• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Jika dirangkum, terdapat ikatan di antara pemimpin dan pengikut yang ditempa oleh kepuasan matarial, sosial, dan emosional yang

2.1.2. Citra Politik

D a l am ko nt e ks i ni , p e n ge r t i a n ci t r a s a nga t b e r k ai t a n d e n gan c i t r a s eb u a h l em b a ga i ns t i t us i ya i t u p a rt a i p ol i t i k. D al a m ko n di s i a p a p un , c i t r a a d al ah k at a kunci untuk diterima tidaknya oleh masyarakat, artinya citra suatu lembaga baik maka kemungkinan besar gagasan, visi, misi

24 Op.Cit, Dan Nimmo, hal 30

25

partai sekaligus program partai akan lebih mudah diterima, demikian juga sebaliknya, oleh sebab itu, tugas utama adalah bagaimana partai mampu menjadikan image agar nama baik partai tetap baik.26

Citra berasal dari bahasa Jawa, yang berarti gambar. Kemudian dikembangkan menjadi gambaran sebagai padanan perkataan image dalam bahasa Inggria. Jadi citra politik dapat dipahami sebagai gambaran seseorang tentang politik (kekuasaan, kewenangan, konflik dan konsensus).27

Selanjutnya citra politik dapat dirumuskan sebagai suatu gambaaran tentang politik (kekuasaan, kewenangan, konflik dan konsensus) yang memiliki makna, kendatipun tidak selamanya sesuai dengan realitas politik yang sebenarnya. Citra politik tersusun melalui persepsi yang berinakna tentang gejala politik dan kemudian menyatakan makna itu melalui kepercayaan, nilai, dan pengharapan dalam bentuk pendapat pribadi yang selanjutnya dengan berkembang menjadi pendapatumum.28

Dan D. Nimmo menjelaskan bahwa citra seseorang tentang politik yang terjalin melalui pikiran, perasaan dan kesucian subyektif akan memberi kepuasan baginya, dan memiliki paling sedikit tiga kegunaan, yaitu:29

1. Memberi pemahaman tentang peristiwa politik tertentu

2. Kesukaan atau ketidaksukaan umum kepada citra seseorang tentang politik menyajikan dasar untuk menilai objek politik.

26 Bawono Kumoro, Berhenti Memanggil Mereka Wakil Rakyat, dapat diakses di http://suarokezone.com/read/2o11/04/08/58/443784/berhenti-mengakui-mereka-wakil-rakyat

27

Anwar Arifin, Pencitraan dalam Politic (Strategi Pemenangan Pemilu dalam Perspektif Komunikasi Politik). Jakarta: Pustaka Indonesia. 2006.

28 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Remadja Karya, 2002, hal 25

29 Dan D. Nimmo, Komunikasi Politik (khalayak dan Efek). (Terjemahan Tjun Surjaman), dalam

3. Citra diri seseorang memberikan cara menghubungkan diri dengan orang lain.

Menurut Nimmo, citra politik seseorang akan membantu dalam pemahaman, penilaian dan pengidentifikasian peristiwa, gagasan, tujuan atau pemimpin politik. Citra politik juga membantu bagi seseorang dalam memberikan alasan yang dapat diterima secara subjektif tentang segala sesuatu hadir sebagaimana tampaknya tentang preferensi politik. Citra politik akan menjadi perhatian penting jika seseorang menganggap bahwa dalam memenuhi kebutuhan fisik, sosial dan psikologia, hanya dapat diatasi dan dilakukan oleh Negara. Orang bertukar citra politik melalui komunikasi politik sebagai cara untuk menyelesaikan konflik dan mencari konsensus dalam upaya manusia dan masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Para politikus atau pemimpin politik sangat berkepentingan dalam pembentukan citra politik melalui komunikasi politik dalam usaha menciptakan stabilitas sosial dengan memenuhi tuntutan rakyat. Misalnya pengumuman Presiden bahwa kesulitan ekonomi sudah teratasi, dengan sendirinya akan membangkitkan citra tentang masa depan yang lebih baik bagi rakyat, dan bahkan mungkin masa jabatan Presiden itu perlu diperpanjang dengan memilihnya kembali dalam pemilihan umum yang akan datang. Justru itu para politikus dan pemimpin politik, harus berusaha menciptakan dan mempertahankan tindakan politik yang membangkitkan citra yang memuaskan, supaya dukungan pendapat umum dapat diperoleh dari rakyat sebagai khalayak komunikasi politik.30

