• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. METODE

2.3 Seleksi studi dan penilaian kualitas

2.3.2 Daftar Hasil Pencarian Artikel

Cholesterol chitosan 3

Hyperglicemia Chitosan 3

Cholesterol Gelatin -

Hyperglicemia Gelatin -

Science direct

Cholesterol chitosan -

Hyperglicemia Chitosan 1

Cholesterol Gelatin -

Hyperglicemia Gelatin 1

Google scholar

Cholesterol chitosan 3

Hyperglicemia Chitosan 1

Cholesterol gelatin -

Hyperglicemia Gelatin 1

Total pustaka yang akan dianalisis dan dibahas

13

2.3.2 Daftar Hasil Pencarian Artikel

Artikel hasil pencarian yang telah diseleksi dibawah ini yang memuat judul, penulis, dan tahun, nomor DOI/ISSN dan kriteria jurnal :

Tabel 4. Daftar Artikel Hasil Seleksi

No Judul Peneliti dan

Tahun

ISSN/DOI Sumber 1 Chitosan Oligosaccharide

(GO2KA1) Improves Postprandial Glycemic Response In Subjects With Impaired Glucose Tolerance And Impaired Fasting Glucose And In Healthy Subjects: A Crossover, Randomized Controlled Trial

(Jeong et al., Supplementation Of Low Molecular Weight Chitosan Oligosaccharide (GO2KA1) On Fasting Blood Glucose

(J. G. Kim et

9

And Hba1c In Db/Db Mice Model And Elucidation Of Mechanism Of Action 3 Effects Of Insulin-Loaded

Chitosan-Alginate Nanoparticles On RAGE Expression And Oxidative Stress Status In The Kidney Tissue Of Rats With Type 1 Diabetes

4 Cholesterol-Lowering Effects And Potential Mechanisms Of Chitooligosaccharide Capsules In Hyperlipidemic Rats

5 Comparative Effects And Mechanisms Of Chitosan And Its Derivatives On Hypercholesterolemia In High-Fat Diet-Fed Rats

(Chiu et al., (Berberine, Red Yeast Rice And Chitosan) On Non-HDL Cholesterol Levels In

Individuals With

Dyslipidemia: Results From A Randomized, Double Blind, Placebo-Controlled

7 Hypolipidemic And

Antiatherogenic Effects Of Dietary Chitosan And Wheatbran In High Fat- High Cholesterol Fed Rats

(Lamiaa, 2011) ISSN 1991-8178

Google scholar

8 Hypolipidemic Effects Of Chitosan And Its Derivatives In Hyperlipidemic Rats Induced By A High-Fat Diet

(Pan et al.,

9 Comparative Evaluation Between Chitosan And Atorvastatin On Serum Lipid Profile Changes In

Hyperlipidemic Cats

10 Molecular Weight Dependent Glucose Lowering Effect Of

(S. H. Jo et al.,

10

Low Molecular Weight Chitosan Oligosaccharide (GO2KA1) On Postprandial Blood Glucose Level In SD Rats Model

11 Effects Of Collagen Peptide Ingestion On Blood Lipids In Rats Fed A High-Lipid And High-Sucrose Diet

(Koyama &

Kusubata, 2013)

10.3136/fstr .19.1149

Google scholar

12 Antidiabetic Effects And Saety Profile Of Chitosan Delivery Systems Loaded With New Xanthine-Thiazolidine-4-One

Derivatives: In Vivo Studies

(Constantin et al., 2020)

10.1016/j.jd dst.2020.10

2091

Science direct

13 Fish Skin Gelatin

Hydrolysates As Dipeptidyl Peptidase IV Inhibitors And Glucagon-Like Peptide-1 Stimulators Improve Glycaemic Control In Diabetic Rats: A Comparison Between Warmand Cold-Water fish

(Wang et al., 2015)

10.1016/j.jff .2015.09.03

7

Science direct

11 BAB III

HASIL DAN ANALISIS

3.1 Hasil

Hasil penelusuran pustaka dengan kriteria inklusi yang ditetapkan dari search engine diperoleh sebanyak 224 artikel, dieksklusi sebanyak 221 jurnal dan tersisa 13 artikel. Jumlah keseluruhan artikel yang memenuhi kriteria untuk di analisis adalah sebanyak 13 artikel.

