Tabel multivariate Tests memaparkan empat macam test signifikansi untuk pengaruh lay up.
- sama seperti uji multivariate.
Perhatikan kolom Sig baris lay up shot. Semua menunjukkan nilai
Hal ini mengindikasikan rata-rata variabel lay up shot sama. Interaksi antara variabel lay up shot dengan *lay up
Hal ini mengindikasikan interaksi terjadi.
Tabel 4.9. Tests of Within-Subjects Effects Keterangan :
Perhatikan kolom Sig untuk lay up shot
sehingga H0 diterima.
Dan interaksi antara lay up shot dengan *lay up tidak terjadi karena nilai 0 diterima.
Effect Value F Hypothesis df
Error df Sig. Partial Eta Squared lay_up_ shot Pillai's Trace .051 .966b 1.000 18.000 .339 .051 Wilks' Lambda .949 .966b 1.000 18.000 .339 .051 Hotelling's Trace .054 .966b 1.000 18.000 .339 .051 Roy's Largest Root .054 .966b 1.000 18.000 .339 .051
lay_up_ shot *layup Pillai's Trace .019 .348b 1.000 18.000 .563 .019 Wilks' Lambda .981 .348b 1.000 18.000 .563 .019 Hotelling's Trace .019 .348b 1.000 18.000 .563 .019 Roy's Largest Root .019 .348b 1.000 18.000 .563 .019
Source Type III Sum
of Squares
df Mean
Square
F Sig. Partial Eta Squared lay_up_sh ot Sphericity Assumed .625 1 .625 .966 .339 .051 Greenhouse-Geisser .625 1.000 .625 .966 .339 .051
commit to user
Tabel 4.10. Tests of Between-Subjects EffectsSource Type III Sum
of Squares
df Mean Square F Sig. Partial Eta
Squared
Intercept 1575.025 1 1575.025 2476.022 .000 .993
Lay up .025 1 .025 .039 .000 .002
Error 11.450 18 .636
Keterangan :
Tabel Test of Between-Subjects Effects. Perhatikan kolom Sig untuk baris
lay up 0 ditolak. Ada perbedaan
hasil lay up shot antara underhand-overhead lay up shot dan
overhead-underhand lay up shot.
C. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan berdasarkan hasil analisis data dan interpretasinya. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis general linear model (GLM) repeated measures . Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Perbedaan hasil yang signifikan antara hasil tembakan lay up shot dengan underhand lay up shot dan overhead lay up shot pada siswa ekstrakurikuler bola basket SMP Negeri 26 Surakarta tahun 2012/2013.
Huynh-Feldt .625 1.000 .625 .966 .339 .051 Lower-bound .625 1.000 .625 .966 .339 .051 lay_up_sh ot * layup Sphericity Assumed .225 1 .225 .348 .563 .019 Greenhouse-Geisser .225 1.000 .225 .348 .563 .019 Huynh-Feldt .225 1.000 .225 .348 .563 .019 Lower-bound .225 1.000 .225 .348 .563 .019 Error(lay_ up_shot) Sphericity Assumed 11.650 18 .647 Greenhouse-Geisser 11.650 18.000 .647 Huynh-Feldt 11.650 18.000 .647 Lower-bound 11.650 18.000 .647
commit to user
Berdasarkan hasil analisis perbandingan secara deskriptif, diperoleh data bahwa masing-masing kelompok mendapatkan hasil rata-rata antara teknik dasar
underhand dan overhead yang berbeda. Untuk kelompok A memperoleh hasil
rata-rata underhand lay up shot 6,10 dan overhead lay up shot 6,20. Sedangkan kelompok B memperoleh hasil rata-rata overhead lay up shot 6,50 dan underhand
lay up shot 6,30. Jika dilihat dari hasil rata-rata tekniknya, latihan overhead lay up shot dan underhand lay up shot sama-sama berpengaruh terhadap hasil tembakan lay up shot, akan tetapi hasil dari teknik overhead lay up shot memperoleh hasil
yang lebih baik. Hal ini dapat diartikan bahwa ada perbedaan hasil yang signifikan antara hasil tembakan lay up shot dengan underhand lay up shot dan
overhead lay up shot pada siswa ekstrakurikuler bola basket SMP Negeri 26
Surakarta tahun 2012/2013.
2. Urutan latihan overhead-underhand lay up shot lebih efektif dibandingkan urutan latihan underhand-overhead lay up shot terhadap hasil tembakan lay up shot siswa ekstrakurikuler bola basket SMP Negeri 26 Surakarta tahun 2012/2013.
