• Tidak ada hasil yang ditemukan

Secara etimologi “isyari” berarti memahami isyarat atau petunjuk,29 sedangkan secara terminologi para ulama memberikan tafsir isyari sebagai berikut:

رهظيرغب نارقلا ليوتأ ه

فوصتلاو كولسلا ببارلأ رهظت ةيفخ ةراشلإ

.اضيأ دارلما رهاظلا يّبو امهنيب عملجا نكيمو

artinya: Pentakwilan makna al-Qur’an dengan makna yang berlainan menurut zahir ayat sesuai dengan petunjuk halus (khafi) yang nampak oleh orang-orang yang berkepribadian luhur (suluk) dan sufi serta mampu menggabungkan isyarat tersebut dengan makna yang zahir. 30

Sedangkan Ali Al-Shobuni menedefinisikan tafsir al-isyari adalah penafsiran al-Qur’an yang berlainan menurut zahir ayat karena ada petunjuk-petunjuk yang tersirat dan hanya dapat diketahui oleh sebagian ulama, atau hanya dapat diketahui oleh orang yang kenal akan Allah, yaitu orang-orang yang berkepribadian luhur dan terlatih jiwanya. Mereka inilah yang diberi sinar oleh Allah sehingga dapat menjangkau rahasia-rahasia al-Qur’an. Pikirannya penuh dengan arti-arti yang dalam dengan perantaraan ilham Ilahi atau pertolongan Allah yang

29 Louis Ma’luf, al-Munjid Fi al-Lughah wa al-A’lam, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), hlm. 10.

30Muhammad Abdul Azim al-Zarkoni, Manahai al-Irfan Fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmyyah, 1988), jilid II, hlm. 86.

karenanya mereka bisa menggabungkan antara pengertian yang tersirat dengan maksud yang tersurat dari ayat al-Qur’an.31

Dengan demikian tafsir isyari merupakan suatu tafsir dimana mufassir berpendapat dengan makna lain tidak sebagaimana yang tersurat dalam al-Qur’an. Tetapi penafsiran tersebut tidak diketahui oleh setiap orang kecuali mereka yang hatinya telah dibukakan dan disinari oleh Allah, seperti orang-orang sufi dan orang-orang-orang-orang yang mempunyai pribadi luhur yang telah dikaruniai pemahaman dan pengertian oleh Allah.

Menurut orang sufi, setiap ayat dalam al-Qur’an mempunyai makna zahir dan makna bathin. Makna zahir ialah apa yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sebelum yang lain, sedangkan yang bathin ialah isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik ayat, hanya tampak bagi orang-orang yang berpribadi luhur.32

Rasuluallah bersabda:

علطمدح فرح ِلكلو نطبورهظ ةيأ ِلكل

33

Artinya: Setiap ayat yang mempunyai arti yang zahir dan yang bathin dan setiasp huruf ada batasannya dan setiap batas ada pengantarnya.

Menurut Al-Suyuti makna zahir dan bathin dipahami sebagai berikut:

1. Jika membahas makna bathin ayat dapat dicari makna zahirnya.

31Ali al-Shobuni, op. cit.,hlm. 234.

32Manna Khalil Qattan, op. cit., hlm. 357.

33Al-Zarqoni, op. cit., hlm. 87

2. Yang dimaksud dengan pengertian zahir adalah lafaznya dan yang bathin adalah takwilnya.

3. Pengertian yang zahir ialah pengertian yang jelas menurut ulama tentang zahir, sedangkan arti bathin ialah rahasia yang terkandung dalam ayat yang diperlihatkan oleh Allah kepada para ahli hakikat.

