• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ciri Khusus Islam

Dalam dokumen MANUSIA DAN ALAM SEMESTA MUTHHAHHARI (Halaman 129-147)

Islam adalah nama agama Allah SWT. Itulah agama yang didakwahkan oleh semua nabi. Bentuknya yang paling sempurna disampaikan kepada umat manusia oleh Nabi terakhir, Muhammad bin Abdullah saw. Muhammad saw adalah akhir kenabian. Risalah yang disampaikan oleh Muhammad saw sekarang di seluruh dunia dikenal dengan nama Islam. Ajaran Islam yang disampaikan melalui Nabi terakhir saw, ajaran yang merupakan petunjuk abadi dan bentuk paling sempurna dari agama Allah SWT, memiliki ciri-ciri khusus yang sesuai dengan periode agama terakhir. Seluruh ciri khusus ini tak mungkin ada di zaman sebelumnya, di zaman ketika umat manusia masih belum mencapai tahap kematangan. Masing-masing ciri khusus ini merupakan sarana untuk mengenal Islam, dan juga menunjukkan salah satu doktrin pokok Islam. Ciri-ciri khusus ini dapat membantu kita membuat gambar Islam, sekalipun mungkin sedikit tidak jelas. Juga merupakan kriteria untuk menilai apakah ajaran tertentu merupakan bagian atau bukan bagian dari Islam.

Kami tidak mengatakan dapat memaparkan semua ciri khusus ini. Namun kami akan mencoba menghadirkan gambar utuh ciri-ciri khusus itu. Kita tahu bahwa setiap ideologi—atau sebenarnya setiap mazhab pemikiran—yang menawarkan program untuk menyelamatkan, menyempumakan dan menyejahterakan manusia, juga mengemukakan nilai-nilai tertentu dan meresepkan apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang mesti dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan bagi orang seorang atau masyatakat. Setiap ideologi mengatakan apa yang harus terjadi dan apa yang hams dilakukan, dan menggariskan kebijakan umum dan tujuan-tujuan yang mesti dicapai, misalnya menggariskan bahwa setiap orang harus merdeka dan hidup merdeka. Setiap orang harus berani dan tegar dan harus senantiasa membuat kemajuan agar dapat mencapai kesempurnaan. Masyarakat harus dibangun di atas fondasi keadilan, sehingga dapat melangkah maju ke arah kedekatan dengan Allah SWT.

Apa-apa yang harus dan tidak boleh ini tentu saja harus di-dasarkan pada filosofi yang mampu menjelaskan apa-apa yang harus dan tidak boleh itu. Dengan kata lain, tentu saja ideologi harus didasarkan pada konsepsi tertentu tentang dunia, tentang manusia dan masyarakat, yang menurut konsepsi tersebut dapat dikatakan bahwa ini harus seperti itu, atau itu harus seperti ini, karena dunia atau manusia atau masyarakat adalah seperti ini atau seperti itu.

Konsepsi tentang dunia artinya adalah jumlah seluruh pandangan dan interpretasi tentang dunia, tentang manusia dan tentang masyarakat. Tentang dunia, pandangannya misalnya adalah; dunia adalah seperti ini atau seperti itu, hukum yang mengaturnya begini, jalannya begini, di dunia ini yang dikejar bukanlah tujuan ini atau itu, dunia itu ada asal- usulnya atau tidak ada, ada tujuan atau tak ada tujuannya. Tentang manusia, pandangan yang menjadi konsepsi tentang dunia adalah misalnya; apakah manusia memiliki fitrah, apakah manusia itu bebas atau terpaksa, apakah manusia—menurut kata-kata Al- Qur'an—adalah makhluk pilihan. Tentang manusia, pertanyaannya adalah: Apakah masyarakat ada hukumnya sendiri yang terlepas dari hukum yang mengatur orang seorang? Hukum apa yang mengatur masyarakat dan sejarah? Dan pertanyaan-pertanyaan lain seperti itu.

