• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Model Inovasi Pengelolaan Kurikulum

BAB III REGULASI KURIKULUM 2013 JENJANG SMK 17

3.3 Model Inovasi Kurikulum Operasional

3.3.6 Contoh Model Inovasi Pengelolaan Kurikulum

Contoh model Inovasi pengelolaan kurikulum di SMK yang sudah dilaksanakan di SMK N 4 Malang dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Model Praktik Kerja Industri (Prakerin) Satu Tahun.

Praktik kerja industri (Prakerin) di SMK N 4 Malang dilaksanakan dengan sistem block release selama satu tahun pada semester IV dan V. Program prekerin ini merupakan salah satu terobosan yang dilakukan oleh SMKN 4 setelah mendengar masukan dari pihak industri. Metode ini mampu menjawab permasalahan link and macth antara dunia industri dan sekolah. Bagi pihak siswa dan sekolah, prakerin satu tahun memberikan kesempatan pembelajaran yang lebih baik dalam rangka peningkatan kompetensi dan keahlian.

Siswa diberi kesempatan untuk terpapar pada teknologi terkini (up to date), baik itu perangkat keras, lunak, maupun proses yang dapat mengurangi beban investasi sekolah. Metode ini juga memberi dan menjamin relevansi pengetahuan yang dipelajari di sekolah dengan dunia industri.

Block release: waktu pelaksanaan kegiatan belajar yang dibagi pada hitungan bulan atau semester. Proses belajar dilakukan di sekolah selama beberapa bulan/semester secara terus menerus, kemudian dilanjut dengan praktik di industri pada bulan/semester berikutnya. Sistem blok dikembangkan untuk menjawab permasalahan link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri. Link and macth mengandung makna keserasian dan kesepadanan antara program pembelajaran yang diajarkan di sekolah dan kebutuhan industri.

Penekanan diberikan pada proses pembelajaran dan evaluasi/penilaian yang berkelanjutan (on going learning proses and assesment). Sekedar ilustrasi, saat ini ada enam kelas siswa tingkat I. Siswa dari enam kelas ini

kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu dua kelas di kelompok muatan Nasional dan Lokal (A dan B), dua kelas di kelompok teori kompetensi keahlian dan dua kelas di kelompok praktik kompetensi keahlian.

Pemberian nama kelompok tersebut berhubungan dengan materi yang akan siswa terima selama satu minggu. Selama satu minggu tersebut, kelompok Muatan Nasional dan Lokal/ kewilayahan akan menerima materi terkait dengan mata pelajaran A dan B (pendidikan agama, Bahasa Indonesia, matematika, IPS dan lainnya), sedangkan kelompok mata pelajaran teori peminatan kejuruan (C) akan menerima materi yang terkait teori kompetensi keahlian yang akan mereka praktikan nanti selama satu minggu ke depan. Kelompok praktik peminatan kejuruan akan memulai proses pembelajaran dari kegiatan praktik peminatan keahlian selama satu minggu. Setelah satu minggu, masing-masing kelompok akan berganti blok (blok kelompok mapel A dan B menjadi blok teori praktik peminatan kejuruan (C), blok teori praktik akan melakukan praktik dan blok praktik menjadi blok A dan B. Siklus ini akan berlangsung selama tiga minggu dan setelah itu siklus akan berulang.

Output atau keluaran yang dihasilkan oleh siswa pada saat praktik akan digunakan oleh siswa yang lain sebagai sarana praktik juga. Sebagai contoh, kue atau makanan yang dihasilkan di dapur atau bagian patiseri akan disajikan di restoran atau kafe oleh siswa yang praktik tata boga di restoran. Sistem blok yang dikembangkan menuntut sebuah proses yang berkelanjutan dan saling terkait sehingga satu bagian dari sistem tersebut tidak boleh ada yang berhenti berproduksi/berproses.

2. Model Diklastri SMKN 1 Singosari Malang (Tersedia Online di http://journal.um.ac.id/index.php/jps/ ISSN:

2338-9117)

Langkah-langkah yang ditempuh oleh SMK Negeri 1 Singosasri Malang dalam mempersiapkan model pendidikan kelas industri (industrial education class) adalah sebagai berikut. (1) Membangun kerja sama yang harmonis dengan industri mitra tempat praktik kerja industri (Prakerin), (2) Merencanakan model pendidikan kelas industri (industrial education class) bersama industri mitra PT. Trakindo Utama Jakarta, yang dituangkan dalam perjanjian kerja sama oleh kedua belak pihak, (3) menyusun kurikulum bersama sesuai kebutuhan industri, (4) menentukan kebutuhan guru/instruktur yang mengajar di sekolah maupun di industri, (5) menentukan sarana dan prasarana praktik, buku ajar dan sumber belajar yang harus disiapkan di sekolah oleh kedua belah pihak, (6) menentukan jadwal pembelajaran di sekolah dan di industri (on the job training/OJT), (7) menentukan pelaksanaan ujian nasional (UN) dan uji kompetensi.

