• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KINERJA PEMBANGUNAN

4.3. A NALISIS K INERJA P EMBANGUNAN

4.3.1. D AMPAK COVID-19 TERHADAP C APAIAN O UTPUT

Wabah COVID-19 berpengaruh cukup signifikan terhadap pelaksanaan intervensi percepatan penurunan stunting di tahun 2020. Sejak penetapan darurat bencana non-alam COVID-19 pada tanggal 12 April lalu, kinerja Kementerian/Lembaga tidak dapat berjalan secara optimal.

Beberapa K/L, menjalankan kebijakan Refocusing dan realokasi anggaran dalam rangka penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional dan penurunan target output, termasuk berdampak kepada alokasi yang ditandai sebagai program percepatan penurunan stunting. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung sektor kesehatan yang lebih mendesak pada upaya penanganan wabah COVID-19. Kebijakan ini pastinya berdampak kepada upaya pemerintah mempercepat penurunan stunting yang prevalensinya sempat menurun dari 30,8 di tahun 2018 menjadi 27,67 di tahun 2019.

Dampak pandemi Covid-19 akhirnya berimbas terhadap pelaksanaan intervensi gizi spesifik, intervensi gizi sensitif dan kegiatan koordinasi, pendampingan/dukungan teknis. Pada intervensi spesifik, studi Kemenkes menunjukkan bahwa 43,5persen Puskesmas tidak dapat melaksanakan pelayanan terhadap balita. Termasuk di antaranya pemantauan pertumbuhan, pemberian obat kecacingan, vitamin A hingga imunisasi dasar.

Pelaksanaan intervensi gizi sensitif dan kegiatan koordinasi, pendampingan/dukungan teknis juga terdampak. Misalnya kegiatan Pembinaan STBM (Kemenkes), Bimbingan Perkawinan Pra-Nikah (Kemenag) dan Provinsi yang difasilitasi PUG (KemenPPPA) beralih metode dari tatap muka menjadi daring. Meskipun terlaksana, namun metode daring tidak dapat dikatakan sepenuhnya efektif bila dibandingkan dengan tatap muka langsung. Karena beberapa daerah terkendala jaringan infrastruktur komunikasi sehingga menyulitkan proses pertemuan atau pendampingan melalui internet.

Untuk mengetahui dampak COVID-19 terhadap output maka seluruh K/L diminta mengindentifikasi kendala apa yang dihadapi. Apakah itu Refocusing, Pemulihan Ekonomi dan Kesehatan (pengalihan atau pengurangan) anggaran yang disertai penurunan target output, Refocusing, Pemulihan Ekonomi dan Kesehatan saja tanpa penurunan target atau penurunan target output saja.

Grafik 19. menggambarkan bahwa 60 output terdampak cukup signifikan. Baik itu 32 output yang mengalami Refocusing, Pemulihan Ekonomi dan Kesehatan dan penurunan target dan 28 output yang hanya mengalami Refocusing, Pemulihan Ekonomi dan Kesehatan. Lalu terdapat 18 output yang tidak terdampak serta delapan output tidak tersedia informasi.

Grafik 19. Jumlah Output K/L yang Terdampak COVID-19 pada Program Penurunan Stunting, TA 2020

Sumber: Evaluasi Mandiri K/L (Diolah)

Bila kita lihat berdasarkan intervensinya, 18 output yang tidak mengalami perubahan terdiri dari satu output intervensi spesifik, 11 output intervensi sensitif dan lima output kegiatan koordinasi/pendampingan. Kemudian 60 output yang terdampak terdiri dari 17 output intervensi spesifik, 16 output intervensi sensitif dan 27 kegiatan koordinasi/pendampingan.

Grafik 20. Pengaruh COVID-19 Terhadap Intervensi Spesifik, Intervensi Sensitif dan Pendampingan/Koordinasi Program Penurunan Stunting, TA 2020

Sumber: Evaluasi Mandiri K/L (Diolah)

32

28 0

18

8

Refokusing & Penurunan Target Refokusing

Penurunan Target Tidak Ada Perubahan

Tidak Ada Data

Spesifik Sensitif Koordinasi/Pendampin gan

Tidak Ada Data 2 3 3

Tidak Ada Perubahan 4 12 2

Penurunan Target 0 0 0

Refokusing 11 3 14

Refokusing & Penurunan Target 6 13 13

Selanjutnya bila dianalisis dari output kunci yang memiliki peran strategis dalam penurunan stunting, terdapat tujuh output intervensi gizi spesifik, 10 output intervensi gizi sensitif dan empat output koordinasi/pedampingan yang terdampak COVID-19. Namun secara umum mayoritas dari output tersebut memiliki penilaian capaian tinggi, yakni di atas 90persen.

