1.5 Penegasan Istilah
2.4.2 Ciri-ciri Pembelajaran
Pembelajaran merupakan sebuah proses hubungan antar manusia yang disebut sebagai interaksi. Hamdani (2011: 47) menjelaskan ada empat ciri yang terkandung dalam sebuah proses pembelajaran adalah:
2. Pembelajaran merupakan proses pemberian bantuan yang memungkinkan warga belajar dapat belajar, pendidik atau tutor tidak mutlak menentukan apa dan bagaimana warga belajar harus belajar, melainkan ada suasana demokratis. 3. Pembelajaran lebih menekankan pada pengaktifan warga belajar, karena yang
belajar adalah warga belajar, bukan pendidik.
4. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi warga belajar.
Rifa’i (2008: 39) menjelaskan bahwa ada enam hal yang harus diperhatikan
dalam merancang pembelajaran pendidikan nonformal, yaitu: 1. Menciptakan Iklim Belajar
Iklim belajar yang kondusif untuk belajar memegang peranan penting dalam pembelajaran. Iklim belajar yang menyenangkan mampu mendorong semangat partisipan untuk belajar optimal. Sebaliknya, iklim belajar yang kaku dan formal akan mengakibatkan keengganan warga belajar untuk belajar bahkan perhatiannya tidak terfokus pada kegiatan belajar yang akan diikuti. Iklim belajar disamping dipengaruhi oleh hubungan antar manusia juga dipengaruhi oleh lingkungan fisik, diantaranya penataan kursi dan ruangan tempat belajar, ketersediaan media pembelajaran dan bahan bacaan serta sarana belajar lainnya dapat mempengaruhi motivasi belajar. Oleh karena itu kondisi awal pembelajaran harus diperhatikan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran.
Aktivitas belajar akan lebih mudah dan bermakna apabila terjadi di dalam suasana bebas dari ancaman. Ancaman yang dimaksud dapat berasal dari perilaku
pendidik, evaluasi, dan kelulusan. Tugas pendidik dalam menciptakan iklim belajar yang bebas dari ancaman adalah:
a. Menciptakan kondisi fisik yang menyenangkan seperti penyediaaan sarana- prasarana pembelajaran dan interaksi antar warga belajar.
b. Memandang bahwa setiap warga belajar merupakan pribadi yang bermanfaat, dan menghormati perasaan dan gagasan-gagasannya.
c. Membangun hubungan saling membantu antar partisipan dengan mengenbangkan kegiatan-kegiatan yang bersifat kooperatif dan mencegah adanya persaingan dan saling memberikan penilaian.
2. Identifikasi dan Diagnosis Kebutuhan Belajar
Kebutuhan merupakan suatu kondisi antara apa yang senyatanya atau das sain dan apa yang diharusnya atau das sollen (Knowles, 1980: 34). Seseorang berminat mempelajari sesuatu adalah karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Demikian pula dalam memulai pembelajaran baru, seseorang telah membawa berbagai kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Kebutuhan yang dibawa ketika memulai pembelajaran akan mempengaruhi proses dan hasil belajar. Apabila pembelajaran itu sesuai dengan kebutuhan, maka warga belajar akan belajar secara optimal yang pada akhirnya akan memperoleh hasil belajar seperti yang diharapkan.
Dalam merancang pembelajaran, kebutuhan belajar warga belajar menjadi pangkal tolak perumusan tujuan pembelajaran. Semakin konkrit warga belajar dalam mengidentifikasi tingkat kompetensinya, maka akan semakin tepat pula mereka menetapkan kebutuhan belajarnya. Oleh karena itu proses identifikasi dan
diagnosis kebutuhan belajar harus melibatkan warga belajar dan pendidik. Pendidik harus mendorong warga belajar untuk mendiagnosis kebutuhan belajarnya sendiri agar mereka mampu mengarahkan belajarnya sendiri dengan sedikit memperoleh bantuan belajar dari pendidik bila diperlukan.
3. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan terjemahan dari assesmen kebutuhan belajar yang telah didentifikasi sebelumnya. Keterpaduan antara tujuan dengan kebutuhan belajar akan mendorong semangat belajar warga belajar. Proses penterjemahan kebutuhan belajar ke dalam tujuan pembelajaran meliputi tahap-tahap: (1) mengorganisir kebutuhan ke dalam sistem prioritas; (2) memilah-milah kebutuhan melalu filter antara lain filsafat pendidikan, minat warga belajar paling banyak; dan (3) menterjemahkan kebutuhan belajar dalam tujuan pembelajaran. 4. Merancang Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar adalah sumber yang kaya untuk belajar bagi warga belajar. Pola pengalaman belajar yang perlu diperhatikan adalah pengorganisasian kurikulum dan format belajar yang akan diikuti oleh warga belajar. Dalam mengorganisir kurikulum perlu memperhatikan prinsip-prinsip adanya urutan dengan pengalaman belajar sebelumnya sehingga memberikan kesatuan pandangan dan perilaku yang dilandasi oleh aspek-aspek psikologis warga belajar yang diletakan pada pengalaman warga belajar, bukan pada materi pembelajaran yang harus dipelajari. Penetapan format belajar juga perlu memperhatikan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan pembelajaran, pengelompokan warga belajar yang tepat akan menjamin proses
belajar yang lebih efektif. Beberapa cara yang dipilih dalam mengelompokan warga belajar adalah pengelompokan berdasarkan kebutuhan, pengelompokan berdasarkan kesamaan kemampuan, pengelompokan berdasarkan kesamaan karakteristik, pengelompokan berdasarkan campuran kemampuan atau karakteristik, pengelompokan berdasarkan keeratan hubungan (kohesivitas), dan pengelompokan berdasarkan kebutuhan pembelajaran.
5. Mengelola Pembelajaran
Mengelola kegiatan belajar merupakan penjabaran rancangan pola-pola pengalaman belajar ke dalam urutan kegiatan belajar dengan melakukan pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan fasilitas belajar, dan teknik pembelajaran yang paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Yang perlu diperhatikan adalah kedudukan pendidik dalam pembelajaran sebagai fasilitator. Dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu dilakukan melalui tiga tahap, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan adalah menciptakan iklim belajar yang kondusif, memberi motivasi belajar, memberi acuan belajar dan membuat kaitan atau jalinan konseptual. Sedangkan pada kegiatan inti tergantung pada teknik pembelajaran yang akan digunakan dengan memberikan bimbingan belajar dan balikan. Pada kegiatan penutup ada tiga pokok yang dilakukan oleh pendidik antara lain mengkaji kembali (review), evaluasi, dan tindak lanjut.
6. Evaluasi dan Diagnosis Kembali Kebutuhan Belajar
Evaluasi merupakan proses pengumpulan, analisis, dan penafsiran data yang hasilnya digunakan untuk membuat suatu keputusan hasil belajar. Evaluasi
pembelajaran memegang peranan penting dalam pembelajaran, karena dengan evaluasi akan diketahui tingkat keefektifan pembelajaran yang telah dirancang dan dilaksanakan. Namun demikian, pelaksanaan evaluasi pembelajaran perlu melibatkan warga belajar agar mereka melakukan evaluasi diri (self evaluation) dan mengetahui ketercapaian diri dalam melaksanakan pembelajaran. Pelibatan warga belajar ini dimaksudkan agar warga belajar tidak merasa dipaksa untuk belajar, namun sebaliknya dengan kesadaran diri mereka sendiri melaksanakan pembelajaran.