• Tidak ada hasil yang ditemukan

Corporate Governance memperkuat pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Agresivitas Pajak

ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian

7. Corporate Governance memperkuat pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Agresivitas Pajak

Berdasarkan pengujian yang dilakukan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel interaksi antara corporate social

responsibility dengan corporate governance memiliki tingkat

signifikansi sebesar 0,020 lebih kecil dibandingkan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa corporate governance dapat memperkuat pengaruh corporate social responsibility terhadap agresivitas pajak. Sehingga hipotesis yang telah dirumuskan pada H7 tidak ditolak.

Perusahaan dengan corporate governance yang baik maka perusahaan tersebut melakukan pengungkapan CSR secara bertanggung jawab dan tidak melakukan praktik agresivitas pajak. Dewan komisaris sebagai puncak dari sistem pengelolaan internal perusahaan, memiliki peranan terhadap aktivitas pengawasan. Komposisi dewan komisaris akan menentukan kebijakan perusahaan

88 termasuk praktek dan pengungkapan Corporate Social Responsibility. Keberadaan dewan komisaris independen akan semakin menambah efektifitas pengawasan. Dengan demikian, tujuan perusahaan untuk mendapatkan legitimasi dari stakeholders dengan mengungkapkan tanggung jawab sosial akan dapat diperoleh karena keberadaan dewan komisaris independen akan memberikan pengendalian dan pengawasan.

Tata kelola perusahaan memengaruhi bagaimana perusahaan beroperasi berdasarkan hukum dan peraturan dalam hal pembentukan organisasi, struktur, operasi, hubungan, dan akuntabilitas. Untuk mendapatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, perusahaan telah memilih rencana, kemampuan, dan hubungan strategis. Dimana hal ini mungkin menguntungkan baik perusahaan dan masyarakat luas. Sejalan dengan itu, tata kelola perusahaan menghadapi semakin banyak peraturan, politik dan dampak pemangku kepentingan terhadap tanggung jawab, etika, transparansi, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan pengaruh pemangku kepentingan klaim kegagalan pengelolaan lingkungan yang terlihat.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Ramantha, 2017) bahwa corporate governance tidak dapat memoderasi hubungan corporate social responsibility terhadap agresivitas pajak. Dimana Kepemilikan saham yang terpusat dalam satu kelompok atau satu keluarga, dapat menjadi salah satu penyebab lemahnya posisi Komisaris Independen, karena pengangkatan posisi anggota komisaris independen diberikan sebagai rasa penghargaan semata maupun berdasarkan hubungan keluarga atau kenalan dekat Berdasarkan fenomena tersebut, diduga menyebabkan komisaris independen tidak dapat memberikan konstribusi yang signifikan dalam upaya mencegah tindakan penghindaran pajak.

89 8. Corporate Governance memperkuat pengaruh Manajemen Laba

terhadap Agresivitas Pajak

Berdasarkan pengujian yang dilakukan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel interaksi antara manajemen laba dengan

corporate governance memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,036

lebih kecil dibandingkan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa corporate

governance dapat memperkuat pengaruh manajemen laba terhadap

agresivitas pajak. Sehingga hipotesis yang telah dirumuskan pada H8 tidak dapat ditolak atau dengan kata lain H8 tidak ditolak.

Agresivitas pajak dan manajemen laba pada suatu perusahaan dapat diminimalisir melalui mekanisme tata kelola perusahaan yang baik sehingga dapat menyelaraskan kepentingan berbagai pihak, tata kelola perusahaan merupakan upaya yang dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan agar perusahaan dapat menjalankan perusahaan dengan baik sesuai dengan kebutuhan. dengan hak dan kewajibannya masing-masing (Arifin, 2015). Oleh karena itu, masih adanya praktik

corporate governance di dalam perusahaan akan membatasi tindakan

manajemen pada tindakan agresivitas pajak yang dapat memotivasi munculnya manajemen laba.

