BAB III IMPLEMENTASI PSIKOLOGI HUKUM DALAM PRAKTIK
B. Contoh-contoh kasus dalam penelitian di Polres
Berikut adalah beberapa contoh kasus yang sedang di sidik oleh para penyidik pada saat penulis melakukan penelitian:
KASUS I (LP/519/XII/2016/SU/STR) a. Tanggal : 25 Desember 2016
64 Achmad Ali, Buku Ajar Psikologi Hukum,Makasar, 2009, hal 4
b. Tersangka : Sahat Siahaan (A), Mikael Sinaga (B), Johan Manik(C), Josua Simanjuntak (D), Agung Pratama (E), Appek (F) dan OO (G)
c. Kasus Posisi :
Berawal Si A dan korban masuk ke salah ruang kelas yang berada di SMP N 7 kota Pematang Siantar setelah kurang lebih 1 jam Si A dan Korban di ruangan tersebut, lalu Saksi Si B, Si C, Si D, Si E, Si F dan SI G mengintip ke dalam ruangan kelas, saat itu Saksi Si D, Si B, Si F mengintip dari pintu ruangan karena saat itu pintu ruangan tidak tertutup seluruhnya (hanya setengah) sedangkan Si C, Si E dan SI G mengintip dari jendela belakang ruang kelas, saat itu saksi melihat sedang terbaring di atas meja bersama dengan Si A sambil memeluk tubuh korban, dimana saat itu korban sudah dalam keadaan tidak memakai baju dan hanya memakai BH dan celana panjang sudah terbuka sampai sebatas paha kaki dan kemudian Saksi melihat Si A menindih tubuh korban diatas meja dan menciumi leher dan payudara korban, kemudian Si F masuk kedalam ruangan kelas dengan cara berjalan sambil menundukkan kepalanya agar tidak terlihat oleh korban, setelah Si F masuk kedalam ruangan kelas kurang lebih 15 (lima belas) menit, lalu saksi masuk ke dalam ruangan dan melihat Si F sedang menciumi bibir sambil meraba-raba payudara dan kemaluan korban, setelah saksi masuk ke dalam ruangan, kemudian Si F keluar, lalu Saksi mencium pipi, meraba-raba kedua payudara dan kemudian memasukkan tangan kiri tersangka ke dalam celana dalam korban lalu saksi meraba-raba kemaluan korban, dan posisi saksi saat itu berdiri, saat saksi sedang meraba payudara dan kemaluan korban tiba-tiba masuk
Si B sambil menepuk punggung saksi, melihat Si B masuk kemudian, saksi langsung duduk di atas meja tempat korban terbaring, tidak berapa lama saksi sudah duduk tiba-tiba masuk secara bersama-sama Si C, Si D, Si E, Si F, SI G dan Si A masuk kedalam ruangan, setelah mereka masuk saksi melihat Si F langsung meraba payudara korban, kemudian diikuti oleh Si C, Si D, Si E dan SI G, melihat itu saat itu saksi memanggil Si A dan mengatakan kepadanya “kayak mana itu co, kok jadi kayak gini semuanya?”, namun tidak ada jawaban dari Si A, ketika itu saksi mendengar korban mengatakan “capek aku, ayo pulang”, secara berulang kali, karena tidak ada jawaban lalu saksi keluar dari ruangan, tenggang waktu 10 (sepuluh) menit setelah saksi berada diluar ruangan, kemudian saksi memanggil Si C dan Si F agar keluar dari ruangan, kemudian Si C dan Si F keluar dan menemui saksi. Kemudian Si C mengatakan kepada Saksi “udah gak kita lagi ini, gak terkontrol lagi”, kemudian saksi berteriak dengan mengatakan “Ayolah A, udah jam berapa ini, pulanglah kita mau jam berapa nanti sampe kita antar dia?”, tidak berapa lama keluarlah Si A, Si B, Si D, Si E dan SI G sedangkan Si B masih berada didalam ruangan bersama dengan korban, kemudian oleh Si A mengatakan dari luar “Cepatlah B!” tenggang waktu kurang lebih 5 (lima) menit keluarlah Si B lalu Si A kembali masuk ke dalam ruangan dan kemudian kembali keluar dan mengatakan “Siapa lagi?” lalu dijawab oleh Si E dan Si G kami belum bang lalu Si E dan Si G masuk kedalam ruangan. Setelah Si E dan SI G keluar dari ruangan.