Pelaksanaan pendidikan kelas industri (industrial education class) sebagai berikut. (1) Kelas kerja sama dengan lama pendidikan 3 tahun. (2) Semester I, II, dan III siswa mengikuti pendidikan di sekolah dengan bimbingan pihak sekolah dan industri. (3) Semester IV dan semester V, siswa separuh waktu industri dan separuh waktu di sekolah; OJT di industri selama 3 bulan dan pendidikan di sekolah selama 3 bulan. (4) Semester VI siswa melaksanakan pembelajaran di sekolah secara penuh untuk persiapan ujian nasional (UN) dan uji kompetensi produktif (UKP). (5) Setelah siswa

dinyatakan tamat belajar, siswa direkrut oleh industri untuk dilakukan penempatan dengan memenuhi syarat-syarat; sehat jasmani dan rohani yang ditunjukkan dengan surat dokter termasuk bebas narkoba, mengumpulkan foto copy ijazah, mengisi dan menandatangani perjanjian kerja, mengumpulkan pas foto, dan persyaratan lain yang dibutuhkan.

Pelaksanaan uji kompetensi pendidikan model pendidikan kelas industri dilaksanakan di sekolah dan/

atau di industri. Naskah uji kompetensi sepenuhnya dibuat oleh pihak industri sebagai calon pengguna lulusan. Siswa yang lulus uji kompetensi dan lulus ujian nasional direkrut oleh industri sebagai tenaga kerja, sedangkan siswa yang belum lulus, gugur sebagai calon tenaga kerja di industri dan harus mengulang pendidikan selama satu tahun di tingkat III yaitu semua mata pelajaran/diklat semester V dan VI.

3. Model Prakerin Technopreuneur

Pendidikan kewirausahaan berbasis teknologi, atau dikenal dengan istilah technopreneurship, merupakan upaya untuk mensinergikan antara teori dan praktik dari berbagai kompetensi bidang ilmu yang berkaitan dengan teknologi dan industri. Karena itu, pendidikan kewirausahaan teknologi (technopreneurship) bisa dijadikan sebagai sebuah proses pembelajaran beratmosfir bisnis. (Hamid, 2011). Technopreneurship adalah wirausaha berbasis teknologi.

Technopreneurship merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya, dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi nasional.

Pengembangan technopreneurship, selain teori-teori dan praktek yang berbasis teknologi, harus didukung dalam proses pendidikan yang bernuansa keterampilan.

Proses pendidikan keterampilan dapat ditunjang dengan model.

Model pembelajaran yang dimaksud adalah melalui kemitraan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan Dunia Usaha dan Industri (DUDI) sebagai ajang Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau magang kewirausahaan.

Selama ini pelajaran PKL atau Praktik Kerja Industri (Prakerin) umumnya dilakukan di perusahaan/industri yang memosisikan siswa sebagai calon pekerja buruh.

Dalam model kemitraan SMK-DUDI, terdapat persyaratan tertentu, yaitu substansinya bukan hanya praktik atau belajar aspek teknis tetapi juga aspek manajemen kewirausahaan. Siswa tidak hanya belajar kepada pekerja tetapi juga kepada pemilik usaha/industri atau wirausahawan. Melalui model ini diharapkan dapat melahirkan calon technopreneur atau wirausahawan yang berbasis bekal kemampuan teknologi.

Gambar 1

Bagan Model Kemitraan SMK-DUDI Berorientasi Penyiapan Technopreneur

Sumber: (Khumaedi & Suharmanto, 2015)

4. Model Pengelolaan Teaching Factory

Model pembelajaran yang ber-basis produksi dan pembelajaran di dunia kerja, du-kungan mutu pendidikan dan latihan yang berorien-tasi hubungan sekolah dengan dunia industri dan dunia usaha dalam menerapkan unit produksi di sekolah. Landasan lain adalah semakin mahalnya biaya bahan praktik siswa, peralatan yang harus terpelihara dalam kondisi standar, motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi warga sekolah; serta menimbulkan kepercayaan diri dan juga kebanggaan bagi lulusannya.

