BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.2. Faktor-faktor yang Melatar Belakangi Terjadinya Konflik
Flores Timur
Sengketa batas tanah hak ulayat yang mengakibatkan perang tanding sering kali terjadi di Pulau Adonara. Tanah bagi masyarakat hukum adat adonara adalah sesuatu yang sangat prinsipil sehingga masyarakat rela untuk darahnya tertumpah bahkan kehilangan nyawa sekalipun demi untuk mempertankan haknya atas tanah tersebut. Hal ini
disebabkan oleh kondisi sosiologis masyarakat Adonara yang menjadikan tanah sebagai salah satu sumber untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari maupun untuk jangka panjang. Ketergantungan masyarakat terhadap tanah inilah yang sering kali menjadi pemicu terjadinya konflik sengketa batas tanah hak ulayat ketika adanya pengklaiman secara sepihak terhadap bidang tanah tertentu.
Kebiasaan masyarakat hukum adat Adonara untuk berperang ketika adanya sengketa batas tanah hak ulayat inilah yang mendorong penulis untuk meneliti lebih jauh faktor-faktor yang menjadi latar belakang terjadinya konflik sengketa tanah adat di Pulau Adonara. Faktor tersebut dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan responden sebagai berikut:
Tabel 1. Kurang jelasnya tanda yang digunakan sebagai pembatas tanah hak ulayat merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebab terjadinya sengkketa keberadaan tanah hak ulayat di Pulau Adonara.
Kategori Jawaban Frekuensi (F) Presentase (P)
Sangat Setuju 27 54%
Setuju 23 46%
Tidak Setuju - -
Sangat Tidak Setuju - -
Total (N) 50 100%
Sumber: Hasil analisis angket nomor 1
Pernyataan responden di atas menunjukan bahwa sebagian besar responden sangat setuju bahwa Kurang jelasnya tanda yang digunakan sebagai pembatas tanah hak ulayat merupakan salah satu faktor yang
menjadi penyebab terjadinya sengketa keberadaan tanah hak ulayat di Pulau Adonara sebanyak 27 responden atau 54 persen, disusul setuju sebanyak 23 responden atau 64 persen dan tidak ada satupun responden yang tidak setuju atau sangat tidak setuju terhadap pernyataan di atas.
Hal ini menunjukan bahwa kurang jelasnya batas tanah ulayat tertentu di Pulau Adonara merupakan salah satu faktor yang memicu terjadinya konflik sengketa batas tanah hak ulayat di Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur.
Berdasarkan hasil dari wawancara penulis dengan Kepala Desa Narasaosina, Yeremias Kewa Ama (Wawancara, 3 Februari 2018) bahwa:
Sengkete tanah di Adonara ini kebanyakan karena batas-batas tanah yang diwarisi oleh nenek moyang kita itu menggunakan benda-benda yang sifatnya tidak bertahan lama seperti pohon tertentu yang bisa tumbang karena usianya sudah tua.Kalau pohon ini sudah tumbang maka batas tanah menjadi tidak jelas nah terjadilah main klaim antara kedua belah pihak. Alasan lain yang juga menjadi penyebab adalah cerita diwarisi oleh nenek moyang sudah berbeda sehingga terjadi perdebatan. Masing-masing pihak menganggap ceritanya yang paling benar.
Menurut Tokoh Adat Narasaosina, Dominikus Nama Sabon (Wawancara, 3 Februari 2018) bahwa:
Konflik sengketa tanah ulayat atau tanah adat di daerah kita ini sudah terjadi sejak jaman dulu, ini terjadi karena batas tanah kita kurang jelas. Nenek moyang kita dulu memberikan batas tanah dengan menanam pohon lalu memberi nama pada masing-masing bidang tanah. Karena jaman semakin moderen, sudah mulai banyak orang pintar makanya mulai berani untuk main klaim tanpa melihat kebenaran sejarah.