Si A kembali masuk ke dalam ruangan. Pada sekitar pukul 05.00 WIB itu, korban keluar dari ruangan bersama Si A, kemudia Saksi Si A, Si B, Si C, Si D, Si E, Si F dan SI G meninggalkan tempat itu dan kemudian saksi Si A, Si B,Si C, Si F
mengantarkan Korban pulang kerumahnya di karang Anyer sedangkan, Si D, Si E, dan Si G pulang kerumahnya.
d. Perkara : Perbuatan cabul terhadap anak
a. Pasal : Pasal 81 ayat (1), (2) Sub Pasal 82 (1), Undang- undang RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-
undang RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo. Pasal 55 (1) ke-1 KUHP Jo. Undang-undang no.11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
b. Implementasi Psikologi Hukum dalam kasus I :
Dalam praktiknya penerapan psikologi hukum pada kasus dengan nomor polisi :LP/519/XII/2016/SU/STR penyidik tidak dapat melakukan pemeriksaan secara langsung dan cepat dikarenakan korban masih dalam keadaan trauma mental atau psikis yang lemah, hal tersebut ditunjukkan dengan jawaban korban yang mengelantur dan tidak jelas serta mengalami kesakitan disekitar paha korban maka dari itu, penyidik tidak dapat memaksakan kehendaknya untuk melanjutkan pemeriksaan sehingga, langkah yang diambil penyidik adalah membawa korban ke psikiater atau psikiatri untuk memulihkan mental korban65 , hal ini sesuai dengan prosedur pemeriksaan yang tertulis dalam SOP (Standar Operasional Prosedur Pemeriksaan), yaitu “Dalam hal diperlukan, pemeriksa (Penyidik/Penyidik pembantu) dapat mengadakan konsultasi/ meminta bantuan
65Wawancara dengan Kepala Unit bagian PPA Aiptu Malon Siagian,SH pada hari selasa tanggal 07 Februari 2017.
ahli antara lain psycholog atau psychiater tentang kepribadian atau keadaan kejiwaan tersangka/saksi”.66
Pada kasus I (LP/519/XII/2016/SU/STR) pemeriksaan terhadap tersangka menerapkan taktik dan teknik pada pemeriksaan yang sudah jelas kesalahannya, berkesinambungan dengan ingatan korban yang membaik, korban mengatakan bagaimana kronologis yang korban rasakan ketika tindak pidana itu dilakukan sehingga, penyidik hanya membiarkan tersangka menceritakan kronologi tindak pidana tersebut dan akan tampaklah kejahatan yang tersangka lakukan dengan sendirinya.
Pada kasus tersebut pemeriksaan dilakukan dengan teknik wawancara kognitif, hal ini diterapkan pada tersangka maupun saksi dan korban. Berdasarkan penelitian yang memperlihatkan bahwa wawancara kognitif meningkatkan ingatan tentang informasi yang akurat tanpa meningkatkan sugestibilitas saksi.67
Pemeriksaan tersangka dalam kasus I melibatkan seluruh penyidik dalam Unit PPA (perempuan dan Perlindungan Anak) disebabkan karena banyaknya jumlah tersangka dalam kasus I LP/519/XII/2016/SU/STR ini. Oleh karena itu, seluruh penyidik harus memiliki kemampuan dalam psikologi terutama dalam teknik wawancara tersebut.68
Kelancaran dalam menarik keterangan dari tersangka bergantung dari kemampuan dan kepandaian penyidik dalam menerapkan taktik dan teknik penyidikan. Oleh karenanya, penguasaan terhadap bidang dalam psikologi
66Kepolisian Negara Republik Indonesia Badan Reserse Kriminal POLRI, “Standar Operasional Pemeriksaan” Jakarta. 2012, hal. 17
