Lampiran : Teks Halaman
1. Sebaran tanaman ubikayu di Indonesia ... 101 2. Luas panen, produksi, dan produktivitas ubikayu di Indonesia ... 102 3. Luas panen tanaman ubikayu (ha) di 10 provinsi di Indonesia tahun
2005-2009 ... 102 4. Produksi ubikayu (ton) di 10 provinsi di Indonesia tahun 2005-2009 .... 102 5. Produktivitas ubikayu (kuintal/ha) di 10 provinsi di Indonesia tahun
2005-2009 ... 103 6. Perkembangan luas panen, produksi, dan produktivitas ubikayu di
Propinsi Lampung tahun 2004-2008. ... 103 7. Karakteristik beberapa varietas unggul ubikayu... 104
8. Daftar perusahaan industri tapioka di Provinsi Lampung ... 106 9. Evaluasi proses produksi industri tapioka ... 108 10. Estimasi biaya instalasi biogas industri tapioka ... 110 11. Perhitungan reduksi CO2 ... 111 12. IPCC Guidelines for national greenhouse gas inventories ... 112 13. Wawancara dengan petugas quality control dalam tahapan proses produksi
tapioka ... 113 14. Wawancara dengan salah satu manager pabrik mengenai penentuan kadar
pati dalam ubikayu ... 113 15. Pengambilan sampel air limbah dari separator ... 114 16. Air limbah yang berasal dari pencucian ubikayu... 114 17. Pengambilan air limbah di IPAL industri tapioka ... 115 18. Pengukuran di lokasi (temperatur, pH dan DO) bersama Dr. Ir. Udin
Hasanudin, M.T. ... 115 19. Kunjungan Prof. Dr. Ir. H.M.H. Bintoro, M.Agr. ke lokasi salah satu industri
tapioka ... 116 20. Limbah padat yang cukup melimpah masuk ke kolam penampungan air
limbah ... 116 21. Limbah onggok yang dihasilkan dari proses produksi industri tapioka ... 117 22. Salah satu IPAL industri tapioka ... 117 23. Salah satu outlet IPAL akhir industri tapioka ... 118 24. Spektrofotometer HACH 4000C untuk mengukur COD ... 118 25. Digestion reaktor DRB 200 untuk pemanasan COD ... 119 26. Inkubator dan furnace untuk analisa TS dan VTS ... 119 27. Desikator dan timbangan analitik 4 digit ... 119 28. Gas chromatography dan seperangkat PC untuk analisa konsentrasi biogas ... 120 29. Reagen COD yang telah diisi sampel air limbah ... 120 30. Hasil biogas yang dimanfaatkan untuk memasak ... 121 31. Generator biogas dengan kapasitas 3.2 MW ... 121
P
PEENNDDAAHHUULLUUAANN
Latar Belakang
Industri tapioka merupakan salah satu jenis industri agro ( Agro-based-industri) berbahan baku ubikayu/singkong yang banyak tersebar di Indonesia baik skala kecil, skala menengah, maupun skala besar.
Provinsi Lampung merupakan salah satu produsen ubikayu di Indonesia dengan total luas panen pada tahun 2009 seluas 320.344 ha, tingkat produktivitas rata-rata sebesar 24,61 ton/ha dan total produksi sebesar 7.885.116 ton (BPS, 2010). Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang memiliki peranan penting dalam sistem ekonomi daerah (Direktorat Jenderal PPHP, 2006).
Produksi ubikayu yang sangat tinggi telah mendorong berdirinya lebih dari 65 industri tapioka di Propinsi Lampung. Industri tapioka dalam kegiatan produksinya memiliki rendemen berkisar 20-25% b/b dari bobot ubikayu yang diolah. Industri tapioka selalu menghasilkan limbah, baik berupa limbah padat, cair maupun gas yang sering menimbulkan bau yang tidak dikehendaki. Ketiga jenis limbah ini memiliki karakteristik dan beban pencemaran yang berbeda.
Limbah padat berupa kulit, ampas (onggok), dan lindur (elot). Kandungan air yang cukup tinggi dalam limbah padat tapioka merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan proses pembusukan limbah padat menjadi lebih cepat dan proses pembusukan ini dapat menimbulkan masalah bau busuk pada limbah padat tapioka.