Secara umum model pembelajaran teaching factory ini bertujuan untuk melatih siswa dalam mencapai

ketepatan waktu, kualitas yang dituntut oleh industri, mempersiapkan siswa sesuai dengan kompetensi keah-liannya, menanamkan mental kerja dengan beradap-tasi secara langsung dengan kondisi dan situasi in-dustri, dan menguasai kemampuan manajerial dan mampu menghasilkan produk jadi yang mempunyai standar mutu industri.

Pelaksanaan teaching factory sesuai Panduan TEFA Direktorat PMK terbagi atas 4 model, dan dapat digunakan sebagai alat pemetaan SMK yang telah melaksanakan TEFA. Adapun model tersebut adalah sebagai berikut:

a. Model pertama, Dual Sistem dalam bentuk praktek kerja industri yaitu pola pembelajaran kejuruan di tempat kerja yang dikenal sebagai experience based training atau enterprise based training.

b. Model Kedua, Competency Based Training (CBT) atau pelatihan berbasis kompetensi merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan dan peningkatan keterampilan dan pengetahuan peserta didik sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Pada metode ini, penilaian peserta didik dirancang sehingga dapat memastikan bahwa setiap peserta didik telah mencapai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan pada setiap unit kompetensi yang ditempuh.

c. Model ketiga Production Based Education and Training (PBET) merupakan pendekatan pembelajaran berbasis produksi. Kompetensi yang telah dimliki oleh peserta didik perlu diperkuat dan dipastikan keterampilannya dengan memberikan

pengetahuan pembuatan produk nyata yang dibutuhkan dunia kerja (industri dan masyarakat).

d. Model keempat,Teaching factory adalah konsep pembelajaran berbasis industri (produk dan jasa) melalui sinergi sekolah dan industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dengan kebutuhan pasar.

Tujuan Pembelajaran Teaching Factory:

a. Mempersiapkan lulusan SMK menjadi pekerja, dan wirausaha;

b. Membantu siswa memilih bidang kerja yang sesuai dengan kompetensinya.

c. Menumbuhkan kreatifitas siswa melalui learning by doing.

d. Memberikan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja.

e. Memperluas cakupan kesempatan rekruitmen bagi lulusan SMK

f. Membantu siswa SMK dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja, serta membantu menjalin kerjasama dengan dunia kerja yang aktual, dll g. memberi kesempatan kepada siswa SMK untuk

melatih keterampilannya sehingga dapat membuat keputusan tentang karier yang akan dipilih.

Tujuan yang selaras tentang pembelajaran teaching factory (Sema E. Alptekin, Reza Pouraghabagher, Patricia McQuaid, and Dan Waldorf; 2001) adalah:

a. Menyiapkan lulusan yang lebih profesional melalui pemberian konsep manufaktur moderen sehingga secara efektif dapat berkompetitif di industri.

b. Meningkatkan pelaksanaan kurikulum SMK yang berfokus pada konsep manufaktur moderen.

c. Menunjukan solusi yang layak pada dinamika teknologi dari usaha yang terpadu

d. Menerima transfer teknologi dan informasi dari industri pasangan terutama pada aktivitas peserta didik dan guru saat pembelajaran.

Sintaksis Teaching Factory

Pembelajaran teaching factory dapat menggunakan sintaksis PBET/PBT atau dapat juga menggunakan sintaksis yang diterapkan di Cal Poly-San Luis Obispo USA (Sema E. Alptekin: 2001) dengan langkah-langkah:

a. Merancang produk b. Membuat prototype

c. Memvalidasi dan memverifikasi prototype d. Membuat produk masal

Salah satu sekolah yang sudah mengimplementasikan teaching factory adalah SMK N 3 Klaten yaitu manajemen cafetaria sebagai model teaching factory di Jurusan Jasa Boga. SMK N 3 Klaten melaksanakan kegiatan teaching factory dengan membentuk struktur pengurus, melibatkan siswa, mengalokasikan anggaran dalam RKS/RKAS, melakukan kerjasama dengan institusi lain, dan memiliki bangunan khusus untuk teaching factory. Akan tetapi pada umumnya keuntungan yang didapatkan masih sedikit dan belum terintegrasi dengan kurikulum. Faktor penghambat pelaksanaan teaching factory ialah aturan tentang legalitas unit produksi, pemasaran, persepsi orang tua siswa, harga dari produsen yang terlalu tinggi dan kesibukan guru dan siswa. Selain SMK N 3 Klaten sekolah yang sudah mengimplementasikan teaching factory adalah SMK St. Mikael Surakarta, pelaksanaan