67Mark Constanzo, Ibid, hal 306
68 Wawancara dengan penyidik Unit PPA Bripda Febri Sahputra, pada hari Rabu, tanggal 01 Februari 2017.
tersebut di atas dilengkapi dengan penguasaan dalam metode wawancara, karena metode tersebut ikut memegang peranan penting dalam kelancaran pemeriksaan tersangka. Dengan teknik-teknik wawancara, terutama keahlian dalam menyusun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, merupakan alat bantu yang sangat penting.
Dengan alat ini bisa diadakan pendekatan dengan mengajak tersangka berdialog, berdiskusi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan santai tetapi lancar sehingga tersangka maupun penyidik tidak akan mudah terpancing emosi. Di dalam pemeriksaan, seringkali penyidik memperingatkan tersangka, karena dinilai tersangka berbelit-belit dalam menyampaikan keterangannya. Dalam keadaan bagaimanapun penyidik harus bisa menahan emosi, bisa menahan kesabaran.
Dengan kesabaran yang tinggi bukan berarti mengalah, tetapi justru disinilah arti pentingnya pendekatan oleh penyidik terhadap tersangka69 dengan alat bantu psikologi.
Pada kasus I LP/519/XII/2016/SU/STR salah satu persyaratan utama dalam usaha mengerti lebih baik mengenai hubungan antara penjahat dan kejahatannya adalah korban. Dalam pemeriksaan yang dilakukan pada kasus I, penyidik memperlakukan korban sebagai sahabat yang mampu menjadi teman sharing sehingga dapat berbagi cerita tanpa penyidik harus memperkuat pertanyaan sebagai bahan wawancara untuk mengetahui kronologis kejahatan yang dilakukan oleh teman-temannya.
69Syamsurizai, Penggunaan Psikologi dalam Pemeriksaan Terdakwa, Antara 16-8-1983, Clipping Pers tentang Hukum Kejaksaan Agung RI No.B.43/KH.Sosbud/VIII/83 Jilid 20.
KASUS II (LP/06/1/2017/SU/SIMAL/SEKTOR-BANGUN) a. Tanggal : 20 Januari 2017
b. Tersangka : Suarman Ndraha Als Tri c. Kasus Posisi :
Pada hari Rabu, tanggal 18 Januari 2017 pukul 23.00 WIB di dalam kamar Jl.Tuan Rondahaim Kelurahan Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar martoba Kota Pematang Siantar, Tersangka bersama korban berada di dalam kamar, ketika itu korban menangis sehingga menjadi kesal lalu mencekik lehernya serta membantingkan kepala bagian belakang korban kelantai, lalu Tersangka bantingkan lagi sehingga mengenai kepalanya sebelah kanan dan membantingkan nya lagi ke lantai dan mengenai kepalanya sebelah kiri serta menyorongkan kepalanya ke dinding sehingga mengenai kepalanya bagian atas dan Tersangka melakukannya sebanyak 4 (empat) kali dengan cara membantingkan kepalanya ke lantai dan dinding kamar Tersangka, sehingga korban menggelepar dan pada saat tersangka angkat tubuhnya tubuhnya kejang-kejang serta dari mulutnya keluar nasi sedikit dan karena ketakutan selanjutnya Tersangka mengambil minyak kayu putih dan Tersangka oleskan ke hidung serta Tersangka mengambil air dan mencuci mukanya sambil mengelap muntahnya
