Dalam sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi program KB Nasional ini banyak dipergunakan istilah–istilah khusus, yaitu sebagai berikut :
Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi adalah suatu kegiatan mencatat dan melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan oleh Faskes KB Pemerintah maupun Swasta, serta Dokter/Bidan Praktek Mandiri sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan.
Peserta KB Baru adalah pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan alat/cara kontrasepsi dan atau pasangan usia subur yang kembali menggunakan metode kontrasepsi setelah melahirkan/keguguran.
Peserta KB Baru Pra Sejahtera (KPS) dan Keluarga Sejahtera I (KS I) adalah pasangan usia subur dari Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I yang baru pertama kali menggunakan alat/cara kontrasepsi, dan atau yang kembali menggunakan metode kontrasepsi setelah melahirkan/keguguran.
Peserta KB Aktif adalah peserta KB yang sedang menggunakan salah satu metode kontrasepsi secara terus menerus tanpa diselingi kehamilan.
Pelayanan Peserta KB Ulang adalah tindakan kepada peserta KB, meliputi pemberian kontrasepsi ulang, pencabutan dan pemasangan ulang IUD dan Implan, pelayanan ganti cara, penanganan kasus komplikasi berat, dan penanganan kasus kegagalan, dengan penjelasan sebagai berikut:
Pemberian Kontrasepsi Ulang adalah pelayanan kepada peserta KB dengan memberikan kontrasepsi ulang untuk Pil, Suntikan, dan Kondom;
Pelayanan Pencabutan IUD dan Implan adalah tindakan pelayanan pencabutan IUD dan Implan yang disebabkan habis masa pemakaian.
Pelayanan Pemasangan Ulang IUD dan Implan adalah pemasangan ulang kontrasepsi IUD dan Implan dengan alasan komplikasi, habis masa pemakaian, ganti jenis IUD dan Implan;
Pelayanan Ganti Cara adalah pemberian pelayanan jenis metode kontrasepsi baru yang berbeda dengan metode kontrasepsi yang dipakai sebelumnya oleh peserta KB, karena alasan tertentu dan bukan karena alasan setelah melahirkan/keguguran.
Pelayanan Komplikasi Berat adalah pelayanan terhadap gangguan kesehatan akibat pemakaian alat kontrasepsi, yang harus dilayani secara intensif dan perlu rawat inap di Rumah Sakit;
Pelayanan Kegagalan adalah pelayanan terhadap terjadinya kehamilan pada peserta KB yang masih memakai kontrasepsi;
29
Pelayanan Peserta KB Ulang KPS dan KS I adalah tindakan kepada peserta KB dari Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I, meliputi pemberian kontrasepsi ulang, pelayanan pemasangan ulang IUD dan Implan, pelayanan ganti cara, penanganan kasus komplikasi berat, penanganan kasus kegagalan, dan pencabutan Implan dan IUD.
Pelayanan Faskes KB adalah semua kegiatan pelayanan kontrasepsi di Faskes KB baik berupa pelayanan statis maupun pelayanan tim mobile.
Pelayanan Statis adalah pelayanan KB yang diberikan di tempat pelayanan yang menetap atau tidak bergerak, yang tergolong bentuk pelayanan statis ialah pelayanan yang dilakukan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Polindes, Rumah Sakit, Rumah Bersalin, serta fasilitas pelayanan kesehatan TNI, POLRI, Swasta (IBI), dan LSOM termasuk organisasi keagamaan (Muhammadiyah dan NU).
Pelayanan Tim Mobil adalah pelayanan dalam bentuk tim mobil dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari unsur BKKBN, Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi (IBI, PKMI, IDI, POGI), organisasi keagamaan (Muhammadiyah dan NU) maupun TNI, POLRI, untuk menjangkau sasaran di tempat terdekat dengan tempat tinggal klien. Pelayanan mobil diprioritaskan pada daerah yang secara geografis sulit dijangkau dan aksesibilitas ke tempat pelayanan statis sangat rendah dan minimal. Pelayanan tim mobil dapat dilaksanakan oleh tim mobil yang ada di Kabupaten dan Kota atau tim mobil dari provinsi, atau pada keadaan tertentu dapat saja tim mobil dari kabupaten lain digunakan untuk pelayanan antar kabupaten. Koordinasi tim mobil antar provinsi dapat dikoordinasi oleh BKKBN Pusat sedangkan untuk tim mobil antar Kabupaten dan Kota dikoordinasikan dan menjadi tanggung jawab provinsi.
