BAB II : CITRA PEREMPUAN ISTANA ( HADLARI )
C. Citra Perempuan Istana ( High Class Women )
Perempuan dalam tradisi sastra Arab Jahiliyah terutama syair, memiliki arti tersendiri, bahkan ia adalah bagian terpenting dalam sebuah syair. Hal ini terbukti dari tradisi mereka yang selalu menyebutkan terlebih dahulu perempuan-perempuan yang memiliki arti bagi penyair dalam mukadimah syair, yang biasa mereka sebut dengan istilah al-nasîb. Namun demikian, hal ini tidak bisa dijadikan sebagai alasan, bahwa perempuan pada masa Jahiliyah memiliki peranan yang sangat tinggi dalam struktur sosial. Dalam syair-syair Umru al-Qais yang sangat terkenal dengan ghazal-ghazalnya, misalnya, kita dapat menemukan ungkapan-ungkapan penyair tentang perempuan di sekitarnya. Umru al-Qais adalah sebuah simbol laki-laki istana atau aristokrat yang kehidupannya tidak pernah lepas dari perempuan. Meskipun kita juga tidak dapat menggeneralisir kehidupan pria istana melalui kehidupan Umru al-Qais, namun demikian ia tetap memberikan gambaran pada kita bagaimana perempuan diperlakukan dalam kehidupan mereka, meskipun dari satu sudut kehidupan.
1. Fisis, erotisme dan kekuasaan
Sebagaimana diungkapkan oleh Suwardi Endraswara bahwa karya sastra sejak zaman dahulu kala telah menjadi culture regime dan memiliki daya pikat kuat terhadap persoalan gender. Persepsi perempuan sebagai makhluk yang lemah lembut, permata, bunga, dan sebaliknya laki-laki sebagai kaum yang cerdas, aktif, kuat dan sejenisnya- selalu mewarnai di hampir semua sastra di dunia. Citra perempuan seperti itu seakan- akan telah mengakar dalam benak penulis dari masa ke masa. Dan paham yang sangat sulit dihilangkan hingga kini adalah terjadinya hegemoni laki-laki terhadap perempuan. dan kekurangan seseorang, sehingga tidak sesuai dengan watak bangsa Arab yang keras. Satu-satunya penyair yang memiliki banyak syair i;tidzar adalah al-Nâbighah al-Dzubyâni saat ia memohon pengampunan pada al-Nu’mân al-Mundzir. Ibrâhîm ‘Ali Abu al-Khasab dan Ahmad Abd al-Mun’im al- Bahâ, Buhûts fi al-Adab al-Jâhili, hal. 67
Hampir seluruh karya sastra, baik yang dihasilkan oleh penulis laki-laki maupun perempuan, dominasi laki-laki selalu lebih kuat. Figur laki-laki terus menjadi the authority, sehingga memberikan asumsi bahwa perempuan adalah impian, the second sex, warga kelas dua dan tersubordinasi”.278
Ukuran ideal antara satu orang dengan yang lain tentu saja tidak sama. Ada yang mengukur idealisme dengan kecerdasan, ada pula yang mengukurnya dengan kecantikan, baik fisik ataupun psikis. Sebagai contoh, ciri perempuan ideal menurut nilai-nilai Victoria yaitu harus mencerminkan ‘the cult of true womanhood’ atau
pemujaan terhadap kewanitaan sejati. Untuk itu sifat-sifat yang harus dimiliki perempuan ideal menurut aliran ini yaitu kesalehan, kemurnian, sikap menyerah, domestisitas (selalu tinggal di rumah). Satu-satunya kegiatan yang boleh dilakukan perempuan hanyalah kegiatan agama, karena ranah ini termasuk ranah perempuan.279
Lain Victoria, lain pula Umru al-Qais, baginya perempuan ideal adalah perempuan yang memiliki kecantikan fisis280 yang sempurna. Citra perempuan secara fisis sangat digemari dalam syair-syair Jahiliyah terutama dalam syair-syair aristokrat seperti Umru al-Qais. Dalam menggambarkan perempuan secara fisis, gaya bahasa yang digunakan dalam syair-syair Jahili, pada dasarnya bukanlah gaya bahasa yang rumit untuk dipahami maknanya, sebab biasanya diksi yang digunakannya sangat sederhana dan bersifat hissi (kongkrit), di samping itu, unsur imajinasi dalam syair juga masih sangat sederhana, sehingga tidak banyak memerlukan penafsiran yang mendalam. Hal ini menunjukkan tingkat intelektual mereka yang masih sederhana, sehingga orientasi mereka lebih bersifat fisik dan indrawi. Hal ini sebagaimana yang terjadi dalam keyakinan ideologi mereka yang lebih cederung pada penyembahan benda-benda yang bersifat konkrit.