3.2 Analisis

Hasil analisis artikel disajikan pada tabel berikut:

Tabel 5. Hasil Analisis Artikel Judul

penulis

Population Intervension Comporation Outcome

Comporative evaluation between

chitosan and atrovostatin on serum lipid profile change in hyperlipidemic cats.

Kitosan Konsentrasi kitosan:

3g/hari

Metode dan model uji:

Dua puluh satu kucing sehat secara acak dibagi menjadi tiga kelompok yakni Kelompok A (kontrol) termasuk tujuh kucing yang diberi makan bubuk kolesterol (4 g/kg

Digunakan Atrovostatin 40 mg dengan dosis 5

mg/kg sebagai perbandingan

positif obat penurun kolesterol

Konsentrasi kitosan terhadap penurunan

kadar kolesterol adalah 3 g/hari

12

selama 10 hari). Kelompok B mirip dengan kelompok A, tetapi sebagai tambahan, atorvastatin (5 mg/kg) diberikan selama 45 hari setelah hiperlipidemia yang diinduksi.

Kelompok C mirip dengan kelompok B, tetapi kitosan (3 g/kucing) diberikan sebagai pengganti atorvastatin

Parameter Hasil:

Sampel darah dikumpulkan empat kali pada hari 0, 10, 40, 55 setelah penginduksian, untuk mengukur profil lipid serum yang diteliti sambel dituangkan ke dalam tabung non heparinisasi dan serum disentifugasi 3000 rpm selama 5 menit. Kadar total serum, trigliserida dan LDL diukur menggunakan peralatan komersial diagnostic KIT.

Hypolipidemic and Antiatherogenic Effects of Dietary

Chitosan and Wheatbran in High Fat- High Cholesterol

Kitosan Konsentrasi Kitosan:

5% dalam 100 gram makanan Metode dan model uji:

80 ekor tikus albino jantan dibagi menjadi delapan kelompok: (1)

Digunakan wheat bran sebagai perbandingan positif penurun

kolesterol

Konsentrasi kitosan terhadap penurunan

kadar kolesterol adalah 5g/100g

perhari

13

Fed Rats. kontrol normal; hewan dalam

kelompok 2, 3 dan 4 diberi diet basal yang dilengkapi dengan kitosan atau dedak gandum atau kitosan dan dedak gandum dalam jumlah yang sama (5%), (5) tikus kontrol hiperkolesterolemia-hiperlipidemia, diberi diet seimbang suplemen kolesterol dan lemak pada tingkat dosis masing-masing 1 g dan 20g/100 g diet; kemudian tiga kelompok hewan lainnya diberi diet hiperkolesterolemia yang sama sebelumnya ditambah dengan kitosan (6) atau dedak gandum (7) atau kitosan dan dedak gandum pada tingkat yang sama (5%) (8)

Parameter hasil:

Pada akhir percobaan (6 minggu) dan setelah puasa semalaman, tikus diskarifiksi dengan anesetesi eter dan sampel darah diambil dari vena portal hepatic dalam dua tabung sentrifugasi, satu tabung berisi serum dipisahkan lalu dibiarkan 15 menitpada suhu 25° C kemudian disentrifugasi pada 4000 rpm selama

14

20 menit kemudia disimpan dalam botol plastic pada suhu -20° C sampai analisis total lipid, kolestrol total dan TG dianalisis dengan kit enzimatik.

Hypolipidemic effects of chitosan and its

derivatives in hyperlipidemic rats induced by a high-fat

diet

Metode Dan Model Uji:

120 ekor tikus Sprague-Dawley (SD) dibagi ke dalam 12 kelompok yang diberi pakan berbagai ragam sebagai berikut: kelompok normal dengan pakan dasar, satu kelompok Diet lemak tinggi, satu kelompok Diet lemak tinggi yang dilengkapi dengan tiga dosis CTS, COSI dan COSIII kelompok, dan kelompok diet lemak tinggi diobati dengan

COSI dosis tinggi (1.000 mg /kg.hari), sedang (500 mg / kg.

hari), dan rendah (250 mg / kg. hari)

15

minggu, berat badan, rasio lemak/tubuh, dan biomarker serum, hati, dan feses yang relevan diukur.

Parameter Hasil

untuk mengukur TC, TG, dan TBA menggunakan kit uji komersial masing-masing diagnostic KIT.

Serum dibuat dari darah dengan sentrifugasi pada 3.000 rpm selama 15 menit pada 48C, dan disimpan pada 70°C sampai analisis parameter selipid. Kadar plasma Kolesterol total, Trigliserida, LDL-C, HDL-C diukur dengan kit uji komersial. Aktivitas plasma ALT dan AST dianalisis dengan kit uji ALT dan AST.