Pelayanan Rutin adalah pelayanan KB yang diberikan untuk memenuhi permintaan masyarakat terhadap pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, yang diselenggarakan pada jam buka pelayanan seperti biasa (rutin), di semua unit pelayanan KB yang ada.
Pelayanan Bakti Sosial KB adalah pelayanan KB dalam bentuk pelayanan bakti sosial KB sesuai standar kualitas pelayanan statis, dilaksanakan melalui pemanfaatan agenda momen strategis berskala nasional dan daerah/lokal yang diselenggarakan bersama mitra kerja secara sinergis. Pada tingkat nasional pelayanan tersebut adalah pelayanan yang berkaitan dengan bulan Bakti PKK, IBI, TNI, POLRI, NU, Muhammadiyah, dan kegiatan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas), Hari Kependudukan Sedunia, Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM), Hari Kesehatan, dan hari-hari besar lainnya. Pada tingkat lokal dapat dikaitkan dengan kejadian penting di daerah, misalnya dalam rangka peringkatan hari jadi provinsi atau Kabupaten dan Kota tertentu. Oleh karena itu, penetapan untuk pelayanan bakti sosial pelayanan KB dan kesehatan reproduksi pada momen strategis untuk tingkat daerah dapat dilakukan oleh penanggung jawab program KB dan kesehatan reproduksi di Kabupaten dan Kota.
Pelayanan Khusus adalah pelayanan KB dalam bentuk pelayanan khusus dan dilakukan pada sasaran khusus, misalnya penduduk miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, penduduk yang bertempat tinggal di daerah kumuh, penduduk di tempat pengungsian atau daerah konflik dan lain-lain. Pelayanan khusus dapat bersifat insidental atau rutin, tergantung kepentingan penduduk tersebut. Untuk itu, bentuk-bentuk pelayanan khusus
30
perlu dilaksanakan dengan memilih model-model yang memberikan hasil yang efektif dan efisien.
Faskes KB adalah fasilitas yang mampu dan berwenang memberikan pelayanan kontrasepsi, berlokasi dan terintegrasi di fasilitas pelayanan kesehatan dasar atau di Rumah Sakit (RS), dikelola oleh pemerintah termasuk TNI dan Polri maupun swasta dan Lembaga Swadaya Organisasi Masyarakat (LSOM) serta telah terdaftar di dalam data K/0/KB.
Faskes KB Sederhana adalah fasilitas yang mampu memberikan pelayanan KB yang meliputi: konseling, pemberian Pil KB, Suntik KB, kondom, penanggulangan efek samping dan komplikasi sesuai dengan kemampuan serta upaya rujukan. Yang termasuk dalam fasilitas kesehatan KB sederhana ini adalah fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Faskes KB Lengkap adalah fasilitas yang mampu memberikan pelayanan KB seperti pada fasilitas kesehatan KB sederhana ditambah dengan pemberian pelayanan KB: pemasangan/pencabutan Implan, pemasangan/pencabutan IUD dan atau pelayanan MOP. Yang termasuk dalam fasilitas kesehatan KB lengkap ini adalah fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Faskes KB Sempurna adalah fasilitas yang mampu memberikan pelayanan KB seperti pada fasilitas kesehatan KB lengkap ditambah dengan pemberian pelayanan KB MOW. Yang termasuk dalam fasilitas kesehatan KB sempurna ini adalah fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.
Faskes KB Paripurna adalah fasilitas yang mampu memberikan pelayanan KB seperti pada fasilitas kesehatan KB sempurna ditambah dengan pemberian pelayanan rekanalisasi dan penanggulangan infertilitas. Yang termasuk dalam fasilitas kesehatan KB paripurna ini adalah fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.
