• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. Kuesioner mengenai Karakteristik anak (jenis kelamin, umur, kelas) serta pertanyaan tentang anak yang membawa bekal makanan dan yang tidak membawa bekal.

8. Aplikasi WHO Antroplus 9. Aplikasi NutriSurvei

Metode Analisis Data

Setelah data semua terkumpul maka dilakukan analisis data univariat.

Analisis dilakukan pada setiap variabel dari hasil penelitian dengan mendeskripsikan setiap variabel penelitian. Kemudian data diolah dengan program komputer dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian data dianalisa secara deskriptif.

Hasil Penelitian

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Pada awalnya yaitu pada Tahun 1974 Kelurahan Tegal Sari Mandala II merupakan wilayah Kabupaten Deli Serdang. Kemudian pada Tahun 1975 kelurahan ini masuk dalam wilayah pemerintahan Kota Medan dan digabung dengan Kecamatan Medan Denai. Pada Tahun 1988, karena luasnya wilayah dan padatnya penduduk di Kecamatan Medan Denai, maka terjadinya pemekaran wilayah sehingga Kecamatan Medan Denai terbagi menjadi 3 kelurahan yaitu : Kelurahan Tegal Sari Mandala I, Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kelurahan Tegal Sari Mandala III. Sejak itulah terbentuk Kelurahan Tegal Sari Mandala II yang merupakan salah satu dari tiga kelurahan di wilayah kerja Kecamatan Medan Denai. Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Tegal Sari Mandala II adalah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kampung Bantan, Kecamatan Medan Tembung.

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Tegal Sari Mandala III.

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Kenangan Baru, Kecamatan Percut SeI Tuan.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Tegal Sari Mandala I.

Dalam rangka membantu dan menyukseskan tugas-tugas kepala kelurahan, dimana kepala kelurahan dan perangkatnya adalah penanggung jawab dan penyelenggara dibidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan termasuk pembinaan ketentraman ketrtiban, maka wilayah Kelurahan Tegal Sari

Mandala II dibagi menjadi lima belas (15) lingkungan, yang masing-masing lingkungan dipimpin oleh seorang kepala lingkungan.

Gambaran Karakteristik Ibu

Berdasarkan hasil penelitian dari 42 responden, maka diperoleh karakteristik responden berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan keluarga. Umur ibu terbanyak yaitu usia 33 tahun (16,7%) dan yang terendah adalah kelompok umur 28 tahun (7,1%). Pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh ibu adalah tamat SMA dengan jumlah 28 orang (66,7%) dan yang tamat SMP 12 orang sebanyak (28,6%) adalah tamat SD dengan jumlah 2 orang (7,1%).

Sedangkan pekerjaan ibu terbanyak yaitu sebagai ibu rumah tangga sebanyak 39 orang ibu rumah tangga yaitu (92,9%). Tingkat pendapatan keluarga yang paling banyak berkisaran antara > 1.000.000 sebanyak (78,6%) dan <1.500.000,- (21,4%).

Tabel 2

Distribusi Karakteristik Responden di Kelurahan Tegal Sari Mandala II

Karakteritik Responden n=42 %

Usia ibu (tahun)

28

Gambaran Karakteristik Balita

Pada penelitian ini karakteristik balita yang dilihat meliputi usia, jenis kelamin, berat badan, dan panjang badan balita. Berdasarkan tabel 4 karakteristik balita yang dilihat meliputi usia dan jenis kelamin balita. Usia balita yang dimiliki responden dalam penelitian ini sebagian besar berumur antara 12-24 bulan sebanyak 22 balita (52,4%) dan usia balita 25-59 bulan sebanyak 20 balita (47,6%) dengan jenis kelamin laki-laki yang berjumlah 23 balita (54,8%) dan jenis kelamin perempuan yang berjumlah 19 balita (45,2%).

