• Tidak ada hasil yang ditemukan

CUCI TANGAN PASCATINDAKAN M. PERAWATAN PASCA TINDAKAN

1. Periksa kembali tanda vital pasien, lakukan tindakan dan beri intruksi lanjut bila diperlukan.

2. Catat kondisi pasien pasca tindakan dan buat laporan tindakan pada kolom yang tersedia dengan status pasien.

3. Tegaskan pada petugas yang merawat untuk melaksanakan instruksi pengobatan dan perawatan serta laporkan segera bila pada pemantauan lanjutan terjadi perubahan-perubahan yang harus diwaspadai (Prawirohardjo.2006, h.500)

l. Kebijakan program dan kebijakan teknis : 1) Kebijakan program

a) Semua persalinan harus dihadapi dan dipantau oleh petugas kesehatan terlatih

b) Rumah bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitas memadai untuk menangani kegawatdaruratan obstetric dan neonatal harus tersedia 24 jam

c) Obat-obatan esensial, bahan dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh petugas terlatih (Saifuddin,2009; h.101).

2) Kebijakan teknis

a) Asuhan sayang ibu dan sayang bayi harus dimasukkan sebagai bagian dari persalinan bersih dan aman, termasuk hadirnya keluarga atau orang-orang yang memberi dukungan bagi ibu (Saifuddin,2009;h.101).

b) Partograf harus digunakan untuk memantau persalinan dan berfungsi sebagai suatu catatan atau rekam medik untuk persalinan

c) Selama persalinan normal, intervensi hanya dilaksanakan jika benar-benar dibutuhkan. Prosedur ini hanya dibutuhkan jika ada infeksi atau penyulit (Saifuddin,2009;h.101).

d) Manajemen aktif kala III, termasuk melakukan penjepitan dan pemotongan tali pusat secara dini, memberikan suntikan oksitosin IM, melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT) dan segera melakukan masase fundus, harus dilakukan pada semua persalinan normal (Saifuddin,2009;h.101).

e) Penolong persalinan harus tetap tinggal bersama ibu dan bayi setidak-tidaknya 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu sudah dalam keadaan stabil. Fundus harus diperiksa setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan setiap 30 menit

pada jam kedua. Masase fundus harus dilakukan sesuai kebutuhan untuk memastikan tonus uterus tetap baik,

pendarahan minimal dan pencegah pendarahan

(Saifuddin,2009;h.101).

f) Selama 24 jam pertama setelah persalinan, fundus harus sering diperiksa dan di masase sampai tonus baik. Ibu atau anggota keluarga dapat diajarkan melakukan hal ini (Saifuddin,2009;h.101).

g) Segera setelah lahir, seluruh tubuh terutama kepala bayi harus segera diselimuti dan bayi dikeringkan serta dijaga kehangatannya untuk mencegah terjadinya hipotermi (Saifuddin,2009;h.101).

h) Obat-obatan esensial, bahan dan perlengkapan harus disediakan oleh petugas dan keluarga (Saifuddin,2009;h.101). 3. Nifas

1) Pengertian

Masa nifas (puerperium) adalah masa pemulihan kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil (Mochtar, 2012;h. 87).

Masa Nifas atau puerperium yaitu dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) (Prawirohardjo, 2010;h.356).

2) Perubahan sistem reproduksi a) Uterus

Uterus secara berangsur – angsur menjadi kecil ( berinvolusi ) hingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. b) Bekas implantasi uri

Placental bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu keenam 2,4 cm, dan akhirnya pulih.

Tabel 2.4 Tinggi fundus uteri dan berat uterus masa involusi

Involusi Tinggi fundus uteri Berat uterus

Bayi lahir Setinggi pusat 100 gram

Uri lahir 2 jari di bawah pusat 750 gram

1 minggu Pertengahan pusat simfisis 500 gram 2 minggu Tidak teraba di atas simfisis 350 gram

6 minggu Bertambah kecil 50 gram

8 minggu Sebesar normal 30 gram

Sumber: Mochtar, 2012; h.87 c) Luka-luka

Pada jalan Lahir jika tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6- 7 hari.

d) Rasa nyeri

Rasa nyeri yang disebut after pains, (mulas – mulas ) disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2 – 4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan pengertian pada ibu mengenai hal tersebut dan jika terlalu menganggu, dapat di

e) Lokia

Lokia adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.

