Lain-LainLain-Lain
E- COMMERCE PRODUK PERTANIAN PROVINSI ACEH: SOLUSI
MASA PANDEMI COVID-19
Oleh : Rachman Jaya Abstrak
Fenomena munculnya perusahaan rintisan (startup) berbasis digital merupakan salah satu reaksi aktivitas internet yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan maraknya penggunaan internet sebagai gaya hidup, potensi industri digital juga kian meningkat, termasuk juga pada produk pertanian. Potensi produk berbasis pertanian Provinsi Aceh sangat besar, yang paling berpotensi antara lain kopi arabika Gayo, robusta, minyak nilam, pala dan sereh wangi. Kajian ini bersifat review literatur untuk melihat potensi pengembangan usaha rintisan (startup) e-commerce produk pertanian di Provinsi Aceh. Dengan e-commerce pelaku bisnis dapat menjalankan usahanya secara efektif dan efisien, dengan pemahaman bahwa target konsumen dapat langsung dicapai tanpa harus melakukan pemasangan iklan konvensional. Tantangan terbesar justru dari pelaku usaha rintisan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan konsumen.
Kata kunci: Startup, e-commerce, Aceh Pendahuluan
Memasuki era millennium ke-2 perkembangan teknologi informasi (internet) semakin massif yang ditandai dengan penggunaan telepon pintar (smart-phone) berbasis Android sampai ke kalangan pelosok wilayah. Memasuki dasawarsa ke-2, kecepatan dan jangkauan (covered) internet semakin cepat dan luas, bahkan sampai ke wilayah perdesaan. Tanpa disadari, saat ini teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat mempengaruhi aktivitas sehari-hari manusia, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa semakin lama manusia semakin bergantung pada teknologi. Dengan adanya potensi yang besar dari kemudahan dan populernya
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini, para pengusaha mulai memanfaatkan internet sebagai sarana pemasaran produknya (Fensel et al., 2001). Terdapatnya internet membuat proses pemasaran dan penjualan dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun tanpa terikat ruang dan waktu (Quaddus & Xu, 2007).
Secara teknis, E-commerce didefinisikan sebagai aktivitas bisnis dengan mekanisme secara elektronik yang fokusnya pada transaksi bisnis berbasis perorangan dengan menggunakan jaringan internet sebagai sarana pertukaran barang atau jasa antara dua buah institusi ataupun konsumen langsung tanpa adanya kendala ruang maupun waktu (Musdalifa, 2017). Menurut Suyanto, setidaknya terdapat 4 jenis e-commerce yang dibagi berdasarkan sifat transaksinya, yaitu Business to Business (B2B), Business to Consumer (B2C), Consumer to Consumer (C2C), dan Consumer to Business (C2B). Kelebihan dalam melaksanakan aktivitas bisnis berbasis e-commerce dibandingkan dengan pola konvensional adalah: (a) Meminimalisir biaya pembuatan, pemrosesan, pendistribusian, penyimpanan, dan pencarian informasi yang menggunakan kertas, (b) Memungkinkan pengurangan inventaris dan overhead, (c) Akses informasi yang lebih cepat, (d) Mengurangi waktu antara pengeluaran modal dan penerimaan produk dan jasa.
Sampai dengan saat ini, sistem perdagangan Provinsi Aceh masih didominasi sistem konvensional terutama produk pertanian dari Provinsi Aceh, sedangkan sebaliknya sudah terlihat konsumen menggunakan fasilitas e-commerce, seperti Shopee, Tokopedia dan Bukalapak, Lazada untuk melakukan transaksi bisnis. Salah satu tantangan pelaku bisnis produk pertanian adalah masih terbatasnya pemahaman dengan pola bisnis e-commerce, padahal produk-produk pertanian hulu-hilir (upstream-downstream) cukup berpotensi untuk dipasarkan di e-commerce. Produk-produk yang berpotensi antara lain bibit dan green bean-kopi arabika Gayo, kopi bubuk robusta, minyak nilam, pala dan sereh wangi serta produk turunan minyak wanginya. Selain itu tidak menutup kemungkin sistem perdagangan lokal dengan
Buletin BPTP Aceh 106 produk olahan lokal berbasis e-commerce.
Tujuan dari kajian melakuan penyusunan konsepsi mengenai peluang pengembangan start-up e-commerce produk pertanian di Provinsi Aceh.
Konseptual start-up e-commerce
Internet menjadi suatu “keharusan”
masyarakat untuk berkomunikasi seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi di dunia masa kini, baik dalam berkomunikasi sehari-hari maupun mempromosikan atau membuat bisnis. Menurut Zeng (2009), Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna internet tercepat yaitu 51% dari tahun 2016 hingga 2017 (Gambar 1) di mana pertumbuhan tersebut tiga kali lipat dari rata-rata global. Dari sisi pergeseran perilaku konsumen (Gambar 2) menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan pola pembelian secara konvensional ke pola pembelian secara daring. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan usaha rintisan berbasis e-commerce sangat prospektif untuk dilaksanakan. Demikian juga dengan di Provinsi Aceh tentunya.