Tabel 3

Distribusi Karakteristik Balita Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin di Kelurahan Tegal Sari Mandala II

Karakteristik Balita n=42 %

Usia Balita (Bulan)

12-24 Bulan 22 54,8

25-59 Bulan 20 45,2

Jenis Kelamin Balita

Laki-Laki 23 54,8

Perempuan 19 45,2

Asupan Zat Gizi

Pada penelitian ini asupan energi, protein, lemaak berdasarkan empat klasifikasi yaitu, baik, sedang, kurang dan defisit. Berdasarkan tabel 4 asupan energi pada anak klasifikasi kurang sebanyak 9 balita (21,4%), baik 33 balita (78,6%), asupan protein klasifikasi kurang 12 balita (28,6%), baik 30 balita (71,4%) dan asupan lemak kurang 13 balita (31%), baik 29 balita (69%). Asupan zat gizi terbanyak pada kategori baik.

Tabel 4

Distribusi Asupan Zat Gizi di Kelurahan Tegal Sari Mandala II

Asupan Zat Gizi n=42 % besar balita menderita diare dalam tiga bulan terakhir. Sebanyak 12 balita (28,6%) dan balita yang tidak menderita diare sebanyak 30 balita (71,4%).

Tabel 5

Status gizi balita dibagi menjadi 3 indeks yaitu BB/U, TB/U, BB/TB.

Status gizi balita. Dari tabel 6 dapat indeks BB/U diketahui bahwa sebagian besar balita berada pada kategori status gizi kurang sebanyak 6 balita (14,3%), balita pada kategori status gizi baik sebanyak 36 balita (85,7%), dan balita tidak ada balita gizi lebih, indeks TB/U balita berada pada kategori status

30

sebanyak 29 balita (69,0%), dan balita pada kategori status gizi tinggi sebanyak 2 balita (4,8%) berdasarkan indeks BB/TB bahwa sebagian besar balita berada pada kategori status gizi kurus sebanyak 10 balita (23,8%), balita pada kategori status gizi normal sebanyak 30 (71,4%), dan balita yang memiliki status gizi gemuk sebanyak 2 balita (4,8%).

Tabel 6

Distribusi Status Gizi Anak 12-59 Bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala II

Status Gizi n=42 %

Distribusi status gizi berdasarkan asupan zat gizi. Berdasarkan tabel 7 dapat menjelaskan hubungan kecukupan energi dengan status gizi anak berdasarkan indeks BB/U. Diperoleh bahwa terdapat 6 anak memiliki kecukupan energi kurang dengan status gizi kurang (66,7%), dan terdapat 33 anak memiliki kecukupan energi baik dengan status gizi baik (100%), kecukupan protein diperoleh bahwa terdapat 5 anak memiliki kecukupan protein kurang dengan status gizi kurang (41,7%), 7 anak kecukupan energi kurang dengan status gizi baik (58,3%) dan 29 anak dengan status gizi baik asupa protein baik (96,7%), dan

asupan lemak kurang dengan status gizi kurang (46,2%), sedang Terdapat 7 anak memiliki kecukupan lemak kurang dengan status gizi baik (53,8%), 29 anak asupan lemaki baik dengan status gizi baik.

Tabel 7

Distribusi Asupan Zat Gizi Berdasarkan Status Gizi BB/U Asupan Zat Kejadian Diare Berdasarkan Status Gizi Balita

Tabulasi siang kejadian diare berdasarkan status gizi balita dibagi menjadi tiga berdasarkan indeks BB/U, TB/U, dan BB/TB.

Kejadian diare berdasarkan status gizi balita. Dari tabel 8 diketahui balita yang terkena diare mempunyai status gizi pada balita kategori status gizi baik yaitu sebanyak 6 balita (16,7%), dan pada kategori status kurang baik yaitu sebanyak 6 balita (50%).

