• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN KEPUSTAKAAN

B. KajianTeori

5. Contoh-contoh Poligami

Dari dasar hukum di atas, baik al-Qur’an maupun hadits secara terang-terangan memberikan batasan bagi seseorang yang ingin berpoligami. Alasan yang paling sering jadi sasaran adalah masalah berbuat adil terhadap para istri, keadilan ini diindikasikan agar sang suami lebih berhati-hati dengan tujuannya berpoligami, yakni bukan karena alasan syahwat tapi benar-benar karena alasan maslahah buat rumah tangganya.

3. Dikisahkan juga tentang Abdurrahman bin Auf yang berkata kepada Ummu Hakim binti Farizh, “Apakah engkau mau menyerahkan urusanmu kepadaku?” Dia menjawab “Ya”, maka Abdurrahman berkata, “Aku telah mengawinimu.”91

Demikianlah beberapa contoh praktek poligami yang dilakukan pada zaman Nabi, seperti sahabat dst. Yang sengaja peneliti paparkan sebagai acuan dan pengetahuan bagi pembaca untuk melakukan penelitian lanjutan yang setema dengan kajian peneliti.

91Abu Syuqqah, Kebebasan Perempuan, 395.

SELAYANG PANDANG BUKU ‘PUYENG karena POLIGAMI’

Pada tahun 2007, Indonesia sempat dihebohkan dengan beberapa peristiwa terkait dengan persoalan perempuan. Salah satu konflik yang paling mencolok pada saat itu adalah isu poligaminya Aa Gym.92 Peristiwa ini jadi menarik karena melibatkan makhluk yang bernama perempuan. Dan peristiwa ini menyangkut konflik rumah tangga seseorang yang ternyata subjeknya adalah orang Islam yang dipersepsi memiliki kualitas agama lebih baik dari yang lain, sehingga konflik ini kemudian mencuat di media massa karena banyaknya tanggapan minor dari kebanyakan masyarakat.

Kasus yang menimpa Aa Gym ini sangat demikian hebatnya,93 sampai-sampai Aa Gym ditinggalkan oleh sebagian besar jamaahnya yang kebanyakan

92Aa Gym yang dahulu sempat digelari sebagai ‘Ustadz Semua Umat’ dan dikabarkan mempunyai Ilmu ladunni itu, pada awal mula kemunculannya di ruang publik, bukanlah termasuk penceramah agama yang menyukai topik soal poligami dalam setiap ceramahnya. Beliau terkesan selalu berusaha keras untuk menghindari pembahasan soal poligami. Bahkan di saat ada seorang dari jamaahnya bertanya tentang poligami, ia seakan-akan tidak menyetujui praktek poligami. “Ah, satu istri saja tak habis-habis kok”, begitu kurang lebih jawaban yang diberikannya sembari memandang mesra penuh arti ke arah istrinya, Ninih Muthmainnah atau teh Ninih. Beberapa tahun kemudian, tepat di tahun 2006, jamaah Aa Gym dikejutkan dengan kabar bahwa Aa Gym berpoligami, Aa Gym sempat membantah berita itu, namun waktu berselang membuat Aa Gym pun kemudian mengakui bahwa dirinya telah mempersunting janda muda nan cantik rupawan yang berusia 37 tahun sebagai istri keduanya. Isteri keduanya itu bernama Alfarini Eridani, atau dikalangan para jamaah pengikutnya biasa memanggilnya dengan nama teh Rini. Lihat:

http://hiburan.kompasiana.com/gosip/2011/01/05/aa-gym-poligami-nya-330639.html

93Tanggal 1 Desember bisa jadi merupakan tanggal yang kelak memberikan simbol gelap bagi Aa Gym sebagai tokoh kontroversial; menurut kebanyakan golongan. Pernikahan yang dilakukannya sekitar seminggu sebelumnya, tiba-tiba menjadi sebuah lahan yang empuk bagi setiap wartawan media massa untuk mengejar sang kyai pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid yang terkenal

perempuan.94 Hal ini yang kemudian menjadi latar belakang Agus Mustofa menulis buku serial ke-13 yang awalnya berjudul “Poligami Yuk!?”.

Judul yang dipaparkan Agus Mustofa tersebut ternyata melahirkan persepsi yang berbeda di masayarakat. Tanggapan miring dilayangkan oleh khalayak ramai terhadap judul ‘Poligami Yuk!?’, yang mana ditafsiri masyarakat bahwa Agus Mustofa mengisyaratkan Poligami.

Penilaian yang serupa juga datang dari Pesantren Sidogiri yang menilai bahwa pemikiran Agus Mustofa tidak sama dengan Adnan Oktar (Harun Yahya) maupun peneliti India popular, Dzakir Abdul Karim Naik. Isi dari buku-buku Agus Mustofa merupakan representasi utuh dari judul-judulnya yang profokatif.

Judul-judul tersebut bukan hanya sekedar pancingan untuk menarik minat pembaca, namun justru merupakan gambaran yang sesungguhnya dari kandungan isinya: misalnya dalam bukunya yang berjudul ‘Akhirat tidak Kekal’, ia benar-benar memberi penjelasan di dalamnya bahwa akhirat memang tidak kekal.95

Melihat dari beberapa tanggapan minor di atas, Agus Mustofa menanggapi hal tersebut dengan menulis di bukunya:

Padahal buku itu dimaksudkan untuk mendudukkan masalah poligami secara lebih proporsional, dengan membela kaum perempuan agar tidak direndahkan dan diragukan, sekaligus mengajak para lelaki untuk memahami masalah poligami secara lebih jernih agar tidak terjerat pada masalah yang berlarut-larut dan terbelit dosa yang membuatnya menderita.96

94Mustofa, Poligami Yuk!?, 16.

95 Ahmad Qusyairi Ismail dan Muhammad Achyat Ahmad, Menelaah Pemikiran Agus Mustofa (koreksi terhadap serial buku diskusi tasawuf modern) (Pasuruan: Pustaka SIdogiri-Pondok

Tanggapan Agus Mustofa tidak berhenti disitu. Untuk mengklarifikasi tuduhan masyarakat tersebut Agus Mustofa memutuskan untuk melakukan revisi pada judulnya dengan mengganti judul ’Poligami Yuk!?’ menjadi ‘Puyeng karena Poligami’. Hal ini dilakukannya agar pesan dari buku yang ditulisnya dapat sampai pada pembaca melalui judulnya.97

Lebih jauh lagi membahas buku ‘Puyeng karena Poligami’, maka perlu kiranya peneliti paparkan beberapa bagian dari buku ini. Sehubungan dengan judul revisinya, maka yang sebenarnya adalah Agus Mustofa ingin mengajak para pembaca untuk tidak hanya sekedar membahas poligami saja, lebih luas dari itu Agus Mustofa ingin mengarahkan kita untuk kembali pada fitrah kemanusiaan kita sebagai lelaki dan perempuan.

Oleh karena itu, perlu diperhatikan dua hal yang penting dari buku ini, yakni sistematika penyajian isi buku dan metode yang dipakai Agus Mustofa dalam menafsirkan ayat-ayat yang ada dalam buku ini.

A. Sistematika Penyajian Buku ‘Puyeng Karena Poligami’

Sistematika isi dari buku ‘Puyeng karena Poligami’ ini menyampaikan eksistensi laki-laki dan perempuan, membina keluarga sakinah, dan pembahasan poligami dalam pandangan Islam.

Dokumen terkait