• Tidak ada hasil yang ditemukan

Conventional Channel

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 45-50)

Dalam jalur konvensional ini, harga jual menjadi alasan utama untuk melakukan transaksi, tidak ada komitmen dalam jangka panjang dan setiap pihak yang terlibat tidak mempunyai ikatan apa pun sehingga bebas untuk keluar kapan saja sehingga hubungan tidak diarahkan untuk lebih bersifat jangka panjang. Dengan jalur ini, kesempatan untuk melakukan efisiensi dengan kerjasama antar pihak yang terlibat menjadi sulit untuk diwujudkan karena lebih mementingkan otonomi masing-masing pihak.

3. Relational Collaborative Arrangements

Yang membedakan jalur RCA dengan jalur konvensional dan single-transaction adalah kesadaran dari masing-masing pihak mengenai dependensi.

Relational Collaborative Arrangements

Hal utama yang khusus dari RCA adalah bahwa perusahaan perserta mengakui wilayah nya dan mengembangkan keuntungan dari bekerjasama untuk mencapai hasil yang maksimal dalam industri. Untuk berpasrtisipasi dalam system ini, masing – masing setiap bagian anggota harus bersedia untuk melakukan kwajiban yang spesifik.

Mengakui wilayah disini dapat menimbulkan konflik. Manajer mungkin akan merasabahwa perusahaan mereka tidak merasa diperlakukan adil dengan memberitahukan

keuntungan – keuntungan atau mereka merasa di tempatkan pada suatu posisi yang beresiko tinggi. Utnuk memiliki RCA yang stabil, pemimpin harus menyelesaikan konflik dengan perjanjian antar seluruh bagian anggota.

Dalam pengertian luas, semua channel systems yang melibatkan dua atau lebih perusahaan independent memiliki struktur hubungan. Ketika hubungan diarahkan untuk mencapai tujuan bersama dan perusahaan anggota merasa memliki kewajiban terhadap satu sama lain, maka hubungan itu berkembang menjdadi supply chain. Empat bentuk umum dari RCA adalah :

1. Administrative systems 2. Partnerships and alliances 3. Contractual systems 4. Joint ventures

1. Administered Systems

RCA formal yang terakhir adalah administered systems. Hal yang menarik dari pengaturan administrasi tersebut adalah bertipe tidak formal atau berdiri sendiri yang diketahui sebagai bagian dari para partisipan. Biasanya perusahaan yang dominan mengasumsikan tanggung jawab pemimpinnya dan melakukan kerjasama pedagangan dengan partner dan suplier nya.

2. Partnership and Alliances

Perjanjian – perjanjian bisnis yang baik biasanya dilakukan oleh perusahaan – perusahaan yang berpartisipasi melalui partnership. Kelemahan dari partnership ini adalah seringnya terjadi perbedaan pendapat. Hubungan partnership yang sebenarnya harus melalui pendekatan rutin dalam format pengambilan keputusan.

3. Contractual Systems

Sesuai dengan namanya, banyak perusahaan mendambakan untuk menjalankan bisnis nya dengan sebaik – baiknya. Perjanjian kontrak yang palin awam dalam hubungan distribusi adalah franchises, dealership dan persetujuan agreement diantara specialist service dan customer mereka.

4. Joint Ventures

Beberapa perjanjian distribusi sangat sederhana dan di jalankan hanya oleh satu perusahaan, walaupun perusahaan tersebut sudah melakukan joint dengan dua perusahaan atau lebih. Bertahannya sebuah hubungan bisnis dimana semua grup manajemen berpartisipasi untuk mengurangi resiko, terutama ketika perjanjian yang lebih luas ditemukan.

