HASIL DAN PEMBAHASAN
C) Curah Hujan (mm/tahun)
II 27.06 205.74
Sumber : BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) stasiun Sampali.
Berdasarkan data yang diperoleh dari BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) diketahui bahwa temperatur udara pada lokasi sampel I (kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan) adalah 26.7 oC dan temperatur udara pada lokasi sampel II (kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan) adalah 27.06 oC.
kurang sesuai, karena syarat tumbuh kangkung yang baik berada pada temperatur rata-rata sekitar 28 o
Berdasarkan data yang diperoleh dari BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) diketahui bahwa Curah Hujan (mm/tahun) pada lokasi sampel I (kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan) adalah 138.29 mm/tahun dan curah hujan (mm/tahun) pada lokasi sampel II (kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan) adalah 205.74 mm/tahun. Curah Hujan (mm/tahun) pada lokasi sampel I dan II ini menurut Rukmana (1994) kurang sesuai, karena syarat tumbuh kangkung yang baik berada pada temperatur rata-rata berkisar antara 500-5.000 mm/tahun.
C.
Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Tanah dan Air
Berdasarkan hasil pengukuran kandungan logam berat timbal (Pb) pada tanah yang diperoleh dari kedua lokasi sampel, menurut Soepardi (1983) dalam Barchia, 2009 masih berada dibawah nilai batas maksimum. Hasil yang diperoleh tersebut berdasarkan interval 2 - 200 ppm, masuk dalam kategori sangat rendah. Tabel 8. dibawah ini menunjukkan hasil analisis kandungan logam berat timbal (Pb) pada tanah yang diperoleh dari lokasi sampel I (kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan) dan lokasi sampel II (kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan).
Tabel 8. Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Tanah. Lokasi Sampel
Kandungan Timbal (Pb)
Pada Tanah (ppm) Rata2 Kriteria* (2-200 ppm) Ulangan 1 Ulangan 2 I II 0.94 0.78 0.96 0.76 0.95 0.77 Sangat Rendah Sangat Rendah
*Sumber : Soepardi (1983) dalam Barchia, 2009.
Pada tabel 8. juga dapat dilihat bahwa kandungan rata-rata logam berat timbal (Pb) pada tanah yang diperoleh dari lokasi sampel I lebih tinggi yaitu 0.95 ppm dibandingkan dengan kandungan rata-rata logam berat timbal (Pb) pada tanah yang diperoleh dari lokasi sampel II yaitu 0.77 ppm. Ini didukung dengan kandungan pH tanah pada lokasi sampel I yang tergolong agak masam (6.17) sedangkan pH tanah pada lokasi sampel II tergolong netral (7.02). Hal ini sesuai pernyataan Babich dan Stotzky (1978) yang mengemukakan bahwa salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi logam berat adalah keasaman tanah dan pernyataan Klein dan Trayer (1995) yang menyatakan bahwa penurunan pH secara umum meningkatkan ketersediaan logam berat. Selain itu, Taberima (2004) juga menyatakan bahwa tingkat ketersediaan logam berat tergantung pada pH lingkungan dimana logam berat tersebut berada dan pada pH rendah ketersediaan beberapa logam berat meningkat.