(1) Lokia rubra ( cruenta ): berisi darah segar , sel – sel desidua, vernic kaseosa, Lanugo, dan mekonium, selama 2 hari pascapersalinan.

(2) Lokia sanguinolenta: berwarna merah kuning, berisi darah dan lendir, hari ke 3 – 7 pascapersalinan. (3) Lokia Serosa: berwarna kuning, cairan tidak berdarah

lagi, pada hari ke 7 – 14 pascapersalinan. (4) Lokia alba: cairan putih, setelah 2 minggu.

(5) Lokia purulenta: terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.

(6) Lokiostasis: Lokia tidak lancar keluarnya. f) Serviks

Setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti

corong, berwarna merah kehitaman. Konsistensinya

lunak,kadang – kadang terdapat perlukaan – perlukaan kecil. Setelah bayi lahir tangan masih bisa dimasukan ke rongga rahim; setelah 2 jam, dapat dilalui oleh 2-3 jari, dan setelah 7 hari, hanya dapat dilalui 1 jari.

g) Ligamen-ligamen

Ligamen, fasica, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur – angsur menjadi ciut dan pulih kembali (Mochtar, 2012;h.87-88).

3) Tahapan masa nifas

a) Puerperium dini yaitu kepulihan saat ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan. Dalam agama islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

b) Puerperium intermediat, yaitu kepulihan menyeluruh alat – alat genitalia yang lamanya 6 – 8 minggu.

c) Puerperium lanjut, yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan kembali sehat sempurna, terutama jika selama hamil atau sewaktu persalinan timbul komplikasi. Waktu untuk mencapai kondisi sehat sempurna dapat berminggu – minggu, bulanan, atau tahunan (Mochtar, 2012; h.87).

4) Adaptasi psikologis masa nifas

a) Takingin

Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat bergantung pada orang lain, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat.

b) Taking hold

Terjadi pada 3-4 hari setelah persalinan, ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitif, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu.

c) Letting go

Dialami setelah ibu dan bayi tiba dirumah. Ibu mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai seorang ibu dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya (Saleha, 2009; h. 64).

5) Tujuan asuhan masa nifas

Menurut Saifuddin (2009; h.122) tujuan asuhan masa nifas yaitu: a) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik b) Mendeteksi masalah,merujuk atau mengobati atau merujuk bila

terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya

c) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi pada bayinya dan perawatan bayi sehat

6) Kunjungan masa nifas

Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, untuk mencegah, mendeteksi, menangani masalah-masalah yang terjadi (Saifuddin, 2009; h.123). Tabel 2.5 kunjungan masa nifas

Kunjungan Waktu Tujuan

1 6-8 jam setelah persalinan

Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri, mendeteksi dan merawat penyebab lain

perdarahan(rujuk jika perdarahan berlanjut), memberikan konseling keibu atau salah satu anggota keluarganya bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri, pemberian ASI awal, melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir, menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia, jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir 2 jam pertama setelah kelahiran,atau setelah keadaan ibu dan bayi stabil. 2 6 hari setelah persalinan Memastikan involusi uterus berjalan

dengan normal; uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau, menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal, memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat, memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tada penyulit, memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan kepada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari. 3 2 minggu setelah

persalinan

Tujuannya sama seperti diatas (6 hari setelah persalinan)

4 6 minggu setelah persalinan

Menanyakan penyulit-penyulit yang ia tau bayinya alami, memberikan konseling KB secara dini Sumber : Saifuddin, 2009; h.123

7) Kebutuhan masa nifas

Pada masa pascapersalinan, seorang ibu memerlukan: a) Informasi dan konseling tentang:

(1) Perawatan bayi dan pemberian ASI

(2) Apa yang terjadi termasuk gejala adanya masalah yang mungkin timbul

(3) Kesehatan pribadi, hiegiene, dan masa penyembuhan (4) Kehidupan seksual

(5) Kontrasepsi (6) Nutrisi

b) Dukungan dari petugas kesehatan, kondisi emosional dan psikologis suami serta keluarganya

c) Pelayanan kesehatan untuk kecurigaan dan munculnya tanda terjadi komplikasi (Prawirohardjo, 2010;h.357)