32

Tabel 8

Distribusi Kejadian Diare Berdasarkan Status Gizi BB/U pada Balita 12-59 Bulan

Diare

BB/U

Total Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih

n % n % n % n %

Ya 6 100 6 16,7 0 0,0 12 100,0

Tidak - - 30 83,3 0 0,0 30 100,0

Distribusi kejadian diare berdasarkan status gizi balita menurut TB/U. Dari tabel 9 diketahui balita yang terkena diare mempunyai status gizi menurut TB/U, pada balita kategori status gizi normal yaitu sebanyak 6 balita (20,7%) dan pada kategori status gizi pendek yaitu sebanyak 6 balita (54,5).

Tabel 9

Distribusi Status Gizi Berdasarkan Kejadian Diare pada Balita 12-59 Bulan

Diare

TB/U

Total

Pendek Normal Tinggi

n % n % n % n %

Ya 6 54,5 6 20,7 0 0,0 12 100,0

Tidak 5 45,5 23 79,3 2 100 30 100,0

Distribusi kejadian diare berdasarkan status gizi balita menurut BB/TB. Dari tabel 10 diketahui balita yang terkena diare mempunyai status gizi menurut BB/TB pada balita kategori status gizi normal yaitu sebanyak 6 balita (20%) dan pada kategori status gizi kurus yaitu sebanyak 6 balita (60%).

Tabel 10

Distribusi Status Gizi BB/TB Berdasarkan Diare di Kelurahan Tegal Sari Mandala II

Pembahasan

Asupan Zat Gizi

Pada masa ini balita perlu memperoleh zat gizi dari dari makanan sehari-hari dalam jumlah yang tepat dan kualitas yang baik. Makanan balita seharusnya berpedoman pada gizi seimbang, serta harus memenuhi standar kecukupan gizi balita. Gizi seimbang merupakan keadaan yang menjamin tubuh memperoleh makanan yang cukup dan mengandunng semua zat gzi dalam jumlah yang dibutuhkan (Adriani dan Bambang, 2012).

Berdasarkan hasil analisis Lutfiana (2014) diketahui ada hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan status gizi balita. Dari 21 balita yang tingkat konsumsi protein kurang, 20 (95,2%) balita mengalami gizi kurang. Sedangkan dari 29 balita yang tingkat konsumsi protein baik, 2 (6,9%) balita mengalami gizi kurang. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Lutfiana (2012) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan bermakna dari konsumsi protein dengan status gizi. Namun hasil penelitian ini senada dengan hasil penelitian Firdaus (2003), Wage (2007) asupan energi dan protein kurang (34,8% dan 31,5%).

Hasil penelitian ini didapatkan konsumsi energi berdasarkan klasifikasi asupan energi berdasarkan empat klasifikasi yaitu, kurang, baik dan lebih asupan energi pada anak klasifikasi kurang sebanyak 9 balita (21,4%), baik 33 balita (78,6%). Di pemukiman pinggiran rel kereta api balita masih terdapat konsumsi energi kurang pada balita karena rendahnya pengetahuan ibu mengenai gizi

34

balita 0-6 bulan sebesar 550 kkal, 7-11 bulan sebesar 725 kkal, 1- 3 tahun sebesar 1125 kkal dan 4-6 tahuan sebesar 1600 kkal. Asupan responden baik, jika tingkat konsumsi energi mencapai sebesar 80hingga 100% dari total kebutuhan berdasarkan AKG.

Berdasarkan hasil penelitian Hanum pada Tahun 2014 pada balita 6-59 bulan secara keseluruhan, proporsi umur anak tersebar hampir merata dengan terbanyak pada umur 48-59 bulan (22.2%) anak stunting lebih banyak berumur 48-59 bulan (29.8%) sedangkan anak normal lebih banyak berumur 6-11 bulan (37.2%). Hal ini mengindikasikan bertambahnya umur anak, maka akan semakin jauh dari pertum-buhan linier normal. Kondisi ini diduga disebabkan oleh semakin tinggi usia anak maka kebutuhan energi dan zat gizi juga semakin meningkat.

Pertumbuhan anak semakin menyimpang dari normal dengan bertambahnya umur jika penyediaan makanan (kuantitas maupun kualitas) tidak memadai (Hanum, 2014).

Hasil penelitian Purwaningrum (2012) menunjukkan bahwa: Ada hubungan antara asupan makanan (energi dan protein) dengan statusgizi balita (p value = 0,00 pada α = 0,05) dan kemungkinan untuk mendapatkan status gizi tidak

normal artinya balita yang mendapatkan asupan makanan (energi) kurang, mempunyai peluang mengalami status gizi tidak normal atau salah sebesar 2,872 kali lebih besar dibandingkan dengan balita yang mendapatkan asupan makanan (energi) cukup, dan secara statistik bermakna; ada hubungan antara status Kesadaran Gizi Keluarga (KGK) dengan status gizi balita (p-value =0,03 pada α=0,05) dan kemungkinan untuk mendapatkan status gizi tidak normal artinya

balita yang tinggal bersama dengan keluarga berstatus belum KGK memiliki peluang mengalami status gizi tidak normal atau salah sebesar 1,695 kali lebih besar dibandingkan balita yang tinggal bersama dengan keluarga berstatus sudah KGK.

Asupan protein pada anak balita gizi kurang lebih banyak bersumber dari protein nabati jenis serealia, diikuti oleh protein hewani seperti ikan, telur, dan daging ayam. Hal tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan pada anak balita gizi baik yang mayoritas mengkonsumsi protein jenis serealiadan ikan (Ernawati, 2016). Asupan protein pada balita klasifikasi kurang 12 balita (28,6%), baik 30 balita (71,4%). Balita pemukiman pinggiran rel kereta api sumber protein lebih banyak Berdasarkan AKG balita 0-6 bulan 12 g, balita 7-11 bulan 18 g, 1-3 than 26 g dan 4-6 tahun 35g. Berdasarkan hasil recall 24 jam selama 2 kali secara tidak berturut-turut dilakukan terhadap responden, tingkat konsumsi protein biasanya didapatkan dari lauk, baik hewani maupun nabati. Sebagian besar sumber protein yang dikonsumsi responden adalah tahu, tempe, telur, ikan bandeng, dan susu.

Protein hewani lebih baik dibandingkan protein nabati. Masa pertumbuhan memerlukan zat-zat gizi lebih banyak, yang digunakan untuk proses pertumbuhan dimana fungsi protein untuk memperbaiki sel tubuh yang rusak, pertumbuhan, dan cadangan energi bila terjadi kekurangan (Sandjaja, 2010)

Menurut Aini (2013) Balita akan tumbuh secara optimal jika asupan makanannya dalam jumlah cukup bergizi dan seimbang. hal ini termasuk dalam kebiasaan ibu dalam mengolah makanan sehingg balitanya tidak terbiasa memakan makanan yang diolah dengan cara berbeda dan tanpa

36

mempertimbangkan nilai gizi dan lebih menuruti makanan yang disukai balitanya yang penting balita mau makan, merasa kenyang dan tidak jatuh sakit.

Hasil penelitian didapatkan asupan energi pada balita Klasifikasi kurang sebanyak 13 balita (31%), baik 29 balita (69%). Menurut AKG (2013) kebutuhan asupan energi pada balita 0-6 bulan sebesar 34 g, 7-11 bulan sebesar 36 g, 1- 3 tahun sebesar 44 gdan 4-6 tahuan sebesar 62 g. Asupan responden baik, jika tingkat konsumsi energi mencapai sebesar 80 hingga 100 % dari total kebutuhan berdasarkan AKG.

Status Gizi Balita

Status gizi berdasarkan BB/U. Terdapat status gizi kurang sebanyak 6 balita (14,3%), balita pada kategori status gizi baik sebanyak 36 balita (85,7%), dan balita tidak ada balita gizi lebih. Hasil penelitian Firmana (2015) menunjukan masih ditemukan anak balita yang berstatus gizi kurang yaitu sebesar 36,6%.