namun pada saat itu Korban sudah tidak bergerak lagi dan setelah itu sekira pukul 00.30 WIB, pada hari Tersangka pergi ke Cafe Mora menjemput calon istri Tersangka Yk dan pada saat itu Tersangka mengatakan kepada Yk tadi Korban kejang-kejang dan lalu kumandikan dan makin parah, lalu Yk berkata karena tidak percaya “pasti kau pukul”, lalu Tersangka diam saja selanjutnya Tersangka pulang ke rumah, dan setelah berada di rumah sekira pukul 01.00 WIB, bahwa pada saat Tersangka tinggalkan di rumah bahwa Korban tidak berpakaian karena muntah tersebut sehabis Tersangka banting dan Tersangka tutupi tubuhnya dengan menggunakan selimut dan setelah sampai dikamar Yk tidak percaya dan menangis melihat Korban tersebut yang sudah dalam keadaan posisi terlentang dengan posisi tidak menggunakan baju serta badannya sudah dingin, lalu Yk menangis terus dan memukuli Tersangka dan hendak pergi kembali ke Cafe dan memberitahukan orangtuanya namun Tersangka tahan dan tidak Tersangka berikan pergi dan pada saat itu Tersangka mengajak Yk untuk kabur dan menyuruh Yk untuk meminjam sepeda motor milik DA namun, pada malam itu Tersangka dan Yk masih tidur di dalam kamar tersebut bersama dengan korban yang sudah meninggal dunia karena tidak bergerak lagi dan badannya sudah dingin serta membiru yang terus dipeluki oleh Yk, lalu keesokan harinya Tanggal 19 Januari 2017, sekira pukul 06.30 WIB, Tersangka terbangun dan menyuruh Yk untuk meminjam sepeda motor milik DA dan pada saat itu Tersangka memasangkan baju serta membungkus korban dengan menggunakan kain sarung dan pada saat Yk tersebut meminjam sepeda motor DA, Tersangka mengambil HP Samsung serta HP Nokia milik Pt serta uang Rp.150.000,- yang mana Tersangka
tinggal bersama yang terletak di stelling dalam kamar yang terbuka pintunya dan pada saat itu Pt dan 2 (dua) orang temannya tertidur di ruang tamu dan Tersangka juga serta setelah Yk datang dan membawa sepeda motor Tersangka menyuruh dan memaksa Yk tersebut untuk menggendong Korban yang sudah meninggal dunia tersebut dan pada saat itu Pt dan temannya belum terbangun dan setelah itu Tersangka pergi dan Tersangka membonceng Yk sambil menggendong tubuh yang sudah meninggal dan dibungkus dengan kain sarung serta digendong dengan menggunakan kain panjang milik korban dan setelah itu Tersangka pergi ke Terminal Tanjung Pinggir sambil berpikir untuk meletakkan/membuang Korban agar tidak diketahui dan rencana Tersangka akan diletakkan di mesjid dan setelah itu Tersangka pergi melewati daerah Karang sari sambil berpikir membuang mayat tersebut dan Tersangka keluar dari Perumnas Batu VI dan melintas di Jl.
Asahan Nag. Senio Kecamatan Gunung Malela Kabupaten Simalungun di dekat penjual air minum kelapa dan karena pada saat itu sedang sunyi, lalu Tersangka mengambil mayat Korban tersebut dari gendongan Yk dan meletakkan tubuh Korban tersebut yang sudah meninggal dunia di pinggir parit perkebunan karet tersebut dan setelah meletakkan tubuh korban tersebut yang sudah meninggal dunia selanjutnya Tersangka pergi mengendarai sepeda motor yamaha Jupiter Z milik DA tersebut dan pada saat berada di Kisaran Tersangka menjual HP Samsung milik Pt tersebut dengan harga Rp.300.000,- kepada orang yang berselisih dengan orang di SPBU pada saat mengisi minyak dan Tersangka bermohon kepada pembeli tersebut dan selanjutnya Tersangka dan Yk berangkat sambil berhenti-berhenti sejenak di SPBU sambil mengisi minyak sepeda motor
dan sebelum sampai dirumah orangtua Tersangka pada saat itu Tersangka kembali menjual HP Nokia milik Pt tersebut dengan harga Rp. 150.000,- dan Tersangka jual kepada salah satu counter HP dan selanjutnya Tersangka pergi kembali hingga sampai di rumah orangtua Tersangka di Jl. Jurong Kampung Kosmar Desa Bone Kecamatan Bonai Darussalam kabupaten Rokan Hulu.