278 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra; Epistemologi Model, Teori, dan
Aplikasi, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003, hal. 143
279 William L. O’ Neill, Everyone Was Brave, A History of Feminism in American: Chicago: tp,
1969), hal. 7, Soenardjati Djayanegara, hal. 19
280 Citra perempuan secara fisis yaitu semua gambaran perempuan dari sudut pandang fisik atau
Umru al-Qais yang dianggap sebagai tokoh pelopor syair Arab Jahiliyah yang berasal dari kalangan istana dan bangsawan, sangat terkenal dengan syair-syair percintaannya. Di dalam syair-syairnya, nuansa pencitraan perempuan secara fisik terasa sangat kental. Untuk itu ia memiliki konsep tersendiri tentang perempuan ideal. Baginya, perempuan ideal haruslah seorang yang
م
(muhafhafah) yang berarti bertubuh langsing dengan kulit perut yang tipis, tidak tebal dan tidak juga kendor. Selain itu, ia juga harus berkulit putihء يب
(baidlâ’), memiliki perut yang lembut atau ghair mufâdlah, dada yang menawan dan tampak bersinar, memiliki pipi yang ranum, berleher jenjang, rambut hitam mayang mengurai dengan berbagai hiasan, pinggang yang ramping, berbetis bak buluh tebu, berjari lentik, berambut hitam dan lebat, bertubuh harum, dan lain sebagainya yang semuanya merupakan kecantikan fisik semata. Hal ini tampak dalam syair mu`allaqatnya yang sangat terkenal:يب
م
ض م يغ ء
ل
ل ك ل
م ئ ت
281
Langsing, putih, ramping Dadanya berkilau bagai cermin
ت ليس نع ت ت
ل م ج شح نم
ب
Ia pun berpaling, menampakan pipinya yang ranum, menghindari buasnya tatapan mata sapi ( setelah beranak)282
Pada bait kedua, penyair mengumpamakan dirinya dengan wajrah muthfil yaitu sapi yang baru melahirkan. Biasanya sapi yang baru melahirkan tampak galak dan liar, siap menerkam siapapun yang mengganggunya. Dengan ungkapan tersebut, ia ingin menyatakan bahwa, ia pun mampu berbuat laksana sapi yang baru melahirkan terhadap perempuan yang ia sukai. Di sisi lain, perempuan hanya mampu menghindar dari pandangan mata yang liar tadi, meskipun pada saat menghindarpun ia tetap menjadi objek pelecehan seksual penyair. Hal ini terlihat dari ungkapan penyair, ‘Ia pun
281Sajanjal: Kaca (Yunani)
282 Dalam bait ini perempuan diumpamakan bagai kijang yang sedang melihat sapi yang galak,
berpaling, menampakan pipinya yang ranum’. Pipi yang ranum yang dimiliki perempuan menjadi objek erotis kaum laki-laki yang melihatnya.