Lingkup Pelayanan Faskes KB Sederhana Faskes KB Lengkap Faskes KB Sempurna Faskes KB Paripurna 1. Konseling √ √ √ √ 2. Pemberian Kondom √ √ √ √
3. Pelayanan metode Pil KB √ √ √ √
4. Pelayanan metode Suntik
KB √ √ √ √
5. Pelayanan metode IUD/
Implan - √ √ √ 6. Pelayanan metode Vasektomi/MOP - √ √ √ 7. Pelayanan metode Tubektomi/MOW - - √ √ 8. Rekanalisasi dan penanggulangan Infertilitas - - - √ 9. Penanggulangan Efek Samping (sesuai
kemampuan) dan upaya rujukan
31
Dokter/Bidan Praktek Mandiri adalah dokter atau bidan yang melaksanakan praktik secara mandiri/perorangan.
Petugas Penghubung Dokter/Bidan Praktek Mandiri adalah PLKB/PKB atau petugas yang ditunjuk sebagai pengumpul data hasil pelayanan kontrasepsi oleh Dokter/Bidan Praktek Mandiri yang berada di wilayah kerjanya.
Status Faskes KB adalah status pemilikan atau pengelolaan Faskes KB yang dibedakan atas 2 (dua) macam pemilikan, yaitu : Pemerintah dan Swasta.
Faskes KB Pemerintah adalah Faskes KB yang dikelola dan dibiayai oleh Pemerintah. Misalnya : Faskes KB milik Pemerintah/Pemda (seperti Puskesmas/Rumah Bersalin/
Rumah Sakit), Faskes KB milik TNI, Faskes KB milik POLRI, dan Faskes KB milik instansi pemerintah lainnya.
Faskes KB Swasta adalah Faskes KB yang dikelola dan dibiayai oleh Swasta dan atau LSOM.
Misalnya : Faskes KB milik NU, Faskes KB milik Muhammadiyah, Faskes KB milik PGI, Faskes KB milik PERDHAKI, Faskes KB milik Walubi, Faskes KB milik Hindu, Faskes KB milik Perusahaan, dan Faskes KB milik Swasta lainnya.
Faskes KB Induk adalah Faskes KB Pemerintah (Puskesmas) yang mempunyai wilayah kerja/binaan Dokter dan Bidan Praktek Mandiri serta Faskes KB Jejaring yang memberikan pelayanan KB.
Informed Consent adalah lembar persetujuan tertulis yang ditandatangani klien calon peserta KB/Keluarganya, untuk dilakukan tindakan medik dalam pelayanan kontrasepsi, terutama peserta KB yang memilih metode MOW, MOP, IUD dan Implan, yang berguna melindungi secara hukum dan etika profesi bagi Peserta KB dan Provider (Petugas Pelayanan KB).
Daerah Khusus adalah daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan kepulauan (terdiri dari 183 kabupaten di Indonesia yang daftarnya terdapat pada lampiran di belakang) meliputi : Daerah Tertinggal adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, Kabupaten dan Kota)
yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional.
Daerah Terpencil adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, Kabupaten dan Kota) yang karena letak dan atau kondisi alam memiliki kesulitan, kekurangan atau keterbatasan prasarana dan sarana perhubungan, pelayanan kesehatan, persediaan kebutuhan 9 bahan pokok, serta kebutuhan sekunder lain, yang menimbulkan kesulitan bagi penduduk yang tinggal di wilayah tersebut.
Daerah Perbatasan adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, Kabupaten dan Kota) dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbatasan langsung dengan wilayah kedaulatan negara tetangga, baik perbatasan darat dan laut.
32
Daerah Kepulauan adalah suatu gugus pulau, termasuk bagian pulau dan perairan di antara pulau-pulau tersebut, dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian erat.
Desa/Kelurahan Siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa/kelurahan yang memiliki kemampuan dalam menemukan permasalahan yang ada, kemudian merencanakan dan melakukan pemecahannya sesuai potensi yang dimilikinya, serta selalu siap siaga dalam menghadapi masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan. Kriterianya adalah desa/kelurahan tersebut memiliki minimal 1 (satu) Pos Kesehatan Desa/Kelurahan (Poskesdes/ Poskeskel) dengan tenaga minimal 1 (satu) orang bidan dan 2 (dua) orang kader.
KB Pasca Persalinan adalah upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan metode/alat/obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/ 6 minggu setelah melahirkan.