d. Pasal : Pasal 76 C sebagaimana diancam Pidana Pasal 80 ayat (3) UU No.35 tahun 2014 perubahan atas UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
e. Perkara : Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan
kekerasan terhadap anak.
f. Implementasi Psikologi Hukum dalam kasus II :
Penyidikan sebagai usaha pertama untuk mengumpulkan bukti guna membuat terang suatu tindak pidana sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kepolisian Negara.70
Dalam kasus II dengan nomor polisi
LP/06/1/2017/SU/SIMAL/SEKTOR-BANGUN, pemeriksaan dilakukan oleh penyidik tunggal, yang juga menerapkan teknik wawancara pada tersangka dan saksi untuk mencari keterangan dan barang bukti.
Tersangka mengakui kesalahannya dan melakukan rekonstruksi di TKP (tempat kejadian perkara) bersama dengan saksi lainnya.71
70Andi Hamzah, Op.Cit, hal 27.
71Wawancara dengan Bripka Robert M.P pada hari selasa, tanggal 14 Februari 2017.
Korban dinyatakan telah meninggal setelah mendapatkan Visum atau VeR (Visum et Repertum) dari Kedokteran Forensik, sehingga pemeriksaan berlanjut kepada penuntutan oleh Kejaksaan.
C.Manfaat Psikologi Hukum Dalam Kasus Nomor Polisi:LP/519/XII/2016/SU/STR dan Kasus Dengan Nomor Polisi :LP/06/1/2017/SU/SIMAL/SEKTOR-BANGUN
Psikologi yang salah satu tugasnya meneliti perilaku manusia dari segi psikis, membantu ilmu hukum dalam mempelajari perilaku masyarakat yang berkaitan dengan hukum, maka disinilah dapat mempertemukan atau menggabungkan psikologi dengan hukum. Kendala hubungan psikologi dan hukum adalah ruang lingkup psikologi yang sempit sedangkan hukum ruang lingkupnya cukup luas, juga perbedaan sudut pandang nya dimana hukum yang mengandalkan asumsi tentang perilaku masyarakat sedangkan psikologi memahami dan memprediksi perilaku masyarakat, serta perbedaan dari segi metode dimana psikologi mencari, mendeskripsikan, menjelaskan melalui logika dan metode ilmu, sedangkan hukum menggunakan keterampilan praktis, setiap sistem aturan-aturan, dan kontra sosial.72
Hukum psikologi dan forensik psikologi bentuk lapangan lebih umum dikenal sebagai "psikologi dan hukum". Setelah upaya sebelumnya oleh psikolog untuk menangani masalah-masalah hukum, psikologi dan hukum menjadi bidang studi pada tahun 1960 sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan keadilan, meskipun itu keprihatinan yang berasal telah berkurang dari waktu ke waktu.
Amerika multidisiplin Asosiasi Psikolog Divisi 41, Amerika Psikologi-Law
72 Abintoro Prakoso, Op.Cit, hal 62.
Society, aktif dengan tujuan mempromosikan kontribusi dari psikologi untuk memahami hukum dan sistem hukum melalui penelitian, serta memberikan pendidikan untuk psikolog dalam masalah hukum dan menyediakan pendidikan kepada personil hukum pada masalah psikologis.73
Pada kasus I dan kasus II manfaat psikologi hukum sangat bermanfaat pada pemeriksaan tersangka yang sekaligus adalah saksi baik dalam mengungkap kesalahan yang dilakukan dengan taktik dan teknik penyidik bahkan pendekatan yang dilakukan penyidik seperti personal approach, Criminal profiling dan Geographical profiling untuk mengungkap kebenaran setiap kasus.