Air limbah industri tapioka berasal dari proses pencucian bahan baku (ubikayu), dan ekstraksi. Limbah organik tersebut bila dibuang langsung ke perairan umum akan menimbulkan perubahan warna air menjadi kehitaman, penurunan kadar oksigen dalam air dan menimbulkan bau busuk. Air limbah yang dihasilkan industri tapioka sekitar 4-7 m3/ton ubikayu yang diolah dengan konsentrasi bahan organik yang sangat tinggi.
Sistem pengolahan air limbah tapioka saat ini banyak menggunakan kolam-kolam anaerobik yang memanfaatkan mikroba untuk menguraikan bahan-bahan organik dalam air limbah tersebut. Sistem kolam anaerobik selain memerlukan
waktu tinggal yang lama, juga dinilai kurang ekonomis karena memerlukan areal pengolahan air limbah yang cukup luas dan tidak menghasilkan sesuatu yang ber-nilai ekonomi. Penerapan sistem kolam anaerobik dalam pengolahan air limbah tapioka akan menghasilkan gas berupa metana (CH4). Gas metana merupakan gas rumah kaca yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global (Rhode, 1990). Gas metana akan menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan panas bumi meningkat.
Adanya pencemaran udara, yang berupa bau tidak sedap di dekat lokasi industri tapioka, banyak disebabkan oleh membusuknya limbah padat maupun air limbah yang tidak dikelola dengan cepat dan tepat, sehingga terjadi pembusukan yang tidak dikehendaki (Balitbang Industri, 2007). Untuk itu sangatlah perlu kiranya dikembangkan metode pengelolaan limbah yang lebih baik dan ramah lingkungan sehingga akan memberikan nilai ekonomis yang lebih besar.
Tindakan pengelolaan lingkungan dalam sistem pengelolaan lingkungan (environment protection agency) diprioritaskan pada usaha pengurangan limbah pada sumbernya. Pendekatan tersebut memunculkan konsep produksi bersih. Produksi bersih merupakan suatu pendekatan yang mengarah kepada peningkatan efisiensi proses produksi, penggunaan teknik-teknik daur ulang dan pakai ulang, kemungkinan substitusi bahan baku dengan yang lebih ekonomis dan tidak ber-bahaya serta perbaikan sistem operasi dan prosedur kerja. Upaya-upaya yang di-lakukan pada penerapan produksi bersih, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks, yaitu good housekeeping, optimasi proses, substitusi bahan baku, teknologi baru, dan desain produk baru.
Kerangka Pemikiran
Kegiatan industri tapioka yang ada saat ini sering menimbulkan masalah lingkungan sehingga sudah selayaknya diperhatikan dan dikendalikan. Jika tidak ditangani secara serius, maka limbah industri tapioka yang terdiri atas limbah padat, cair dan gas, berpotensi besar mencemari lingkungan.
Upaya-upaya nyata sebagai pelaksanaan prinsip pengembangan industri yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan harus menjadi perhatian khusus dalam melakukan kegiatan industri. Pengendalian tersebut sudah harus dimulai dari tahap pemilihan bahan baku hingga akhir proses produksi. Sehubungan dengan itu, dibutuhkan informasi pemilihan bahan baku yang bersih dari bahan pencemar, teknologi proses yang bersih dan mampu menghasilkan limbah yang sedikit, efisiensi proses yang tinggi, serta didukung teknologi daur ulang dan penanganan limbah yang baik. Hal tersebut merupakan salah satu butir konsep
cleaner production/produksi bersih. Produksi bersih merupakan konsep strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang diterapkan secara terus-menerus pada proses produksi, produk dan jasa untuk meminimalkan terjadinya resiko terhadap manusia dan lingkungan (UNEP, 2003).
Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian
Upaya pokok dari penerapan konsep produksi bersih adalah upaya men-cegah, mengurangi, dan mengeliminasi limbah yang dihasilkan dengan cara sebagai berikut: (1) menghitung penggunaan bahan-bahan kimia dan bahan-bahan lainnya serta jumlah limbah yang dihasilkan; (2) mengidentifikasi penyebab dihasilkannya limbah; (3) mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan upaya untuk mengurangi limbah; (4) mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan yang layak; dan (5) meng-implementasikan kemungkinan terbaik dari penerapan produksi bersih. Keluaran
Ubikayu Pabrik Tapioka Tapioka Limbah Masukan: Air yg diperlukan? Energi yg diperlukan Produksi bersih QuickScan Profound Analysis Sintesis Kajian yg dilakukan Meminimalisasi Global Warming? Pencemaran? E fis ie ns i Proses Pengolahan
yang diharapkan dari implementasi produksi bersih adalah terjadinya peningkatan efisiensi, kinerja lingkungan, dan keunggulan kompetitif. Kerangka pemikiran penelitian ini disajikan pada Gambar 1.