8) Tanda bahaya masa nifas a) Infeksi masa nifas

Infeksi masa nifas adalah keadaan yang mencangkup semua peradangan alat-alat genitalia dalam masa nifas (Mochtar, 2011;h.284).

b) Subinvolusi uteri

Segera setelah persalinan, berat rahim sekitar 1000 gram dan selanjutnya mengalami masa proteoliotik, sehingga otot

Rahim menjadi kecil ke bentukmya semula (Manuaba,2012;h418). Pada palpasi uterus teraba masih besar, fundus masih tinggi, lokia banyak, dapat berbau dan terjadi perdarahan (Mochtar, 2011;h.285).

c) Perdarahan kala nifas sekunder

Perdarahan kala nifas sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama.

Gejala klinis perdarahan kala nifas sekunder adalah terjadi perdarahan berkepanjangan melebihi pengeluaran lokia normal, terjadi perdarahan yang cukup banyak, dan dapat disertai rasa nyeri didaerah uterus (Manuaba,2012;h.418).

d) Flegmasia alba dolens

Flegmasia alba dolens adalah salah satu bentuk infeksi puerperalis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis (Manuaba,2012;h.418).

e) Kelainan pada payudara (1) Bendungan ASI

Bendungan ASI terjadi karena sumbatan pada saluran ASI, tidak dikosongkan seluruhnya. Keluahan yang muncul adalah mammae membengkak, keras dan terasa panas sampai suhu badan meningkat (Manuaba,2012;h.420).

(2) Mastitis

Mastitisadalah suatu peradangan payudara disebabkan kuman, terutama staphylococcus aureus melalui luka pada puting susu, atau melalui peredaran darah. Keluhan yang muncul payudara membesar, keras,nyeri, kulit memerah, dan membisul (abses), dan akhirnya pecah dengan borok serta keluarnya cairan nanah bercampur air susu. Dapat disertai suhu badan naik dan menggigil (Mochtar,2012;h.286).

(3) Galaktokel

Galaktokel yaitu air susu membeku dan terkumpul pada suatu bagian payudara menyerupai tumor kistik. Terjadi karena sumbatan air susu (Mochtar,2012;h.286). 4. Bayi Baru Lahir

1) Pengertian bayi baru lahir

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dengan berat lahir antara 2500-4000 gram (Sondakh, 2013; h.150).

2) Adaptasi Fisiologis BBL terhadap kehidupan diluar uterus

a) Setiap bayi baru lahir akan mengalami periode transisi, yaitu: (1) Periode ini merupakan fase tidak stabil selama 6-8 jam

dengan mengabaikan usia gestasi atau sifat persalinan atau melahirkan.

(2) Pada periode pertama reaktivitas (segera setelah lahir), akan terjadi pernapasan cepat (dapat mencapai 80 kali/menit) dan pernapasan cuping hidung yang berlangsung sementara, retraksi, serta suara seperti mendengkur dapat terjadi. Denyut jantung dapat mencapai 180x/menit selama beberapa menit kehidupan.

(3) Setelah respon awal ini, bayi baru lahir ini akan menjadi tenang, relaks, dan jatuh tertidur. Tidur pertama ini (dikenal sebagai fase tidur) terjadi dalam 2 jam setelah kelahiran dan berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam.

(4) Periode kedua reaktivitas, dimulai ketika bayi bangun, ditandai dengan respons berlebihan terhadap stimulus, perubahan warna kulit dari merah mudan menjadi agak sianosis, dan denyut jantung cepat.

(5) Lendir mulut dapat menyebabkan masalah yang bermakna, misalnya tersedak atau aspirasi, tercekik, dan batuk.

b) Adaptasi pernapasan

(1) Faktor-faktor fisik, meliputi usaha yang diperlukan untuk mengembangkan paru-paru dan mengisi alveolus yang kolaps (misalnya perubahan dalam gradient tekanan).

(2) Factor-faktor sensorik, meliputi suhu, bunyi, cahaya, suara, dan penurunan suhu).

(3) Faktor-faktor kimia, meliputi perubahan dalam darah (misalnya penurunan kadar oksigen, peningkatan kadar karbon dioksida, dan penurunan pH

Bayi baru lahir lazimnya bernapas melalui hidung. Respons reflex terhadap obstruksi nasal dan membuka mulut untuk mempertahankan jalan napas tidak ada pada sebagian besar bayi sampai 3 minggu setelah kelahiran.

Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran.Pernapasan timbul sebagai akibat aktivitas normal system saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya (Sondakh, 2013; h.150-151).

c) Adaptasi kardiovaskuler

(1) Sirkulasi perifer lambat, yang menyebabkan akrosianosis pada tangan, kaki, dan sekitar mulut).

(2) Denyut nadi berkisar 120-160 kali/menit saat bangun dan 100 kali/menit saat tidur.

(3) Rata-rata tekanan darah adalah 80/46 mmhg dan bervariasi sesuai dengan ukuran dan tingkat aktivitas bayi

(4) Nilai hematologi normal pada bayi.

Berkembangnya paru-paru pada alveoli akan terjadi peningkatan tekanan oksigen. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida akan mengalami penurunan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan resistansi pembuluh darah dari arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru dan ductus arteriosus tertutup. Setelah tali pusat dipotong, aliran darah dari plasenta terhenti dan foramen ovale tertutup (Sondakh, 2013 h:151-152).

d) Adaptasi neurologis

(1) System neurologis bayi secara anatomik atau fisiologis belum berkembang sempurna.

(2) Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan tidak terkoordinasi, pengaturan suhu yang labil, kontrol otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada ekstremitas.

(3) Perkembangan neonatus terjadi cepat. Saat bayi tumbuh, perilaku yang lebih kompleks (misalnya kontrol kepala, tersenyum, dan meraih dengan tujuan) akan berkembang. (4) Refleks bayi baru lahir merupakan indikator penting

e) Adaptasi gastrointestinal

(1) Enzim-enzim digestif aktif saat lahir dan dapat menyokong kehidupan ekstrauterin pada kehamilan 36-38 minggu.

(2) Perkembangan otot-otot dan refleks yang penting untuk menghantarkan makanan sudah terbentuk saat lahir.

(3) Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai, pencernaan dan absorpsi lemak kurang baik karena tidak adekuatnya enzim-enzim pancreas dan lipase.

(4) Kelenjar saliva imatur saat lahir, sedikit saliva diolah sampai bayi berusia 3 bulan.

(5) Pengeluaran mekonium, yaitu feses berwarna hitam kehijauan, lengket, dan mengandung darah samar, diekskresikan dalam 24 jam pada 90% bayi baru lahir yang normal

(6) Beberapa bayi baru lahir menyusui segera bila diletakkan pada payudara, sebagian lainnya memerlukan 48 jam untuk menyusu secara efektif (Sondakh, 2013 h:155-156).

f) Adaptasi ginjal

Laju filtrasi glomerulus relative rendah pada saat lahir disebabkan oleh tidak adekuatnya area permukaan kapiler

glomerulus. Meskipun keterbatasan ini tidak mengancam bayi baru lahir yang normal, tetapi menghambat kapasitas bayi untuk

berespon terhadap stressor. Penurunan kemampuan untuk mengekskresikan obat-obatan dan kehilangan cairan yang berlebihan mengakibatkan asidosis dan ketidakseimbangan cairan. Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir dan 2-6 kali sehari pada hari 1-2 hari pertama, setelah itu akan berkemih 5-20 kali salama 24 jam (Sondakh, 2013;h, 156).

g) Adaptasi hati

Selama kehidupan janin dan sampai tingkat tertentu setelah lahir, hati terus membantu pembentukan darah. Selama periode neonatus, hati memproduksi zat yang esensial untuk pembekuan darah. Penyimpanan zat besi ibu cukup memadai bagi bayi sampai 5 bulan kehidupan ekstrauterin, pada saat ini bayi baru lahir menjadi rentan terhadap defisiensi zat besi. Hati juga mengontrol jumlah bilirubin tak terkonjugasi yang bersirkulasi, pigmen berasal dari hemoglobin dan dilepaskan bersamaan dengan pemecahan sel-sel darah merah. Bilirubin tak terkonjugasi dapat meninggalkan system vascular dan menembus jaringan ekstravaskular lainnya (misalnya kulit, sclera, dan membrane mukosa oral) mengakibatkan warna kuning yang disebut jaundice atau ikterus (Sondakh, 2013;h. 156-157).

h) Adaptasi imun

(1) Bayi baru lahir tidak dapat membatasi organisme penyerang dipintu masuk.