Pada tabel 8. lokasi sampel I didapat kandungan rata-rata logam berat timbal (Pb) pada tanah 0.95 ppm dan pada lokasi sampel II didapat kandungan rata-rata logam berat timbal (Pb) pada tanah yaitu 0.77 ppm dimana kedua sampel ini memiliki kriteria sangat rendah. Hal ini kurang sesuai dengan nilai kandungan C-organik tanah pada lokasi sampel I dan lokasi sampel II yaitu 1.08 % dan 0.54 % yang memiliki kriteria rendah dan sangat rendah, dimana seharusnya dengan nilai C-organik yang rendah kandungan logam berat timbal (Pb) akan
lebih tinggi seperti yang tertulis pada literaturTaberima (2004) yang menyatakan bahan organik (BO) adalah salah satu komponen terpenting didalam tanah. Berperan dalam perkembangan struktur tanah dan mengatur perpindahan polutan dan bahan pencemar didalam tanah, dan berperan penting didalam siklus perputaran serta penyimpanan hara dan air, dan juga pernyataan Matagi et al (1998) yang menyatakan senyawa humat juga berperan dalam membentuk ikatan kompleks dengan logam-logam. Adanya pembentukan kompleks mempengaruhi kereaktifan dan efek toksik dari logam. Hal ini dapat terjadi dikarenakan nilai pH yang lebih mempengaruhi kandungan logam berat timbal (Pb) dibandingkan nilai C-organik pada lokasi sampel I dan lokasi sampel II.
Kandungan logam berat timbal (Pb) pada air yang diperoleh dari lokasi sampel I (kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan) dan lokasi sampel II (kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan) menurut PP. No. 82 Th. 2001, masih berada dalam ambang batas maksimum yang diperbolehkan dalam air yang digunakan untuk keperluan pertanian yakni golongan IV (air untuk pertanian, usaha perkotaan, industri dan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air)). Untuk lebih jelasnya, hasil analisis kandungan logam berat timbal (Pb) dalam air disajikan pada tabel 9. dibawah ini :
Tabel 9. Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Air. Lokasi Sampel
Kandungan Timbal (Pb)
Pada Air (ppm) Rata2 Kriteria* (1 ppm) Ulangan 1 Ulangan 2 I II 0.10 0.11 0.11 0.11 0.10 0.11 Rendah Rendah *Sumber : PP. No. 82 Th. 2001.
Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa rata-rata kandungan logam berat timbal (Pb) pada air yang diperoleh dari kedua lokasi sampel masuk dalam
kriteria rendah, dimana nilai ambang batas maksimum menurut PP. No. 82 Th. 2001 adalah 1 ppm. Selisih kandungan rata-rata logam berat
timbal (Pb) pada air di kedua lokasi sampel hanya berbeda tipis yaitu 0.1 ppm. Kandungan logam berat timbal (Pb) pada air di lokasi sampel II lebih tinggi yaitu 0.11 ppm dibandingkan dengan kadar logam berat timbal (Pb) pada air di lokasi sampel I yaitu 0.10 ppm.
Hal ini disebabkan karena air yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan (lokasi sampel II) merupakan air aliran dari saluran air limbah rumah tangga (parit/got) yang ada disekeliling lahan pertanian kangkung air tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Alloway (1995), yang menyatakan bahwa salah satu pemasok logam berat dalam tanah pertanian adalah buangan limbah rumah tangga. Sedangkan rendahnya kandungan logam berat timbal (Pb) dalam air pada lokasi I (kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan) dibandingkan dengan lokasi sampel II (kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan) disebabkan karena air yang digunakan untuk menyiram lahan pertanian kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan (lokasi sampel II) tersebut adalah air yang berasal dari sumur bor yang dibuat oleh petani dan lokasi lahan pertanian kangkung darat yang cukup jauh dari buangan limbah rumah tangga.
Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Tanaman (Akar, Batang, Daun)
Para peneliti sebelumnya telah melakukan penelitian terhadap kandungan logam berat timbal (Pb) pada tanaman kangkung dengan menjadikan Keputusan Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan No 03725/B/SK/VII/89 sebagai acuan batas maksimal yang diperbolehkan dalam sayur dan hasil olahannya adalah 2 mg/kg. Namun, Badan Standardisasi Nasional Indonesia (BSNI) mengeluarkan keputusan baru mengenai hal ini dengan menyatakan batas maksimal yang diperbolehkan dalam sayur dan hasil olahannya adalah 0.5 mg/kg pada tahun 2009. Hal ini juga dikuatkan dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.06.1.52.4011 pada tanggal 28 Oktober 2009 dengan menyatakan hal yang sama dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Oleh karena itu peraturan baru inilah yang dijadikan sebagai acuan dalam pendeskripsian kandungan logam berat timbal (Pb) pada tanaman (akar, batang, daun).
