BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Corporate Governace, Struktur Modal dan Struktur
4.2.1 Corporate Governace
Corporate Governance dapat dimasukkan dalam dua kategori. Kategori pertama, lebih condong pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang diukur melalui kinerja, pertumbuhan, struktur pembiayaan, perlakuan terhadap para pemegang saham, dan stakeholders. Kategori kedua lebih cenderung pada kerangka secara normatif, yaitu segala ketentuan hukum baik yang berasal dari sistem hukum, sistem peradilan, pasar keuangan, dan sebagainya yang mempengaruhi perilaku perusahaan. Corporate Governance merupakan kumpulan hukum, peraturan dan kaidah yang wajib dipenuhi, yang dapat mendorong kinerja perusahaan agar bekerja secara efisien, dan mampu menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.
Tabel 4.2
Corporate Governace tahun 2010-2013
No Nama Perusahaan Kode Corporate Governace
(X1)
2010 2011 2012 2013
1 PT ABM Investama Tbk ABMM 56.25 75 50 50
2 PT Bhakti Investama Tbk BHIT 73.33 80 80 80
3 PT Global Mediacom Tbk BMTR 38.88 38.55 38.55 30.55
4 PT Ba BNBR 35.13 35.13 15.13 15.13
5 PT Bumi Resources Minerals Tbk BRMS 34.69 34.69 46.93 32.65 6 PT Multipolar Tbk MLPL 31.42 34.28 31.42 42.85 7 PT Hanson International Tbk MYRX 54.54 54.54 54.54 54.54 8 PT Polaris Investama Tbk PLAS 23.33 23.33 23.33 23.33 9 PT Pool Advista Indonesia Tbk POOL 40.00 40.00 40.00 40.00 10 PT Saratoga Investama Sedaya Tbk SRTG 76.92 76.92 76.92 76.92 Sumber : Data diolah penulis, 2014
60 Sepuluh perusahaan (PT ABM Investama Tbk, PT Bhakti Investama Tbk, PT Global Mediacom Tbk, PT Ba Minerals Tbk, PT Multipolar Tbk, PT Hanson International Tbk, PT Polaris Investama Tbk dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk) dengan Corporate Governance X1 yang terendah PT Pool Advista Indonesia Tbk selama periode 2010-2013. Hal ini Corporate Governance dalam suatu perusahaan tercermin pada pertanggungjawaban manajer kepada stakeholder perusahaan tersebut. Apabila Corporate Governance perusahaan kuat, yang berarti ada perlindungi atas hak-hak pemegang saham minoritas. Berangkat dari pemikiran ini, dapat dikatakan bahwa Corporate Governance berpengaruh terhadap pengambilan keputusan khususnya mengenai kebijakan dividen.
4.2.2 Struktur Modal
Struktur modal adalah merupakan perimbangan jumlah hutang jangka pendek yang bersifat permanen, hutang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa. Tujuan struktur modal adalah memadukan sumber pendanaan yang digunakan oleh perusahaan untuk memaksimumkan nilai perusahaan dengan cara memaksimumkan harga saham, meminimumkan biaya modal (cost of capital), dan menyeimbangkan antara risiko dan tingkat pengembalian. Apabila dividen dibayar oleh perusahaan kepada pemegang saham, maka dana internal tidak lagi cukup untuk melakukan investasi. Sehingga perusahaan berusaha memperoleh dana eksternal melalui hutang.
Struktur modal dapat diukur dari rasio perbandingan antara total hutang terhadap ekuitas yang biasa diukur melalui rasio debt to equity ratio (DER).
61 variabel independen struktur modal (DER) pada perusahaan Investasi yang terdaftar di BEI selama periode tahun 2010-2013 dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3
Struktur Modal tahun 2010-2013
No Nama Perusahaan Kode Struktur Modal
(X1)
2010 2011 2012 2013 1 PT ABM Investama Tbk ABMM 43.49 40.49 42.06 42.06 2 PT Bhakti Investama Tbk BHIT 9.16 13.60 12.91 31.98 3 PT Global Mediacom Tbk BMTR 24.84 22.13 22.18 21.85
4 PT Ba BNBR 36.32 34.09 39.44 39.62
5 PT Bumi Resources Minerals Tbk BRMS 45.03 45.92 48.63 51.05 6 PT Multipolar Tbk MLPL 14.61 30.10 44.64 39.17 7 PT Hanson International Tbk MYRX 64.77 50.94 49.52 37.12 8 PT Polaris Investama Tbk PLAS 27.13 20.93 23.27 25.06 9 PT Pool Advista Indonesia Tbk POOL 10.71 12.37 16.99 13.20 10 PT Saratoga Investama Sedaya Tbk SRTG 25.70 23.81 19.76 25.47
Sumber : Data diolah penulis, 2014
Dalam perhitungannya DER dihitung dengan cara hutang dibagi dengan modal sendiri, artinya jika hutang perusahaan lebih tinggi daripada modal sendirinya besarnya rasio DER berada diatas satu, sehingga dana yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan lebih banyak dari unsur hutang daripada modal sendiri (equity). Oleh karena itu, investor cenderung lebih tertarik pada tingkat DER yang besarnya kurang dari satu, karena jika DER lebih dari satu menunjukkan jumlah hutang yang lebih besar dan resiko perusahaan semakin meningkat.