KB Pasca Keguguran adalah upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat atau obat kontrasepsi setelah mengalami keguguran sampai dengan kurun waktu 14 hari. WAP (Wireless Application Protocol) adalah suatu protocol aplikasi yang memungkinkan internet dapat diakses oleh handphone menuju handphone atau client WAP lainnya. Dengan adanya WAP, berbagai informasi dapat diakses setiap saat hanya dengan menggunakan
handphone.
WAP Gateway adalah sebuah aplikasi yang berbasiskan WAP yang dapat digunakan untuk melaporkan data hasil pelayanan jumlah peserta KB Baru dan peserta KB baru pasca persalinan/pasca keguguran.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah Badan Pemerintah yang menyelenggarakan program jaminan sosial secara universal coverage termasuk pelayanan KB bagi seluruh pasangan usia subur (PUS).
Masyarakat Pedesaan (IMP) adalah wadah pengelolaan dan pelaksanaan Program Keluaga Berencana Nasional di tingkat desa/kelurahan, dusun/RW dan RT ke bawah seperti PPKBD, Sub-PPKBD, kelompok KB dan kelompok-kelompok kegiatan (POKTAN) yang merupakan bagian dari kegiatan kelompok KB.
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) adalah wadah organisasi di tingkat desa/kelurahan yang diketuai oleh seorang atau beberapa orang kader yang secara sukarela berperan aktif melaksanakan/mengelola Program Keluarga Berencana Nasional di tingkat desa/kelurahan atau yang setara.
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Dasar adalah apabila PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan pembagian tugas sudah ada kecuali bila kepengurusannya tunggal dan disesuaikan dengan kondisi wilayahnya), Pertemuan (belum rutin, belum ada rencana kerja, belum ada notulen), KIE dan Konseling (melakukan KIE kepada masyarakat), Pencatatan, Pendataan dan
33
Pemetaan Sasaran (masih sederhana), Pelayanan Kegiatan (masih sederhana, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, minimal ada satu Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan salah satu dari upaya kemandirian atau tidak ada sama sekali).
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Berkembang, adalah apabila PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan sudah dilengkapi pembagian tugas yang jelas kecuali bila kepengurusannya tunggal dan disesuaikan dengan kondisi wilayahnya), Pertemuan (rutin bulanan, ada rencana kerja, ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, UPPKS, minimal ada dua Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan dua dari kegiatan upaya kemandirian).
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Mandiri, adalah apabila PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan sudah dilengkapi dengan seksi-seksi), Pertemuan (rutin bulanan, berjenjang, ada rencana kerja, dan ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R dan sudah ada tindak lanjut), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon mandiri, rujukan, UPPKS, minimal ada tiga Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan semua kegiatan upaya kemandirian).
Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa), adalah wadah organisasi di tingkat dusun/RW yang diketuai oleh seorang atau beberapa orang kader yang secara sukarela berperan aktif melaksanakan/mengelola Program Keluarga Berencana Nasional di tingkat Dusun/RW atau yang setara.
Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Dasar, adalah apabila Sub PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan pembagian tugas sudah ada), Pertemuan (belum rutin, belum ada rencana kerja, belum ada notulen), KIE dan Konseling (melakukan KIE kepada masyarakat), Pencatatan, Pendataan dan Pemetaan Sasaran (masih sederhana), Pelayanan Kegiatan (masih sederhana, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, minimal ada satu Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan salah satu dari upaya kemandirian atau tidak ada sama sekali).
Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Berkembang, adalah apabila Sub PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan sudah dilengkapi pembagian tugas yang jelas), Pertemuan (rutin bulanan, ada rencana kerja, ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, UPPKS, minimal ada dua Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan dua dari kegiatan upaya kemandirian).
Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Mandiri, adalah apabila Sub PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian
34
(kepengurusan sudah dilengkapi dengan seksi-seksi), Pertemuan (rutin bulanan, berjenjang, ada rencana kerja, dan ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R dan sudah ada tindak lanjut), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon mandiri, rujukan, UPPKS, minimal ada tiga Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan semua kegiatan upaya kemandirian).
