Berbasis Sekolah
E. Ciri dan Karakteristik
MPMBS menawarkan konsep pendidikan terdesentralisasi. Hal itu memberikan harapan baru pada dunia pendidikan, karena mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja sekolah. Mulyasa menjelaskan ciri dan karakteristik MPMBS sebagai berikut.28
Tabel 2.1
Ciri-ciri Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
Organisasi Proses Sumberdaya Sumberdaya
Sekolah Belajar Manusia dan
Mengajar Administrasi
Menyediakan Meningkatkan Memberdaya- Mengidentifi-Manajemen kualitas kan staf dan kasi sumber-organisasi ke- belajar siswa menempat- daya yang
pemimpinan kan personel diperlukan
transforma- yang dapat dan
meng-sional dalam melayani alokasikan
mencapai keperluan sumberdaya
tujuan semua siswa tersebut
se-sekolah suai dengan
kebutuhan Menyusun Mengembang- Memilih staf Mengelola rencana kan kurikulum yang memi- dana sekolah sekolah dan yang cocok liki wawasan
merumuskan dan tanggap manajemen kebijakan terhadap berbasis
untuk kebutuhan sekolah
sekolahnya siswa dan sendiri masyarakat
sekolah
Mengelola Menyeleng- Menyediakan Menyediakan
kegiatan garakan kegiatan dukungan
operasional pengajaran untuk pe- administratif sekolah yang efektif ngembangan
profesi pada semua staf
Menjamin Menyediakan Menjamin Mengelola adanya program pe- kesejahteraan dan
memeli-komunikasi ngembangan staf hara gedung
yang efektif yang diperlu- dan siswa dan sarana
antara kan lainnya
sekolah dan siswa masyarakat
terkait (school
community)
Menjamin ter- Program pe- Kesejahteraan Memelihara peliharanya ngembangan staf dan gedung dan sekolah yang yang di perlu- siswa sarana
lain-bertanggung kan siswa nya
jawab (akun-tabel kepada masyarakat dan pemerin-tah)
Tabel ini menunjukkan bahwa ciri MPMBS dapat dilihat dari proses belajar-mengajar, sumberdaya manusia, dan sumberdaya administrasinya. Selanjutnya, di bawah ini adalah karakteristik MPMBS.29
Tabel 2.2
Karakteristik Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
KARAK- IMPLEMENTASI CONTOH HASIL
TERISTIK
Output Akademik Nilai NEM menjadi lebih tinggi
Non-akademik Prestasi olahraga dari nomor 2 menjadi nomor 1
Proses Keefektifan PBM Internalisasi apa yang dipelajari mampu belajar cara belajar
Kepemimpinan Prakarsa kreatif sekolah yang kuat
Manajemen yang Analisis kebutuhan dan efektif perencanaan yang tepat Memiliki budaya Informasi kualitas untuk
mutu per baikan, bukan untuk
mengkontrol
Kewenangan sebatas tanggung jawab. Hasil diikuti
reward dan punishment.
Imbal jasa sepadan dengan pekerjaan
Memiliki teamwork Output adalah hasil kolektif, cerdas, kreatif, bukan hasil individu
dan inovatif
Memiliki Memiliki kemampuan dan kemandirian kesanggupan kerja tanpa
bergantung atasan
Memiliki sumberdaya yang cukup
Partisipasi warga Rasa memiliki, rasa sekolah tanggung jawab, tingkat dan masyarakat dedikasi
Memiliki keter- Keterbukaan membuat
bukaan keputusan
manajemen Keterbukaan penggunaan uang, penyusunan program, dan evaluasi program Memiliki kemau- Perubahan adalah an untuk berubah kenikmatan, diam adalah (psikologis dan musuh sekolah
fisik) Perubahan terkait dengan peningkatan anak didik Evaluasi dan Tiada hari tanpa perbaikan perbaikan
berkelanjutan
Responsif Tanggap terhadap aspirasi dan antisipatif peningkatan mutu
terhadap kebutuhan
Sekolah memiliki Pertanggungjawaban akuntabilitas sekolah terhadap orangtua,
masyarakat, siswa, pemerintah
Memiliki Peningkatan SDM,
Input
pendidikan
Memiliki kebijakan Tujuan sekolah jelas tentang
mutu kebijakan mutu
Kebijakan mutu disusun Kepala Sekolah, disosialisasikan kepada warga sekolah
Pemikiran, tindakan,
kebiasaan, karakter, diwarnai kebijakan mutu
Sumberdaya Mampu mendayagunakan tersedia sumberdaya terbatas demi
mutu
Memiliki harapan Kepala Sekolah memiliki prestasi yang komitmen dan motivasi
tinggi tinggi untuk mutu
Guru dan karyawan memilki komitmen dan motivasi tinggi untuk mutu anak didiknya, walau sumberdaya sekolah terbatas
Fokus pada Anak didik adalah fokus pelanggan kegiatan sekolah
pemuasan pelanggan dengan mendayagunakan sumberdaya maksimal Manajemen yang Rencana sistematis dan
tertata teperinci
jelas Tugas jelas
Program pendukung rencana Aturan main yang jelas. Kendali mutu yang berjalan efektif dan efi sien
Konteks penerapan MBS adalah dalam rangka membentuk sekolah yang memiliki kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas, sebagaimana pesan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 49 bahwa pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan hal-hal berikut.
1. Kemandirian
Kemandirian dapat diartikan sebagai kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. Kemandirian dari sisi program dan pendanaan merupakan tolok ukur utama keman-dirian sekolah. Jadi, kemankeman-dirian sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi warga sekolah, sesuai dengan peraturan perundang-undangan pen-didikan nasional yang berlaku.
2. Kemitraan
Setiap warga sekolah mempunyai fungsi dan peran yang spesifik. Hubungan antar-warga sekolah didasarkan atas ke-mitraan atau partnership, yaitu bentuk hubungan setara dalam berbagi tanggung jawab, sesuai dengan fungsi dan perannya.
3. Partisipasi
Sekolah dapat mewujudkan visinya, kalau semua warga terlibat, sesuai dengan fungsi dan perannya. Pelibatan warga
sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian, batas kewenangan, dan relevansinya dengan tujuan partisipasi.
Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan, kerja sama yang kuat, akuntabilitas, dan demokrasi pendidikan. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan.
4. Keterbukaan
Keterbukaan memberi kesempatan kepada warga sekolah untuk mengetahui hal-hal yang sedang terjadi dan memahami kondisi nyata sekolah. Pemahaman ini menjadi awal tumbuhnya kepedulian warga sekolah.
5. Akuntabilitas
MPMBS harus dipahami sebagai model pemberian kewe-nangan yang lebih besar kepada sekolah. Sebagai konsekuensi-nya, sekolah harus bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Untuk itu, sekolah berkewajiban mempertanggung-jawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh publik. Artinya, akuntabilitas publik menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah.