• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONTROL OF COMMUNICABLE DISEASE AND EPIDEMICS

Dalam dokumen Prioritas Bencana Gempa Bumi terdahsyat (Halaman 35-39)

Pengendalian penyakit dilaksanakan dengan pengamatan penyakit (surveilans), promotif, preventif dan pelayanan kesehatan (penanganan kasus) yang dilakukan di lokasi bencana termasuk di pengungsian. Baik yang dilaksanakan di sarana pelayanan kesehatan yang masih ada maupun di pos kesehatan yang didirikan dalam rangka penanggulangan bencana. Tujuan pengendalian penyakit pada saat bencana adalah mencegah kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular potensi wabah, seperti penyakit diare, ISPA, malaria, DBD, penyakit‐penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (P3DI), keracunan dan mencegah penyakit‐penyakit yang spesifik lokal.

Permasalahan penyakit , terutama disebabkan oleh:  Kerusakan lingkungan dan pencemaran

 Jumlah pengungsi yang banyak, menempati suatu ruangan yang sempit, sehingga harus berdesakan;

 Pada umumnya tempat penampungan pengungsi tidak memenuhi syarat kesehatan;

 Ketersediaan air bersih yang seringkali tidak mencukupi jumlah maupun kualitasnya;

 Diantara para pengungsi banyak ditemui orang‐orang yang memiliki risiko tinggi, seperti balita, ibu hamil, berusia lanjut;

 Pengungsian berada pada daerah endemis penyakit menular, dekat sumber pencemaran, dan lain‐lain;

 Kurangnya PHBS (Prilaku Hidup Bersih dan Sehat);

 Kerusakan pada sarana kesehatan yang seringkali diikuti dengan padamnya listrik yang beresiko terhadap kualitas vaksin.

Potensi munculnya penyakit menular sangat erat kaitannya dengan faktor risiko, khususnya di lokasi pengungsian dan masyarakat sekitar penampungan pengungsi, seperti diare, campak, malaria, ISPA dan penyakit menular lain spesifik lokal. (Kementrian Kesehatan RI, 2011).

Imunisasi

Dalam situasi bencana/di lokasi pengungsian, upaya imunisasi harus dipersiapkan dalam mengantisipasi terjadinya KLB PD3I terutama campak. Dalam melakukan imunisasi ini sebelumnya dilakukan penilaian cepat untuk mengidentifikasi hal‐hal sbb :

1)Dampak bencana terhadap kesehatan masyarakat di wilayah bencana/lokasi pengungsian terutama para pengungsi, lingkungan, sarana imunisasi, sumber daya menusia (petugas kesehatan/imunisasi)

2)Data cakupan imunisasi dan epidemiologi penyakit, sebelum bencana dalam 3 tahun terakhir, untuk menentukan kebutuhan upaya imunisasi berdasarkan analisa situasi dalam rangka pencegahan klb pd3i

Sasaran imunisasi untuk mencegah KLB PD3I di daerah bencana/lokasi pengungsian adalah :

1)Semua anak usia 9‐59 bulan diberi imunisasi campak tambahan. Pemberian imunisasi campak tambahan diberikan sebanyak 1 dosis atau satu kali pemberian. Pemberian imunisasi ini terintegrasi dengan pemberian Vit A untuk memberikan peningkatan perlindungan pad anak. Apabila ditemukan kasus campak pasca bencana, walaupun satu kasus, maka dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa pada daerah tersebut dan penanggulangannya mengacu pada Pedoman Penatalaksanaan KLB (diterbitkan oleh Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan). Perkiraan jumlah anak usia 9‐59 bulan adalah sekitar 11% x jumlah penduduk. 2)Kelompok populasi yang berisiko tinggi terhadap penyakit tertentu,

berdasarkan hasil penilaian cepat pasca bencana. Contoh : imunisasi TT terhadap petugas kesehatan, sukarelawan, petugas penyelamat, pengungsi dll. Untuk mendapatkan perlindungan, maka pemberian Imunisasi tetanus diberikan 2 kali dengan interval minimal 1 bulan. Bila tersedia dapat dipertimbangkan menggunakan vaksin Td ( Tetanus Difteri Toxoid), agar memberikan perlindungan terhadap difteri selain tetanus. Bagi penderita luka terbuka yang dalam, tertusuk paku/benda tajam, segera berikan ATS (Anti Tetanus Serum).