شح ب سيل مئ ل ي ك يج
ل ع ب ا ه ن ه
Lehernya bagaikan leher kijang yang putih tanpa noda, Saat ia biarkan terbuka dengan perhiasan yang menghiasinya
مح ف س ن ل ني ي ف
ل ع ل
ل ك ثيث
Rambutnya yang sempurna menghiasi punggungya, hitam kelam Lebat, bagai rangkaian buah kurma
اعل ل
م ئ غ
لس م م ف
ل ل ت
Kepang rambutnya menjulang ke atas
Terselip madari (sisir hias) saat dikepang atau diurai
م لي ل ك في ل ح ك
لل ل ي ل
ن ك س
Pinggang yang ramping bagai ikat pinggang yang melilit Betisnya bagai buluh tebu yang subur
هن ك ن ش غ صخ ب عت
لحس كي م ي عي س
Menggigit ujung jarinya yang lentik dengan lembut, bagaikan
Garis-garis yang terdapat dalam tubuh kijang, atau bagaikan pohon siwak
ب ي ل ن م ك
ل ح ل يغ ء ل ي ن ه غ
Bagaikan telur burung unta yang baru menetas putih kemerah-merahan bercampur kuning, dialiri air yang sangat bening (tanpa keruh sedikitpun)
ن ك ء عل ب ا ل ء
ت
ل م به
م ن
Menyinari gelapnya malam, bagaikan
Pelita yang bersinar dari tempat peribadatan rahib
ش ف ف ك ل تي ف ح ت
ل ت نع ق ت مل ح ل ئ
Terbangun di pagi hari dengan taburan minyak kesturi di atas kasur Melewati pagi tanpa harus disibukan dengan baju tidur
Konsep penyair tentang perempuan ideal yang hanya diukur lewat kecantikan fisik semata, pada akhirnya membentuk konsep cinta yang berorientasi seksual (desire) bukan pada bentuk kasih dan sayang (emphatic). Hal ini terlihat dalam syair selanjutnya:
مي حل ن ي م ل
ب ص
م
نيب
س م
Pada perempuan seperti dia, terpana mata setiap pemimpi karena jatuh cinta Di saat ia berada dalam kesempurnaan, antara dewasa dan kanak-kanak (remaja)
ل نع ج ل ي ع ت ت
ل ب ه ه نع
ف سيل
Terperosok kedunguan laki-laki dalam cinta Dan hatiku pun tak mampu menghindarinya
Menurut penyair –meminjam istilah Alice Deignan- desire is falling (in to container), hasrat diibaratkan dengan sesuatu yang terjatuh ke dalam kontainer. Itulah salah satu metaphor hasrat seksual laki-laki283. Ungkapan lain yang menarik dari bait di atas adalah adanya konsep lain tentang perempuan ideal selain ciri fisik yang telah disebutkan sebelumnya. Bagi penyair istana, perempuan ideal selain harus cantik secara fisik, ia juga perempuan yang sedang dalam tahap perkembangan antara kanak-kanak dan dewasa (ABG). Hal ini membuktikan bahwa perempuan yang sangat digemari oleh kalangan istana adalah perempuan yang sedang menuju proses kedewasaan secara fisik. Hal ini sangat jelas membuktikan bahwa perempuan dalam istana hanya menjadi objek seksual semata.
Kedua bait di atas, selain menggambarkan tentang konsep perempuan ideal, ungkapan ‘terpana mata setiap pemimpi karena jatuh cinta’ (fall in love) dan kata ‘terperosok kedunguan laki-laki dalam cinta’ adalah sebuah metaphor hasrat seksual
yang mengkiaskan cinta dengan sesuatu yang jatuh ke dalam sesuatu. Kata ‘kedunguan’ itu sendiri menjelaskan bahwa desire is madness, bahwa hasrat bercinta itu telah membuat seseorang menjadi gila.
هت ل كيف م خ ا
لت م يغ هل عت ع حي ن
284
Betapapun banyaknya orang yang membenci dan mencelamu, tak kan ku perdulikan
هل س خ ح ل
ك ليل
يل
ل ن ب ع
283 Keith Harvey and Celia Shalom (editor), Languange and Desire, (London and New York:
Routledge, 1997), hal. 26
284 Muhammad Ridla Murawwah, Imru al-Qais; al-Malik al-Dlillîl, hal. 63-64, dikutip dari
Dan malam bagaikan ombak lautan yang menguraikan tirainya, untukku, dengan berbagai kesedihan untuk memberiku pelajaran
…
Kedua bait syair tersebut semakin menguatkan, bahwa hasrat bercinta seseorang selain membuat orang gila, ia juga mampu membuat si empunya merasakan sakit (desire is pain), berbuat gila, dan juga kehilangan kontrol rasionalnya. Ia mampu berkorban apapun, bahkan jika harus dibenci orang lain sekalipun.
