Tabel di bawah adalah penjelasan atau informasi yang terkait dengan pemetaan pasar yang digambarkan oleh Bagan 1.5.
TABEL 1.5. CONTOH INFORMASI DARI PEMETAAN PASAR PELAKU (KOMODITAS RUMPUT LAUT)
FUNGSI RANTAI NILAI
Penyedia • Bibit rumput laut di lokasi dapat diperoleh dari sekitar 30 petani. Petani di Kabupaten Bahari bibit rumput biasanya membutuhkan 6kg bibit/bentangan. Para petani bibit rumput laut ini memperoleh laut bibit dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAB).
• Namun petani tidak selalu membeli bibit. Umumnya mereka membeli bibit pada musim tanam yang bagus (Mei/Juni). Selebihnya mereka sisakan hasil panen untuk dijadikan bibit pada musim berikutnya. Dengan demikian, pembelian bibit dilakukan 1x setahun (5-6 kali musim tanam).
Petani • Total petani rumput laut di Kabupaten Bahari adalah 3000 petani. Petani ini umumnya memiliki lahan sendiri dengan luasan rata-rata 300 – 400 bentangan dengan produktivitas 50kg/ bentangan.
• Petani yang memiliki 300 bentangan termasuk dalam kategori petani miskin atau petani kecil (smallholder farmers).
• Praktik budidaya rumput laut di Provinsi Mina cukup baik meskipun di wilayah Bahari, praktik budidaya rumput laut masih kalah dibanding kabupaten tetangga. Petani di Bahari seringkali sudah memanen sebelum 45 hari. Akibatnya, ada perbedaan harga jual rumput laut di Kabupaten Bahari dibandingkan kabupaten tetangga.
• Petani menjual rumput laut kering kepada pengepul setelah menjemur 3 – 7 hari kepada pengepul di tingkat desa.
Pengepul • Di setiap desa ada beberapa pengepul yang biasanya membeli rumput laut kering dari petani.
• Pembelian di tingkat petani dilakukan secara borongan tanpa membedakan kualitas
• Hampir semua pengepul memberikan pembayaran atau modal kerja di muka (prefinancing)
• Pengepul di tingkat desa menjual rumput laut kering kepada pengepul di tingkat kabupaten.
Panduan Keperantaraan Pasar 45
Modul 1 Riset Komoditas Unggulan
Pedagang • Pedagang menjual rumput laut ke pedagang di besar antar wilayah yang berada di Surabaya dan Jakarta yang kemudian mengekspornya ke negara lain.
• Pedagang juga dapat menjual rumput laut kepada perusahaan yang mengolah rumput laut ini baik untuk makanan maupun sebagai bahan baku produk turunan.
JASA-JASA PENDUKUNG
Jasa • Ada petugas penyuluhan dari OPD Kelautan dan Perikanan namun umumnya tidak terlalu Penyuluhan aktif memberikan penyuluhan.
• Sebelumnya, ada juga penyuluhan dari dari beberapa lembaga donor namun jangkauannya cukup terbatas.
Jasa • Petani rumput laut menggunakan modal sendiri atau mendapatkan prefinancing dari para Keuangan pengepul dan pedagang
• Tidak ditemukan kasus petani rumput laut menggunakan pinjaman dari lembaga keuangan Jasa • Transportasi, pergudangan dan pengemasan dilakukan oleh para pengepul dan pedagang.
Transportasi / Logistik
LINGKUNGAN BISNIS
Kebiasaan • Petani di wilayah Bahari sudah menanam selama belasan tahun. Mereka memperoleh Budidaya informasi dari sesama petani dan mengembangkan kebiasaan budidaya sendiri.
dan Jejaring • Setiap pedagang besar antar wilayah memiliki jejaring pengepul di tingkat kabupaten hingga Informal tingkat desa yang memiliki sejumlah petani mitra.
• Tidak ditemukan asosiasi formal petani ataupun bentuk organisasi lainnya.