Karena ideologi selalu didasarkan pada konsepsi tertentu tentang dunia, yang menjelaskan kenapa dunia, masyarakat atau manusia seperti ini atau seperti itu, dan menetapkan apa yang harus dilakukan manusia dan bagaimana seharusnya manusia hidup, maka jawaban untuk setiap "mengapa" mendasari konsepsi tentang dunia yang menjadi dasar dari ideologi. Secara teknis, setiap ideologi merupakan semacam "kearifan praktis,w sedangkan setiap konsepsi tentang dunia merupakan semacam "kearifan teoretis." Tentu saja setiap kearifan praktis didasarkan pada teori tertentu. Misalnya, kearifan praktis Socrates didasarkan pada pandangan tertentu Socrates tentang dunia, dan pandangan ini membentuk kearifan teoretis Socrates. Begitu pula hubungan kearifan praktis Epicurus serta lainnya dengan kearifan teoretis mereka. Dan karena berbagai orang memiliki konsepsi yang berbeda mengenai dunia, maka tentu saja ideologi mereka pun beragam.

Kini timbul pertanyaan: Kenapa banyak sekali konsepsi tentang dunia, banyak sekali kosmologi? Kenapa satu mazhab pemikiran memandang dunia begini, sedangkan mazhab pemikiran lain memandang dunia begitu?

Jawabannya tidak sesederhana pertanyaannya. Sebagian orang bahkan sampai mengatakan bahwa posisi kelas individulah yang menentukan sikap dan pandangan individu tersebut dan yang memberinya kacamata khusus untuk melihat dunia. Menurut teori ini, metode produksi dan distribusi menimbulkan reaksi yang membentuk mentalitas dan pandangan orang seorang dengan cara tertentu, tergantung pada apakah pengaruh metode ini pada orang seorang itu positif atau negatif. Pandangan yang terbentuk ini mempengaruhi penilaiannya dan evaluasinya terhadap segala sesuatu. Maulawi mengatakan:

Jika kita naik perahu, pantai terasa bersama kita.

Kalau kita menderita karena kejadian buruk, dunia terasa menjengkelkan. Jika kita bahagia, segalanya terasa menyenangkan.

Kalau kita merasa bagian dari dunia, dunia ini terasa seperti kita.

Menurut teori ini, orang tak dapat mengklaim pandangannya saja yang benar dan pandangan orang lain salah, karena pandangan itu relatif-relatif saja. Pandangan merupakan hasil dari kontak individu dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya. Karena itu pandangan orang dapat dianggap benar sejauh menyangkut dirinya.

Namun masalahnya tidak sesederhana itu. Tak ada yang dapat menyangkal fakta bahwa pikiran manusia banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Namun juga tak dapat disangkal bahwa manusia memiliki kemampuan untuk bebas berpikir yang tidak dipengaruhi oleh apa pun. Kemampuan inilah yang oleh Islam disebut fitrah manusia. Masalah ini akan dibahas secara terperinci pada kesempatan lain. Sekalipun pemikiran realistis manusia dianggap tidak independen, namun tetap terlalu dini pada tahap kosmologi ini untuk menyalahkan manusia. Filosof modern, yang telah melakukan kajian saksama atas masalah ini, mengakui bahwa penyebab terjadinya beragam konsepsi tentang dunia harus dicari pada apa yang disebut teori pengetahuan.

Para filosof cukup memperhatikan teori ini. Sebagian menyatakan bahwa filsafat, bukanlah kosmologi. Filsafat hanyalah metodologi mencari pengetahuan. Adapun kenapa banyak sekali teori kosmologis, jawabnya adalah karena ada beberapa metode untuk mengenal dunia. Sebagian mengatakan bahwa untuk mengetahui dunia, kita harus menggunakan akal. Sebagian lain berpendapat bahwa dunia dapat diketahui bila kita mendapat pencerahan dan ilham. Jadi ada perbedaan pendapat mengenai metode, sumber dan kriteria untuk mendapatkan pengetahuan tentang dunia. Menurut sebagian pihak, akal sangat terbatas perannya dalam hal ini. Namun menurut sebagian lainnya, peran akal tak terbatas.