Syair-syair di atas menggambarkan secara jelas citra perempuan istana secara fisik dengan kesempurnaan yang mereka miliki. Dan hal ini juga memberi kita sebuah gambaran yang nyata, tentang bagaimana seorang pria istana mengagumi seorang perempuan hanya karena sifat-sifat fisik yang ia miliki. Hal seperti inilah yang oleh Sugihastuti dinamakan dengan pencitraan perempuan secara visual.285 Berdasarkan syair tersebut, terbukti bahwa perempuan sejak jaman dahulu kala selalu menjadi impian dan menjadi the second sex dalam dunia kesusasteraan.286
Kecantikan fisik yang dimiliki perempuan-perempuan istana, memperoleh balasan yang setimpal dengan tidur dan bangun di pagi hari di atas kasur yang empuk dengan semerbak harum wewangian, dikelilingi para inang dan pengawal yang siap menjaga dan melayaninya, hidup dalam kemewahan dan kenyamanan bertaburkan perhiasan, tidak perlu bekerja keras dan mengerjakan urusan-urusan rumah tangga. Inilah balasan dari pengorbanan yang telah mereka lakukan.
Dalam menggambarkan sosok perempuan secara fisik, Umru al-Qais banyak menggunakan tasybîh287 (perumpamaan). Bila dilihat dari segi tharf al-tasybîh
(musyabbah dan musyabbah bih), penyair menggunakan metode yang sama dalam
285 Konsep citraan, citra, dan citra wanita, lih. Sugihastuti, Wanita di Mata Wanita; Perspektif
Sajak-sajak Toeti Heraty, (Bandung: Nuansa, 2000).
286 Lihat juga Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra; Epistemologi Model, Teori
dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003), hal. 143.
287 Tasybih adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal atau lebih karena adanya
persamaan sifat antara keduanya sesuai dengan tujuan pembicara. Ada empat unsur yang membangun sebuah tasybih yaitu al-musyabbah (sesuatu yang dibandingkan), al-musyabbah bih (unsur pembanding),
wajh syibh (unsur atau sifat yang mempersatukan musyabbah dan musyabbah bih), dan adat al-tasybih
(media tasybih) yang mengikat musyabbah dan musyabbah bih, seperti, bagaikan, laksana, bak, dan lain sebagainya.
setiap tasybîh-tasybîhnya, yaitu selalu menggunakan metode hissi,288 sebuah metode perbandingan yang bersifat konkrit (indrawi) antara yang dibandingkan dengan unsur pembadingnya. Seperti contoh di atas: “Dadanya berkilau bagai cermin” atau “Lehernya bagaikan leher kijang, putih tanpa noda” dan “Rambutnya yang sempurna
menghiasi punggungya, hitam kelam, tebal, bagai rangkaian buah kurma”. Dada perempuan (musyabbah) dan cermin (musyabbah bih) keduanya adalah lafaz yang mengandung makna kongkrit, dapat dilihat, disentuh dan diraba. Tidak berbeda dengan contoh kedua dan ketiga, kata leher perempuan (musyabbah) yang dibandingkan dengan leher kijang (musyabbah bih) atau rambut perempuan (musyabbah) dengan rangkaian buah kurma (musyabbah bih) kedua perumpamaan tersebut bersifat kongkrit (hissi), keduanya dapat dilihat, disentuh dan diraba. Hal lain yang perlu diperhatikan dari kedua contoh tersebut adalah bahwa penyair selalu menyertakan wajh syibh (aspek persamaan) dan adat tasybîh (media pembanding) secara eksplisit dalam kalimat tasybîh nya, gaya bahasa inilah yang oleh ahli balaghah disebut dengan tasybîh mursal mujmal. Dalam ilmu Balâghah, gaya bahasa yang seperti ini, termasuk gaya bahasa perumpamaan yang paling dasar dan dianggap paling rendah kualitasnya.289