Molecular Weight Dependent Glucose

Lowering Effect of Low Molecular Weight Chitosan Oligosaccharide (GO2KA1) on Postprandial Blood Glucose Level in SD

Rats Model

Metode dan Model uji:

Tiga sampel kitosan oligosakarida yang berbeda dengan berat molekul yang bervariasi dievaluasi secara in vitro.

Tikus SD jantan berumur lima minggu diberi makan makanan

Digunakan kadar glukosa darah adalah (GO2KA1;

<1000 Da dengan konsetrasi 0,1 g/kg

per hari

16

Da) padat selama satu minggu. Setelah dibagienam kelompok dari lima tikus SD jantan (180-200 g) dipuasakan selama 24 jam, 2,0 g / kg sukrosa diberikan secara oral bersamaan dengan 0-500 mg / kg inhibitor (GO2KA1, GO2KA2, GO2KA3 dan Acarbose).

Parameter hasil:

Sampel darah diambil dari ekor setelah pemberian dan diukur kadar glukosa darah pada 0, 0,5, 1, dan 2 jam. Kadar glukosa dalam darah ditentukan dengan metode glukosa oksidase dan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menggunakan inhibitor.

Effects of Collagen Peptide Ingestion on Blood Lipids in Rats Fed a High-Lipid and

High-Sucrose Diet

Kolagen Peptida

Konsentrasi:

0,2 g / kg

Metode dan model uji:

Tikus usia 4 minggu, dan diberi makan makanan normal (CRF-1;

Oriental Yeast. Setelah 1 minggu pemberian pakan dengan pola makan normal, tikus dibagi menjadi dua kelompok (8 ekor / kelompok).

Diet tinggi lemak dan diet tinggi sukrosa dengan komposisi Casein

25.0%, a-cornstrach 14%,sucrose 20%

Konsentrasi kolagen peptida terhadap penurunan kadar glukosa darah adalah

0,2 g/kg per hari

17

Parameter hasil

Pada hari ke-1, 28, dan 30, 70 μL darah dikumpulkan dari vena ekor ke dalam tabung heparin. Pada hari ke 30 percobaan, setelah puasa semalaman, hewan dibius dengan eter, dan seluruh darah dikumpulkan dari aorta perut. Serum dan plasma disiapkan dan disimpan pada suhu -40 sampai digunakan. TG, TC LDL dan high-density lipoprotein (HDL), dan asam lemak tak teresterifikasi (NEFA) diukur menggunakan kit.

Chitosan oligosaccharide (GO2KA1) improves postprandial glycemic

response in subjects with impaired glucose

tolerance and impaired fasting glucose and in healthy

subjects: a crossover, randomized controlled

setiap kapsul mengandung 250mg Metode dan model uji:

Sebanyak 40 subjek dengan glukosa darah puasa normal dan toleransi glukosa (OGTT 140mg/dL dengan glukosa darah puasa 100mg/dL), glukosa puasa terganggu (IFG;

OGTT<140mg/dL dengan glukosa darah puasa dari 110–

125mg/dL),dan gangguan toleransi glukosa (IGT; OGTT 140-200mg/dL dengan glukosa puasa

Dengan menggunakan bubuk putih telur,

ragi dan asam kadar glukosa darah adalah 500 mg/hari

18

<126mg/dL) ubjek diinstruksikan untuk mengonsumsi 75g sukrosa dan kitosan oligosakarida (GO2KA1) atau plasebo (bubuk putih telur), yang diberikan dalam bentuk dua kapsul.

Parameter hasil:

Sampel darah dikumpulkan setelah puasa semalam setidaknya 12 jam.

Spesimen darah vena dikumpulkan dalam tabung serum. Pada kedua hari, OSTT dilakukan melalui tantangan sukrosa 75g, dan konsentrasi glukosa serum ditentukan pada 0, 30, 60, 90, dan 120 menit. Sampel darah disentrifugasi (3000rpm, 10min, 10°C) untuk mendapatkan sampel serum, yang kemudian disimpan pada suhu -80 °C.

