• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kategori Gyssens Hasil Assesment (Lolos/Tidak Lolos Per Kategori) Kategori VI

Lolos Kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap) Assessment : Data rekam medis lengkap

Kategori V

Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri)

Assessment : Ada indikasi infeksi bakteri pada pasien yang menderita COPD dengan gejala eksaserbasi uncomplicated yang merupakan penyakit paru obstruktif kronis yang disebabkan bakteri gram negatif maupun gram positif (Wells et al, 2015).

Kategori IV A

Lolos Kategori IVA (Tidak ada antibiotika yang lebih efektif) Assessment : Tidak ada antibiotika yang lebih efektif, antibiotika lini pertama yang digunakan untuk mengatasi gejala eksaserbasi uncomplicated pada COPD (Wells et al, 2015).

Kategori IV B

Lolos Kategori IVB (Tidak ada antibiotika yang lebih aman) Assessment : Antibiotika ini cukup aman digunakan karena tidak ada kontraindikasi dengan kondisi fisiologis pasien kecuali dalam keadaan kehamilan atau menyusui dan tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan kecuali dengan agen antidiabetik dan etanol (Lacy et al, 2011).

Kategori IV C

Lolos Kategori IVC (Tidak ada antibiotika yang lebih murah) Assessment : Harga antibiotika cotrim forte 960 mg merek Sanprima Forte Perusahaan Sanbe adalah Rp 652.800,00 lebih murah dibandingkan antibiotika cotrim forte 960 mg merek Spectrem Perusahaan Armoxindo Farma adalah Rp 835.200,00 (MIMS, 2015).

96 Kategori IV D

Lolos Kategori IVD (Tidak ada antibiotika yang lebih spesifik) Assessment : Dilakukan kultur darah pada bakteri tetapi hasilnya negatif,maka diberikan antibiotika secara empiris. Antibiotika cotrim forte 960 mg secara oral merupakan golongan sulfanamida yang berspektrum sempit tepat digunakan untuk mengatasi gejala eksaserbasi uncomplicated pada COPD (Wells et al, 2015).

Kategori III A

Lolos Kategori IIIA (Penggunaan antibiotika tidak terlalu lama)

Assessment : Penggunaan antibiotika cotrim forte 960 mg secara oral tidak terlalu lama, waktu yang dianjurkan 5-10 hari yang sesuai dengan penggunaan antibiotika cotrim forte 960 mg secara oral pada pasien yang menderita COPD dengan gejala eksaserbasi uncomplicated diberikan selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori III B

Lolos Kategori IIIB (Penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat)

Assessment : Penggunaan antibiotika cotrim forte 960 mg secara oral tidak terlalu singkat, waktu yang dianjurkan 5-10 hari yang sesuai dengan penggunaan antibiotika cotrim forte 960 mg secara oral pada pasien yang menderita COPD dengan gejala eksaserbasi uncomplicated diberikan selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori II A

Lolos Kategori IIA (Penggunaan antibiotika tepat dosis)

Assessment : Pasien diberikan antibiotika cotrim forte 960 mg secara oral dengan dosis 960 mg setiap 10 hari. Hal ini sesuai dengan dosis terapi cotrim forte untuk COPD dengan gejala eksaserbasi uncomplicated yaitu 960 mg selama 5-10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori II B

Tidak Lolos Kategori IIAB (Penggunaan antibiotika tidak tepat interval pemberian)

Assessment : Penggunaan antibiotika cotrim forte 960 mg secara oral dengan interval pemberian setiap 12 jam selama 5-10 hari. Hal ini tidak sesuai dengan dengan interval pemberian antibiotika cotrim forte 960 mg secara oral dalam terapi pengobatan COPD dengan gejala eksaserbasi pada pasien yaitu 24 jam selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kesimpulan Penggunaan antibiotika tidak tepat interval pemberian (Kategori II B)

97

Tabel XXXVII. Analisis Antibiotika Pada Kasus 15 Berdasarkan Diagram Alir Gyssens

Antibiotika : 2. Ofloxacin 400 mg

Kategori Gyssens Hasil Assesment (Lolos/Tidak Lolos Per Kategori) Kategori VI

Lolos Kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap) Assessment : Data rekam medis lengkap

Kategori V

Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri)

Assessment : Ada indikasi infeksi bakteri pada pasien yang menderita septic arthritis yang merupakan infeksi yang menyakitkan pada sendi yang disebabkan bakteri atau jamur dan didukung dengan pemeriksaan fisik seperti demam dan kehilangan nafsu makan (Wells et al, 2015).