(2) Imaturitas jumlah system pelindung secara signifikan meningkatkan resiko infeksi pada periode bayi baru lahir. (3) Respons inflamasi berkurang, baik secara kualitatif maupun

kuantitatif.

(4) Fatogenesis lambat

(5) Kesamaan lambung dan produksi pepsin dan tripsin belum berkembang sempurna sampai usia 3-4 minggu

(6) Immonuglobulin akan hilang dari saluran pernapasan dan perkemihan, kecuali jika bayi tersebut menyusu ASI, IgA juga tidak terdapat dalam saluran GI (Sondakh, 2013;h.157). 3) Perubahan termoregulasi dan metabolik

a) Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat celcius karena lingkungan eksternal lebih dingin dan dari pada suhu pada rahim. b) Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit

yang besar dibandingkan dengan berat badan, menyebabkan bayi mudah untuk mengahantarkan panas pada lingkungan. c) Kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin

d) Trauma dingin (hipotermi) pada bayi baru lahir dalam hubungan dengan asidosis metabik dapat bersifat mematikan, bahkan bayi cukup bulan yang sehat (Sondakh, 2013.h;152).

4) Fisiologis bayi baru lahir

Bayi baru lahir dikatakan normal jika:

a) Berat badan lahir bayi antara 2500 – 4000 gram. b) Panjang badan bayi 48 – 50 cm.

c) Lingkar dada bayi 32 – 34 cm. d) Lingkar kepala bayi 33 – 35 cm.

e) Bunyi jantung dalam menit pertama ± 180 kali/menit, kemudian turun sampai 140 – 120 kali/menit pada saat bayi berumur 30 menit.

f) Pernapasan cepat pada menit – menit pertama kira – kira 80 kali/menit disertai pernapasan cuping hidung, retraksi

suprasternal dan interkostal, serta rintihan hanya berlangsung 10 – 15 menit.

g) Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan dilapisi verniks kaseosa.

h) Rambut lanugo telah hilang, rambut kepala tumbuh baik i) Kuku telah agak panjang dan lemas

j) Genitalia: testis sudah turun (pada bayi laki-laki) dan labia mayora telah menutupi labia minora (pada bayi perempuan).

k) Refleks isap, menelan, dan morro telah terbentuk.

l) Eliminasi, urin, dan mekonium normalnya keluar pada 24 jam pertama. Mekonium memiliki karakteristik hitam kehijauan dan lengket.

5) Reflek pada bayi baru lahir

Tabel2.6 Reflek pada bayi baru lahir

Refleks Respons Normal Respons Abnormal

Rooting dan menghisap

Bayi baru lahir menolehkan kepala ke arah stimulus, membuka mulut, dan mulai menghisap bila pipi,bibir, atau sudut mulut bayi disentuh dengan jari atau puting.

Respons yang lemah atau tidak ada respons

Menelan Bayi baru lahir menelan berkoordinasi dengan menghisap bila cairan ditaruh

Muntah, batuk

Ekstrusi Bayi baru lahir menjulurkan lidah keluar bila ujung lidah disentuh dengan jari atau puting

Menjulurkan lidah yang berulang-ulang Moro Ekstensi simetris bilateral dan

abduksi seluruh ekstremitas, dengan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf c diikuti dengan abduksi esktremitas

Respon asimetris terlihat pada cedera saraf perifer atau fraktur klavikula

Melangkah Bayi akan melangkah dengan satu kaki lainnya dengan gerakan berjalan bila satu kaki disentuh pada permukaan rata

Respon asimetris terlihat pada cedera sistem saraf pusat atu fraktur tulang

Merangkak Bayi akan berusaha merangkak ke depan dengan kedua tangan dan kaki bila diletakkan telungkup pada permukaan datar

Respon asimetris terlihat pada cedera saistem saraf pusat

Tonik leher atau fencing

Ekstremitas pada satu sisi dimana saat kepala ditolehkan akan ekstensi, dan ekstremitas yang brelawanan akan fleksi bila kepala bayi ditolehkan ke satu sisi selagi beristirahat

Respon menetap tampak pada cedera sistem saraf pusat

Terkejut Bayi melakukan abduksi dan fleksi seluruh ekstremitas dan dapat mulai menangis bila mendapat gerakan mendadak atau suara keras