Kebijakan • Saat ini pedagang dapat mengekspor rumput laut tanpa harus diolah terlebih dahulu. Namun Ekspor kebijakan ini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kebijakan impor beberapa komoditas Impor lain yang harus melalui proses pengolahan di dalam negeri.
• Untuk rumput laut yang digunakan sebagai bahan baku makanan, ada pengawasan yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Tabel 1.6. adalah contoh yang menggambarkan keterlibatan perempuan dalam kegiatan budidaya rumput laut dan Tabel 1.7. menggambarkan peran perempuan dalam pengambilan keputusan terkait budidaya rumput laut. Hasil dari pengumpulan informasi ini akan bermanfaat ketika melakukan perencanaan intervensi terutama dalam merancang kegiatan uji coba.
Dalam contoh di bawah, perempuan terlihat banyak terlibat dalam persiapan budidaya (mengikat bibit) dan kegiatan pasca panen (penjemuran). Dengan demikian, intervensi yang terkait peningkatan kualitas pasca panen sebaiknya melibatkan perempuan yaitu dengan memastikan kehadiran perempuan dalam sosialisasi atau pelatihan terkait pasca panen atau peningkatan kualitas rumput laut.
46 Panduan Keperantaraan Pasar
Modul 1 Riset Komoditas Unggulan
TABEL 1.6. CONTOH KETERLIBATAN PEREMPUAN (PEMILIK & TENAGA KERJA) DALAM KEGIATAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT
Tingkat Keterlibatan Dalam Budidaya
Kegiatan P L Keterangan
Memastikan adanya bibit 1 2 Bibit bisa dibeli atau disisihkan dari hasil panen sebelumnya
Mengikat bibit ke tali bentangan 2 0 Ada pekerja perempuan yang diupah untuk mengikat bibit
Meletakkan bentangan di lokasi 0 2
Memupuk 1 2
Pemantauan rutin dan perawatan/ 0 2 Dengan perahu terletak di dalam atau di luar pembersihan
Memanen rumput laut 1 2
Melepaskan rumput laut dari bentangan 0 2 Biasanya ada juga pekerja laki-laki yang diupah untuk melepaskan dari tali bentangan
Menjemur rumput laut 2 1
Menyimpan atau memasukkan dalam 1 1
karung
Menghubungi pengepul untuk menjual 1 2
TABEL 1.7. CONTOH KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT
Tingkat Keterlibatan Dalam Budidaya
Kegiatan P L Keterangan
Membeli bibit 1 2
Membayar pekerja untuk mengikat bibit 2 1
Membeli peralatan dan pupuk 0 2
Menjual hasil panen 1 2
Penggunaan uang hasil penjualan 2 1
Catatan/Asumsi:
• Skor 0 – 2 (0 = tidak terlibat, 1 = terlibat, 2 = sangat terlibat)
Panduan Keperantaraan Pasar 47
Modul 1 Riset Komoditas Unggulan
Langkah 1.2.2. Identifikasi Akar Permasalahan dan Area Intervensi
Diperlukan identifikasi atas akar permasalahan karena permasalahan yang tampak biasanya hanya merupakan akibat atau gejala dari permasalahan lain yang sifatnya lebih fundamental. Intervensi yang akan dilaksanakan harus dapat mengatasi akar permasalahan – bukan sekedar mengatasi gejalanya – agar efektif dan dampaknya berkelanjutan. Salah satu cara untuk menggali akar permasalahan adalah melalui metode pohon masalah (problem tree). Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan “mengapa?” berulang-ulang atas permasalahan awal yang diidentifikasi hingga sampai pada penyebab yang dianggap sebagai akar permasalahan dan jelas struktur dari permasalahannya.
Proses identifikasi akar permasalahan dimulai dengan mengidentifikasi masalah utama (atau gejala) yang biasanya terjadi di fungsi rantai nilai. Sementara itu akar permasalahan mungkin tidak terletak pada fungsi rantai nilai, melainkan pada fungsi pendukung ataupun di bagian fungsi regulasi. Mengingat informasi pada tahap awal seringkali masih bersifat umum, identifikasi akar permasalahan dapat dilakukan dalam 2 tahap yaitu pada Tahap Riset Komoditas Unggulan ini dan pada Tahap Perencanaan Intervensi yang dijelaskan dalam modul selanjutnya.