4. Al-Qur’an itu mengandung kekayaan budaya dan ilmu yang luas, yang tersirat dan tersurat, keajabaibannya tidak akan habis dan puncak tujuannya tidak akan terjangkau. Barang siapa yang menyelaminya dengan penuh kelembutan niscaya ia akan selamat, dan barang siapa menyelaminya dengan kekerasan ia akan celaka. al-Qur’an itu mengandung berita dan perumpamaan, halal dan haram, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, yang zahir dan yang bathin, yang zahir adalah lafaznya dan yang bathin adalah takwilnya.34

Al-Zarqoni memberikan keriteria yang harus dipenuhi oleh tafsir isyari sebagai berikut:

1. Tidak berlawanan dengan makna zahir al-Qur’an.

2. Tidak dikatakan secara pasti bahwa makna itulah yang dimaksudkan oleh al-Qur’an bukan makna yang zahir.

3. Takwilnya tidak jauh dari pada yang mestinya.

4. Tidak bertentangan dengan sesuatu dalil syariat atau dalil aqli.

5. Dapat dikuatkan dengan suatu dalil syara’.35

34 As-Suyuti, Al-Itqan,op. cit., hlm. 196-197.

35Al-Zarqoni, op. cit., hlm. 89.

Syarat-syarat itu adalah untuk boleh menerimanya, bukan syarat untuk wajib untuk menerimanya. Karena sesuatu makna yang tidak berlawanan dengan zahir al-Qur’an dan dikuatkan pula oleh suatu dalil.36 Dan makna-maknanya diperoleh melalui ilham, karena tafsir isyari termasuk ilmu yang tidak bersifat kasabi (yakni yang dapat diperoleh melalui pembahasan dan penelitian), melainkan ilmu laduni yaitu pemberian dari Allah sebagai buah dari ketaqwaan, sifat istiqamah dan menjauhkan diri dari dosa-dosa baik besar maupun kecil.37

Tafsir isyari bisa dibenarkan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. Ia berkata, “Umar mempersilahkan ku bersama tokoh-tokoh pertempuran Badar.

Di antara mereka ada yang berkata: ”Kenapa kalian mempersilahkan anak kecil ini bersama kami, padahal kami mempunyai anak yang seusianya?”, Umar menjawab: ”ia adalah orang yang telah kau kenal kepandaiannya”. Pada suatu ketika aku dipanggil dan dimasukkan ke dalam kelompok mereka, Ibnu Abbas berkata: ”Aku berkeyakinan bahwa Umar memanggilku semata-mata untuk diperkenalkan kepada mereka”. Umar berkata: ”Apakah pendapat kalian tentang firman Allah?”:

⬧

◆

⧫



◆



36Ibid.

37Al-Shobuni, op. cit., hlm. 235.

di antara mereka ada yang menjawab. “Kami disuruh dan meminta ampun kepada Allah ketika mendapat pertolongan dan kemenangan”. Sahabat yang lain diam dan tidak mengatakan apa-apa, lalu Umar melemparkan pertanyaan kepadaku, begitukah maknanya wahai Ibnu Abbas? Aku menjawab “ayat itu menunjukkan tentang ajal Rasuluallah SAW dimana Allah memberitahukan kepadanya”.

Itu adalah tanda-tanda tentang dekatnya ajalmu (Rasuluallah).

⬧

sebelum engkau jelaskan”. Pemahaman Ibnu Abbas tidak bisa dikuasai oleh para sahabat lain. Yang memahaminya hanyalah Umar dan Ibnu Abbas sendiri. Dan ini adalah salah satu bentuk tafsir isyari yang diilhamkan Allah kepada hamba yang Dia kehendaki.38

Dengan demikin tafsir isyari merupakan corak penafsiran yang digunakan oleh ulama-ulama sufi dan salah satu metode dalam mehamai makna al-Qur’an dengan makna yang berlainan dengan zahir ayat. Tafsir isyari ini mempunyai kekuatan dari syara’, namun sering terjadi penyimpangan-penyimpangan di dalam menafsirkan ayat karena terlalu jauh menafsirkan antara makna zahir dengan makna bathin ayat. Hal ini disebabkan mereka tidak memperhatikan beberapa persyaratan yang telah

38Al-Qattan, op.cit, hlm. 357.

ditetapkan dalam menafsirkan ayat. Namun demikian tafsiran ayat sesuai dengan syarat-syarat penafsiran secara isyari boleh dan dapat diterima.

Dokumen terkait