Pendek kata, ideologi setiap mazhab didasarkan pada konsepsi mazhab tersebut tentang dunia, dan konsepsi ini didasarkan pada teori tentang pengetahuan. Sejauh mana progresivitas suatu ideologi, ditentukan oleh sejauh mana progresivitas konsepsinya tentang dunia, yang pada gilirannya ditentukan oleh sejauh mana progresivitas metode pencarian pengetahuannya. Sesungguhnya kearifan praktis setiap mazhab bergantung pada kearifan teoretisnya, yaitu cara berpikimya. Karena itu setiap mazhab pertama-tama harus menjelaskan cara berpikirnya.

Islam bukanlah mazhab filsafat, dan tidak bicara dalam bahasa filsafat. Islam memiliki terminologinya sendiri. Terminologi Islam dapat dimengerti oleh semua kelas menurut tingkat pemahaman masing-masing kelas. Yang mengherankan adalah meski Islam hanya menyebut masalah-masalah ini di antara subjek-subjek lain, namun dari ajaran-ajaran

Islam kita mudah menyimpulkan ideologi Islam dalam bentuk pemikiran praktis, dan konsepsinya tentang dunia dalam bentuk doktrin logis.

Cukuplah kita di sini hanya merujuk kepada konsepsi Islam tentang dunia. Kita tak dapat berbicara panjang lebar mengenai berbagai pandangan berharga dari pakar-pakar Islam seperti ahli hukum, filosof, sufi dan pemikir lain mengenai ideologi Islam, konsepsi Islam tentang dunia, dan metode pencarian pengetahuan. Kalau kita membicarakannya panjang lebar, maka dibutuhkan berjilid-jilid buku. Paling banter yang dapat kita lakukan adalah memaparkan, meski tidak lengkap, ciri-ciri khusus utama pandangan Islam mengenai masalah-masalah ini. Kita bisa saja memaparkan-nya dengan lengkap, namun pada kesempatan lain. Ciri-ciri khusus utama pandangan Islam tersebut dipaparkan dalam sub- sub bab berikut: Metode Pengetahuan, Konsepsi tentang Dunia, dan Ciri Khusus Ideologi Islam.

Metode Pengetahuan

1. Mungkinkah Kita Mengetahui Kebenaran?

Ini selalu merupakan pertanyaan pertama dalam hal ini. Banyak pemikir berpendapat bahwa kita mustahil mengetahui kebenaran dengan persis. Menurut mereka, memang sudah nasib manusia tidak tahu persis apa sebenarnya yang ada di dunia ini dan apa yang terjadi di dunia ini. Mereka menganggap mustahil mendapatkan pengetahuan yang akurat yang sesuai dengan realitas.

Namun, menurut Al-Qur'an, kita dapat mengetahui kebenaran. Al-Qur'an mengajak manusia untuk mengenai Allah SWT, dunia, dirinya sendiri dan sejarah. Dalam kisah tentang Nabi Adam as, yang sesungguhnya merupakan kisah tentang manusia, Adam as dianggap tepat untuk mengetahui semua nama Allah SWT atau realitas-realitas dunia. Al- Qur'an mengatakan bahwa dalam kasus-kasus tertentu pengetahuan manusia dapat memahami beberapa poin pengetahuan Tuhan. Al-Qur'an mengatakan:

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki- Nya. (QS. al-Baqarah: 255)

2. Apa Sumber Pengetahuan?

Dan sudut pandang Islam, sumber pengetahuan adalah: tanda-tanda alam atau tanda- tanda yang ada di alam semesta, yang ada dalam diri manusia sendiri, dalam sejarah, atau dalam berbagai peristiwa sosial dan berbagai episode bangsa dan masyarakat, dalam akal atau prinsip-prinsip yang sudah jelas, dalam hati, dalam pengertiannya sebagai organ pencerah dan penyuci, dan dalam catatan yang diwariskan umat-umat terdahulu.