30

2.1.2.1. Jenis Citra

M. Linggar Anggoro menjelaskan tentang jenis citra yaitu:31 1. Citra Bayangan (mirror image)

Citra bayangan adalah citra yang dibentuk oleh orang-orang yang dalam organisasi terhadap organisasinya sendiri yang diperoleh dari pandangan orang diluar terhadap lembaganya. Citra bayangan ini seringkali tidak tepat karena cenderung selalu positif. Citra yang diperoleh adalah citra yang hebat tentang diri sendiri dan percaya bahwa orang lain juga memiliki pandangan atau penilaian citra yang sama dengan orang yang berada di dalam organisasi.

2. Citra yang Berlaku (Current Image)

Citra yang berlaku adalah kebalikan dari citra bayangan, citra, yang berlaku diperoleh dari penilaian dan pandangan masyarakat diluar organisasi itu sendiri. Dengan demikian masyarakat dalam memberikan penilaian citra adalah dengan berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuan masyarakat atau informasi yang terbatas tentang organisasi. Citra yang berlaku juga seringkali tidak tepat, karena cenderung selalu negatif. Orang yang berada diluar organisasi seringkali tidak memiliki informasi yang lengkap tentang organisasi yang dia sendiri tidak menjadi anggotanya.

3. Citra harapan (Wish Image)

Suatu organisasi dipastikan mempunyai tujuan yaitu citra, yang diharapkan

depkominfo.go.id/adfile/jurnal/…/53/naskah%20ibnu.rtf

31

oleh manajemen organisasi itu sendiri. Citra harapan ini tentu saja bukan citra, yang realiatik karena citra harapan sudah ditentukan lebih dahulu oleh organisasi dan tentu saja pasti selalu baik. Citra harapan ini dijadikan acuan dalam melaksanakan program komunikasi organisasi untuk mewujudkan citra yang telah ditentukan.

4. Citra Organisasi atau Lembaga, (Corporate Image)

Citra organisasi atau lembaga meliputi citra yang diperoleh dari masyarakat atas penilaian yang menyeluruh tentang organisasi baik citra atas produk hasil organisasi atau lembaga. Citra, atas jasa, pelayanan yang diberikan oleh organisasi atau lembaga, termasuk citra positif yang diperoleh organisasi atau lembaga dari sejarah dan diriwayat mulai berdiri, citra yang diperoleh dari sektor keuangan, proses produksi, hubungan industri, Serta citra yang diperoleh dari seluruh relasi yang terkait dengan organisasi atau lembaga.

5. Citra Majemuk (Multiple Image)

Citra majemuk merupakan citra yang diperoleh organisasi atas citra masing masing unit yang berada dalam organisasi itu sendiri. Tiap unit dari organisasi secara sengaja atau tidak, akan memunculkan citra tersendiri yang belum tentu sama dengan citra organisasi secara keseluruhan.

Variasi citra majemuk ini sebaiknya ditekan seminim mungkin untuk disampaikan dengan citra organisasi, sehingga yang muncul adalah citra secara keseluruhan terhadap organisasi atau lembaga.

2.1.2.2. Proses Terbentuknya Citra

Citra adalah tujuan utama dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai. pengertian citra abstrak dan tidak dapat diukur secara Sistematis, tetapi wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk, seperti tanggapan baik atau buruk, seperti penerimaan dan tanggapan negatif atau positif yang khususnya datang dari publik dan masyarakat luas umumnya. Dalam bagan berikut dapat dilihat proses terbentuknya citra.

Teori Image Building32

Dalam pembentukan citra dapat dilihat dari teori image building dimana citra akan terlihat terbentuk melalui proses sumberan secara fisik (panca indera), masuk ke saringan perhatian (attention filter) lalu menghasilkan pesan yang dapat dimengerti atau dilihat (perceived massage), yang kemudian berubah menjadi persepsi dan akhirnya citra.

Dokumen terkait