Gambar 1. Jumlah Pengguna Internet di Indonesia Sumber: (Puspita, 2019).
Gambar 2. Pergeseran Perilaku Konsumen Era Digital Sumber: (Puspita, 2019).
Logical framework
Kerangka dasar dari kajian ini (Gambar 3) adalah dimulai dengan kondisi terkini, bahwa pola kehidupan telah dibatasi dengan adanya pandemic Covid-19. Perubahan tersebut terjadi disemua sisi, termasuk juga pada sistem produksi dan pola konsumsi produk-produk pertanian. Menurut Gunawan et al. (2020) pola belanja daring produk-produk meningkat 400%, dibandingkan sebelum pandemi, tentunya hal ini menjadi dasar untuk pengembangan usaha rintisan e-commerce produk pertanian di Provinsi Aceh.
Gambar 3. Konsepsi pengembangan usaha rintisan e-commerce produk pertanian.
Berdasarkan Gambar 3 terlihat bahwa pola konsepsi dari pengembangan usaha rintisan e-commerce produk pertanian sangat relevan dengan kondisi terkini pola kehidupan saat pandemi covid-19. Dengan terbatasnya sistem komunikasi antar masing-masing individu dengan penyedia produk dan jasa, tentunya pola sistem usaha mengarah ke sistem langsung (daring). Setidaknya terdapat kelebihan diantara produsen dan konsumen, demikian juga dengan penyedia jasa e-commerce. Pada sisi konsumen secara teknis tidak perlu investasi lapak/toko serta biaya iklan, demikian juga dengan konsumen tidak perlu melakukan perjalanan membeli produk
Pandemi Covid-19
PSBB
Perilaku Konsumen E-commerce
Produsen Konsumen
Bisnis efektif & efisien
Buletin BPTP Aceh 107 yang tentunya sangat berisiko terhadap
covid-19.
Potensi pengembangan e-commerce Secara alamiah (sunatullah) Provinsi Aceh dianugerahkan alam yang subur (comparative advantages) yang sangat sesuai untuk pengembangan komoditas pertanian, dan secara kultur pula telah menghasilkan beberapa produk bernilai ekonomis tinggi, seperti kopi Gayo, minyak pala, nilam, sereh wangi dan cengkeh. Walaupun masih dalam produk setengah jadi. Memang sangat dibutuhkan untuk mengusahakannya menjadi produk jadi (end-product) yang bernilai tambah tinggi. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa pada komoditas-komoditas tertentu telah dilakukan hilirisasi produk dengan nilai yang sangat signifikan. Misalnya minyak wangi (parfum) yang telah dihasilkan anak-anak muda Aceh melalui usaha Minyeuk Pret dan juga ARC-Unsyiah sangat berpotensi untuk dikembangkan secara e-commerce agar potensi pasar yang digarap semakin luas. Tidak menutup kemungkinan produk-produk pertanian yang diperlukan secara lokal, karena keterbatasan umur simpan (shelf-life) misalnya ayam goreng khas Aceh, roti Sele-Samahani, produk turunan bawang merah seperti puree, slicing pickle, whole-pickel dan bawang goreng.
Kesimpulan
Sangat terbuka pengembangan usaha rintisan (start-up) e-commerce produk pertanian khas Provinsi Aceh, dengan semakin massifnya penggunaan teknologi informasi (internet) dan juga telepon pintar berbasis Android.
Daftar Pustaka
Iffah V. 2018. Analisis Strategi Bisnis E-commerce Perusahaan Startup Digital
di Ijadfarm Surabaya. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Walisongo. [skripsi].
Fensel, D., Ding, Y., Omelayenko, B., Amsterdam, V. U., Schulten, E., Associates, H. O., Flett, A. 2001. Product Data Integration in B2B E-commerce. IEE Intelligent Systems.
Gunawan E, Nida FS, Henriyadi. 2020. Peluang dan Strategi Pengembangan E-Commerce Produk Pertanian Merespons Dampak Pandemi Covid-19. PSEKP, Bogor.
Musdalifah S. 2017. Analisis Peran E-Commerce Dalam Perekonomian Indonesia. Universitas Padjadjaran Fakultas Ekonomi Dan Bisnis. [skripsi].
Puspita S. 2019. E-Commerce Business Plan For Poultry Farming: Ternak Segar.
Jurnal Bina Manajemen, 7 (2):131 – 160.
Soegoto DS, Faridh M. 2020. Developments of Information Technology and Digital Startup Sector of Agriculture in Indonesia. IOP Conf. Series: Materials Science and Engineering 879, 1-7.
Quaddus, M., Xu, J. (2007). Adoption of e-Commerce: A decision theoretic framework and an illustrative application. 2007 10th International Conference on Computer and Information
Technology, ICCIT.
https://doi.org/10.1109/ICCITECHN.2007 .4579406.
Zheng, Q. (2009). Introduction to E-commerce.
In Introduction to E-commerce.
https://doi.org/10.1007/978-3-540-49645-8.
Buletin BPTP Aceh 108 MANFAAT ASURANSI USAHATANI PADI
DALAM MENANGGULANGI