1. Memperluas jaringan pemasaran
Persaingan pada masa krisis dihadapi pengusaha dengan memperluas jaringan pemasaran mereka hingga ke luar pulau Jawa. Pasar sebelum masa krisis yang sudah terbentuk adalah sekitar Salatiga. Dengan semakin banyaknya usaha, persaingan merebut pasar yang sedikit ini. Maka untuk mempertahankan usaha tetap berjalan, maka pasar harus diperluas. Beberapa pengusaha memperluas pasar mereka ke luar jawa. Pak Imrori dan istrinya setiap 2 minggu sekali mengirim barang ke Kalimantan 2008, Samarinda tahun 2009, Semarang tahun 2008 dan Bali tahun 2009. Ibu Imrori menceritakan bagaimana jaringan pasar mereka diperluas demikian :
di sini kan udah ada dari sulu, dianya ke sini orang Karang gede. Wong saya datang ke sini 23 tahun lalu, di sini udah ada (sentra konveksi maksudnya). Yang awal konveksi itu Mbah Marijan sama pak Ahmad Shodiq. Saya yang nemu aja. Jadi yang mau cari dagangan mereka ke sini, nah nemu saya. Udah 6 tahun ke Kalimantan.
Kalo ke Bali, anak sini suaminya kerja di Bali, terus kalo pulang di Tingkir Lor itu kok ada konveksi. Orangnya kepengen dagangan. yang ke Bali itu udah berjalam 4 tahun. Dulu mereka langganan di Kalibening, tapi pindah ke sini, ke tempat saya. Karena di Kalibening pakenya kain-kain kecil di sambung-sambung, sana nggak mau
Jika digambarkan, jaringan pemasaran pak Imrori dan istrinya setelah diperluas di masa KKG menjadi :
Pengusaha IK di tingkir lor Pedagang di Semarang dan Salatiga Konsumen konsumen Pedagang di Samarinda Konsumen Konsumen Pedagang di Kalimantan Konsumen konsumen Pedagang di Bali Konsumen konsumen Gambar 5.2
jaringan pemasaran yang diperluas di masa Krisis
Di dalam jaringan itu mengandung kepercayaan. Pak Imrori dan istrinya berani mengirimkan barang, sebelum ada uangnya. Kata mereka, Uangnya nanti akan dikirim, paling cepat 2 minggu kemudian atau sebulan kemudian. Yang penting ada saling percaya, kami ya tidak
ragu, kata pak Imrori.
Mbak Ul memperluas jaringan ke Papua dan kalimantan, karena promosi mulut ke mulut mahasiswa UKSW. Ceritanya begini :
mahasiswa UKSW ketika pulang ke papua, membeli oleh-oleh di tempat saya. Ketika nyampe di sana, orang di sana tertarik. Akhirnya mereka menelpon saya dan nanya caranya gimana mau menjual produk kami di sana. Saya kirim no
rekening saya, kemudian dia ta’ suruh transfer uangnya. Saya kemudian yang mengurus pengiriman barangnya di tempat yang lumayan murah. Juga kalo lebaran ada sodara orang-orang sini yang pulang dari luar jawa, nah ada yang dari Kalimantan. Mereka kemudian jadi mengambil barang sama saya dan dijual di sana.
Strategi pemasaran yang berbasis jaringan memegang peranan untuk meningkatkan melancarkan usaha. Hampir semua pengusaha IK Konveksi di Tingkir Lor membangun jaringan dengan pedagang untuk memasarkan hasil jahitan mereka. Jaringan tersebut menurut istri pak Abidin, cukup mengikat pedagang untuk tetap mengambil dagangan di tempat usaha tertentu yang menurut mereka dirasa sudah cocok. Sehingga para pengusaha mempunyai jaringan pemasaran yang tetap. Pengusaha melakukan produksi tanpa kuatir produknya tidak dipasarkan. Sebaliknya pedagang mendapatkan peluang memperoleh barang dagangan, tanpa harus memiliki modal uang yang besar. Kepercayaan menjadi modal dalam jaringan tersebut.
Dengan memperluas jaringan berarti pasar yang dijangkau semakin luas pula, sehingga persaingan karena rebutan pasar bisa diminimalisir, karena pengusaha mempunyai pasar masing-masing.
1. Promosi dari mulut ke mulut
Promosi dilakukan agar banyak orang mengenal usaha konveksi di Tingkir lor beserta produk yang dihasilkanya sehingga pemasarannya semakin luas pada masa krisis keuangan global. Banyak orang di zaman modern menggunakan berbagai media elektronik maupun media tulis dalam mempromosikan sesuatu hal. Namun usaha konveksi di Tingkir lor lebih memilih melakukan promosi dari mulut ke mulut.
Promosi dari mulut ke mulut lebih efisien karena tidak mengeluarkan biaya dan lebih efektif dalam tujuan dikenal orang. Promosi dari mulut ke mulut yang dimaksudkan adalah saat dikunjungi konsumen, pengusaha berupaya memberi kesan yang baik. Kesan ini akan diceritakan dari mulut ke mulut kepada orang lain yang merek
temui, di daerah manapun. Menurut mbak Ul, promosi yang demikian inilah yang membuat Tingkir lor sudah dikenal sebagai sentra industri kecil konveksi. Bahkan usaha mereka memiliki pasar sampai ke luar Jawa hanya dengan promosi yang sederhana, dari mulut ke mulut.