Dari gaya bahasa yang digunakan penyair tersebut, ada tiga hal yang dapat disimpulkan, pertama bila melihat pada istilah yang menyatakan bahwa pembicaraan harus sesuai dengan muqtadla al-hâl (sesuai dengan situasi dan kondisi), maka bisa dipastikan bahwa kemampuan berbahasa penyair sebagai mutakallim (pembicara) maupun kemampuan mustami` (pendengar) pada saat itu masih sangat natural, jika tidak
288 Fenomena gaya bahasa hissi (kongkrit) atau bersifat madiyah (materi) yang lebih dominan
pada syair Jahili dibanding ma`nawi (abstrak) pada dasarnya tidak hanya terjadi pada syair-syair Umru al- Qais, namun mayoritas penyair Jahili menggunakan metode ini dalam bersyair. Hal ini menunjukkan daya imajinasi dan nalar mereka yang masih saderhana. Selain itu, menurut Abd Rahmân al-Dabbâsi, hal ini juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan kondisi sosiologis bangsa Arab yang berorientasi materi (fisik). `Abd al-Rahmân ibn Ibrâhîm Al-Dabbâsi, al-Syi`r fi Hâdlirat al-Yamâmah hattâ Nihâyat al-`Ashr al-Umawi, (Riyâdl: Maktabah al-Malik `Abd al-`Azîz, 1416), hal. 522-525
289 Di dalam ilmu Balâghah, tasybîh adalah dasar dari perumpamaan-perumpamaan lainnya yang
lebih tinggi kualitasnya seperti isti’ârah dan majâz. Namun demikian, gaya bahasa ini juga untuk sebagian orang dianggap sangat berguna dalam menjelaskan makna yang ingin disampaikan dengan menggunakan contoh lain yang mungkin lebih dimengerti oleh pendengar. Artinya gaya bahasa ini disampaikan sesuai dengan kemampuan mutakalimm (pembicara) dan juga mukhâthab (pendengar). Lih. Ahmad al-Hâsyimi, Jawâhir al-Balâghah fi al-Ma`âni wa al-Bayân, wa al-Badî`, (Indonesia: Maktabah Dar Ihya’ al-Kitab al-`Arabiyah, 1379 H/1960 M), hal. 247
dikatakan masih dalam taraf yang sangat rendah. Kedua, gaya bahasa tersebut mendukung pendapat yang menyatakan bahwa bangsa Arab Jahiliyah cenderung pada hal-hal yang bersifat kongkrit (materi), termasuk soal keyakinan yang mereka apresiasikan lewat simbol-simbol. Ketiga dan yang paling penting adalah bahwa gaya bahasa tersebut memberi indikasi tentang orientasi dan cara pandang masyarakat Jahili terutama kalangan istana terhadap perempuan. Orientasi dan cara pandang mereka yang lebih cenderung pada penilaian-penilain fisik sangatlah kuat. Untuk itu, bagi mereka yang dimaksud dengan perempuan cantik adalah perempuan yang memiliki tubuh yang molek dan indah yang dapat membangkitkan selera seksual kaum laki-laki, bukan yang lainnya. Standar kecantikan yang dibuat oleh bangsa Arab Jahiliyah terutama kaum aristokrat untuk perempuan, tampak bersifat orientasi seksual.
Menurut para sastrawan, Umru al-Qais adalah penyair Jahiliyah yang paling banyak menggunakan tasybih dalam syair-syairnya terutama dalam syair ghazalnya. Dalam kitab al-Aghâni bahkan dinyatakan, bahwa ia adalah penyair Jahiliyah terbaik dalam menggunakan tasybîh.290 Namun dari penjelasan di atas tampak jelas, bahwa ia baru menggunakan bentuk tasybîh yang paling sederhana. Ia sama sekali tidak menggunakan tasybîh aqli (abstrak) yang memerlukan pemikiran yang mendalam. Baginya tasybîh adalah suatu hal yang sangat dekat, mudah, terlihat, terdengar, atau dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.291 Objek-objek tasybîh yang digunakannya adalah alam dengan semua fenomenanya yang bersifat fisik, yang ada hubungannya dengan irama padang pasir.