P
Peerruummuussaann MMaassaallaahh
Tapioka yang dihasilkan dari proses produksi ubikayu memiliki rendemen berkisar 20-25% b/b dari bobot ubikayu yang diolah. Selebihnya industri ini juga menghasilkan limbah padat,air limbah dan gas.
Limbah padat yang dihasilkan berupa kotoran kulit ubikayu, ampas limbah yang dihasilkan industri tapioka berkisar 4-7 m3/ton ubikayu yang diolah dengan konsentrasi bahan organik yang sangat tinggi dengan nilai COD mencapai 18.000-25.000 mg/L, sehingga perlu dilakukan penanganan serius dalam menurunkan jumlah dan konsentrasi limbah yang dihasilkan.
Sistem pengolahan air limbah industri tapioka yang saat ini diterapkan yaitu pengolahan limbah biologis secara anaerobik terbuka (lagoon/pond) yang dapat menghasilkan gas karbon diokasida (CO2), metana (CH4), amoniak (NH2), hidro-gen sulfat (H2S), dan senyawa lainnya. Sistem kolam anaerobik disamping merlukan waktu tinggal yang lama, juga dinilai kurang ekonomis karena me-merlukan areal pengolahan air limbah yang cukup luas dan tidak menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Gas metana merupakan gas rumah kaca yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global (Rhode, 1990). Pemanasan global (global warming) merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari akan terperangkap dalam atmosfer bumi.
Gas metana (CH4) merupakan gas yang mudah terbakar (flammable gas)
sehingga merupakan salah satu sumber energi baru dan terbarukan. Pemanfaatan gas metana sebagai sumber energi dapat mengurangi dampak pemanasan global. Walaupun dalam pembakaran metana juga akan dihasilkan karbon dioksida, tetapi dampak karbon dioksida terhadap pemanasan global jauh lebih kecil, yaitu hanya 21 kali lebih kecil dibandingkan dampak gas metana (Rodhe, 1990).
Gambar 2. Perumusan Masalah
Selain bersifat merusak lingkungan, gas metana dikenal umum berpotensi sebagai bahan bakar alternatif dengan nilai kalor 35,9 MJ/m3 CH
4 (Nakamura, 2006). Hal ini ditunjukkan dengan telah dimanfaatkannya gas metana sebagai bahan bakar alternatif antara lain dari pengolahan kotoran ternak, baik sapi mau-pun babi. Pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari air limbah agroindustri sebagai sumber energi alternatif belum banyak dikaji. Pemanfaatan gas metana yang terbentuk pada kolam anaerobik IPAL agroindustri tapioka akan memberi-kan manfaat yaitu menurunnya nilai COD air limbah sehingga dapat memenuhi baku mutu lingkungan, tersedianya energi alternatif, dan sekaligus berperan dalam mencegah pemanasan global dengan tidak terlepasnya gas metana ke udara.
Cleaner production atau produksi bersih adalah suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terintegrasi dan berkelanjutan untuk mencegah
INDUSTRI TAPIOKA
Air limbah Limbah Padat
(Kulit, Onggok, Elot)
Pencemaran Air Pencemaran Udara CO2 CH4 Global Warming TAPIOKA PRODUKSI BERSIH Preventif Integratif Berkelanjutan
menghitung penggunaan bahan serta limbah yang dihasilkan
mengidentifikasi penyebab dihasilkannya limbah
mengidentifikasi kemungkinan upaya mengurangi limbah
mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan yang layak
mengimplementasikan kemungkinan terbaik dari penerapan produksi bersih dan mengkaji penerapannya
MODEL PROSES PRODUKSI INDUSTRI TAPIOKA RAMAH LINGKUNGAN BERBASIS PRODUKSI BERSIH
Bahan Baku Ubikayu
dan/atau mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya. Obyek penelitian ini adalah pabrik tapioka yang mengolah ubikayu menjadi tapioka. Penelitian di-fokuskan pada proses pengolahan ubikayu menjadi tapioka yang potensial untuk penerapan konsep produksi bersih dengan beberapa kriteria penilaian antara lain identifikasi sumber penghasil limbah, efisiensi penggunaan sumberdaya energi, daur ulang limbah dan pemanfaatan air limbah.