Kelompok Keluarga Berencana (KB) adalah kelompok dalam wadah organisasi yang anggotanya terdiri dari seluruh keluarga dalam suatu Rukun Tetangga yang secara sukarela berperan aktif mengelola Program Keluarga Berencana Nasional di tingkat Rukun Tetangga. Adapun kegiatannya meliputi bidang Keluarga Berencana/Kesehatan Reproduksi (KB/KR) dan Keluarga Sejahtera/Pemberdayaan Keluarga (KS/PK).
Kelompok Keluarga Berencana (KB) Klasifikasi Dasar, adalah apabila Kelompok KB tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan pembagian tugas sudah ada), Pertemuan (belum rutin, belum ada rencana kerja, belum ada notulen), KIE dan Konseling (melakukan KIE kepada masyarakat), Pencatatan, Pendataan dan Pemetaan Sasaran (masih sederhana), Pelayanan Kegiatan (masih sederhana, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, minimal ada satu Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan salah satu dari upaya kemandirian atau tidak ada sama sekali). Kelompok Keluarga Berencana (KB) Klasifikasi Berkembang, adalah apabila Kelompok KB tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan sudah dilengkapi pembagian tugas yang jelas), Pertemuan (rutin bulanan, ada rencana kerja, ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, UPPKS, minimal ada satu Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan dua dari kegiatan upaya kemandirian). Kelompok Keluarga Berencana (KB) Klasifikasi Mandiri, adalah apabila Kelompok KB tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan sudah dilengkapi dengan seksi-seksi), Pertemuan (rutin bulanan, berjenjang, ada rencana kerja, dan ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R dan sudah ada tindak lanjut), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon mandiri, rujukan, UPPKS, minimal ada tiga atau empat Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan semua kegiatan upaya kemandirian).
Pengawas PLKB (PPLKB) adalah perangkat daerah yang tugasnya memonitor dan memfasilitasi PKB/PLKB yang berkedudukan di tingkat kecamatan.
PKB/PLKB adalah penyuluh KB atau Petugas Lapangan KB yang ditempatkan di desa binaannya untuk mencari peserta KB baru dan membina peserta KB aktif serta membuat laporan kepada Pengawas PLKB di tingkat kecamatan.
Petugas KB desa/kelurahan adalah petugas yang mengelola program KB di tingkat desa/kelurahan yang melaksanakan tugas dan fungsi sebagai PLKB, contohnya adalah PLKB honorer, PLKB kontrak, dan PLKB sukarelawan.
35
Kelompok Kegiatan (Poktan), adalah wadah kegiatan Program KB Nasional yang berkaitan dengan Penundaan Usia Perkawinan, Pengaturan Kelahiran, Pembinaan Ketahanan Keluarga dan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga.
Keluarga yang menjadi Sasaran Kelompok Kegiatan (Keluarga yang mempunyai anak Balita, Keluarga yang mempunyai anak Remaja, dan Keluarga yang mempunyai Lanjut Usia).
Keluarga yang mempunyai balita yang menjadi sasaran, adalah keluarga yang mempunyai anak usia di bawah lima thun (balita) yang ada di wilayah binaan kelompok BKB tersebut.
Catatan : Bila keluarga balita mempunyai anak balita lebih dari satu balita, maka yang hadir dalam pertemuan/penyuluhan dicatat hanya pada sasaran kelompok keluarga balita anak tertua, hal ini karena materi yang diikuti akan lebih lengkap, dan tidak mungkin akan hadir dalam waktu yang bersamaan dengan kelompok umur anak lainnya. (masuk dalam tata cara pengisian formulir).
a. Keluarga yang mempunyai remaja yang menjadi sasaran, adalah keluarga yang mempunyai anak usia sekolah dan atau remaja (usia anak 10-24 tahun) yang kegiatannya dilakukan oleh keluarga untuk meningkatkan bimbingan/pembinaan tumbuh kembang anak dan remaja secara baik dan terarah di wilayah binaan kelompok BKR tersebut.
b. Keluarga yang mempunyai lansia atau keluarga lansia yang menjadi sasaran, adalah keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang sudah memasuki usia lanjut (60 tahun ke atas), atau keluarga yang sudah lanjut (usia 60 tahun ke atas) yang ada di wilayah binaan kelompok BKL tersebut.
Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan wadah kegiatan beranggotakan keluarga yang memiliki anak balita untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan atau anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak balita melalui rangsangan/stimulasi baik secara fisik, mental, sosial emosional dan intelektualnya.