Berdasarkan analisis logam berat timbal (Pb) pada tanaman (Akar, Batang, Daun) yang telah dilakukan di Laboratorium Riset dan Teknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan dua kali ulangan pembacaan alat AAS (Atomic Absorption Spectroscopy), dapat diketahui bahwa sayuran kangkung, baik itu kangkung darat (Ipomea reptans Poir) maupun kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) yang berasal dari kedua lokasi sampel terbukti mengandung logam berat timbal (Pb) dengan kandungan yang bervariasi di masing-masing bagian tanaman. Hal ini didukung dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Anonimous (1998) yang menyatakan bahwa logam berat
timbal (Pb) sebagian besar diakumulasi oleh organ tanaman, yaitu daun, batang, dan akar.
Selain itu, adanya kandungan logam berat khususnya logam berat timbal (Pb) pada tanaman sayuran kangkung ini sudah cukup membuktikan bahwa organisme pertama yang terpengaruh akibat adanya kandungan logam berat di tanah atau habitat lainnya adalah organisme dan tanaman yang tumbuh di tanah atau habitat tersebut (Saeni, 1997), serta sifat-sifat logam berat selain tidak dapat terurai (non degradable) adalah mudah diabsorbsi (Darmono, 1995).
Kandungan logam berat timbal (Pb) pada tanaman (akar, batang, daun) di kedua lokasi lahan pertanian sayuran kangkung sudah melebihi batas maksimum kadar logam berat timbal (Pb) dalam sayuran yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional yaitu SNI (Standar Nasional Indonesia) tentang batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan (ICS 67.220.20 tahun 2009) adalah 0.5 mg/kg dan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.06.1.52.4011 tentang penetapan batas maksimum cemaran mikroba dan kimia dalam makanan pada tahun 2009 yaitu 0.5 ppm atau mg/kg.
Untuk lebih jelasnya kandungan logam berat timbal (Pb) pada tanaman (akar, batang, daun), disajikan pada tabel 10.
Tabel 10. Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Tanaman (Akar, Batang, Daun)
Lokasi
Sampel Sampel
Kandungan Logam Berat
Timbal (Pb) Rata
Kriteria* 2
SNI & BPOM (0.5 ppm) Ulangan 1 Ulangan 2 I Akar Batang Daun 3.05 0.55 1.70 3.20 0.65 1.75 3.12 0.6 1.72 Sangat Tinggi Sedang Tinggi II Akar Batang Daun 7.91 0.95 1.70 8.80 0.90 1.65 8.35 0.92 3.35 Sangat Tinggi Sedang Tinggi
Sumber : Kriteria* = SNI (ICS 67.220.20 tahun 2009) dan BPOM Nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009.
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 10. kandungan rata-rata logam berat timbal (Pb) pada tanaman (akar, batang, daun) di kedua lokasi sampel tergolong dalam kriteria sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hal ini berdasarkan kriteria batas maksimum kandungan logam berat timbal (Pb) dalam sayuran yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia yaitu SNI (Standar Nasional Indonesia) tentang batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan (ICS 67.220.20 tahun 2009) dan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.06.1.52.4011 tentang penetapan batas maksimum cemaran mikroba dan kimia dalam makanan pada tahun 2009.
Hal ini menunjukkan bahwa kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan (lokasi sampel I) dan kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan (lokasi sampel II) sudah tidak aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat kota Medan sebagai bahan pangan karena mengandung logam berat timbal (Pb) yang tinggi. Hal ini didukung oleh Subowo et all (1999) dalam pernyataannya yang mengemukakan bahwa
adanya logam berat dalam pertanian dapat membahayakan kesehatan manusia melalui konsumsi pangan yang dihasilkan dari tanah yang tercemar logam berat tersebut dan pernyataan yang dikemukakan oleh Alloway (1990) yang menyatakan bahwa logam berat terserap kedalam jaringan tanaman melalui akar, yang selanjutnya akan masuk kedalam siklus rantai makanan.
