TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Cuci Tangan .1 Pengertian .1 Pengertian
2011). Menurut Kuswandari (2012) cara mengukur perilaku kesehatan dapat dilakukan dengan cara pengamatan langsung (observasi).
2.3 Cuci Tangan 2.3.1 Pengertian
Cuci tangan adalah kegiatan membersihkan kotoran yang melekat pada kulit dengan memakai sabun dan air yang mengalir (Depkes, 2007). Pernyataan ini selaras dengan Potter (2006) yang menjelaskan bahwa cuci tangan adalah aktifitas membersihkan tangan dengan cara menggosok dan menggunakan sabun serta membilasnya pada air yang mengalir. Mencuci tangan adalah proses menggosok kedua permukaan tangan dengan kuat secara bersamaan menggunakan zat yang sesuai dan dibilas dengan air dengan tujuan menghilangkan mikroorganisme sebanyak mungkin (Jonshon, 2005).
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari-jemari menggunakan air dan sabun untuk menjadi bersih. Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas). Tangan yang bersentuhan langsung dengan kotoran manusia dan binatang, ataupun cairan tubuh lain (seperti ingus) dan makanan/minuman yang terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun
26
dapat memindahkan bakteri, virus, dan parasit pada orang lain yang tidak sadar bahwa dirinya sedang ditulari (Isaac, 2007).
Brooker (2008) mengungkapkan bahwa cuci tangan adalah satu-satunya prosedur terpenting dalam pengendalian infeksi nosokomial. WHO menganjurkan untuk melakukan cuci tangan pakai sabun untuk mengatasi healthcare associated infection (HAIs) karena pada tangan manusia terdapat flora transient yaitu flora yang ada di permukaan tangan yang berkaitan dengan lingkungan dan sebagainya dan biasanya berkaitan dengan penularan infeksi di rumah sakit (Semijurnal Farmasi & Kedokteran, 2012). Oleh karena itu cuci tangan pakai sabun dapat mencegah penyebaran penyakit-penyakit menular seperti diare, ISPA, dan flu burung bahkan disarankan untuk mencegah penyebaran H1N1 (Depkes RI, 2009). Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi insiden diare sampai 50% atau sama dengan menyelamatkan sekitar 1 juta anak didunia dari penyakit tersebut setiap tahunnya (Rompas, 2013).
2.3.2 Tujuan Cuci Tangan
Tujuan mencuci tangan adalah untuk menghilangkan mikroorganisme sementara yang mungkin ditularkan ke orang lain dan mencuci tangan merupakan tindakan yang paling efektif untuk mencegah dan mengendalikan adanya infeksi nosokomial (Kozier dan Erb’s, 2009). Cuci tangan adalah salah satu unsur pencegahan penularan infeksi (Depkes RI, 2007).
Cuci tangan menggunakan sabun, bagi sebagian masyarakat sudah menjadi kegiatan rutin sehari-hari, tapi bagi sebagian masyarakat lainnya, cuci tangan
27
menggunakan sabun belum menjadi kegiatan rutin, terutama bagi anak-anak. Cuci tangan menggunakan sabun dapat menghilangkan sejumlah besar virus dan bakteri yang menjadi penyebab berbagai penyakit, terutama penyakit yang menyerang saluran cerna, seperti diare dan penyakit infeksi saluran nafas akut (Tietjen, 2004).
2.3.3 Manfaat Cuci Tangan
Mencuci tangan menggunakan sabun yang dipraktikkan secara tepat dan benar dapat mencegah berjangkitnya beberapa penyakit. Mencuci tangan dapat mengurangi risiko penularan berbagai penyakit termasuk flu burung, cacingan, influenza, hepatitis A, dan diare terutama pada bayi dan balita. Anak yang mencuci tangan tanpa menggunakan sabun berisiko 30 kali lebih besar terkena penyakit tipoid empat kali lebih parah daripada yang terbiasa mencuci tangan menggunakan sabun (Wahid, 2007). Selain itu, manfaat positif lain dari mencuci tangan adalah tangan menjadi bersih dan wangi (Kemenkes, 2011).
2.3.4 Macam-macam Cuci Tangan
Kegiatan mencuci tangan dibagi menjadi tiga yaitu: cuci tangan bersih, cuci tangan aseptic, dan cuci tangan steril (Potter, 2006).