Di Indonesia peran psikologi dalam hukum sudah mulai terlihat semenjak hadirnya Asosiasi Himpunan Psikologi Forensik pada tahun 2007. Peran psikologi forensik dibutuhkan untuk membantu mengungkapkan kasus-kasus criminal yang menimpa masyarakat. Psikolog forensik dapat membantu aparat penegak hukum memberi gambaran utuh kepribadian si pelaku dan korban.74
Kasus I :
Pada kasus I (LP/519/XII/2016/SU/STR) korban mengalami penurunan mental secara drastis, sehingga korban mengalami keadaan psikis yang tidak stabil. Pemeriksaan terhadap korban di undur untuk menunggu kondisi korban menjadi stabil kembali. Korban harus dibawa ke Psikolog selama beberapa hari demi penanganan yang optimal agar tidak mencelakai diri atas tindak pidana yang menimpa korban.
73http://wikansusanti.blogspot.co.id/2011/03/psikologi-hukum.html diakses pada tanggal 03 Mei 2017
74Irmawati, Orasi Ilmiah, peranan psikologi dalam Menjawab fenomena Psikologis masyarakat Indonesia. Universitas Sumatra Utara pada Upacara Peringatan Dies Natalis ke- 57 Universitas sumatra Utara, 2009.
Korban menunjukkan gejala-gejala psikologis yang menyimpang dikenal dengan rape trauma syndrome yakni sekumpulan reaksi emosional, fisik dan perilaku yang terjadi pasca tindak pencabulan atau pemerkosaan yang dilakukan.
Rape trauma syndrome atau gejala trauma pasca pemerkosaan yang dialami oleh korban memasuki fase atau tahap akut, yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional, fisik dan perilaku yang tidak normal.75
Bantuan dari psikolog inilah yang memberikan sumbangsihnya kepada pihak kepolisian dalam menuntaskan proses penyidikan demi mencapai tujuan kebenaran materill dalam hukum acara pidana di Indonesia.
Kasus II:
Salah satu dari sekian banyak upaya dan sarana yang dilakukan oleh para dokter, ahli atau dokter ahli kedokteran kehakiman (forensik) dalam membantu menjernihkan suatu perkara pidana dari salah satu aspeknya adalah, apa yang disebut “Visum et Repertum” , yaitu yang dikenal dalam bidang ilmu kedokteran forensik, Psikiatri/Neurologi Forensik dan Kimia Forensik.76
“Visum et Repertum” sebagai salah satu aspek peranan ahli dan/atau adalah salah satu aspek keterangan ahli, maka keterkaitan antara keduanya tidak dipisahkan.77
Pada kasus II (LP/06/1/2017/SU/SIMAL/SEKTOR-BANGUN) korban dinyatakan telah meninggal dunia, berdasarkan Visum et Repertum korban
75Hasil asesmen psikologi dari epic consulting tanggal 20 Desember 2016, Pematang Siantar.
76R. Soeparmono, Keterangan Ahli dan Visum et Repertum dalam Aspek Hukum Acara Pidana, Mandar Maju, Bandung, 2016, hal 16.
77R. Soeparmono, Ibid
mengalami kerusakan jaringan pada pemeriksaan bagian dalam dan pembusukan bagian dalam tubuh korban. Tanda-tanda pembusukan (pemeriksaan awal):78
a. Dijumpai kulit ari mudah lepas serta sebagian sudah terkelupas
b. Dijumpai pembuluh-pembuluh darah permukaan (superfisialis) melebar (dilatasi)
c. Dijumpai perut korban membengkak serta berwarna kehijauan d. Dijumpai kedua bola mata telah keruh
e. Dijumpai belatung pada bagian tubuh korban (terutama wajah), terbesar berukuran panjang 1 cm, terkecil panjang 0,2 cm.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut yang perlu diusahakan adalah agar supaya jumlah tenaga psikologi jangan sampai kurang oleh karena penggunaan psikolog ini benar-benar dapat dirasakan manfaatnya. Dengan demikian penggunaan psikologi dalam pemeriksaan tersangka, saksi maupun korban merupakan satu tahap langkah kemajuan bagi dunia penegakan hukum demi efektifitas pemeriksaan.