Effects of insulin-loaded chitosan-alginate nanoparticles

on RAGE

Kitosan Konsentrasi kitosan:

1 ml per gavage(sonde)

Metode dan desain penelitian:

Dua puluh lima ekor tikus Wistar jantan secara acak dibagi menjadi 5 kelompok: kontrol normal (C),

Digunakan 8 IU/kg trade insulin (DM+SC.in, 0.2

ml sebagai perbandingan

positif obat penurun glukosa

Konsentrasi kitosan terhadap penurunan kadar glukosa darah adalah 1 ml per hari

19

kelompok diabetes tanpa perlakuan (DM), kelompok diabetes yang diberi nanopartikel berbasis kitosan (DM+NP, 1 ml per gavage), kelompok diabetes yang diobati dengan 8 IU/kg nanopartikel trimetil kitosan yang mengandung insulin (DM+N.in, 1 ml dengan gavage), dan kelompok diabetes yang diobati dengan 8 IU/kg trade insulin (DM+SC.in, 0.2 ml dengan injeksi subkutan ). Delapan minggu setelah induksi diabetes, pengobatan dilakukan selama dua minggu.

Parameter hasil

Darah dikumpulkan dengan menusuk vena cava inferior pada saat pengorbanan. Sampel serum dipisahkan dengan sentrifugasi selama 10 menit pada 1500g dan disimpan pada suhu -20 °C sampai digunakan untuk analisis. Sampel ginjal dibedah, dicuci cepat dengan saline buffer fosfat dingin (PBS), dibekukan dalam nitrogen cair, dan disimpan pada suhu -70 °C. Uji parameter biokimia serum Serum

darah

20

urea, kreatinin, dan asam urat diuji menggunakan kit

Cholesterol-lowering effects and potential

mechanisms of

Kitosan oligosakarida dosis rendah (150 mg/kg·hari)

Kitosan olidosakarida dosis tengah (300 mg/kg·hari)

Kitosan oligosakarida dosis tinggi (600 mg/kg·hari)

Metode dan model uji:

Delapan puluh tikus Specefic Pathogen Free (SPF) Sprague-Dawley jantan sehat (berat, 200 ± 20 g; usia, 8 minggu; Selanjutnya, 10 tikus terus diberi makan diet normal sebagai kelompok kontrol (NF), dan tikus yang tersisa diberi makan diet tinggi lemak untuk mencapai model hiperlipidemia. 1) kelompok pemberian makanan diet tinggi lemak (HF); (2) pemberian makanan diet tinggi lemak dengan atorvastatin (7 mg/kg·hari) (AVT);

(3) pemberian makanan diet tinggi lemak dengan dosis rendah (4) makanan diet tinggi lemak yang diberikan dengan dosis menengah

Digunakan kadar glukosa darah

adalah 300 mg/kg·hari dan (600

mg/kg·hari)

21

dan (5) makanan diet tinggi lemak yang diberikan dengan dosis tinggi.

Parameter hasil:

Sampel darah dikumpulkan dengan tusukan jantung dan selanjutnya disentrifugasi; serum disimpan pada suhu 20°C. Konsentrasi TG, TC, LDL-C, dan HDL-C dalam serum dianalisis menggunakan kit uji komersial dan instrumen BC200 penganalisis biokimia otomatis Comparative Effect s

and Mechanisms of Chitosanand Its

Derivatives on Hypercholesterolemia

in High-Fat Diet-Fed Rats

Kitosan dan kitoligosakarida

Konsentrasi kitosan:

kitoligosakarida 5%

kitosan dengan berat molekul rendah 5%

kitosan dengan berat molekul tinggi 5%

Metode dan model uji : Hewan yang diaklimatisasi secara acak dibagi menjadi lima kelompok (n = 6 dari masing-masing kelompok): (1) tikus standar yang diberi diet makanan (NC); (2) tikus yang diberi pakan HF; (3) tikus diet HF dengan kitosan 5% MW tinggi kadar glukosa darah adalah 5% kitosan berat moleku tinggi dan 5% kitosan berat

molekul rendah dikomsumsi setiap

hari

22

pakan HF dengan kitosan 5% MW rendah (HF + LC); dan (5) tikus yang diberi pakan HF dengan kitoligosakarida 5% (HF + CO).