Sebaliknya terdapat empat output dari Kemen PUPR yang masih perlu diklarifikasi data capaiannya. Karena sampai saat laporan ini disusun belum menyerahkan form evaluasi mandiri.

Sehingga kita tidak tahu pasti dampak COVID-19 terhadap capaian akses air minum dan sanitasi.

Tabel 31. Daftar Output Kunci yang Terdampak COVID-19 pada Program Percepatan Penurunan Stunting TA 2020

No Output Intervensi

Dampak COVID-19 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK)

Spesifik 100%

2 Penyediaan Makanan Tambahan bagi Balita Kurus

Spesifik 100%

3 Penguatan Intervensi Suplementasi Gizi Spesifik √ √ 100%

4 Pembinaan dalam Peningkatan Status Gizi Masyarakat

Spesifik 100%

5 Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir

Spesifik 100%

6 Peningkatan Surveilans Gizi Spesifik 100%

7 Layanan Imunisasi Spesifik 94%

8 Pengawasan terhadap Sarana Air Minum (termasuk pengawasan kualitas air minum)

Sensitif √ √ 100%

9 Pembinaan Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) termasuk pembinaan kab/kota STOP BABS

Sensitif √ √ 100%

10 Pembinaan Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) oleh Papua dan Papua Barat

Sensitif √ √ 100%

11 Hasil Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Gizi Masyarakat pada riset

1 Pemantapan Ketahanan Pangan Rumah Tangga (Program Pangan Lestari)

Sensitif √ √ 99%

KEMENTERIAN SOSIAL

1 Keluarga Miskin Yang Mendapat Bantuan Tunai Bersyarat

Sensitif 121,5% Mengalami

penambaha n anggaran kembali KEMENTERIAN AGAMA

1 Bimbingan Perkawinan Pra Nikah Sensitif √ √ 90,05%

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

1 Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Sensitif √ √ - Data

Semester I

Sumber: Evaluasi Mandiri K/L (Diolah)

Selain output-output kunci di atas, beberapa output lainnya secara signifikan mengalami dampak dari pandemi COVID-19. Antara lain:

1. 2 output pada Kemenkes yaitu Kampanye Hidup Sehat melalui Berbagai Media dan Pelaksanaan Strategi Promosi Kesehatan dalam mendukung Program Kesehatan yang kegiatannya mengalami penundaan atau tidak diadakan sama sekali sehingga tidak menyampaikan data capaian; dan

2. 1 output pada Kemenperind yaitu Pemenuhan gizi masyarakat melalui peningkatan konsumsi pangan olahan sehat, yang pada akhirnya menghapus target output karena kegiatan koordinasi dengan kabupaten/kota lokus dan bimtek di level masyarakat tidak terlaksana.

Berikutnya akan dibahas dampak COVID-19 terhadap beberapa output kunci berdasarkan jenis intevensi.

Intervensi Gizi Spesifik

Output PMT bagi Ibu Hamil KEK dan PMT bagi Balita Kurus mengalami Refocusing dan realokasi anggaran dalam rangka penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional namun dengan target yang tidak berubah. Pengadaan PMT dilaksanakan antara bulan September hingga Oktober 2020, dan dilakukan distribusi langsung ke puskesmas sampai pertengahan Desember 2020.