Dari Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa rata-rata dari struktur modal (DER) menunjukan hasil yang fluktuatif, hal ini pada perusahaan investasi di PT Bhakti Investama Tbk mengalami penurunan sebesar 9.16% ditahun 2010 dibandingkan
62 dengan perusahaan investasi lainnya mengalami kenaikan yaitu PT ABM Investama Tbk, PT Global Mediacom Tbk, PT Ba Resources Minerals Tbk, PT Multipolar Tbk, PT Hanson International Tbk, PT Polaris Investama Tbk, PT Pool Advista Indonesia Tbk dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk selama periode 2010-2013. Hal ini menunjukkan bahwa baik buruknya struktur modal perusahaan akan mempunyai efek yang langsung terhadap posisi finansialnya. Hal ini sangat mempengaruhi dimana modal sangat dibutuhkan dalam membangun dan menjamin kelangsungan perusahaan, di samping sumber daya, mesin dan material sebagai faktor pendukung.
4.2.3 Struktur Kepemilikan Manajerial
Struktur kepemilikan manajerial mengacu pada berbagai pola di mana pemegang saham dapat mengatur semua hal yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan atas kelompok tertentu dalam kebijakan dan aktivitas bisnis perusahaan. Konsentrasi kepemilikan menggambarkan tentang bagaimana dan siapa saja yang memegang kendali atas keseluruhan atau sebagian besar atas kepemilikan perusahaan serta keseluruhan atau sebagian besar pemegang kendali atas aktivitas bisnis perusahaan tersebut.
Manajer yang diangkat oleh pemilik modal dengan cara memaksimumkan nilai perusahaan sehingga kemakmuran pemilik modal dapat tercapai. Dengan kepemilikan saham oleh manajerial, diharapkan manajer akan bertindak sesuai dengan keinginan para principal karena manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan nantinya dapat meningkatkan nilai perusahaan.
63 Tabel 4.4
Struktur Kepemilikan Manajerial tahun 2010-2013
No Nama Perusahaan Kode Kepemilikan manajerial
(X3)
2010 2011 2012 2013 1 PT ABM Investama Tbk ABMM 29.41 25 29.41 29.41
2 PT Bhakti Investama Tbk BHIT 25 26 31 31
3 PT Global Mediacom Tbk BMTR 91.80 92.30 93.11 93.11
4 PT Ba BNBR 25.18 25.18 25.18 25.18
5 PT Bumi Resources Minerals Tbk BRMS 26.80 26.80 26.80 26.80 6 PT Multipolar Tbk MLPL 8.33 32.71 32.71 31.25 7 PT Hanson International Tbk MYRX 10.01 53.68 0.05 76.33 8 PT Polaris Investama Tbk PLAS 5 21.51 5 21.51 9 PT Pool Advista Indonesia Tbk POOL 50 50 50 54.81 10 PT Saratoga Investama Sedaya Tbk SRTG 25 25 48.83 27.77
Sumber : Data diolah penulis, 2014
Konservatisme dalam pelaporan keuangan ini merupakan salah satu mekanisme dalam mengatasi permasalahan agensi ketika timbul pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian. Dengan semakin kecilnya kepemilikan manajerial maka konservatisme dalam pelaporan keuangan ini merupakan salah satu mekanisme dalam mengatasi permasalahan agensi ketika timbul pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian. Dengan semakin kecilnya kepemilikan manajerial maka permasalahan agensi yang muncul akan semakin besar sehingga permintaan atas laporan yang bersifat konservatif akan semakin meningkat.
Dari Tabel 4.4 menunjukkan bahwa kepemilikan menajerial Perusahaan investasi (PT ABM Investama Tbk, PT Bhakti Investama Tbk, PT Global Mediacom Tbk, PT Ba PT Multipolar Tbk PT Multipolar Tbk, PT Hanson International Tbk, PT Polaris Investama Tbk, PT Pool Advista Indonesia Tbk dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk mengalami peningkatan. Apabila kepemilikan manajerial tinggi dan
64 terdapat keluarga pemilik sebagai pengelola perusahaan, maka kinerja perusahaan menjadi rendah. Barangkali perusahaan investasi termasuk perusahaan yang dikelola oleh keluarga dekat pemilik, sehingga pada saat perusahaan menawarkan obligasi direspon oleh investor dengan mensyaratkan returns yang tinggi. Hal itu untuk melindungi kepentingan pemegang obligasi dari risiko kegagalan perusahaan yang lebih besar akibat kinerja perusahaan yang rendah apabila kepemilikan saham manajerial semakin tinggi.
4.3 Pembayaran Dividen Pada Perusahaan Investasi Yang Terdaftar di