1) Cuci tangan bersih
Mencuci tangan bersih adalah membersihkan tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir atau yang disiramkan. Waktu yang penting cuci tangan bersih dengan sabun adalah sebelum makan dan sesudah makan, setelah dari toilet, sebelum mengobati luka, sebelum melakukan kegiatan apapun yang memasukkan
28
jari-jari kedalam mulut dan mata, setelah bermain dan olahraga, setelah mengusap hidung atau bersin ditangan, setelah buang sampah, setelah menyentuh hewan atau unggas termasuk hewan peliharaan (Potter, 2006). WHO (2009) mengeluarkan regulasi tentang peraturan mencuci tangan baik pada kalangan medis maupun kalangan umum (perseorangan).
2) Cuci tangan aseptic
Mencuci tangan aseptic adalah mencuci tangan yang dilakukan sebelum tindakan aseptic pada pasien dengan menggunakan larutan antiseptic. Mencuci tangan dengan larutan antiseptic, khususnya bagi petugas yang berhubungan dengan pasien yang mempunyai penyakit menular atau sebelum melakukan tindakan bedah aseptic dengan antiseptic dan sikat steril. Prosedur mencuci tangan aseptic sama dengan persiapan dan prosedur pada cuci tangan higienis atau cuci tangan bersih, hanya saja bahan deterjen atau sabun diganti dengan antiseptic dan setelah mencuci tangan tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril (Kozier, et al, 2009).
3) Cuci tangan steril
Teknik mencuci tangan steril adalah mencuci tangan secara steril, khususnya bila akan membantu tindakan pembedahan atau operasi. Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan steril adalah menyediakan bak cuci tangan dengan pedal kaki atau pengontrol lutut, sabun antimicrobial, sikat scrub bedah dengan pembersih kuku dari plastic, masker kertas dan topi atau penutup kepala, handuk steril, pakaian di ruang scrub dan pelindung mata, penutup sepatu (Kozier, et al, 2009). Prosedur mencuci tangan steril berbeda dengan mencuci tangan bersih dan
29
septic. Perbedaannya terletak pada frekuensi cuci tangan dan peralatan sikat untuk menggosok kuku. Mencuci tangan steril dilakukan sebanyak dua kali cuci tangan baru kemudian dikeringkan oleh handuk sekali pakai.
2.3.5 Prosedur Cuci tangan
Prosedur cuci tangan bersih dengan sabun menurut WHO (2009) adalah sebagai berikut :
a. Pertama, basuh kedua tangan dengan air bersih yang mengalir, ratakan sabun dengan kedua telapak tangan
b. Gosok punggung tangan dan sela-sela jari tangan kiri dan tangan kanan, begitu pula sebaliknya
c. Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari tangan kiri dan kanan d. Jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci
e. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan juga pada tangan kanan
f. Gosok telapak tangan dengan ujung jari tangan satunya dengan gerakan memutar. Lakukan pada tangan yang satunya juga
g. Bilas dengan air bersih mengalir dan keringkan tangan dengan handuk/tissue sekali pakai. Gunakan handuk atau tissue tersebut untuk menutup kran air.
30
Langkah Mencuci Tangan dengan Sabun dan Air (WHO, 2009)
31
2.3.6 Faktor yang mempengaruhi perilaku cuci tangan
Menurut Potter & Perry (2006), ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang untuk mencuci tangan di antaranya adalah citra tubuh, praktik sosial, status sosioekonomi, pengetahuan, dan kebiasaan.
1) Citra diri
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan dirinya. Misalnya karena ada perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kesehatan.
2) Praktik sosial
Pada anak-anak yang selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka akan terjadi perubahan pola cuci tangan.
3) Status sosioekonomi
Mencuci tangan memerlukan alat dan bahan seperti sabun, lap tangan atau tisu dan semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
4) Pengetahuan
Pengetahuan cuci tangan sangat penting karena pengetahuan baik dapat meningkatkan kesehatan.
5) Kebiasaan
Adanya kebiasaan untuk tidak cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas sedari kecil akan terbawa sampai dewasa.
32
2.4Pendidikan Kesehatan