Hasil penelitian ini berhasil mendukung hasil penelitian (Karinda, 2018) dan (Sebrina et al., 2019) yang menyatakan bahwa manajemen laba dan agresivitas pajak dalam perusahaan dapat diminimalkan melalui suatu mekanisme corporate governance yang dapat menyelaraskan kepentingan berbagai pihak. Implementasi penerapan prinsip-prinsip corporate governance yang baik dapat berkontribusi dalam peningkatan kinerja perusahaan. Semakin baik

corporate governance maka semakin dapat menekan terjadinya

manajemen laba karena ingin menghindari beban pajak, sebaliknya semakin lemah corporate governance maka dapat mengindikasikan tingginya praktik manajemen laba karena alasan penghindaran pajak.

90 BAB V PENUTUP A. Simpulan

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh koneksi politik, gender diversity, corporate social responsibility, dan manajemen laba terhadap agresivitas pajak dengan corporate governance sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2015-2019. Berdasarkan hasil pengujian menggunakan metode analisis linear berganda dengan bantuan software IBM SPSS versi 25, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Koneksi Politik tidak berpengaruh terhadap Agresivitas Pajak. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ayu (2017). Namun penelitian ini bertentangan dengan penelitian Wicaksono (2017) dan Lestari (2019).

2. Gender Diversity tidak berpengaruh terhadap Agresivitas Pajak. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Nurfaizatun (2018) dan Gunawan (2018). Namun penelitian ini bertentangan dengan penelitian Lanis (2017) dan Ambarsari (2019).

3. Corporate Social Responsibility tidak berpengaruh terhadap Agresivitas Pajak. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Fionasari (2017) dan Makhfudloh (2018). Namun penelitian ini bertentangan dengan penelitian Col & Patel (2019) dan Liana Sari (2017).

4. Manajemen Laba berpengaruh terhadap Agresivitas Pajak. Hasil ini konsisten terhadap penelitian Tiaras & Wijaya (2017) dan Nurhandono (2017). Namun hasil ini bertentangan dengan penelitian Diatmika (2019) dan Putri (2017).

5. Corporate Governance tidak dapat memperkuat pengaruh koneksi politik terhadap agresivitas pajak. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dlakukan oleh Pranoto & Widagdo (2015).

91 6. Corporate Governance tidak dapat memperkuat pengaruh gender

diversity terhadap agresivitas pajak. Hasil ini sesuai dengan penelitian

yang dlakukan oleh Lestaida (2020).

7. Corporate Governance dapat memperkuat pengaruh corporate social

responsibility terhadap agresivitas pajak. Hasil ini tidak sesuai dengan

penelitian yang dlakukan oleh Ramantha (2017).

8. Corporate Governance dapat memperkuat pengaruh manajeman laba terhadap agresivitas pajak. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dlakukan oleh Karinda (2018), dan Sebrina et al (2019).

B. Saran

Penulis menyadari bahwa penelitian ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat keterbatasan dalam pengetahuan dan pengalaman penulis baik secara teoritis maupun praktisi. Oleh karena itu berikut terdapat beberapa saran untuk peneliti berikutnya guna menghasilkan penelitian yang lebih baik:

1. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah atau mengganti variabel independen yang dapat mempengaruhi variabel agresivitas pajak seperti ukuran perusahaan, kompensasi eksekutif, leverage dan lain sebagainya.

2. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan proxi-proxi yang berbeda dalam setiap variabel sehingga dapat dibandingkan dengan proxi yang digunanakan dalam penelitian ini.

3. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas populasi penelitian, seperti sektor keuangan, real estate, pertambangan, dan lain sebagainya atau memperluas populasi penelitian di luar negara Indonesia guna mengetahui hasil penelitian di berbagai negara. 4. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambahkan tahun penelitian

agar hasil penelitian dapat lebih akurat dan konsisten dari variabel-variabel yang digunakan.

92

Dokumen terkait