D.Hubungan Kasus Nomor Polisi :LP/519/XII/2016/SU/STR dan LP/06/1/2017/SU/SIMAL/SEKTOR-BANGUN dengan Psikologi Kriminal Terkait Pemeriksaan Tersangka.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya,79 tingkah laku yang menyimpang dan melanggar kaidah-kaidah masyarakat lah yang disebut secara psikologis diartikan sebagai manifestasi kejiwaan yang terungkap pada tingkah laku manusia yang bertentangan dengan kaedah-kaedah yang berlaku dalam
78Hasil Instalasi Jenazah Dan Kedokteran Kehakiman Visum et Repertum RSUD Dr.Djasamen Saragih, pada tanggal 07 Februari 2017 nomor 1130/2017.
79Sarlito Wirawan, Pengantar Psikologi, Bulan Bintang, Jakarta, 1982, hal 10.
masyarakat,80oleh karena itu para ahli jiwa-dalam ingin mencoba untuk menganalisa tingkah laku manusia umumnya dengan cara membahas unsur-unsur intern dari hidup pada jiwa manusia itu, dinamakan oleh kebanyakan ahli dengan istilah “the structure of personality”. Istilah “the structure of personality”telah dipergunakan dalam ilmu pengetahuan.
Tinjauan psikologi sebagai pisau analisis dalam memahami tingkah laku individu yang memiliki kerentanan untuk berperilaku jahat, berdasarkan hal tersebut Sigmund Freud mengungkapkan teori mengenai structure personality sebagai berikut:81
a. Das Es atau Id, merupakan sumber segala sesuatu yang terlupa dan unsur-unsur kejiwaan yang dibawa bersalama kelahiriran adalah merupakan kekuatan-kekuatan hidup seperti nafsu dan instink yang terlupa.
b. Das ich atau Ego, merupakan pusat seluruh perawakan jiwa dan khususnya inti daripada alam sadar.
c. Das uber ich atau superego, merupakan instansi puncak jika dibandingkan dengan instansi yang lain (das es dan das ich), segala norma-norma dan tata kehidupan yang pernah mempengaruhi das ich membekas dan berada pada das uber ich.
Dengan tiga instansi itu, terbentuk kepribadian manusia yang aneka ragam oleh karena perbedaan kondisi psikis dan fisik, perbedaan lingkungan, perbedaan sejarah, keturunan, usia, kelamin dan sebagainya. Dengan demikian terbentuklah
80Chainur Arrasyid, Pengantar Psikologi Kriminal Jilid I, yani corporation, 1988 hal 65.
81 Ibid. Hal. 27
kepribadian-kepribadian yang unik. Dengan bermodal intelegensia serta emosi masing-masing terciptalah tingkah laku serta karakter tertentu. Tiga instansi jiwa itu merupakan suatu kesatuan yang sering menampakkan konflik antara bagian yang satu dengan yang lain yaitu konflik antara “id” dan “super ego”.
Jika ego melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma yang dimiliki oleh super ego, maka super ego akan melarangnya. Tetapi larangan itu tidak selalu berhasil. Jika Id mendesak terus-menerus, dapat pula terjadi bahwa super ego yang mengalah dan terjadilah perbuatan yang bertentangan dengan norma.82
Berkaitan dengan studi mengapa individu memiliki kecenderungan untuk berperilaku disosiatif terhadap kondisi di lingkungannya dengan melakukan
Berkaitan dengan studi mengapa individu memiliki kecenderungan untuk berperilaku disosiatif terhadap kondisi di lingkungannya dengan melakukan