Teaching Factory di SMK St. Mikael Surakarta melalui perencanaan dengan pembuatan rencana jangka panjang, menengah, dan pendek, pelaksanaan dengan mengintergrasikan ke dalam kurikulum sehingga melibatkan semua siswa, serta pengawasan dengan melakukan koordinasi rutin dan form penilaian untuk semua siswa, karyawan, dan guru. Faktor pendukung pelaksanaan Teaching Factory di SMK Mikael St.

Surakarta ialah budaya atau kultur yang baik, sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya, dan fasilitas peralatan yang memadai. Sedangkan faktor penghambatnya ialah belum adanya ruang atau bangunan khusus untuk unit produksi dan belum adanya karyawan khusus yang mengelola unit produksi.

BAB IV

USULAN MODEL INOVASI KURIKULUM 2013 SMK

Membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan pola yang berbeda adalah sebuah upaya inovasi kurikulum. Tujuannya adalah untuk akselerasi pencapaian tujuan SMK yang tidak terpisahkan dengan dunia kerja dan industry. SMK distingtif adalah sebuah konsep pengembangan kurikulum yang lebih menekankan kepada pentingnya link and match antara SMK sebagai sebuah lembaga pendidikan formal dengan dunia industri sebagai mitra strategis dan user di masa depan.

Upaya pengembangan SMK distingtif melalui rekonstruksi kurikulum dilandasi oleh filosofi SMK sebagai sebuah sekolah vokasi juga dilandasi oleh pengalaman-pengalam negara maju yang lebih memfokuskan SMK sebagai leading sector pendidikan menengah yang menghasilkan lulusan tingkat operator.

Pendekatan “rekonstruksi” dalam tulisan ini menggunakan teori Tyller tentang komponen kurikulum yang terdiri dari (1) rekonstruksi tujuan, (2) rekonstruksi isi, (3) rekonstruksi methodologi atau prosedur pembelajaran, dan (4) rekonstruksi evaluasi kurikulum.

Hal yang paling sulit dalam rekonstruksi ini adalah menentukan bidang kajian SMK itu sendiri. Sebagaimana diketahui, beragam profesi yang menjadi dasar penjurusan di SMK akan berbeda satu sama lain. Karena karakteristik profesi itu berbeda, maka rekonstruksinya pun akan memiliki perbedaan, walaupun tingkat perbedaannya ada yang bersifat umum juga perbedaan yang lebih spesifik. Konsep dasarnya bisa mengalami adopsi dan adaptasi oleh program profesi yang berbeda satu sama lainnya.

Dalam membangun ulang kurikulum, tentu saja yang pertama dilakukan adalah meninjau ulang tujuan. SMK memiliki tujuan untuk mempersiapkan siswa menjadi pekerja level 2 sebagai tenaga operator tingkat pertama. “kesiapan” yang dimaksud memiliki dimensi interpretasi yang berbeda, sehingga kesiapan bisa beragam tingkatnya. Dalam konteks kontruksi kurikulum distingtif, SMK harus memiliki tujuan: “Menjadi sekolah yang terintegrasi dengan dunia kerja dengan optimalisasi kerjasama dengan dunia usaha/industri dalam proses pembelajaran berkelanjutan”.

Maksud dari “terintegrasi” dengan dunia kerja adalah bahwa SMK adalah lembaga yang mewadahi siswa dengan fungsi memfasilitasi penyaluran siswa ke dunia kerja mitra melalu penyelenggaraan pembelejaran bersama anatara sekolah dan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). “Optimalisasi” kerjasama dimaksudkan sebagai proses pembelajaran yang memiliki dua pola yang saling melengkapi. Pola pertama siswa secara langsung diterjunkan kepada dunia kerja di DUDI mitra dan pola kedua adalah siswa belajar di sekolah dengan mentor oleh praktisi DUDI mitra. Berkelanjutan dimaksudkan sebagai sebuah proses kerjasama antara sekolah dan mitra dalam pembelajaran baik disekolah maupun di DUDI melalui magang.

SMK difokuskan sebagai lembaga fasilitator yang mempertemukan siswa dengan dunia kerja, dimana standar pendidikan yang dilaksanakan dirancang dan dirumuskan bersama serta dilakukan secara konsisten oleh kedua pihak: sekolah dan mitra DUDI.