2 Pembangunan SPAM Sensitif √ √ 26% Data

Semester I

3 Peningkatan SPAM Sensitif √ √ - Data

Semester I

4 Perluasan SPAM Sensitif √ √ 31% Data

Semester I KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA

1 Hasil Analisis Kebijakan Dalam Rangka Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Dalam Pelaksanaan Strategi Percepatan Pencegahan Stunting

Koord/Pend ampingan

100%

KEMENTERIAN KOORDINATOR PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN 1 Rumusan alternatif kebijakan bidang

ketahanan gizi dan kesehatan ibu dan anak dan kesehatan lingkungan

Koord/Pend ampingan

100%

KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS

1 Kebijakan Percepatan Pelaksanaan Pembangunan

Koord/Pend ampingan

100%

KEMENTERIAN DESA PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI 1 Pelaksanaan Konvergensi Pencegahan

Stunting di Desa

Koord/Pend ampingan

√ √ 100%

BADAN PUSAT STATISTIK

1 Penyediaan dan Pengembangan Statistik Kesejahteraan Rakyat

Koord/Pend ampingan

100% Perubahan

satuan target

Untuk output Penguatan Intervensi Suplementasi Gizi, Pembinaan dalam Peningkatan Status Gizi Masyarakat dan Peningkatan Surveilans Gizi kegiatan yang semula dirancang dengan tatap muka menjadi dilakukan secara daring. Hal ini secara tidak langsung membutuhkan waktu untuk beradaptasi dalam pelaksanaan kegiatan. Namun secara umum seluruh capaian output tercapai seperti yang direncanakan.

Intervensi Gizi Sensitif

Untuk seluruh output terkait akses air minum dan sanitasi pada Kemenkes dan Kemen PUPR mengalami Refocusing, Pemulihan Ekonomi dan Kesehatan dan penurunan target. Selain berubah metode menjadi daring, beberapa output menyesuaikan bentuk kegiatannya untuk menghindari terjadinya kerumunan. Untuk STBM kegiatan difokuskan pada penyusunan pelaksanaan pedoman di masa pandemi agar pemicuan dapat dilaksanakan sesuai protokol kesehatan. Lalu untuk pengawasan air minum pelaksanaan pengumpulan sampel di lapangan banyak mengalami penundaan namun direkomendasikan agar ke depannya dapat mengoptimalkan pendanaan dekosentrasi dan DAK di daerah. Empat output milik Kemen PUPR masih perlu diklarifikasi dampak COVID-19 terhadap capaiannya.

Sementara itu output Keluarga Miskin Yang Mendapat Bantuan Tunai Bersyarat (Kemensos) sempat mengurangi DIPA harian dalam rangka penanganan COVID-19 di bulan April. Namun pada bulan Mei anggaran Program Keluarga Harapan mendapat penambahan dana sebesar Rp 8 Triliun untuk Bantuan Sosial Jaring Pengaman Sosial Penanganan COVID-19 yang peruntukannya untuk seluruh kategori dan komponen 10 juta KPM. Sehingga realisasi melebihi angka target perencanaan.

Kegiatan Koordinasi, Pendampingan dan Dukungan Teknis

COVID-19 berdampak cukup signifikan pada output Hasil Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Gizi Masyarakat pada Riset Kesehatan Nasional. Semestinya melalui output ini Kemenkes bersama BPS mengeluarkan data prevalensi stunting tahun berjalan (TA 2020) yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan. Terdapat pengurangan target dan capaian output dari semula 34 provinsi menjadi 25 provinsi. Tetapi dalam pelaksanaannya hanya tercapai lima provinsi dengan kegiatan sampai pada tahap Training Centre dan pendampingan pemahaman enumerator.

Begitu juga dengan output Pelaksanaan Konvegensi Pencegahan Stunting yang mngalami Refocusing, Pemulihan Ekonomi dan Kesehatan dan penurunan target. Target semula adalah 159 desa pada kabupaten/kota prioritas menjadi 1 kabupaten yang sudah terlaksana pelaksanannya. Meski demikian pendampingan pada kabupaten/kota lokus tetap dilaksanakan dengan menggunakan sumber pembiayaan hibah.

Pada output yang dimiliki BPS terjadi perubahan target dari 515 publikasi kesejahteraan yang terbit tepat waktu menjadi 2.500 blok sensus. Hal ini dilakukan karena kegiatan pengumpulan data di lapangan tidak dapat dilakukan secara optimal di tengah pandemi.

Beberapa kegiatan mengalami penundaan dan pengolahan data belum dapat dilakukan sepenuhnya. Sementara output pada Kemensetneg, Bappenas dan Kemenko PMK dapat tercapai sesuai rencana.