Penelitian yang dilakukan oleh Supadi di Puskesmas Wonosalam II Kabupaten Demak mendapatkan hasil yang tidak jauh berbeda yaitu sebesar 39,2% anak balita di daerah tersebut mengalami status gizi kurang. Apabila kedua penelitian dibandingkan, terlihat bahwa persentase kejadian status gizi kurang pada penelitian Supadi masih lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena pada penelitian tersebut didapatkan sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Pendidikan yang rendah mempengaruhi tingkat pemahaman terhadap pengasuhan anak termasuk dalam hal perawatan, pemberian makanan dan bimbingan pada anak yang akan berdampak pada kesehatan dan gizi yang semakin menurun (Firmana, 2015)

Status gizi balita TB/U. Berdasarkan hasil penelitian Ernawati, (2016) Anak stunting dan gizi kurang banyak mengonsumsi sumber protein dari serealia namun kurang mengonsumsi dari bahan makanan hewani seperti ikan, dan susu serta olahannya, Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa sebagian balita berada pada kategori status gizi pendek sebanyak 11 balita (26,2%), balita pada kategori status gizi normal sebanyak 29 balita (69,0%), dan balita pada kategori status gizi tinggi sebanyak 2 balita (4,8%). Rendahnya tingkat pendapatan keluarga mempegaruhi asupan protein sehari-sehari di pemukiman pinggiran rel kereta api sehingga terapat balita yang kategori pendek.

Status gizi balita BB/TB. Berdasarkan hasil penelitia Risa (2015) didapatkan hubungan bermakna antara asupan energi dengan status gizi. Hal ini dilihat dari penilaian status gizi berdasarkan indeks BB/U. Tidak terdapat hubungan bermakna antara asupan energi dengan status gizi batita berdasarkan indeks IMT/U, TB/U, dan BB/TB. Hasil penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar balita berada pada kategori status gizi kurus sebanyak 10 balita (23,8%), balita pada kategori status gizi normal sebanyak 30 (71,4%), dan balita yang memiliki status gizi gemuk sebanyak 2 balita (4,8%)

Kejadian Diare pada Balita

Berdasarkan hasil diare yang diperoleh dengan cara menggunkan teknik total sampling yaitu dengan cara memilih rumah-rumah yang akan di datangi di

setiap lingkungan XV yang berjumlah 42, dan balita yang menjadi sampel yang berusia 12-59 bulan dimana pada usia ini balita lebih rentan menderita penyakit infeksi karena sudah mulai bergerak aktif untuk bermain, sehingga sangat mudah

38

terkontaminasi oleh kotoran. Menurut Pudjiadi (2014) juga menjelaskan bahwa anak 1-5 tahun sudah mulai memiliki kebiasaan membeli makanan jajanan yang belum tentu terjaga kebersihannya, baik dalam pengolahan maupun penyajiannya, sehingga sangat mudah terkontaminasi oleh kuman yang bisa menyebabkan diare.

Jumlah sampel menggunakan total sampling balita, dan balita yang pernah terkena diare 3 bulan terakhir dengan jumlah 12 balita (28,6%) dan balita yang tidak pernah terkena diare dengan jumlah 30 balita (71,4%).

Tabulasi silang kejadian diare berdasarkan status gizi balita menurut BB/U. Kejadian diare berdasarkan indeks BB/U di peroleh balita yang terkena diare memiliki status gizi baik, sebanyak 16,7% dan memiliki status gizi kurang, sebanyak 100%.

Tabulasi silang kejadian diare berdasarkan status gizi balita menurut TB/U. Kejadian diare berdasarkan TB/U di peroleh balita yang terkena diare memiliki status gizi normal, sebanyak 20,7% dan memiliki status gizi pendek sebanyak 54,5%. Masalah gizi anak balita salah satunya adalah stunting.

Prevalensi stunting anak balita Indonesia pada Tahun 2010 adalah 35,7%, meningkat pada Tahun 2013 menjadi 37% masuk dalam kategori tinggi (Riskesdes, 2013).