2. Sistem pembayaran yang berlaku dalam jaringan pemasaran : barangnya dibawa dulu, bayarnya nanti untuk mengikat pedagang
Strategi membawa dulu, dibayar nanti menjadi cara untuk mengikat pedagang tidak berpindah ke lain tempat. Ada kepercayaan yang diberikan pengusaha kepada pedang. Di sisi lain pedagang sangat dibantu untuk tidak perlu memiliki modal untuk mendapatkan barang dagangan. Dengan cara ini pedagang terikat dengan pengusaha, jaringan pemasaran itu berkelanjutan terus. Mas Susilo melakukan strategi ini dalam mempertahankan jaringan pasarnya. Demikian halnya dengan pak Abidin dan istrinya, juga menggunakan strategi tersebut.
3. Strategi sales untuk memperluas jaringan di Jawa
Sistem sales digunakan oleh pengusaha untuk memasarkan produknya. Sistem sales ini mengakibatkan pasar yang lancar bagi pengusaha, meskipun keuntungan yang diambil dari masing-masing sales sangat tipis. Sales ini menjual produk mbak Ul sekitar salatiga, Solo, Boyolali dan Ambarawa. Mereka memasarkan dengan cara pembayaran kredit pada kelompok-kelompok pengajian maupun PKK yang berada di desa. Biasanya dibayar 10 kali. Kita pertama kali dibayar
untuk sales. ang ke-2 sampai ke-10 disetor ke juragannya, kata mbak
Ul. Strategi jaringan sales membutuhan keberanian dan kerelaan dari pengusaha untuk mendapatkan sedikit keuntungan. Menurut Mbak Ul pemilik Ribel, biar untungnya kecil tetapi pasarannya lancar, malah lebih baik bagi usahanya. Masing-masing ketua sales anggotanya 20 orang. Setiap anggota bebas mencari anggota sebanyak mungkin. Jika digambarkan jaringan sales mbak Ul demikian :
Pengusaha Ketua sales 1 Pedagang Anggota sales 1 Konsumen 1 Konsumen 2 , dstnya Pedagang anggota sales 2 Konsumen 1 Konsumen2 dstnya Pedagang anggota sales 3 Konsumen 1 Konsumen 2 dstnya Pedagang anggota sales 13 s/d 20 Konsumen 1 Konsumen 2 dstnya Ketua sales 2 Pedagang anggota sales 1 Konsumen 1 Konsumen 2 dstnya Pedagang anggota sales 2 s/d 20 Konsumen 1 Konsumen 2 dstnya Gambar 5.3
4. Strategi keberagaman merk
Ada Strategi menarik yang diterapkan mbak UL pada sales, yaitu keberagaman merek, agar aktivitas sales di pasar lebih luwes. Produk seprei yang ketika proses pengepakan, dimasukan selembar kertas, ternyata itu mereka, namun mereka menggunakan berbagai merek. Kata mbak Ul, beliau sengaja tidak mematenkan merek supaya sales yang jualan di pasar lebih luwes. Demikian kutipan wawancara penulis dengan mbak ul :
Punya saya emang Ribel, tetapi untuk salesnya memberi nama sendiri-sendiri. Jadi seperti Laras untuk orang Solo. Kemudian, untuk orang Magelang namanya Biyung. Terus ada yang namanya Permata Hati. Makanya saya tidak mau dipatenkan merknya. Nanti kalo mereknya udah dipatenkan udah ngga iso diubah-ubah bu… Tapi kan untuk sementara ini kan saya jualan, kita laku sama-sama untung. Ini kerjasama saya dengan ketua-ketua salesnya. Jadi label ini permintaan sales, saya ya buatkan. Soalnya begini bu, yang di Solo Radius 1 kilo dari sini udah menjual produk saya, jadi kalo namanya masih Ribel, yah pembelinya akan bilang : yah iki gon ne mbak Ul, la e murah. Saya sengaja ngga patenkan merek, supaya di pasar lebih luwes. Kalo selalu harus ribel, terus jualnya hanya 1 kilo dari sini yah orang pada tahu semua tokh buk..jadi nanti salesnya tinggal jual, kalo ditanya diambil dimana bilang aja ngga tahu atau dari teman.
5. Distribusi barang yang memperhatikan keuntungan pedagang
Relasi yang mutualis dalam jaringan pemasaran dilakukan pula oleh pengusaha pada tahap distribusi barang kepada pedagang. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan jaringan pemasaran yang sudah ada. Strategi pemasaran produk, pengusaha di Tingkir lor tidak hanya memikirkan keuntungan dirinya tetapi juga keuntungan rekan sejaringan. Relasi yang saling menguntungkan dilakukan supaya pedagang betah bekerja sama dengan pengusaha. Mbak Ul dalam melakukan distribusi barang ke luar jawa, beliau melakukan survei terlebih dahulu ke tempat-tempat pengiriman barang untuk mendapatkan tempat pengiriman barang yang murah.Hal ini dilakukan supaya pedagang tidak membayar mahal untuk biaya pengiriman.
Tingginya biaya pengiriman berpengaruh terhadap harga jual di pasar. Pedagang akan mengalami kesulitan jika harga jualnya tinggi.Demikian penggalan kutipan wawancara dengan mbak Ul pemilik Ribel :
Saya usahakan cari tempat pengiriman yang paling murah. Misalkan ke Kalimantan saya punya pangkalan yang murah. 1 bogor isi 65 seprei ongkosnya Rp.125.000. Itu nanti dari sana udah ngabari katanya brangkat tanggal sekian. Tanggal sebelum itu harus nyampe di wonosregoro, nanti 4 atau 5 hari udah nyampe. Saya carikan informasi tempat yang murah, supaya disana masih murah harganya, didagangkan gampang.