Dalam banyak ayat Al-Qur'an manusia diminta merenungkan apa dan bagaimana langit dan bumi itu. Al-Qur'an memfirmankan dalam Surah Yunus, ayat 101:

Al-Qur'an juga mengajak manusia untuk mengkaji sejarah bangsa-bangsa terdahulu, dengan kajian yang cerdas, dengan tujuan mengambil hikmahnya.

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? (QS. al-Hajj: 46)

Al-Qur'an Suci percaya kepada keandalan akal dan kepada keandalan kebenaran- kebenaran yang sudah jelas. Argumen-argumen Al-Qur'an didasarkan pada akal dan kebenaran-kebenaran seperti itu. Al-Qur'an mengatakan:

Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu (langit dan bumi, atau alam semesta) telah rusak binasa. (QS. al-Anbiyâ': 22)

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakan-Nya, dan sebagian Tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuri Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. (QS. al-Mukminûn: 91)

Al-Qur'an juga memandang hati sebagai pusat intuisi dan ilham Ilahiah. Setiap manusia dapat menerima ilham sesuai dengan dedikasi tulusnya dan upayanya untuk menjaga kesucian dan aktivitas spiritual pusat ini. Wahyu para nabi merupakan pengetahuan seperti ini yang tingkatannya paling tinggi. Berulang-ulang Al-Qur'an menyebut nilai pena dan kitab, dan pada beberapa kesempatan Al-Qur'an bersumpah atas nama pena dan kitab:

Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis. (QS. al-Qalam: 1) 3. Apa Sarana untuk Mendapatkan Pengetahuan?

Sarana untuk mendapatkan pengetahuan adalah indera, kemampuan berpikir, argumentasi, penyucian jiwa, dan telaah atas karya-karya ilmiah orang lain. Dalam surah an-Nahl: ayat 78, di-katakan sebagai berikut:

Dan Allah mengeluarkan kamu dan perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. an-Nahl: 78)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa, bertentangan dengan teori Plato, ketika lahir manusia tidak memiliki pengetahuan apa pun. Allah SWT telah menganugerahinya indera untuk mengkaji alam semesta ini, Allah SWT telah memberi manusia hati nurani dan daya analisis agar manusia dapat meneliti realitas-realitas segala sesuatu untuk mengetahui hukum-hukum yang mengatur segala sesuatu itu.

Menurut teori terkenalnya, Plato percaya bahwa segala yang ada itu memiliki bentuknya yang sama di alam gagasan. Ketika lahir, manusia sudah mengetahui segala sesuatu,

namun dia sudah kelupaan. Dia tidak mempelajari hal-hal baru di dunia ini. Yang dilakukannya hanyalah mengingatnya kembali.

Yang disebutkan dalam ayat ini selaras dengan teori Al-Qur'an tentang pengetahuan fitri. Teori ini tidak menunjukkan bahwa ketika lahir manusia sesungguhnya tahu segala sesuatu. Yang dimaksud Al-Qur'an adalah bahwa hakikat manusia adalah berada dalam keadaan tumbuh dan evolusi, dan bahwa dalam hidupnya dia, berdasarkan gerak hati, menemukan kebenaran-kebenaran asasiah tertentu yang jelas di luar apa yang dipelajaruiya melalui inderanya. Penemuan kebenaran-kebenaran ini cukup meyakinkan untuk memaksa manusia mempercayai kebenaran-kebenaran ini. Itulah yang dimaksud Al-Qur'an ketika menyerukan "tadzakkur" (mengingat). Karena itu antara ayat-ayat Al- Qur'an yang menyerukan tadzakkur dan ayat Surah an-Nahl yang dikutip di atas tak ada kontradiksi.

Dalam ayat ini, pendengaran dan penglihatan, dua indera yang sangat penting, disebut- sebut sebagai sarana untuk mengetahui. Secara teknis, keduanya dikenal sebagai sarana untuk mendapatkan pengetahuan primer yang tidak mendalam. Sedangkan hati atau hati nurani, yang juga disebut-sebut dalam ayat itu, secara teknis digambarkan sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam dan logis.