Parameter hasil :

Tingkat TC dalam plasma, hati, dan tinja ditentukan oleh kit uji Kolesterol Diagnostik Audit, AST dan ALT diukur dengan kit enzim RANDOX AST dan ALT dan konsentrasi TNF-α plasma ditentukan oleh kit uji imunosorben terkait enzim Assay Designs Rat Effects of a New

Nutraceutical Formulation (Berberine, Red Yeast Rice and Chitosan) on Non-HDL Cholesterol Levels in Individuals

with Dyslipidemia:

Results from a Randomized, Double

Blind, Placebo-Controlled Study

Kitosan Konsentrasi Kitosan:

10 mg dalam tablet plasebo Metode dan model uji:

individu hiperkolesterolemia direkrut di Unit rawat jalan Endokrinologi dan Penyakit Metabolik (Rumah Sakit Universitas Parma, Italia) Subjek yang memenuhi syarat adalah pria dan wanita berusia 18 dan 75 tahun, dengan kadar non HDL-C≥160 mg/dL. Subjek diberi intervensi nutraceutical mengandung

Digunakan Simvastatin 10 mg

sebagai kadar glukosa darah adalah kitosan 10 mg

per hari

23

monacolin K 3mg, berberine 200mg, kitosan 10mg dan coenzyme Q 10 mg) atau plasebo sekali sehari selama 12 minggu.

Parameter hasil:

Pada setiap kunjungan, sampel plasma vena diambil setelah puasa semalam untuk penentuan FPG, HbA1C, insulin plasma, kolesterol total, trigliserida, kolesterol HDL, enzim hati (SGPT, SGOT), kreatinin serum, ApoA dan ApoB. Non-HDL-C dihitung dengan mengurangkan HDL-C dari kolesterol total, sedangkan LDL-C menggunakan Persamaan Friedewald

Influence of Chitosan Treatment on Surrogate Serum

Markers of Cholesterol Metabolism in Obese

Subjects

Kitosan Konsentrasi kitosan:

80% chitosan

Metode dan model uji:

Sebanyak 116 sukarelawan diantaranya Peserta dalam kelompok kitosan (n = 61) menerima delapan tablet yang mengandung kitosan yang diminum 2 kali, diberi empat tablet, dengan makanan utama. 55 peserta dalam

Dengan menggunakan tablet plasebo yang

mengandung Dengan menggunakan tablet plasebo yang

mengandung adalah 80% kitosan

per hari

24

kelompok plasebo menerima delapan tablet plasebo untuk dibagi dalam dua kali makan.

Parameter hasil:

Sampel darah puasa dikumpulkan dengan S-Monovette® (7,5 ml) serum gel dengan aktivator pembekuan, sebelum dan sesudah, 12 minggu pengobatan. Setelah konsentrasi serum sentrifugasi total, kolesterol HDL dan LDL ditentukan secara enzimatik. oksida, 0,375 mg besi oksida hitam

per tablet.

Chitosan attenuates obesity by modifying

the intestinal microbiota and increasing serum leptin levels in mice

Kitosan Konsentrasi kitosan:

5% w/w

Metode dan model uji:

Tikus jantan berusia sepuluh minggu ( n = 48) diaklimatisasi.Satu minggu kemudian, semua mencit secara acak dibagi menjadi 4 kelompok, dimana masing-masing kelompok diberi makan selama satu bulan dengan berdasarkan kelompok diet rendah lemak, diet rendah lemak+kitosan., diet tinggi lemak atau diet tinggi

25

Parameter hasil:

glukosa darah diukur dari vena ekor setelah tikus berpuasa selama 6 jam menggunakan alat analisa glukosa ACCU-CHEK Performa. Serum leptin dan insulin dianalisis menggunakan ELISA Kit Mouse Leptin (Insulin). Kolesterol total serum, trigliserida, HDL dan LDL dianalisis di RS Qilu Universitas Shandong. Tes toleransi glukosa oral dilakukan saat awal dan akhir percobaan ini. Setelah puasa selama 6 jam, mencit diberi larutan glukosa 150µL (0,5g/ml) secara gavage.

Glukosa darah diukur pada 0, 15, 30, 60, 90, dan 120 menit.

Anti diabetic effects and safety profile of chitosan delivery systems loaded with

new xanthine-thiazolidine-4-one derivatives: in vivo

studies

Kitosan Konsentrasi kitosan:

dosis 84,375 mg/kg bb;

dosis 42,188 mg/kg bb ; dosis 106,25 mg/kg bb;

dosis 53,125 mg/kg bb.

Metode dan model uji:

Tikus diabetes dibagi acak menjadi 10 kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari 6 ekor tikus.