Sebagai contoh, salah satu simbol perempuan dalam syair di atas adalah kijang292. Bagi bangsa Arab kijang adalah binatang yang dijadikan sebagai objek buruan saat berburu. Hal ini terkait erat dengan kehidupan yang dianut mereka saat itu. Mengutip dari apa yang diungkapkan oleh Yûsuf Khalîf, bahwa kehidupan bangsa Arab saat itu tidak pernah terlepas dari tiga hal yaitu bepergian dan berburu ke padang sahara,
290 Yusuf Khalîf, Dirâsat fi al-Syi`r al-Jâhili, (ttp: Maktabah Gharîb, tth), hal. 74 291 Yusuf Khalîf, Dirâsat fi al-Syi`r al-Jâhili, (ttp: Maktabah Gharîb, tth), hal. 75
292 Ada beberapa nama dalam bahasa Arab yang artinya kijang, seperti; al-zhabî, al-ghazâlah,
berkumpul-kumpul dengan teman di kedai minuman, atau mengiringi ke mana perempuan pergi untuk merayu dan memohon cintanya.293 Ketiga tradisi tersebut satu sama lain saling berkaitan dan saling mempengaruhi kehidupan mereka. Maka pada saat mereka berburu dan melihat kijang, yang tergambar dalam benak mereka adalah sosok perempuan cantik yang sedang menunggu kepulangan mereka.
Dalam teori feminisme, beauty (cantik) diartikan sebagai penampilan yang menarik. Kebutuhan perempuan untuk selalu tampil cantik, menurut teori feminisme menciptakan objek-diri semu. Untuk itu menurut De Beauvoir, fungsi objektivikasi itu sendiri adalah untuk mengabadikan supremasi laki-laki. Sementara Susan Griffin berpendapat, bahwa objektivikasi perempuan pada dasarnya adalah pornografis. Berdasarkan penelitian Joseph dan Lewis, feminis kulit hitam menuding bahwa dalam segala hal sebagian konsep kecantikan perempuan selalu didasarkan pada nilai-nilai laki-laki kulit putih.294 Bila melihat pada syair-syair Umru al-Qais di atas seperti dalam bait,” Langsing, putih, ramping, dadanya berkilau bagai cermin, maka tuduhan bahwa definisi cantik selalu dihubung-hubungkan dengan adanya supremasi laki-laki, pornografis, bahkan berdasarkan penilaian seorang laki-laki kulit putih adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan.
Kecantikan, sebagaimana digambarkan di atas, terkait erat dengan tubuh (body). Untuk itu teori-teori tentang seksualitas tubuh, kekuasaan, dan politik terhadap tubuh perempuan oleh patriarkhi merupakan tema sentral dalam feminisme. Untuk itu Robin Morgan memperluas definisi tubuh yaitu sebagai alat untuk memuja insting hidup yang penting dan erotik dari tubuh perempuan.295 Dari penjelasan tersebut tampak ada korelasi yang kuat antara perempuan, tubuh dan seksualitas.
Menurut Endraswara, hampir setiap sastra di belahan bumi ini, menempatkan perempuan sebagai obyek seksualitas dan erotisme. Sebagai contoh, dalam sastra Jawa klasik, perempuan sangat jelas dijadikan sebagai obyek erotik bagi laki-laki, terutama
293 Yusuf Khalîf, Dirâsat fi al-Syi`r al-Jâhili, hal. 110
294 Maggie Humm, Ensiklopedia Feminisme, terjemah Mundi Rahayu, (Yogyakarta: Fajar
Pustaka Baru, 2002), cet. 1, hal. 35
jika sastrawan itu sendiri seorang laki-laki, tentu saja obsesinya bercampur dengan bayangan-bayangan erotis.296 Hal ini juga tampak jelas dalam syair-syair Umru al-Qais berikut ini:
ه خ ي ا خ يب
ل عم يغ ب ل نم تع ت
Perempuan dalam sekedup yang tidak perlu disembunyikan Menikmati kesenangannya tanpa ada rasa takut
عم يل س ح
ت
م
ي ل ص ح ع
Untuknya, kulewati penjaga dan keluarganya
Aku terlalu menginginkannya (tamak), meski mereka senang dengan kematianku
تض عت ء ل ف ي ل م
ل
ل ش ل ء ث
عت
Jika bintang tujuh muncul di langit Muncul di antara selendang yang terpisah
ب يث ل ت ن ق ت ف
ل
ل ل ا ل ل
Maka aku datang, dan ia telah menanggalkan bajunya untuk tidur Di balik kelambu, dengan hanya memakai baju dalam
Ghazal (puisi cinta), bagi Umru al-Qais bukan semata-mata rayuan laki-laki terhadap perempuan, namun sudah mengandung orientasi seksual dan erotisme.