PROSES PELAKSANAAN
Memilih area intervensi yang akan ditangani Akademisi, Pelaku Pasar, UMK, Mentor1. Konsultan memfasilitasi perumusan masalah sebagai langkah awal:
a. Peserta diminta merumuskan permasalahan dalam bentuk pernyataan masalah (problem statement) yang dihadapi. Perumusan masalah ini menjadi titik awal dari identifikasi akar masalah. Contoh perumusan masalah: “Pendapatan petani rumput laut rendah.”
2. Konsultan memfasilitasi identifikasi akar permasalahan (Lihat contoh dalam Bagan 1.4.):
a. Peserta diminta menggali penyebab langsung (lapis pertama) dari permasalahan yang sudah dirumuskan di atas dengan mengajukan pertanyaan “mengapa?”. Ini menjadi penyebab lapis pertama.
b. Peserta diminta untuk terus menggali penyebab (lapis kedua dan seterusnya) dari penyebab yang diidentifikasi sebelumnya (lapis pertama) sampai pada penyebab yang dipandang menjadi akar permasalahan. Pada umumnya akan ditemukan beberapa akar permasalahan.
48 Panduan Keperantaraan Pasar
Modul 1 Riset Komoditas Unggulan
3. Konsultan memfasilitasi penentuan area intervensi (Lihat contoh dalam Bagan 1.4.):
a. Konsultan memfasilitasi pemilihan area intervensi berdasarkan akar permasalahan yang telah diidentifikasi. Area intervensi adalah bidang intervensi yang akan dilakukan dipilih berdasarkan identifikasi atas akar permasalahan. Dari beberapa area intervensi tersebut, dipilih satu area intervensi yang paling memungkinkan atau realistis untuk dilakukan.
b. Pemilihan area intervensi mempertimbangkan beberapa hal seperti banyaknya jumlah pihak atau aktor yang harus terlibat agar intervensi efektif, jangkauan kewenangan dari pemerintah daerah dan partner untuk mengatasi akar permasalahan, besarnya biaya yang diperlukan, lamanya waktu yang dibutuhkan agar hasil tercapai dan seterusnya. Dengan demikian pemilihan area intervensi merupakan keputusan pragmatis yang harus mempertimbangkan ketersediaan sumber daya.
CONTOH
Bagan 1.6. adalah contoh dari identifikasi akar permasalahan yang dimulai dengan masalah yang dirumuskan sebagai berikut: “Pendapatan petani rumput laut rendah.” Permasalahan ini digali dengan pertanyaan yang menggali penyebabnya. Hal yang sama dilakukan terhadap penyebab yang diidentifikasi tersebut. Untuk memastikan apakah penyebab ini yang mengakibatkan permasalahan, dapat diuji dengan pernyataan “jika (penyebab) terjadi … maka … (permasalahan) terjadi.” Dalam contoh di bawah, ada beberapa akar permasalahan (lihat kotak paling bawah) yang diidentifikasi. Akar permasalahan tersebut menjadi area intervensi yang dapat dipilih. Dalam contoh, ada 3 area intervensi yang diidentifikasi (diberi lingkaran).
Bibit berkualitas hanya Petani di lokasi hanya
sesuai praktik menjual rumput laut
digunakan 1x setahun
budidaya yang baik kering
Tidak ada insentif
Harga bibit dianggap Tidak ada pengolah untuk melakukan
mahal rumput laut di lokasi praktik baik
Harga beli sama untuk semua kualitas
Risiko gagal panen Tidak ada informasi akibat iklim cukup mengenai kalkulasi
besar bisnis
Belum ada kalendar tanam
Panduan Keperantaraan Pasar 49
Modul 1 Riset Komoditas Unggulan