Digunakan ssebagai agen anti

diabetes

dosis 53.125 mg/kg dan dosis 106.25mg

per hari

26

dalam dosis obat harian setara dengan 1/20 dari dosis mematikan 50 (LD50) (kelompok dicatat sebagai H) dan 1/40 dari LD50 (kelompok dicatat sebagai L), selama 45 hari . dua kelompok tikus diabetes digunakan sebagai kontrol:

kontrol positif yang diberi PIO (digunakan sebagai obat referensi) sebagai suspensi di tween 80 dalam dosis 4 mg/kg bb, dan kontrol negatif (DMC), di mana diabetes tikus menerima 2.0 mL/kg bb dari tween 80. Selain itu, juga digunakan tikus sehat kelompok kontrol (HC) (bebas diabetes) yang menerima tween 80 dalam dosis 2,0 mL/kg bb

Parameter hasil:

kadar glukosa darah diukur dalam rangkap tiga dengan mengumpulkan sampel darah (0,5 L) dari vena ekor, pada waktu yang berbeda: 0 (sebelum pemberian), 4, 7, 10, 12, 15, 18, 21 , 24, 27, 30, 33, 36, 39 dan 45 hari, menggunakan glukometer Fora Comfort plus mini G71. Pada akhir percobaan, hewan dibius

27

dengan campuran ketamin (80 mg/kg bb) dan xylazine (5 mg/kg bb) yang diberikan i.p. dan sampel darah dikumpulkan dengan teknik tusukan jantung. Hemoglobin terglikasi (HbA1c) diukur pada hari ke-21 (menggunakan sampel darah retro-orbital) dan hari ke-45 (menggunakan sampel darah yang dikumpulkan dengan teknik tusukan jantung) dengan metode spektrofotometri imunologi menggunakan antibodi monoklonal HbA1c]. Sampel dianalisis dengan Automat Analyzer RX Imola, 7201-0505.

Fish skin gelatin hydrolysates as dipeptidyl peptidase

IV inhibitors and glucagon-like

peptide-1 stimulators improve glycaemic control in

diabetic rats: A comparison between

Metode dan model uji:

Hewan dibagi menjadi 6 kelompok masing-masing 11 tikus, dan tikus dalam kelompok eksperimen diberikan sampel dengan gavage oral. Masa percobaan adalah 30 hari.

Kelompok A: tikus kontrol normal

28

diberi TSGH (750 mg/kg/hari);

Kelompok C: tikus kontrol diabetes diberikan air minum setiap hari;

Kelompok D: tikus diabetes yang diberi HSGH (750 mg/kg/hari);

Kelompok E: tikus diabetes yang diberikan TSGH (750 mg/kg/hari);

dan Grup F: tikus diabetes yang diberi sitagliptin (120 mg/kg/hari;

kontrol positif).

Parameter hasil:

Tes toleransi glukosa oral dilakukan pada hari ke 14 dan 28, dan uji sekresi GLP-1 dilakukan pada hari ke 28 setelah induksi diabetes.

Darah diambil dari vena ekor pada 0, 30, 60, 90, 120 dan 180 menit untuk pemeriksaan kadar glukosa segera dengan menggunakan pengukur glukosa darah

Pada pagi hari setelah pemberian terakhir pada hari ke 30, Sampel disentrifugasi (3000 g,4 °C,15 menit) dan disimpan pada suhu -80

°C.Plasma DPP-IV aktivitas diukur menggunakan kit uji DPPIV/CD26 \ Konsentrasi total dan aktif GLP-1

29

plasma diukur menggunakan glukagon seperti peptida-1 (total) RIA kit and aglukagon like peptide-1(aktif) dengan kit ELISA.

Konsentrasi insulin plasma diukur menggunakan kit insulin tikus Mercodia

Effect a long term supplementation of low molecular weight

chitosan oligosaccharide (G02KA1)Non fasting

blood glucose and HbA1c in db/db mice model and elucidation

and mechanism of action

Kitosan oligosakarida

Konsentrasi kitosan:

0,63 g/Hari

Metode dan model uji:

Dalam penelitian ini mengevaluasi efek suplementasi GO2KA1 jangka panjang pada hiperglikemia menggunakana db / db Model tikus.

Selain itu, kami mengevaluasi efek GO2KA1 pada aktivitas sukrase dan glukoamilase dan ekspresi, menggunakan model tikus db/db yang sama.