يح كل م ه ني ي تل ف
ت ي غل ك ع م
Lalu ia berkata: demi Tuhan, tidak perlu kau lakukan itu! Menurutku, kau ini tampak sangat keterlaluan
نء ت م ب تج خ
لح م م لي ي ث ع
Aku keluar bersamanya, untuk berjalan-jalan, dan dia mengikuti di belakang kami sambil menarik ekor bajunya yang dihiasi lukisan unta
ن ج ف
ح ن يحل ح س
ل ع ف ح ت خ ن ب ب
Ketika kami tinggalkan kediaman kabilah, dan menuju tempat tinggi lainnya yang menyenangkan dengan pasirnya yang meliuk-liuk
296 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra; Epistemologi Model, Teori dan Aplikasi,
ت ي ف س
ب
ه
ل
ل ي ح ل مي ه ع
Kurengkuh kedua tepi kepalanya hingga mendekat padaku Perempuan berperut ramping, berbetis indah
حي
ت حن ت ل
ل ن ل ي ب ء ج ل مي ن
Bila ia berpaling padaku, tercium wanginya yang menyebar Bagai semilir angin semi yang menebarkan wangi bunga cengkeh
ت ي ت يل ن ت ه ت ق
ل
ل ي ح ل مي ه ع
Bila kukatakan padanya, kemarilah, berikanlah aku,
Maka mendekatlah si perut langsing dan berbetis indah itu padaku
عي
ل ج
ل ءي ي
ب لي ق ف تي
ك
Wajahnya menyinari tempat tidur kawan berbaringnya Bagai lampu minyak dalam pelita bersumbu
ل
م ت ل ع ك
ج ب فك ا ج غ تب ص
Seakan-akan di lehernya ( tempat kalung) ada api yang membakar mengenai pohon yang cepat terbakar, membesar, hingga sampai ke akar
ل ف
ب حي هل ت ه
ق
م ف ش ص
297
lalu ditiup beragam angin kering
angin timur dan utara, di tempat-tempat kering
ئ غل ف م س ب
ت هف ت ش
Demi rambut hitam lebat terurai
Demi pemilik gigi tajam nan indah yang selalu digosok dan dipelihara
هن ل
ل ل م ه ب م
ضي ي ع ف ي ل
ك
298
Gusinya bagai jubah kebesaran, dan warnanya
Bagai duri pohon299yang rasanya lezat mengalir ke bumi
Dalam puisi tersebut penyair (Umru al-Qais) tampak sangat mengagumi bahkan tergila-gila dengan kecantikan perempuan. Hati dan perasaannya ia curahkan untuk
297 Muhammad Ridla Murawwah, Amru al-Qais; al-Malik al-Dlillîl, hal. 50, dikutip dari
Jamâ’ah min al-Udabâ, Diwan Amru al-Qais, (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyat, 1983), hal. 123-124
298 Muhammad Ridla Murawwah, Amru al-Qais; al-Malik al-Dlillîl, hal. 51, dikutip dari
Jamâ`ah min al-Udabâ, Diwan Amru al-Qais, hal. 91
perempuan, di manapun dan kapanpun kesempatan itu tiba. Hatinya selalu berontak saat melihat gadis cantik dan terobsesi terhadap setiap gadis remaja.
Bahasa yang digunakannya pun sangatlah vulgar, bahkan terkesan seronok. Hal ini terkait erat dengan kebiasaannya mempermainkan perasaan perempuan. Baginya perempuan hanyalah pemuas nafsu belaka. Demi nafsunya tersebut, ia rela melakukan apa saja, hingga hal-hal yang membahayakan seperti mengendap-endap melewati punggawa yang sedang berjaga-jaga, bahkan dalam syairnya tersebut ia rela mengorbankan nyawa demi kepuasan jiwanya. Kata-katanya yang menyatakan “Bila