Kelompok BKB aktif, adalah kelompok BKB yang melakukan kegiatan pertemuan dengan menggunakan materi dan media dan menyampaikan hasil kegiatannya kepada PPKBD/Sub PPKBD pada pertemuan kader tingkat desa/kelurahan.
Anggota BKB aktif, adalah orangtua dan atau anggota keluarga lainnya yang hadir dalam pertemuan kelompok BKB.
Kelompok BKB Klasifikasi Dasar, adalah bila pengurusnya hanya ada 1 orang, jumlah kader 1 orang per kelompok umur dan yang sudah dilatih minimal 50%, cakupan kesertaan BKB 50%, pertemuan penyuluhan minimal 1 kali perbulan, Buku Petunjuk Teknis ada tapi belum lengkap, media penyuluhannya belum ada, media interaksi BKB belum dimanfaatkan,
36
pencatatan dan pelaporan belum dilaksanakan, pemantauan tumbuh kembang belum dilaksanakan, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain belum dilaksanakan, dan belum ada pendanaan dari masyarakat.
Kelompok BKB Klasifikasi Berkembang, adalah bila pengurusnya ada 1-2 orang, jumlah kader 1-2 orang per kelompok umur dan yang sudah dilatih 50-75%, cakupan kesertaan BKB 50-75%, pertemuan penyuluhan 1-2 kali per bulan, buku pedoman ada lengkap, media penyuluhannya ada, media interaksi BKB sudah dimanfaatkan, pencatatan dan pelaporan dilaksanakan belum teratur, pemantauan tumbuh kembang dilaksanakan dengan cara sendiri, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain ada rencana dilaksanakan, dan pendanaan dari masyarakat kurang dari 50.
Kelompok BKB Klasifikasi Paripurna, adalah bila pengurusnya ada lebih dari 2 orang, jumlah kader lebih dari 2 orang per kelompok umur dan yang sudah dilatih lebih dari 75%, cakupan kesertaan BKB lebih dari 75%, pertemuan penyuluhan lebih dari 2 kali per bulan, buku pedoman ada lengkap dan ada pengembangan, media penyuluhannya ada (baku dan pengembangan), media interaksi BKB sudah dimanfaatkan dan dikembangkannya, pencatatan dan pelaporan dilaksanakan dengan teratur, pemantauan tumbuh kembang dilaksanakan dengan KKA/Kartu Tumbuh Kembang, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain sudah dilaksanakan, dan pendanaan dari masyarakat lebih dari 50%. Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR), adalah wadah kegiatan beranggotakan keluarga yang memiliki anak dan remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan atau anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dan remaja melalui komunikasi efektif antara orang tua dan anak remaja. Kelompok BKR Aktif, adalah kelompok BKR yang melakukan kegiatan pertemuan dengan menggunakan materi dan media dan menyampaikan hasil kegiatannya kepada PPKBD/Sub PPKBD pada pertemuan kader tingkat desa/kelurahan.
Anggota BKR Aktif, adalah orangtua dan atau anggota keluarga lainnya yang hadir dalam pertemuan kelompok BKR.
Kelompok BKR Klasifikasi Dasar, adalah bila pengurusnya hanya ada 1 orang, jumlah kader/fasilitator 2 orang dan yang sudah dilatih minimal 50%, pertemuan penyuluhan minimal 1 kali perbulan tetapi belum ada konseling, pusat informasi dan pelayanan belum ada konselor, buku pedoman ada tapi belum lengkap, media penyuluhannya belum ada, media interaksi BKR belum dimanfaatkan, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain belum dilaksanakan, dan belum ada pendanaan dari masyarakat.
Kelompok BKR Klasifikasi Berkembang, adalah bila pengurusnya ada 1-2 orang, jumlah kader/fasilitator 3-4 orang dan yang sudah dilatih 50-75%, pertemuan penyuluhan 1-2 kali per bulan dan sudah ada konseling, pusat informasi dan pelayanan sudah ada konselor, buku pedoman ada lengkap, media penyuluhannya ada, media interaksi BKR sudah dimanfaatkan, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain belum dilaksanakan,