Tabulasi silang kejadian diare berdasarkan status gizi balita menurut BB/TB. Kejadian diare berdasarkan BB/TB di peroleh balita yang terkena diare dengan status normal, sebanyak 20% dan dengan status gizi kurus, sebanyak 60%, sedangkan balita yang tidak terkena diare juga memiliki status gizi normal, sebanyk 80%.

Penelitian ini menunjukkan bahwa balita yang menggalami diare memiliki status gizi baik. Penelitian yang dilakukan oleh Agus (2009) walaupun hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang memiliki status gizi baik lebih banyak menggalami diare. Dan keadaan gizi kurang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit diare terutama pada balita, karena semakin buruk gizi balita akan mempermudah balita menderita penyakit infeksi.

Beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian diare diantaranya infeksi virus, malabsorpsi, alergi, keracunan makanan, daya tahan tubuh menurun, faktor prilaku tidak menerapkan kebiasaan mencuci tangan,penyimpanan makanan yang tidak higienis, menggunakan botol susu yang tidak dicuci dengan benar, dan faktor lingkungan yaitu ketersediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya ketersediaan jamban, kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk (Departemen Kesehatan RI, 2007).

Pada penelitian ini diperoleh sebesar (52,7%) ibu tidak mencuci tangan pakai sabun sebelum mengolah dan memberikan balita makan. kebiasaan ibu tidak mencuci tangan pakai sabun dengan alasan lupa atau terbiasa tidak menggunakan sabun melainkan air saja sudah cukup. Seperti disebut diatas faktor perilaku, faktor perilaku merupakan salah satu penyebab terjadinya diare pada balita.

Sejalan dengan penelitian Sharfina (2015), diperoleh ada pengaruh antara perilaku cuci tangan pakai sabun dengan kejadian diare. Diare pada balita juga dapat terjadi akibat lingkungan pemukiman yang padat dan kumuh. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di setiap lingkungan kelurahan Tegal Sari Mandala II memiliki lingkungan yang terbilang kotor diakibatkan parit besar dibawah

40

rumah sebagai tempat pembuangan kotoran ternak dan ligkugan rumah yang terdapat tumpukan pelastik, botol dan barang barang bekas lainnya. Sampah masih merupkan masalah karena telah mencemari sungai dan lokasi tempat tinggal masyarakat. Rumah penduduk dibangun dengan semi permanen dengan ukuran relatif kecil. Hal ini lebih memungkinakan balita untuk terkena diare dikarena lingkungan yang dapat dikatakan kumuh serta penyakit-penyakit lainnya seperti ISPA, penyakit kulit serta rendahnya pemenuhan kebutuhan pokok yang mencakup masalah gizi yang belum lengkap dan penyakit tersebut sering terjadi pada golongan balita. Penyebab diare yang lainnya berupa membiarkan balitanya jajan diluar rumah seperti bakso bakar, tahu bakar, sosis bakar dan gorengan-gorengan yang kemungkinan makanan tersebut terkontaminasi bakteri memalalui udara dan sekitar lingkungannya sebagaimana saat peneliti melakukan survei di setiap lingkungan dan ditemukannya kondisi yang buruk di lingkungan XV Kelurahan Tegal Sari Mandala II.

Status Gizi Balita 12-59 Bulan Berdasarkan Kejadian Diare

Gizi sangat dibutuhkan pada masa pertumbuhan maka dari itu orang tua terutama ibu harus memperhatikan dan menyedikan makanan yang bergizi dan tidak hanya itu saja ibu juga harus memperhatikan kebersihan dari bahan makanan yang diolah, kebersihan tempat dan yang lebih penting diperhatikan yaitu personal hygiene ibunya sendiri, terkadang hal seperti itu kurang di perhatihkan.

Balita yang menggalami status gizi kurang semua balita yang mengalami diare yaitu 6 balita (100%) dibandingkan dengan gizi baik yang tidak diare 30 balita (83,3%) dan yang gizi baik juga mengalami diare sebanyak 6 balita

(16,7%). Dapat disimpulkan bahwa semua anak dengan gizi kurang sangat rentan terhadap penyakit infeksi seperti diare, dan dapat terjadinya berulang.