Rekonstruksi Isi

Isi adalah materi ajar atau materi diklat yang harus diberikan di SMK. Sebagaimana kita pahami bahwa di SMK memiliki tiga kelompok materi yaitu kelompok mata pelajaran Muatan Nasional A yang dahulu dikenal dengan mata pelajaran normatif, Mata pelajaran muatan Kewilayahan B yang dahulu lebih mudah disebut

kelompok adaptif dan terakhir kelompok mata pelajaran peminatanan keahlian C yang sebelumnya namanya mata pelajaran (diklat) produktif. Dalam konteks isi, sepertinya tidak terlalu banyak yang direkonstruksi karena setiap kelompok pelajaran memiliki tujuannya masing-masing. Yang dibutuhkan dalam konteks SMK adalah lebih kepada rekonstruksi konsep bagaimana materi ini diimplementasikan.

Hal yang penting dilakukan adalah rekonstruksi isi melalui need analysis dengan dasar link and match. Sudah menjadi kenyataan bahwa SMK sebagai lembaga formal yang didesain oleh pemerintah mengikuti standar isi kurikulum yang diinginkan oleh pemerintah. Bisa jadi standar ini sama dengan DUDI, bisa juga berbeda. Sehingga kontruksi isi harus dikaji melalui team pengembang kurikulum sesuai dengan profesi kerja lulusan SMK yang dimaksud. Kalau seandainya profesinya adalah pariwisata, maka perlu analisis yang mendalam tentang jenis wisata yang khas dan kalau dimungkinkan bukan hanya menjadi pekerja wisata tapi membuka lapangan baru dalam pariwisata.

Untuk membuat distingsi isi dari kurikulum ini perlu adanya tim khusus yang mengkaji setiap kemungkinan-kemungkinan profesi yang ada di SMK. Gambaran umum dari distingsi (perbedaan) SMK yang bisa dibuat mungkin bisa digambarkan pada model Table 3.

4.1 Model 1 : Integrasi Sekolah dan Dunia Industri Berkelanjutan

4.1.1 Struktur Kurikulum

Inovasi yang dilakukan pada model 1 adalah dari isi materi ajar atau materi diklat yang harus diberikan di SMK. Struktur

kurikulum di SMK memiliki tiga kelompok materi yaitu kelompok A yang dahulu dikenal dengan mata pelajaran normatif, kelompok B yang dahulu lebih mudah disebut kelompok adaptif dan terakhir C yang sebelumnya namanya mata pelajaran (diklat) produktif. Dalam konteks isi, tidak terlalu banyak yang direkonstruksi karena setiap kelompok pelajaran memiliki tujuannya masing-masing. Yang dibutuhkan dalam konteks SMK adalah lebih kepada rekonstruksi konsep bagaimana materi ini diimplementasikan pada proses pembelajaran selama 3 tahun (6 semester)

Rekonstruksi kurikulum dilakukan melalui need analysis dengan dasar link and match. .SMK sebagai lembaga formal yang didesain oleh pemerintah mengikuti standar isi kurikulum yang disusun oleh pemerintah, hal tersebut membuat perbedaan antara standar ini dengan kebutuhan DUDI. Solusi dari permasalahn tersebut adalah dengan adanya kajian dari kontruksi kurikulum ini dilakukan oleh pengembang kurikulum yang disesuaikan dengan profesi kerja lulusan SMK. Gambaran umum dari distingsi SMK yang bisa dibuat mungkin bisa digambarkan sebagai berikut:

Tabel 3 Gambaran umum dari Distingsi SMK Semester Tempat

Belajar

Peran Sekolah Peran Mitra DUDI I Sekolah Memberikan

Pengetahuan Muatan Nasional dan Kewilayahan (

Memberikan pengenalan dasar tentang dunia Industri

Semester Tempat Belajar

Peran Sekolah Peran Mitra DUDI A+B ) serta

Landasan-landasan ilmu dunia pekerjaan (70% dilakukan oleh sekolah) II Sekolah 50% memberikan

pengetahuan program one stop training (3 bulan)

50%

dilakukan di DUDI dan setiap sekolah menerima laporan

Semester Tempat Belajar

Peran Sekolah Peran Mitra DUDI

dibedah oleh SMK

Membedah banyak belajar di laboratorium profesi. UAN dan Ujikom.