Apabila sayuran tersebut dikonsumsi dan tetap terus dikonsumsi oleh masyarakat kota Medan, maka dapat mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan atau keracunan timbal (Pb). Hal ini disebabkan logam berat timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat berbahaya bagi tubuh manusia, dimana jumlah minimal Pb minimal didalam darah yang dapat menyebabkan keracunan berkisar antara 60-100 mikro gram per 100 ml darah (Eddy, 2010) dan logam berat timbal (Pb) apabila terserap oleh anak walaupun dalam jumlah kecil, dapat menyebabkan gangguan pada fase awal pertumbuhan fisik dan mental yang kemudian berakibat pada fungsi kecerdasan dan kemampuan akademik (Pb) yang tertimbun dalam tulang akan masuk kejanin dan asupan timbal dapat menyebabkan keguguran waktu lama timbal (Pb) terakumulasi pada gigi, gusi dan tulang. Jika konsentrasi Pb meningkat, akan terjadi anemia dan kerusakan fungsi otak serta kegagalan fungsi ginja
Berdasarkan hasil data analisis diatas juga dapat diketahui bahwa kandungan rata-rata logam berat tertinggi pada tanaman (akar, batang, daun), terdapat pada lokasi sampel II (kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan) dibandingkan dengan kandungan rata-rata logam
berat pada tanaman (akar, batang, daun) yang terdapat pada lokasi sampel I (kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan). Hal ini dapat dilihat dari kandungan rata-rata logam berat timbal (Pb) pada tanaman (akar, batang, daun) yang diperoleh dari lokasi II pada bagian akar 8.35 ppm, batang 0.92 ppm, daun 3.35 ppm; sedangkan kandungan rata-rata logam berat timbal (Pb) pada tanaman (akar, batang, daun) yang diperoleh dari lokasi I pada bagian akar 3.12 ppm, batang 0.6 ppm dan daun 1.72 ppm. Hal ini didukung dengan lebih tingginya kandungan logam berat timbal (Pb) pada air yang diperoleh dari lokasi sampel II yaitu 0.11 ppm dibandingkan dengan kandungan logam berat timbal (Pb) pada air yang diperoleh dari lokasi sampel I yaitu 0.10 ppm.
Tingginya kandungan logam berat timbal (Pb) pada tanaman yang diperoleh dari lokasi sampel II (kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) asal kecamatan Sunggal kota Medan) dibanding dengan lokasi sampel I (kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan) dinilai wajar karena tanaman kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) yaitu lokasi sampel II hidup di air yang berasal dari saluran air limbah rumah tangga (parit/got) yang berada disekeliling lahan pertanian kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) tersebut. Hal ini dilakukan oleh petani kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) desa Tanjung Rejo kecamatan Sunggal kota Medan untuk mengairi lahan pertaniannya dengan asumsi bahwa kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) yang ditanam oleh petani tersebut tidak akan mendapat suplai air yang cukup jika hanya mengandalkan atau mengharapkan air hujan saja.
Berdasarkan data yang dipaparkan pada tabel 10. dapat diketahui bahwa akumulasi kandungan logam berat timbal (Pb) pada tanaman (akar, batang, daun) tertinggi terdapat bagian akar tanaman kangkung, baik itu tanaman kangkung darat (Ipomea reptans Poir) yaitu lokasi sampel I (akar 3.12 ppm) dan kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) yaitu lokasi sampel II (akar 8.35 ppm). Hal ini disebabkan logam berat terserap kedalam jaringan tanaman melalui akar, yang selanjutnya akan masuk kedalam siklus rantai makanan (Alloway, 1990). Hal ini juga didukung dengan suatu penelitian yang dilakukan oleh Kohar dkk (2005) yang memperoleh hasil bahwa akumulasi Pb yang terbesar terjadi pada akar tanaman kangkung.