Keterbatasan Penelitian

Adapun keterbatasan dalam penelitian ini mengenai gambaran konsumsi pangan, diare dan status gizi pada anak di pemukiman pinggiran rel kereta api Kecamatan Medan Denai yaitu sulitnya untuk menentukan waktu wawancara kepada responden dikarenakan menyita waktu mereka.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka diperoleh beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 6 balita gizi kurang (14,3%) dari 42 balit, balita pendek 11 (26,2) dan kurus 10 balita yaitu (23,8%) dikelurahan Tegal Sari Mandala II frekuensi diare yang jarang, durasi diare singkat, serta pemberian tindakan penanggulangan yang tepat menyebabkan diare yang terjadi tidak mempengaruhi status gizi balita secara bermakna.

2. Angka kejadian diare pada balita 12-59 bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala II Kecamatan Medan denai dalam 1 bulan terakhir yakni pada, usia ini balita yaitu 12 balita (28,6%) balita lebih rentan menderita penyakit infeksi karena sudah mulai bergerak aktif untuk bermain, sehingga sangat mudah terkontaminasi oleh kotoran dan balita yang sudah mengerti membeli jajanan yang belum diketahui kebersihannya.

Saran

1. Disarankan kepada ibu agar lebih memperhatikan pola pengasuhan makan yang baik, dalam mengolah dan menyajikan makanan yang dikonsumsi balita sehari-hari. Serta diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan para ibu dan dapat memperbaiki sikap dan tindakan dalam pemberian makan balita.

2. Kepada tenaga kesehatan agar memberikan penyuluhan pada ibu tentang cara mencegah terjadinya diare dan memberikan pemahaman tentang akibat dan kerugian apabila balita menderita diare.

Daftar Pustaka

Andayasari, L. (2011). Kajian epidemiologi penyakit infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh amuba di Indonesia. Media Litbang Kesehatan, 21(1), 1-9. Diakses dari https://media.neliti.com/media/publications/150548-ID-kajian-epidemiologi-penyakit-infeksi-sal.pdf

Amin, L. Z. (2015). Tatalaksana diare akut. Continuing Medical Education, 42(7), 504–508. Diakses dari https://www.academia.edu/27677655/

Almatsier, S. (2001). Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta: PT Grammedia Pustaka Utama.

Berhe, H., Mihret, A., & Yitayih, G. (2016). Prevalence of diarrhea and associated factors among children under-five years of Age in Enderta Woreda, Tigray, Northern Ethiopia 2014. International Journal of Therapeutic, 31(1), 32-37.

Diakses dari https://www.ijcmph.com/index.php/ijcmph/article/view/4973 Cakrawati., Mustika, N. H., & Dewi. (2012). Bahan pangan, gizi, dan kesehatan.

Bandung : Alfabeta.

Dinas Kesehatan Kota Medan. (2016). Profil Kesehatan Kota Medan Tahun 2016.

Diakses dari http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/

PROFIL_KAB_KOTA_2016/1275_Sumut_Kota_Medan_2016.pdf

Ernawati, F. (2016). Gambaran konsumsi protein nabati dan hewani pada anak balita stunting dan gizi kurang di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 39(2), 95-102. Diakses dari https://www.neliti.com/publications/223596/gambaran-konsumsi-protein-nabati-dan-hewani-pada-anak-balita-stunting-dan-gizi-k

Hartati, S., & Noraliza (2018). Faktor yang mempengaruhi kejadian diare pada balita diwilayah kerja puskesmas Rejosari Pekan Baru. Jurnal Endurance, 3(2), 400-407. Diakses dari http://ejournal.kopertis10.or.id/index.php

Hidayat, A. A. (2008). Pengertian ilmu kesehatan anak untuk pendidikan kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Prevalensi Penyakit Menular. Diakses dari http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%

2 02013.pdf

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Diakses dari http://www.depkes.go.id/resources/download/general/HasilRiskesdas2013.p

Dokumen terkait