Sumber: Zaki Mubarak, 2018 4.1.2 Program Satuan Pendidikan

Pada model 1 struktur kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan tetap mengacu pada sturktur kurikulum yang telah ditetapkan secara nasional. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum rekonstruksi sosial dengan teori pendidikan yang digunakan adalah pendidikan

interaksional. Kurikulum ini memiliki karakter (1) menekankan pemecahan masalah sosial (pekerjaan) yang dihadapi saat ini, (2) kurikulum berfokus pada isi dan proses dengan disusun melibatkan siswa, (3) isi kurikulum adalah masalah yang hangat dan penting di masa depan siswa, (4) proses pembelajaran yang kooperatif, (5) siswa dan guru belajar bersama dengan sumber yang multi, dan (6) penilaian adalah pada proses dan hasil. Dalam mengimplementasikan konsep kurikulum tadi, maka perlu ada rekonstruksi metodologi dalam konteks melaksanakan rekontruksi isi yang sudah di desain. Isi kurikulum disusun dan dirancang oleh guru, DUDI dan siswa. Dokumen kurikulum hanya berisikan garis besar yang longgar untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan DUDI.

4.1.3 Pengelolaan sumber daya pendukung

Pengelolaan sumber daya pendukung menyangkut guru, pelaksanaan pembelajaran, dan pola kerjasama yang digunakan.

1. Guru adalah terdiri dari pihak sekolah yang mengajaran mata pelajaran kelompok A dan B dalam bentuk program yang ketat.

2. Model pembelajaran yang utama adalah cooperative learning, dimana siswa selalu dilatih untuk bekerja sama dalam building team dengan matapelajaran kelompok A dan B diintegrasikan sebagai indirect teaching (tidak langsung diajarkan) dalam kelompok mata pelajaran C.

Untuk implementasinya, bisa dengan menggunakan mini research siswa, lalu kemudian menciptakan sebuah produk dari research yang dilakukan melalui desain hasil karya siswa dan bantuan guru, dan pada akhirnya ditampilkan atau dipamerkan di dunia DUDI agar

mendapatkan tindak lanjut, apakah desain itu dilanjutkan atau perlu perbaikan.

4.1.4 Implikasi Model 1

Inovasi kurikulum yang dilakukan akan memberikan implikasi. Beberapa hal yang berkaitan dengan implikasi adalah:

1. Struktur kurikulum

Dari segi alokasi waktu pada model 1 tidak terjadi perubahan. Jumlah alokasi waktu tetap sebagaimana yang tercantum pada kurikulum 2013. Inovasi yang terjadi adalah kurikulum rekonstruksi sosial dengan teori pendidikan yang interaksional

2. Team teaching

Program ini bisa dilaksanakan secara tematik sehingga bentuknya bisa melalui Focus Group Discussion (FGD), pelatihan (Coaching), seminar, lokakarya dan Unjuk kerja (Performance) yang bisa dilakukan beberapa bulan. Program ini dilakukan dengan upaya efesiensi dan efektifitas pembelajaran dimana mata pelajaran kelompok C harus memiliki waktu yang dominan. Agar pelaksanaan kelompok C ini kena sasaran, maka guru yang melakukan tutorial adalah dari DUDI dengan pola kerjasama dimana setiap perusahaan memiliki program dan anggaran Corporate Social Responsibility (CSR).

Sebagai contoh untuk kelompok mapel A yang terdiri dari Agama dan PKn bisa dilaksanakan selama sebulan di bulan Ramadhan dengan menggunakan model ceramah, unjuk kerja, direct teaching dan indirect teaching dan lain sebagainya. Sedangkan untuk kelompok B seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia bisa dengan menggunakan program Tiga

bulan Bahasa. Bulan bahasa itu adalah bulan dimana program literasi mulai membaca dan menulis dilatihkan dalam Bahasa target.

3. Pola integrasi sekolah dan DUDI akan harus berkelanjutan selama lima semester, sehingga modelnya adalah saling mengisi antara dunia konseptual yang sering dimiliki oleh sekolah dengan dunia praktikal yang dimiliki oleh praktisi DUDI. Materi perkelompok diajarkan secara tematik agar terjadi keholistikan setiap mata pelajaran. Hal ini akan menjadi pendekatan Broadfield yang memudahkan menyatukan berbagai mata pelajaran dalam satu program kegiatan pembelajaran.

4. Pola kerjasama antara sekolah dan DUDI perlu

4. Pola kerjasama antara sekolah dan DUDI perlu

Dokumen terkait