• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identifikasi dan Analisis Areal Non Produksi

5.1.3. Daerah Larangan dan Perkampungan Penduduk

Daerah larangan merupakan suatu daerah yang berada di dalam kawasan PT. Mamberamo Alasmandiri yang dianggap masyarakat sebagai kawasan yang sakral dan keramat oleh masyarakat setempat, sehingga daerah larangan tersebut tidak dapat di produksi atau dijamah oleh perusahaan maupun pihak lain. Beberapa daerah terlarang di areal PT. Mamberamo Alasmandiri antara lain tanah adat Towao, Kuburan Marga Meop Tanjung, Gunung Keramat Tiwang, kuburan tua, Dusun Lama Saire, Hutan Keramat Enghwarasit, Hutan Agathis dan beberapa

daerah larangan lainnya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pohon agathis dianggap sebagai nenek moyang masyarakat sehingga daerah tempat tumbuh pohon agathis sama sekali tidak boleh dijamah maupun ditebang. Lokasi hutan keramat dan tegakan pohon agathis dapat dilihat pada Gambar 10.

(a) (b)

Gambar 10 Lokasi Hutan Keramat (a) dan Tegakan Pohon Agathis (b). Perkampungan penduduk merupakan daerah non produksi yang ada areal kerja PT. Mamberamo Alasmandiri. Perkampungan penduduk yang terletak di dalam wilayah kerja kawasan ini terdiri dari Distrik Kasonaweja, Kampung Batiwa, Kampung Baudi dan Kampung Burmeso. Perkampungan penduduk ini dideliniasi berupa point yang menunjukkan letak perkampungan penduduk di citra. Perkampungan penduduk Distrik Kasonaweja di PT. Mamberamo Alasmandiri dapat dilihat pada Gambar 11.

Peta areal non produksi yang terdapat di PT. Mamberamo Alasmandiri yang telah diidentifikasi dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12 Peta Areal Non Produksi IUPHHK-HA PT. Mamberamo Alasmandiri.

5.2. Penataan Areal Hutan

Menurut Rahmawati (2006) penataan areal hutan adalah penataan ruang hutan sebagaimana dipersyaratkan oleh prinsip pengelolaan hutan lestari didasarkan atas identifikasi areal dan kualitas lahan dari suatu areal kerja pengusahaan hutan agar terselenggara kegiatan pengelolaan hutan yang lestari, efisien dan berwawasan lingkungan. Kegiatan Penataan areal hutan produksi bertujuan memperoleh gambaran jelas tentang potensi dan keadaan hutan serta cara pengaturan pemanfaatan dan pembinaannya agar terjamin azas kelestarian dan hasil yang optimal. Pembagian hutan ke dalam unit-unit pengelolaan yang

lebih kecil merupakan langkah awal kegiatan pengusahaan hutan pada hutan produksi. Tujuan dari pembagian hutan adalah untuk memberikan kepastian wilayah kerja, memudahkan inventarisasi sumber daya dan jenis kegiatan serta memudahkan dalam hal perencanaan organisasi dan manajemen hutan. Melalui pembagian hutan suatu kelompok hutan dapat diatur pemungutan hasilnya dengan tidak melampaui daya produksi hutan sehingga kesinambungan produksi dapat terjamin. PT. Mamberamo Alasmandiri memiliki luas areal sebesar 677.310 Ha, areal ini sangat luas untuk dilakukan pengelolaan dengan satu unit manajemen, maka untuk mempermudah pengelolaan PT. Mamberamo Alasmandiri pada tahun 2009 membagi dua unit pengelolaan menjadi bagian hutan Gesa dan bagian hutan Aja. Pembagian kedua bagian hutan ini menggunakan batas alam yaitu sungai. Pembagian hutan ini juga berfungsi sebagai unit kelestarian dimana dengan dua unit manajemen, maka kelestarian hutan akan lebih terlindungi.