Tidak ada respon

pertama pada batang hidung saat mata terbuka

Tanda Babinski

Jari-jari kaki bayi akan hiperekstensi dan terpisah seperti kipas

Tidak ada respon

Sumber: Sondakh, 2013;h.154 6) Inisiasi menyusui dini

Segera setelah dilahirkan, bayi diletakkan di dada atau perut atas ibu selama paling sedikit satu jam untuk memberi kesempatan pada bayi untuk mencari dan menemukan puting susu ibunya. Manfat IMD bagi bayi adalah membantu stabilisasi pernafasan, mengendalikan suhu tubuh bayi lebih baik dibandingkan dengan inkubator, menjaga kolonisasi kuman yang aman untuk bayi dan mencegah infeksi nosokomialkadar bilirubin bayi juga lebih cepat normal karena pengeluaran mekonium lebih cepat sehingga menurunkan insiden ikterus bayi baru lahir.kontak kulit dengan kulit juga membuat bayi lebih tenang sehinggadidapat pola tidur yang lebih baik. Dengan demikian, berat badan dapat mengoptimalkan pengeluaran hormon oksitosin, prolaktin, dan secara psikologis dapat menguatkan ikatan batin antara ibu dan bayi (Prawirohardjo, 2010; h.369).

7) Tanda bahaya bayi baru lahir

a) Pernafasan: sulit atau lebih dari 60 kali per menit

c) Warna: kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar

d) Pemberian makan: hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah

e) Tali pusat: merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah f) Infeksi: suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan (nanah).

Bau busuk, pernafasan sulit

g) Tinja/kemih: tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua, ada lendir atau darah pada tinja

h) Aktivitas: menggigi, atau tangis tidak bisa, sangat mudah tersinggung, lemah, terlalu mengantuk, lunglai, kejang,kejang halus, tidak bisa tenang, menangis terus menerus (Saifuddin,dkk, 2014;h.N-36).

8) Penilaian APGAR

Tabel 2.7 Tanda APGAR

Tanda Nilai : 0 Nilai : 1 Nilai : 2

Appearance (warna kulit) Pucat/ biru seluruh tubuh Tubuh merah, ekstremitas biru Seluruh tubuh kemerahan Pulse (denyut jantung) Tidak ada < 100 ˃ 100 Grimace (tonus otot)

Tidak ada Ekstremitas sedikit fleksi

Gerakan aktif Activity

(aktivitas)

Tidak ada Sedikit gerak Langsung

menangis Respiration

(pernafasan)

Tidak ada Lemah/tidak teratur Menangis Sumber: Vivian, 2010;h.2-3

Interpretasi:

1. Nilai 1-3 asfiksia berat 2. Nilai 4-6 asfiksia sedang

3. Nilai 7-10 asfiksia ringan (normal) 9) Asuhan Neonatus di Rumah

Pemberian asuhan neonatus dirumah dilakukan melalui kunjungan bersamaan dengan ibu. Adapun tujuan dari kunjungan neonatus , yaitu melakukan pemeriksaan ulang pada bayi baru lahir, mengidentifikasi gejala penyakit, serta mendidik dan mendukung orang tua(Yulifah, Yuswanto, 2009;h.93).

Kunjungan neonatus (KN) dilakukan sejak bayi usia satu hari sampai usia 28 hari.

1) KN I dilakukan pada umur 6-48 jam (Profil Kesehatan Indonesia, 2014;h.110).

Menurut Marmi, 2012, h. 87 mengatakan bahwa asuhan yang diberikan yaitu : perawatan tali pusat, Pemberian ASI secara Ekslusif, menjaga kehangatan bayi, konseling tanda-tanda bahaya BBL, imunisasi, perawatan bayi sehari-hari dan pencegahan infeksi.

2) KN 2 dilakukan pada umur 3-7 hari (Profil Kesehatan Indonesia, 2014;h.110).

Menurut Marmi, 2012: h.73. Asuhan yang diberikan bidan pada saat kunjungan kepada bayi umur 6 hari adalah beritahu hasil pemeriksaan pada ibu, anjurkan ibu menjaga kehangatan bayi, anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, beritahu ibu bahwa akan dilakukan kunjungan rumah.

3) KN 3 dilakukan pada umur 8-28 hari (Profil Kesehatan Indonesia,

Dokumen terkait