Kategori IV A

Lolos Kategori IVA (Tidak ada antibiotika yang lebih efektif) Assessment : Tidak ada antibiotika yang lebih efektif, antibiotika lini pertama yang digunakan untuk pengobatan septic arthritis (Sharff et al, 2013).

Kategori IV B

Lolos Kategori IVB (Tidak ada antibiotika yang lebih aman) Assessment : Antibiotika ini cukup aman digunakan karena tidak ada kontraindikasi dengan kondisi fisiologis pasien kecuali hipersentivitas terhadap asam oxolinik, cinoxacin, norfloxacin, ciprofloxacin dan tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan kecuali kortikosteroid, derivatif theophylin dan antagonis vitamin K (Lacy et al, 2011).

Kategori IV C

Lolos Kategori IVC (Tidak ada antibiotika yang lebih murah) Assessment : Harga antibiotika ofloxacin 400 mg merek Flotavid Perusahaan Mersifarma TM adalah Rp 11.000,00 lebih murah dibandingkan antibiotika ofloxacin 400 mg merek Akilen Perusahaan Sanbe adalah Rp 12.760,00 (MIMS, 2015).

98 Kategori IV D

Lolos Kategori IVD (Tidak ada antibiotika yang lebih spesifik) Assessment : Dilakukan kultur darah pada bakteri dan jamur tetapi hasilnya negatif, maka diberikan antibiotika secara empiris. Antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral merupakan golongan kuinolon yang berspektrum luas untuk bakteri yang tidak diketahui pasti pada septic arthritis dan dikombinasi dengan aciclovir 400 mg untuk mengatasi jamur (Sharff et al, 2013).

Kategori III A

Lolos Kategori IIIA (Penggunaan antibiotika tidak terlalu lama)

Assessment : Penggunaan antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral tidak terlalu lama, waktu yang dianjurkan 10 hari yang sesuai dengan penggunaan antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral pada pasien yang menderita septic arthritis diberikan selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori III B

Lolos Kategori IIIB (Penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat)

Assessment : Penggunaan antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral tidak terlalu singkat, waktu yang dianjurkan 10 hari yang sesuai dengan penggunaan antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral pada pasien yang menderita septic arthritis diberikan selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori II A

Lolos Kategori IIA (Penggunaan antibiotika tepat dosis) Assessment : Pasien diberikan antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral dengan dosis 400 mg setiap 10 hari. Hal ini sesuai dengan dosis terapi ofloxacin untuk septic arthritis yaitu 400 mg selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori II B

Lolos Kategori IIAB (Penggunaan antibiotika tepat interval pemberian)

Assessment : Penggunaan antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral dengan interval pemberian setiap 12 jam selama 10 hari. Hal ini sesuai dengan dengan interval pemberian antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral dalam terapi pengobatan septic arthritis pada pasien yaitu 12 jam selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

99 Kategori I

Lolos Kategori I (Waktu pemberian antibiotika tepat)

Assessment : Pasien diberikan antibiotika ofloxacin 400 mg secara oral dengan waktu pemberian 2x sehari selama 10 hari. Hal ini sesuai dengan waktu pemberian dalam terapi ofloxacin 400 mg untuk pengobatan septic arthritis yaitu 2x sehari selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori O Penggunaan antibiotika tepat atau bijak

Tabel XXXVIII. Analisis Antibiotika Pada Kasus 15 Berdasarkan Diagram Alir Gyssens

Analisis berdasarkan Diagram Alir Gysenss Antibiotika :

3. Aciclovir 400 mg

Kategori Gyssens Hasil Assesment (Lolos/Tidak Lolos Per Kategori) Kategori VI

Lolos Kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap) Assessment : Data rekam medis lengkap

Kategori V

Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri)

Assessment : Ada indikasi infeksi bakteri pada pasien yang menderita septic arthritis yang merupakan infeksi yang menyakitkan pada sendi yang disebabkan bakteri atau jamur dan didukung dengan pemeriksaan fisik seperti demam dan kehilangan nafsu makan (Wells et al, 2015).

Kategori IV A

Lolos Kategori IVA (Tidak ada antibiotika yang lebih efektif) Assessment : Tidak ada antibiotika yang lebih efektif, antibiotika lini pertama yang digunakan untuk pengobatan septic arthritis yang disebabkan bakteri atau jamur (Sharff et al, 2013).