Secara sambil lalu dalam ayat ini juga disinggung masalah lain yang penting. Yaitu masalah tahap-tahap pengetahuan. Selain indera dan daya pikir, Al-Qur'an juga mengakui ketakwaan dan kesucian jiwa sebagai sarana untuk mendapatkan pengetahuan. Poin ini sudah disebutkan dalam banyak ayat baik secara tersirat maupun tersurat. Al-Qur'an mengatakan:

Hai orang-orang beriman, jika kamu tdkwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberimu furqan (kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk). (QS. al- Anfâl: 29)

Demi jiwa serta Dia yang menyempurnakannya, maka Allah mengUhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. (QS. asy-Syams: 7-9)

Belajar dan membaca merupakan sarana lain untuk mendapatkan pengetahuan yang secara formal diakui oleh ajaran Islam. Untuk menjelaskan poin ini, cukup dikatakan bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw diawali dengan kata, "Bacalah". Al-Qur'an memfirmankan:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dan segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-'Alaq: 1-5)

Apa saja yang patut diketahui, dan apa saja yang harus diketahui? Yang harus diketahui adalah Allah, alam semesta, manusia, masyarakat, dan masa. Semuanya ini patut diketahui, dan kita harus mengetahui semua ini.

Konsepsi tentang Dunia

Buku ini, yang merupakan mukadimah untuk konsepsi Islam tentang dunia, terutama membahas pokok masalah (konsepsi Islam tentang dunia—pen.) ini. Pokok masalah inilah yang berserak di sepanjang buku ini. Namun, untuk menjaga kesinambungan, kami paparkan secara singkat ciri-ciri khusus utama konsepsi Islam tentang dunia:

1. Sifat-dasar dunia ini adalah "dari-Nya." Dengan kata lain, realitas dunia ini berasal dari realitas-Nya. Bisa saja eksistensi sesuatu berasal dari sesuatu yang lain, namun realitas sesuatu itu tidak mesti sepenuhnya berasal dari realitas sesuatu yang lain itu.

Misal, ambil contoh seorang anak lelaki dan kedua orangtuanya. Anak lelaki ini lahir dari kedua orangtuanya, namun realitas eksistensi anak lelaki itu beda dengan realitas kedua orangtuanya, dan merupakan sesuatu yang menambah realitas kedua orangtuanya. Sebaliknya, sifat-dasar dunia adalah "dari-Nya." Segenap realitasnya tak lebih dari "ada karena Allah SWT". Realitasnya dan eksistensinya karena Allah, adalah identik. Itulah yang dimaksud ketika kami katakan bahwa dunia diciptakan oleh Allah SWT. Kalau saja arti penciptaan dunia itu tidak seperti itu, maka yang terjadi adalah prokreasi (eksis melalui proses reproduksi—pen.), bukannya penciptaan. Al-Qur'an mengatakan: Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. (QS. al-Ikhlâsh: 3) Tak ada bedanya apakah dari segi waktu dunia ini ada permulaannya atau tidak ada permulaannya. Jika ada permulaannya, maka dunia ini merupakan suatu realitas terbatas "dari-Nya." Jika tak ada permulaannya, maka dunia ini merupakan suatu realitas tak terbatas "dari-Nya." Bagaimanapun juga, dunia ini "dari-Nya," dan keterbatasan setta ketakterbatasan dunia tak ada bedanya, karena dunia merupakan realitas ciptaan dan eksistensinya adalah "dari- Nya".

2. Realitas dunia ini, selain dunia ini adalah "dari-Nya" dan karena itu karakter dunia ini adalah fana, tidak saja selalu berubah dan bergerak seiring waktu, namun dunia ini sendiri merupakan suatu gerakan. Dengan begitu dunia selalu berubah terus-menerus dan selalu dalam keadaan diciptakan dan di ciptakan kembali. Waktu berjalan, dan dunia ini pun selalu dalam keadaan diciptakan dan dihancurkan.