Selanjutnya menurut Tokoh Adat Saosina, Lukas Oran Bada (Wawancara, 4 Februari 2018) bahwa :
Tanah ekan nure wolo ni (bidang tanah ini) sebenarnya sudah memiliki batas yang jelas. Nenek moyang kita dulu setelah berjuang untuk buka lahan, mereka langsung member batas.Biasanya nenek moyang kita menggunakan menanam pohon-pohon seperti pagar hidup begitu.Tapi karena generasi yang tumbuh sekarang ini menganggap bahwa itu nenek moyang mereka yang tanam makanya terjadilah konflik.Satu lagi itu karena pemerintah kita kurang perhatik dengan baik seperti membuat batas dengan membangun pilar supaya jelas.Tapi itu tidak pernah dilakukan oleh pemerintah kita.
Menurut Kepala Desa sekaligus Pemangku Adat Lewokelen, Tharsisius Keni Lile (wawancara, 5 Februari 2018) bahwa:
Tanah adat ini kita tau bersama bahwa ini adalah warisan nenek moyang.Kalau nenek moyangmu bilang bahwa tanah kamu itu batasnya sampai disini ya kamu jangan tambah-tambah. Batasnya sudah jelas tapi menganggap diri sudah pintar jadi mulai berusaha untuk merebut hak orang lain.
Selanjutnya Menurut Tokoh Adat Desa Adobala, Maximus Gute Belen (Wawancara, 8 Februari 2018) bahwa:
Tanah adat kita mulai berubah sejak jaman Belanda, karena kekuasaan dan sikap diktatornya mereka sehingga pemangku adat yang sebenarnya berkuasa atas bidang tanah tertentu direbut secara paksa lalu diberikan kepada orang-orang yang saat itu memiliki banyak harta dan dekat dengan orang-orang belanda.Jadi setelah Belanda berhasil di usir mulaila perang untuk merebutkan haknya atas tanah kembali begitu.
Menurut lurah Lama Tewelu, Fitriyah Muhidin (Wawancara, 08 Februari 2018) bahwa:
Andai saja pemerintah sadar betul bahwa konflik senggketa tanah adat ini dipicu oleh kurang jelas batas tanah adat maka perang tanding ini tidak terjadi lagi.Tapi sejauh ini belum ada upaya tegas dan serius dari pemerintah kita sehingga konflik di daerah kita sejauh ini belum bisa diselesaikan.
Selanjutnya menurut Kepala Desa Lewobunga, Aloysius Ola Telar (Wawancara, 9 Februari 2018) bahwa:
Konflik sengketa batas tanah hak ulayat ini pertama karena batas tanah kita tidak jelas, sebenarnya dulu itu sudah jelas tapi benda yang dulu nenek moyang kita jadikan sebagai batas tanah seperti pohon dan sebagainya ini kan sudah tumbang jadi batas tanahnya sudah mulai kabur. Ini yang menjadi penyebab terjadinya konflik ini.Kedua itu karena versi tutur sejarah yang diwarisi oleh nenek moyang kita itu sudah berbeda-beda diterjemahkan oleh generasi kita saat ini, ini juga menjadi faktor penyebabnya.
Selanjutnya menurut Tokoh Adat Desa Lewobunga, Aleks Benga Ama (Wawancara, 9 Februari 2018) bahwa:
Pertama itu karena tidak mau mengakui hak orang lain, kalau saja kita semua menyadari bahwa batas tanah kita itu disini sesuai dengan yang diwariskan oleh nenek moyang kita maka perang tanding ini terjadi. Tapi itulah, orang-orang kita sudah banyak yang pintar untuk mengada-ngada sejarah. Sejarah yang diwariskan beda dengan yang diceritakan oleh generasi sekarang jadinya tidak ketemu dan perang terjadi.
Menurut Kepala Desa Lamahala Jaya, Muhammad Abduh (Wawancara, 9 Februari 2018) bahwa:
Jadi sengketa tanah adat ini pertama itu karena batas tanah yang ditunjuk oleh orang tua dulu itu sudah beda dengan yang ditunjuk oleh generasi sekarang, batas tanahnya itu jelas sebenarnya tapi generasi sekarang mulai merekayasa sejarah karena sudah memiliki anak-anak yang sekolah dengan gelar sarjana jadi main klaim saja. Kedua itu jelas bahwa kurang adanya perhatian khusus dari pemerintah daerah kita dalam mengatur batas tanah ulayat ini.
Selanjutnya menurut Tokoh Adat Desa Lamahala Jaya, Ahmad Daud Boli Malakalu (Wawancara, 11 Februari 2018) bahwa:
Tanah adat di Adonara ini semuanya sudah memiliki batas yang jelas, ada yang menggunakan pohon, ada yang menggunakan aliran sungai dan nama tempat tertentu dan ada yang menggunakan batu tertentu sebagai batas. Tapi saat ini tutur
sejarah yang berkembang sudah mengalami perubahan, satu itu karena mereka lihat bahwa tanah di wilayah ini memiliki peluang besar untuk mendapatkan keuntungan maka mulailah mereka mencari cara untuk mengklaim bahwa ini tanah kami karena nenek moyang kami cerita seperti ini. Satu lagi itu pemerintah daerah harus sadar betul bahwa kalau perang sudah agak redah maka harus cepat-cepat selesaikan sekaligus menentukan batas tanah berdasarkan cerita sejarah yang dianggap paling benar sehingga kedepan tidak terjadi perang lagi begitu.
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui beberapa factor yang menjadi penyebab terjadi konflik sengketa tanah hak ulayat di Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tanda yang dijadikan sebagai batas tanah hak ulayat kurang jelas
Batas tanah adat atau tanah ulayat di Pulau Adanara biasanya masyarakat memberi tanda dengan menanam pohon tertentu, aliran sungai atau menjadikan benda lain seperti batuan besar sebagai tanda batas tanah ulayat. Hal ini dianggap kurang jelas oleh masyarakat setempat karena pohon berpotensi untuk tumbang ketika diterpa badai atau termakan usia. Aliran sungai sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan seperti melebar.Tanda batas yang digunakan oleh masyarakat hukum adat Adonara ini dianggap kurang mejamin kepemilikan atas tanah ulayat yang sifatnya abadi karena berpotensi untuk berubah-ubah.Hal ini dianggap menjadi salah satu faktor yang memicu sikap pengklaiman secara sepihak sehingga
menimbulkan konflik sengketa tanah hak ulayat yang berakibat pada perang tanding.
2. Perbedaan versi tutur sejarah
Tutur sejarah merupakan kebiasaan masyarakat hukum adat Adonara yang diwarisi secara turun-temurun hingga masa kini.Akan tetapi budaya tutur sejarah saat ini diyakini telah mengalami pergeseran nilai karena mengandung versi tutur yang berbeda dari masing-masing pihak.Berbedanya versi tutur sejarah ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya konflik sengketa tanah hak ulayat di Pulau Adonara.
3. Kurangnya pemberdayaan sumber daya manusia
Generasi muda Adonara yang berpendidikan atau telah menyandang gelar sarjana diharapkan dapat menjadi tulang punggung kampung halaman sekaligus sebagai agen perubahan dianggap kurang tepat menjalankan fungsinya intelektual muda. Hal ini dikarenakan keterlibatan mereka dalam menyikapi masalah tanpa terlebih dahulu menganilisis secara tepat. Peran pemuda intelek dianggap sangat bergantung pada kepentingan pihak tertentu yang memliki keuntungan terhadap dirinya.sikap ini lah dianggap oleh masyarakat setempat sebagai salah satu faktor yang memicu terjadinya konflik di Pulau Adonara.
4. Kurang adanya perhatian dari pemerintah daerah
Sebagai pelayan, pelindung dan pengayom, andil pemerintahan daerah terhadap penertiban batas-batas tanah ulayat secara permanen sangat diharapkan oleh masyarakat setempat.Sejauh ini, masyarakat beranggapan bahwa sikap pemerintah setempat khususnya Pemerintah Kabupaten Flores Timur masih belum serius dalam menangani persoalan konflik sengketa batas tanah hak ulayat.
Sikap acuh tak acuh dari pemerintah daerah dinilai sebagai upaya pemeliharan konflik sengketa yang berakibat pada perang tanding.Hal ini terbukti dengan tidak adanya Peraturan Daerah khusus untuk mengatur ketertiban batas-batas tanah hak ulayat masyarakat hukum adat di Pulau Adonara.
3.3. Penyelesaian Konflik Sengketa Tanah Hak Ulayat yang