Tingginya kandungan logam berat timbal (Pb) yang diperoleh pada bagian akar tanaman kangkung baik itu tanaman kangkung darat (Ipomea reptans Poir) dan kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) sesuai dengan tiga cara unsur hara dapat kontak dengan permukaan akar, yaitu : 1) secara difusi dalam larutan tanah; 2) secara pasif oleh aliran tanah, dan 3) akar tumbuh kearah posisi hara dalam matirk tanah. Serapan hara oleh akar dapat bersifat akumulatif, selektif, satu arah (unit directional), dan tidak dapat jenuh. Penyerapan hara dalam waktu yang lama menyebabkan konsentrasi hara dalam sel jauh lebih tinggi, ini disebut sebagai akumulasi hara (Lakitan, 2001). Hal ini juga didukung dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Fitter dan Hay (1991) yang menyatakan bahwa sel-sel akar tumbuhan umumnya mengandung konsentrasi ion yang lebih tinggi daripada medium disekitarnya.
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 10. dapat diketahui bahwa sayuran kangkung, baik itu kangkung darat (Ipomea reptans Poir) maupun kangkung air
(Ipomea aquatica Forsk) yang berasal dari kedua lokasi sampel mampu menyerap dan mengakumulasikan logam berat dari media tumbuhnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Seregeg dkk (1995) melalui penelitian bahwa kangkung termasuk salah satu tanaman yang mudah menyerap logam berat dari media tumbuhnya. Hal ini juga sesuai dengan dua sifat penyerapan ion oleh tumbuhan adalah (1) faktor konsentrasi, yaitu kemampuan tumbuhan dalam mengakumulasi ion sampai tingkat konsentrasi tertentu, bahkan dapat mencapai beberapa tingkat lebih besar dari konsentrasi ion didalam mediumnya; dan (2) perbedaan kuantitatif akan kebutuhan hara yang berbeda pada tiap jenis tumbuhan (Fitter dan Hay, 1991)
Berdasarkan hasil data analisis diatas juga dapat diketahui bahwa sayuran kangkung, baik itu kangkung darat (Ipomea reptans Poir) maupun kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) yang berasal dari kedua lokasi sampel relatif tahan terhadap bahan pencemar yaitu logam berat timbal (Pb) dan mengakumulasikannya tanpa membuat tanaman tumbuh dengan tidak normal dan tidak mengalami fitotoksisitas. Hal ini terbukti dari hasil panen tanaman kangkung yang diproduksi cukup tinggi, dimana hasil panen kangkung darat (Ipomea reptans Poir) asal kecamatan Medan Deli kota Medan (lokasi sampel I) mampu menghasilkan ± 200 ikat/bedeng (ukuran bedeng ± 1 x 20 m) dan hasil panen kangkung air (Ipomea aquatica Forsk) desa Tanjung Rejo kecamatan Sunggal kota Medan (lokasi II) mampu menghasilkan hingga 300 ikat per harinya. Hal ini sesuai pernyataan yang dikemukakan oleh Eddy (2010) yang menyatakan bahwa kangkung merupakan salah tanaman yang memiliki kemampuan yang disebut dengan hiperakumulator, yaitu relatif tahan terhadap berbagai macam
bahan pencemar dan mengakumulasikannya dalam jaringan dengan jumlah yang cukup besar. Salah satu bahan pencemar tersebut adalah timbal (Pb). Tanaman kangkung mampu mentranslokasikan bahan pencemar timbal (Pb) dengan konsentrasi sangat tinggi ke pucuk tanpa membuat tanaman tumbuh dengan tidak normal dalam arti kata tidak kerdil dan tidak mengalami fitotoksisitas.