Kategori IV B

Lolos Kategori IV B (Tidak ada antibiotika yang lebih aman) Assessment : Antibiotika ini cukup aman digunakan karena tidak ada kontraindikasi dengan kondisi fisiologis pasien kecuali hipersensitivitas terhadap aciclovir dan tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan kecuali etanol dan mycophenolate (Lacy et al, 2011).

100 Kategori IV C

Lolos Kategori IVC (Tidak ada antibiotika yang lebih murah) Assesment : Harga antibiotika aciclovir 400 mg merek Clinovir Tablet Perusahaan Pharos adalah Rp 7.480,00 lebih murah dibandingkan antibiotika aciclovir 400 mg merek Zovirax Tablet Perusahaan GlaxoSmithKline Indonesia adalah Rp 12.640,00 (MIMS, 2015).

Kategori IV D

Lolos Kategori IVD (Tidak ada antibiotika yang lebih spesifik) Assessment : Dilakukan kultur darah pada jamur dan bakteri tetapi hasilnya negatif, maka diberikan antibiotika secara empiris. Antibiotika aciclovir 400 mg secara oral merupakan golongan antivirus untuk jamur pada septic arthritis (Sharff et al, 2013).

Kategori III A

Lolos Kategori IIIA (Penggunaan antibiotika tidak terlalu lama)

Assessment : Penggunaan antibiotika aciclovir 400 mg secara oral tidak terlalu lama, waktu yang dianjurkan 7-10 hari yang sesuai dengan penggunaan antibiotika aciclovir 400 mg secara oral pada pasien yang menderita septic arthritis diberikan selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori III B

Lolos Kategori IIIB (Penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat)

Assessment : Penggunaan antibiotika aciclovir 400 mg secara oral tidak terlalu singkat, waktu yang dianjurkan 7-10 hari yang sesuai dengan penggunaan antibiotika aciclovir 400 mg secara oral pada pasien yang menderita septic arthritis diberikan selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kategori II A

Lolos Kategori IIA (Penggunaan antibiotika tepat dosis) Assessment : Pasien diberikan antibiotika aciclovir 400 mg secara oral dengan dosis 400 mg setiap 10 hari. Hal ini sesuai dengan dosis terapi aciclovir untuk septic arthritis yaitu 400 mg selama 7- 10 hari (Lacy et al, 2011).

101 Kategori II B

Tidak Lolos Kategori IIB (Penggunaan antibiotika tidak tepat interval pemberian)

Assessment : Penggunaan antibiotika aciclovir 400 mg secara oral dengan interval pemberian setiap 8 jam selama 7-10 hari. Hal ini tidak sesuai dengan dengan interval pemberian antibiotika aciclovir 400 mg secara oral dalam terapi pengobatan septic arthritis pada pasien yaitu 24 jam selama 10 hari (Lacy et al, 2011).

Kesimpulan Penggunaan antibiotika tidak tepat interval pemberian (Kategori II B)

102 Contoh Rekam Medis Kasus 16

Nama Pasien : Kasus 16 No RM : 78730 Umur : 73 tahun Jenis Kelamin : perempuan Tanggal Masuk : 05.02.2015 Riwayat :

Pasien dipindahkan oleh dokter pada lembaga herpes zoter. Secara riwayat tidak mungkin dengan demensia.

Tanggal Keluar : 25.02.2015

Diagnosa Penyakit :

Infeksi saluran kemih terdapat nitrit positif Herpes zoster yang disebabkan varicella zoster Kekurangan elektrolit

Gagal ginjal akut Hasil Laboratorium : Pemeriksaan Fisik :

RR (Respiratory Rate) 166/82 mmHg

 Suhu tubuh 37,9ᵒC (normal : 36,5ᵒC – 37,5ᵒC) Herpes zozter pada kulit

Lidah lembab  Pernafasan normal

Tabel XXXIX. Profil Penggunaan Antibiotika dan Obat Lain Pada Kasus 16 Nama Antibiotika Dosis Antibiotika Aturan Pemakaian Lama Pemberian Jalur Pemberian

Cotrim forte 960 mg 2x1 sehari 23 hari Oral

Aciclovir 800 mg 4x sehari 14 hari Oral

Nama Obat Dosis Obat Aturan Pemakaian

Lama Pemberian

Jalur Pemberian

Melperon 25 mg 2x sehari 21 hari Oral

Risperdal 0,5 mg 1x sehari 21 hari Oral

103

Tabel XL. Analisis Antibiotika Pada Kasus 16 Berdasarkan Diagram Alir Gyssens

Antibiotika :

Dokumen terkait