Pengendalian Vektor

Pelaksanaan pengendalian vektor yang perlu mendapatkan perhatian di lokasi pengungsi adalah pengelolaan lingkungan, pengendalian dengan insektisida, serta pengawasan makanan dan minuman. Pengendalian vektor penyakit menjadi prioritas dalam upaya pengendalian penyakit karena potensi untuk menularkan penyakit sangat besar seperti lalat, nyamuk, tikus, dan serangga lainnya. Kegiatan pengendalian vektor dapat berupa penyemprotan, biological control, pemberantasan sarang nyamuk, dan perbaikan lingkungan. Banyaknya tenda‐tenda darurat tempat penampungan sementara para pengungsi yang diperkirakan belum dilengkapi dengan berbagai fasilitas sanitasi dasar yang sangat diperlukan, akibatnya banyak kotoran dan sampah yang tidak tertangani dengan baik dan akan menciptakan breeding site terutama untuk lalat dan serangga pangganggu lain. Hal ini akan menambah faktor resiko terjadinya penularan berbagai penyakit. Keberadaan lalat dan serangga‐serangga pengganggu lain merupakan vektor mekanik dari berbagai penyakit tertentu dan dari sisi lain keberadaan serangga tersebut menyebabkan gangguan bagi sebagian orang. Pengendalian dilakukan secepatnya setelah kegiatan survei vektor dilakukan dengan berbagai cara termasuk menggunakan insektisida.

Tujuan pengendalian vektor dalam keadaan darurat:

1)Menurunkan populasi vektor serendah mungkin secara cepat sehingga keberadaannya tidak lagi berisiko untuk terjadinya penularan penyakit di suatu wilayah

2)Menghindari kontak dengan vektor sehingga penyakit yang ditularkan melalui vektor tersebut dapat dicegah.

3)Meminimalkan gangguan yang disebabkan oleh binatang atau serangga pengganggu.

Kegiatan pengendalian vektor dan binatang pengganggu meliputi survei cepat dan metode pengendalian. Pengendalian vektor dilakukan dari cara yang paling sederhana seperti perlindungan personal dan perbaikan rumah sampai pada langkah‐langkah yang lebih kompleks yang

membutuhkan partisipasi dari para ahli pengendalian vektor. Metode pengendalian dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1)Pengendalian lingkungan: breeding mengubah situs dengan mengeringkan atau mengisi situs, pembuangan sampah secara teratur, menjaga tempat penampungan bersih, dan kebersihan.

2)Pengendalian secara mekanis: menggunakan bednets, perangkap, penutup makanan

3)Pengendalian biologis: menggunakan organisme hidup untuk pengendalian larva, seperti ikan yang makan larva (misalnya, nila, ikan mas, guppies), Bakteri (bacillus thuringiensis israelensis) yang menghasilkan racun terhadap larva dan Pakis mengambang bebas yang mencegah pembiakan, dan lain‐lain

4)Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan beberapa cara;

a. Insektisida untuk penyemprotan (IRS, spray, fogging) untuk vektor dewasa;

b. Larvicida untuk pengendalian larva; data resistensi terhadap insektisida akan berguna dalam membantu memastikan insektisida yang akan dipilih.

c. Penggunaan repellents; banyak masyarakat terbiasa menggunakan berbagai bahan sebagai repellents. Penggunaan repellents ini efektif dan tidak berbahaya, mereka dianjurkan untuk menggunakannya dalam situasi darurat, dan hal ini sebenarnya sudah umum pada sebagian masyarakat untuk memakai repellents yang terbukti manfaatnya

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Penyakit menular merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian besar, mengingat potensi munculnya KLB/wabah penyakit menular sebagai akibat banyaknya faktor risiko yang memungkinkan terjadinya penularan pada saat bencana baik di pengungsian maupun pada masyarakat. Umumnya penyakit ini timbul 1 minggu setelah bencana. KLB/wabah penyakit dapat menyebabkan korban jiwa, jumlah penderita yang banyak

dalam kurun waktu yang singkat, sehingga mengakibatkan lonjakan kebutuhan dana dan tenaga dalam upaya pengedalian KLB/wabah. Untuk mencegah terjadinya KLB/wabah penyakit, maka pada saat bencana perlu dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Upaya tersebut meliputi :

1)mengidentifikasi penyakit menular potensial klb berdasarkan jenis bencana;

2)mengidentifikasi faktor resiko;

3)upaya pencegahan dan pengendalian/ meminimalisir faktor resiko; 4)kalkulasi kebutuhan logistik untuk penatalaksanaan kasus;

5)kalkulasi kebutuhan tenaga medis/ perawat untuk penatalaksanaan kasus.

Dalam dokumen Prioritas Bencana Gempa Bumi terdahsyat (Halaman 35-39)

Dokumen terkait