Dari analisis perbandingan secara deskriptif, diperoleh data bahwa kedua kelompok memiliki hasil terendah dan tertinggi yang sama yaitu 5 (hasil terendah) dan 8 (hasil tertinggi). Rata-rata hasil kemampuan lay up shot dari kelompok A yang dilatih menggunakan urutan latihan underhand-overhead lay up shot mencapai 6,15 sedangkan kelompok B yang dilatih menggunakan urutan latihan
overhead-underhand lay up shot mencapai 6,40. Dilihat dari perolehan rata-rata
kemampuan lay up shot dari kedua kelompok tersebut menunjukkan bahwa hasil
lay up shot pada kelompok yang dilatih overhead-underhand lay up shot lebih
tinggi daripada hasil lay up shot pada kelompok yang dilatih underhand-overhead
lay up shot. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa urutan latihan overhead-underhand lay up shot lebih efektif daripada urutan latihan overhead-underhand-overhead lay up shot terhadap hasil lay up shot siswa ekstrakurikuler bola basket SMP
commit to user
D. Pembahasan Hasil Analisis Data
Pembahasan hasil penelitian ini memberikan interpretasi lebih lanjut, terutama mengenai hasil analisis data yang telah dikemukakan sebelumnya. Pembahasannya sebatas dalam pengertian evaluasi dan tidak atau belum kearah verifikasi suatu teori, karena itu pembahasannya lebih cenderung ke deskripsi empiris. Atas dasar hasil analisis statistik deskriptif dan inferensial diperoleh informasi penting yakni:
1. Teknik overhead lay up shot dan underhand lay up shot memperoleh hasil yang berbeda, yaitu dapat dibuktikan bahwa hasil lay up shot dengan teknik overhead lay up shot memperoleh hasil lebih baik dari teknik underhand lay up shot. Dari kelompok A memperoleh hasil rata-rata underhand lay up shot 6,10 dan overhead lay up shot 6,20. Sedangkan kelompok B memperoleh hasil rata-rata overhead lay up
shot 6,50 dan underhand lay up shot 6,30. Dan dari hasil kategori
norma hasil tes lay up shot, kelompok B (dengan teknik overhead lay
up shot) mendapatkan hasil persentase yang seimbang (Kategori
BAIK= Kategori SEDANG) atau (50%:50%). Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kemudahan dan faktor kebiasaan siswa saat melakukan latihan
overhead lay up shot. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ada
perbedaan hasil tembakan lay up shot antara underhand lay up shot dengan overhead lay up shot.
2. Urutan latihan overhead-underhand lay up shot terhadap hasil tembakan lay up shot memang lebih efektif. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sugiyanto (2003:55) bahwa :
Penguasaan gerakan keterampilan terjadi secara bertahap dalam peningkatannya. Mulai dari belum bisa menjadi bisa, dan kemudian menjadi terampil. Dengan demikian hendaknya pengaturan materi belajar/latihan yang dipraktekkan dimulai dari yang mudah ke yang sukar, atau dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.
commit to user
Dari pernyataan di atas maka dapat diartikan bahwa materi latihan yang dipraktekkan akan memperoleh hasil yang lebih optimal jika dimulai dari hal yang mudah terlebih dahulu ke yang lebih sukar. Sehingga menjadikan motivasi siswa saat melakukan latihan semakin tinggi yang pada akhirnya tingkat keterampilan lay up shot dapat dikuasai secara optimal. Bila ditinjau dari biomekanika gerkan,
overhead lay up shot lebih mudah dilakukan karena pada saat lengan
memegang bola, maka posisi bola akan berada di atasa telapak tangan sehingga dorongan yang harus dilakukan pun memerlukan tenaga yang tidak harus besar. Sehingga pantulan bola ke papan ring basket pun
dengan mudah membentuk sudut yang efektif yaitu pada sudut 45o
hingga 60o, sehingga hasilnya juga dapat mencapai batas optimal. Dan
dari hasil kategori norma hasil tes lay up shot menunjukkan bahwa kelompok B (Overhead-Underhand Lay Up Shot) memiliki hasil persentase kategori BAIK lebih tinggi dibanding kelompok A
(Underhand-Overhead Lay Up Shot). Dengan demikian maka menjadi
jelas bahwa urutan latihan overhead-underhand lay up shot dalam latihan lay up shot pada siswa ekstrakurikuler bola basket SMP Negeri 26 Surakarta tahun 2012/2013 adalah efektif.