2.8 Jalur Distribusi

Jalur distribusi meliputi rangkaian suatu institusi atau agen yang saling bergantung satu dengan yang lainnya dengan tujuan untuk memindahkan nilai (value) dari tahapan sebagai konsep (conception), ekstraksi maupun produksi ke tahapan konsumsi. Kepemilikan secara fisik (physical possessions), ownership dan promosi biasanya mengalir dari produsen kepada end-user. Dari semua ini lalu berlanjut ke jalur distribusi, dimana sebuah pabrik (manufaktur) mempromosikan produknya kepada distributor, yang selanjutnya distributor mempromosikan kepada pengecer (retailer) dan seterusnya. Negosisasi, pendanaan, dan faktor resiko mengalir adalah aliran dua arah, sedangkan pemesanan (ordering) dan pembayaran (payment) adalah aliran satu arah. Penting untuk diingat bahwa setiap saat ketika inventories dipegang oleh salah satu anggota dari channel system, operasi pembiayaan (financing operation) akan menyusul. Kemudian, ketika distributor melakukan kepemilikan secara fisik (physical possession) dari porsi output yang dihasilkan oleh manufaktur, distributor ini akan membiayai manufaktur tersebut. Gambaran ini memperjelas ketika memeriksa carrying cost of inventory. Komponen terbesar dari biaya pengangkutan (carrying cost) adalah modal yang terkunci ketika inventori berstatus dormant. Biaya bawaan yang lain adalah produk usang, depresiasi, pilferage, breakage, gudang, asuransi and pajak. Alasan untuk menjaga biaya modal sangat jelas, jika uang tidak tersendat dalam inventori, perusahaan akan dapat menggunakan uang itu untuk berinvesatsi pada hal lain. Akibatnya, biaya modal akan menjadi biaya oportunitas

dalam bagian persediaan. Maka ketika salah satu saluran terputus dari bagian persediaan, maka dia dapat berubah dan mengisi ulang persediaan tersebut.

Cara lain untuk mendeskripsikan saluran distribusi adalah dengan dibuat oleh jumlah saluran yang terlibat. Level saluran adalah lapisan level dari perantara yang menunjukkan hasil dalam membawa produk dan pemiliknya menjadi lebih dekat ke pembeli akhir. Seperti yang kita lihat, perusahaan yang kita teliti mengunakan beberapa perantara, walau bagaimanapun mereka tidak menggunakan saluran pemasaran langsung (direct marketing channel).

Hal – hal yang diperlukan dari Supply Chain Management Supply management lama versus baru

Perusahaan dulu yang terintegrasi secara vertikal melayani pasar yang besar dan lambat dengan menggunakan supply chain mereka. Namun sekarang pasar yang bergerak dengan cepat memerlukan supply chain yang lebih responsif dan fleksibel.

Ketika perusahaan biasanya secara rutin menjalankan gudang mereka atau mengoperasikan armada truk mereka sendiri, kini mereka harus mempertimbangkan apakah akan lebih efektif bila menggunakan tenaga luar untuk mengoperasikan sistem logistik menjadi pusat bisnis mereka. Untuk mencapai level tertinggi dalam efisiensi system operasi dan untuk menjaga kelangsungan perubahan teknologi, suatu perusahaan perlu fokus pada titik pusat kompetensi mereka. Diperlukan fokus semacam itu untuk tetap kompetitif.

2.9 Saluran Pemasaran

Menurut Kotler (Philip Kotler, 2003, p508), saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling terlibat dalam proses untuk menjadikan produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi.

Sebuah saluran pemasaran melaksanakan tugas memindahkan barang dari produsen kepada konsumen. Hal ini mengatasi kesenjangan waktu, tempat, dan kepemilikan yang memisahkan barang dan jasa dari orang-orang yang membutuhkan atau menginginkannya.

Produsen dan pelanggan akhir merupakan bagian dari tiap saluran-saluran level - nol (disebut juga saluran pemasaran langsung) terdiri dari perusahaan manufaktur yang langsung menjual kepada pelanggan akhir. Saluran satu-level berisi dua perantara, mereka adalah pedagang besar dan pengecer. Saluran tiga - level berisi tiga perantara.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 45-50)

Dokumen terkait