Parameter hasil:

Kadar glukosa darah diukur dengan glukosepenganalisis mengguna kanmetode glukosa oksidase, dan total kolesterol plasma konsentrasi esterol dan gliserida total diukur menggunakan kit

Acarbose Konsentrasi kitosan adalah 0,63mg/kg/hari

30 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Gelatin

4.1.1. Sumber

Gelatin yaitu biopolimer yang diperoleh dari hidrolisis kolagen kulit, jaringan otot dan tulang mamalia. Gelatin diperoleh dari perlakuan awal dalam kondisi asam (gelatin tipe A) mempunyai titik isoelektrik antara pH 4,7-5,4 atau basa (gelatin tipe B) mempunyai titik isoelektrik antara pH 7-9. Gelatin bisa dibuat dari sumber yang mengandung kolagen, seperti kulit dan sisik.

4.1.2. Kandungan

Ada dua jenis gelatin yaitu Tipe A, yang terbuat dari hewan muda, terutama kulit babi muda dan tipe B, yang terbuat dari kulit atau tulang sapi. Gelatin tipe A dan B memiliki titik isoelektrik (IEPs) yang berbeda; IEP gelatin tipe A dan B masing-masing berada pada kisaran pH 8-9 dan 4,8-5,51. Tipe A diperoleh dengan menggunakan larutan pengawet asam, seperti larutan asam sulfat, asam klorida, atau asam fosfat. Proses perendaman atau curingnya cepat, memakan waktu 3-4 minggu. Namun gelatin tipe B diperoleh dengan menggunakan larutan pengawet dasar, seperti larutan kapur (Ca(OH)2) atau NaOH, sehingga proses perendaman atau pengawetan membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan, terutama jika menggunakan tulang sebagai bahan bakunya (Amertaning et al., 2019).

4.1.3. Sifat fisika kimia

Gelatin mempunyai struktur kimia (C102H151N31), Dengan adanya asam amino seperti 1% hidroksiprolin, 16% prolin dan 26% glisin, kandungannya akan bervariasi tergantung pada bahannya. Berbentuk Padat, mengkilap, rapuh, agak kuning hingga bening dan tidak berbau, mengandung sembilan asam amino esensial: leusin, sistein, metionin, fenilalanin, serin, valin, treonin, isoleusin, dan

31

tirosin. Titik isoelektrik gelatin adalah 7,0 -9,5, kekuatan gel (g) adalah 75 -300, pH 3,8-6,0, kadar abu 0,3-2,0% dan viskositas (mp) adalah 20 -75 (Agustin, 2013).

4.1.4. Kegunaan biologis

Gelatin digunakan sebagai bahan makanan (dietary supplement) untuk mendorong pertumbuhan prekursor keratin pada otot, sebagai penambah rasa, dengan kandungan lemak bebas (rendah), sehingga dapat mengurangi asupan energi tubuh tanpa efek negatif. Oleh karena itu, berpotensi mengatasi penyakit yang berhubungan dengan obesitas dan mengurangi asupan energi dari lemak berlebih, pengololah industri pangan biasanya menambahkan gelatin dengan rendah kalori karena tidak ada adanya kandungan gula dan lemak, dapat mengikat sejumlah besar air dan setelah mengomsumsinya dapat menggantikan kalori yang biasanya berlebihan sehingga membantu memberikan rasa kenyang (Agustin, 2013).

4.2 Kitosan 4.2.1 Sumber

Kitosan merupakan kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya melalui proses deasetilasi. Jadi kitosan adalah suatu senyawa polimer dari glukosamin pada ikatan 11-1-4 atau 2-amino-2- deoksi-D-glukosa (Alistair, 1995). Suatu molekul dikatakan kitin bila mempunyai derajat deasetilasi (DD) sampai 10% dan kandungan nirogennya kurang dari 7% dan dikatakan kitosan bila nitrogen yang terkandung pada molekulnya lebih besar dari 7% berat dan derajat deasetilasi (DD)

Kitosan merupakan kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya melalui proses deasetilasi. Jadi kitosan adalah suatu senyawa polimer dari glukosamin pada ikatan 11-1-4 atau 2-amino-2- deoksi-D-glukosa (Alistair, 1995). Suatu molekul dikatakan kitin bila mempunyai derajat deasetilasi (DD) sampai 10% dan kandungan nirogennya kurang dari 7% dan dikatakan kitosan bila nitrogen yang terkandung pada molekulnya lebih besar dari 7% berat dan derajat deasetilasi (DD)

Dokumen terkait