3. Realitas-realitas dunia ini merupakan bentuk rendahnya realitas-realitas yang eksis di dunia lain yang disebut dunia gaib. Apa pun yang ada di sini yang bentuknya terbatas dan terukur ada di dunia transendental atau dunia gaib, dan bentuknya tidak terbatas dan tidak terukur, atau dalam kata-kata Al-Qur'an, dalam bentuk "khazanah". Al-Qur'an memfirmankan: Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya. Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS. al-Hijr: 21)

4. Karena sifat dasar dunia ini adalah "dari-Nya," maka dunia ini juga "menuju kepada- Nya." Dunia ini telah membuat perjalanan menurun. Dunia ini juga dalam keadaan membuat perjalanan menaik, perjalanan menuju Dia. Al-Qur'an memfirmankan:

Kami ini milik Allah, dan sungguh kepada-Nya kami kembali. (QS. al-Baqarah: 156) Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). (QS. an-Nâzi'ât: 44) Ingatlah bahwa kepada AUah lah kembali semua urusan. (QS. asy-Syûrâ: 53)

5. Dunia ini memiliki sistem yang pasti dan teratur. Basis sistem ini adalah kausasi (sebab-akibat). Setiap yang eksis diatur oleh takdir Tuhan melalui sistem ini.

6. Sistem sebab-akibat bukan saja berupa sebab dan akibat material. Sejauh menyangkut dimensi material dunia ini, sistem sebab-akibatnya bersifat material, namun sejauh menyangkut dimensi spiritual dunia ini, sistem sebab-akibatnya bersifat non-material. Antara dua sistem ini tak ada pertentangan. Masing-masing sistem ada tempatnya sendiri- sendiri. Malaikat, jiwa, Lauh Mahfûzh, Pena dan Kitab-kitab wahyu merupakan sarana bagi beroperasinya karunia Tuhan di dunia ini dengan kehendak-Nya.

7. Dunia seluruhnya diatur dengan hukum dan norma yang pasti. Hukum dan norma ini merupakan bagian dan paket dari sistem sebab-akibat yang berlaku di dunia ini.

8. Dunia ini merupakan sebuah realitas yang terbimbing. Evolusinya terbimbing. Segenap partikel dunia ini letaknya sedemikian sehingga partikel-partikel ini menerima cahaya petunjuk. Naluri, indera, akal, ilham dan wahyu merupakan tahap-tahap yang berbeda dari bimbingan umum untuk dunia. Nabi Musa as mengatakan: Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (QS. Thâhâ: 50)

9. Di dunia ini ada baik dan ada buruk. Ada keselarasan dan ada pula pertentangan. Ada berlimpah dan ada pula kekurangan. Ada terang dan ada pula gelap. Ada maju dan berkembang dan ada pula mandek dan stagnasi. Namun adanya baik, selaras, berlimpah, terang dan berkembang memiliki nilai yang sangat penting. Sedangkan adanya buruk, gelap, pertentangan, mandek, hanyalah subsider dan sekunder. Namun segala yang subsider dan sekunder ini perannya penting dan mendasar dalam menyebabkan adanya yang baik, yang selaras, yang evolusioner.

10. Dunia ini, yang merupakan satu unit yang hidup dan diatur oleh kekuatan-kekuatan sadar (para malaikat yang mengatur urusan dunia), adalah sebuah dunia aksi dan dunia reaksi sejauh menyangkut hubungannya dengan manusia. Dunia tidak acuh tak acuh kepada orang yang baik dan orang yang buruk. Hukum balas jasa, ganti rugi, dan imbalan berlaku di dunia ini, seperti halnya di akhirat. Orang takwa dan orang kafir tak diperlakukan sama. Al-Qur'an memfirmankan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) hepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat)-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7) Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan: Tidak bersyukurnya seseorang jangan sampai menghalangimu untuk berbuat kebajikan. Mungkin saja orang yang kamu baiki tidak berterima kasih kepadamu.

Kamu akan menerima lebih banyak terima kasih dari yang bersyukur ketimbang yang tidak kamu dapatkan dari yang tidak bersyukur." (Nahj al-Balâghah, khotbah: 194)

11. Yang dimaksud Imam Ali as adalah bahwa dunia yang merupakan organisme hidup,

Dalam dokumen MANUSIA DAN ALAM SEMESTA MUTHHAHHARI (Halaman 129-147)