Areal PT. Mamberamo Alasmandiri yang telah dibagi menjadi dua bagian, selanjutnya kawasan hutan produksi dibagi dalam blok pengelolaan untuk mengoptimalkan pengelolaan. Pada umumnya tiap kesatuan kerja dirancang agar areal yang bersangkutan mempunyai satu arah pengangkutan hasil hutan. Blok pengelolaan pertama adalah blok rencana kerja lima tahun (RKL). Blok RKL ini dibuat dengan memperhatikan arah pengangkutan hasil hutan, batas alam dan rotasi tebangan. Blok RKL dibutuhkan untuk mengatur pembagian blok rencana karya tahunan (RKT) sehingga lebih tertata. Data yang diperoleh dari perusahaan tidak terdapat blok RKL. Blok RKL mempunyai peranan penting dalam pembagian blok RKL sehingga PT. Mamberamo Alasmandiri seharusnya menyediakan data mengenai blok RKL sehingga lebih mudah dalam penataan selanjutnya.

Pembagian blok RKT dilakukan setelah pembagian blok RKL. Blok RKT adalah blok yang dibuat pada areal hutan di dalam Unit Pengelolaan Hutan yang akan ditebang pilih atau kegiatan pembinaan hutan dalam waktu satu tahun, yang luasnya sama, ditentukan dengan pertimbangan daur/rotasi tebang, keadaan hutan dan keadaaan lapangan. Kriteria dalam pembagian blok RKT juga memperhatikan arah pengangkutan hasil hutan, batas alam, rotasi tebangan dan pertimbangan luas yang sama. Pembagian blok RKT di PT. Mamberamo Alasmandiri sudah teratur

dan sudah memperhatikan kriteria seperti diatas. Sampai saat ini pembagian blok RKT yang sudah ada hanya dari tahun 1994 hingga 2014. Blok RKT seharusnya sudah ada sepanjang rotasi tebangan sehingga mempermudah manajemen pengelolaan hutan selanjutnya dalam menata areal.

Blok RKT tersebut dibagi menjadi petak-petak pengelolaan yang terkait dengan pemanfaatan hasil hutan terutama kayu. Petak kerja adalah bagian dari blok kerja tahunan yang luasnya disesuaikan dengan topografi dan idealnya berbentuk bujur sangkar dengan luas ± 100 ha dengan tanda-tanda batas yang permanen, petak pengelolaan ini merupakan unit pengelolaan terkecil pada hutan produksi. Pada petak pengelolaan inilah seluruh kegiatan pengelolaan dilaksanakan. Penataan areal ini memiliki tujuan, salah satunya adalah untuk mengatur areal kerja tahunan ke dalam petak – petak kerja guna memudahkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam setiap kegiatan pengusahaan yang dilakukan. Petak kerja PT. Mamberamo Alasmandiri di peta telah ditentukan untuk keseluruhan areal kerja dan seluruh petak ini telah diberi nomor petak. Sesuai data yang ada dalam atribut petak, informasi yang diperoleh adalah nomor petak, luas petak, RKT dan koordinat petak. Petak kerja PT. Mamberamo Alasmandiri dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13 Petak kerja PT. Mamberamo Alasmandiri.

Pada masing-masing petak mempunyai nomor petak yang memudahkan dalam pengelolaannya. Penomoran petak-petak ini menggunakan angka dan abjad, dengan format penomoran untuk baris nomor petak tidak berubah pada angka tetapi yang berubah adalah abjad, sedangkan untuk kolom nomor petak yang tidak berubah adalah abjad dan yang berubah adalah angka. Perusahaan

menggunakan sistem penomoran seperti ini karena dianggap paling mudah dan sederhana untuk dijadikan nomor petak. Penomoran pada petak kerja PT. Mamberamo Alasmandiri dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14 Penomoran petak kerja

Setelah dilakukan pembagian petak lalu petak dibagi lagi ke dalam anak petak untuk mempermudah pengelolaan. Anak petak adalah bagian dari petak yang bersifat sementara yang akan dibuat apabila karena berbagai faktor, terutama yang berupa gangguan terhadap tumbuhan, terjadi perubahan dalam bagian tertentu dari petak sehingga keadaan bagian ini berbeda dari keadaan umum dari petaknya yang dapat diukur oleh ciri-ciri fisik, ciri vegetasi dan ciri fasilitas pengembangan (Sarbini dan Santoso 2009). Anak petak dibuat berdasarkan kawasan produksi dan non produksi yang terdapat di dalam satu petak. Peta penataan areal PT. Mamberamo Alasmandiri dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15 Peta Penataan Areal IUPHHK-HA PT. Mamberamo Alasmandiri.

Dokumen terkait