelek.
3. Makna ( ْاﻮُﻠُﻛ ) dalam arti sempit adalah memakan namun dalam arti luas
bermakna mengkonsumsi yang cangkupannya lebih luas. Jadi jika ada seorang yang merokok meski ia tidak memakan rokok itu (hanya menghisap) maka ia juga terkena ayat ini. orang yang merokok adalah seseorang yang mengkonsumsi barang yang makruh dan jelek, bertentangan dengan perintah Allah yang menyuruh yang halal dan baik. segala sesuatu yang dinikamti manusia maka sesuatu itulah yang sedang dikonsumsi. Berjima’ dengan istri itu juga bisa dikatakan mengkonsumsi sesuatu. Maka dari itu dalam jima’ hendaklah dilakukan dengan seseorang yang halal (istri) dan dengan cara yang baik pula jima’nya, yaitu sesuai adab islam. Seperti seorang suami yang berjima’ dengan sitrinya tanpa adanya rayuan dan canda maka suami ini telah melakukan jima’ yang halal namun tidak tayyib. Sebab jima’ yang baik adalah jima’ yang sesuai adab , yaitu jima’ yang diawali dengan canda dan rayuan atas istri.
4. Orang yang mengkonsumsi segala sesuatu yang terkategori halal dan baik maka ia dihadapan Allah swt akan dihitung sebagai hamba-Nya yang sebenar-benarnya, termasuk orang yang bersyukur, diterima doa dan ibadahnya.
5. Hendaknya kaum mukminin mengkonsumsi apa-apa yang halal dan baik, entah untuk pribadi, orang lain , keluarga atau digunakan dalam transaksi jual-beli wajib berstandar halal dan baik.
6. Yang diperintahkan Allah untuk mengkonsumsi segala sesuatu yang halal dan baik tidaklah orang islam semata namun lebih umum. Meski dalam makna khususnya diperintahkan kepada umat islam selaku orang yang beriman.
7. Perintah Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia baik didunia dan akhirat. Ini menunjukan bahwa islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin ( rahmat untuk semesta alam). Islam adalah agama maslahat untuk alam dan sudah semestinya digunakan untuk mengatur seluruh alam, seluruh manusia dan seluruh negara.
Syarat makanan dan minuman yang halal tidak hanya ditinjau dari jenis barangnya (zat) saja , tetapi juga dilihat cara memperolehnya. Agama Islam mensyaratkan makanan dan minuman yang halal dilihat dari cara memperolehnya sebagai berikut:31
1). Diperoleh tidak dengan cara yang batil atau tidak sah, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 188
.
ْﻢُﻜَﻟاﻮْﻣَأا ْﻮُﻠُﻛْﺄَﺗَﻻ َو
ِﻞِطﺎﺒﻟْﺎِﺑ ْﻢُﻜَﻨْﯿَﺑ
.
Artinya:
31Sumanto al-Qurtuby, Sahal Mahfudh; 1999. Era baru Fiqih Indonesia, Yogyakarta: Cermin, hal 67.
29
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil”. ( QS al Baqarah / 2: 188 )
2). Tidak diperoleh dengan cara riba. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 276:
ِتﺎَﻗَﺪﱠﺼﻟا ﻰِﺑْﺮُﯾَواَﻮَﺑﱢﺮﻟا ُ ّﷲ ُﻖَﺤْﻤَﯾ
.
Artinya:
Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. ( QS. Al Baqarah: 276 ) 3). Akan menghasilkan hati dan fikiran yang bersih karena mendapat curahan
cahaya dari Allah Swt.
4). Akan diberi rizki yang halal dan dilipat gandakan oleh Allah karena selalu mentaati Allah sebagai wujud rasa syukur.
5). Menunjukkan pada umat lain bahwa Islam adalah agama tidak merugikan orang lain, seperti mencuri, merampok, mencopet, berjudi dan lain –lain.
Jadi, jika cara mendapatkan makanan dari hasil kerja yang halal, maka akan menghasilkan yang halal pula, dan jika mencarinya dengan jalan tidak halal maka akan menghasilkan yang tidak halal pula.