Selanjutnya dilakukan kajian terhadap bagian dari proses produksi ubikayu menjadi tapioka untuk menghasilkan kemungkinan penerapan konsep produksi bersih berdasarkan analisis dan evaluasi nilai manfaat ekonomis dan lingkungan-nya.
Implementasi produksi bersih industri tapioka tersebut dilakukan untuk menghasilkan suatu model proses produksi industri tapioka ramah lingkungan berbasis produksi bersih yang efisien dalam penggunaan air dan energi, biaya produksi, minimalisasi limbah yang dihasilkan dan kemungkinan produksi dan pemanfaatan energi dari air limbah.
T
Tuujjuuaann PPeenneelliittiiaann Tujuan penelitian ini adalah:
1. mendapatkan tahap proses pengolahan tapioka yang potensial untuk penerap-an produksi bersih pabrik tapioka berdasarkpenerap-an penggunapenerap-an air, energi, dpenerap-an karakteristik limbah yang dihasilkan;
2. menghasilkan alternatif perbaikan proses produksi dan pengelolaan limbah industri tapioka yang dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko pencemaran terhadap lingkungan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi nilai manfaat ekonomis dan lingkungan;
3. menghasilkan model proses produksi industri tapioka ramah lingkungan berbasis produksi bersih.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi untuk perbaikan proses produksi dan pengelolaan limbah industri tapioka yang ramah lingkungan sehingga dapat menurunkan resiko pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi industri tapioka.
Novelty (Kebaruan)
Dalam penelitian ini novelty (kebaruan) yang dikemukakan adalah dapat memberikan kontribusi kondisi industri tapioka yang lebih baik dan ramah lingkungan dibandingkan kondisi industri tapioka sekarang ini dengan me-rekomendasikan perbaikan efisiensi penggunaan air dan energi terhadap proses produksi industri tapioka yang telah berlangsung selama ini dan memanfaatkan potensi energi dari air limbah industri tapioka sebagai salah satu sumber energi terbarukan sekaligus berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
T
TIINNJJAAUUAANNPPUUSSTTAAKKAA
Konsep Dasar Produksi Bersih
Produksi bersih merupakan salah satu sistem pengelolaan lingkungan yang dilaksanakan secara sukarela (voluntary) sebab penerapannya bersifat tidak wajib. Konsep produksi bersih merupakan pemikiran baru untuk lebih meningkatkan kualitas lingkungan dengan lebih bersifat proaktif. Produksi bersih merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan secara konseptual dan operasional terhadap proses produksi dan jasa, dengan meminimumkan dampak terhadap lingkungan dan manusia dari keseluruhan daur hidup produknya.
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal, 1995) mendefinisikan Produksi bersih sebagai suatu strategi pengelolaan lingkungan yang preventif dan diterapkan secara terus-menerus pada proses produksi, serta daur hidup produk dan jasa untuk meningkatkan eko-efisiensi dengan tujuan mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan.
Strategi Produksi bersih mempunyai arti yang sangat luas karena di dalam-nya termasuk upaya pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pilihan jenis proses yang akrab lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup produk, dan teknologi bersih. Pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan merupakan strategi yang perlu diprioritaskan dalam upaya untuk mewujudkan industri dan jasa yang berwawasan lingkungan, namun bukanlah merupakan satu satunya strategi yang harus diterapkan. Strategi lain seperti program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan, sehingga dapat saling melengkapi satu dengan lainnya (Bratasida, 1997). Strategi untuk menghilangkan limbah atau mengurangi limbah sebelum terjadi (preventive strategy), lebih baik daripada strategi pengolahan limbah atau pembuangan limbah yang telah ditimbulkan (treatment strategy). Kombinasi kedua strategi tersebut sesuai dengan skala prioritas pelaksanaan produksi bersih adalah sebagai berikut (Overcash, 1986) :
1. Eliminasi : Strategi ini dimasukkan sebagai metode pengurangan limbah secara total. Bila perlu tidak mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge).
2. Mengurangi sumber limbah: Strategi pengurangan limbah yang terbaik adalah menjaga agar limbah tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah mungkin memerlukan beberapa perubahan penting dalam proses produksi, tetapi dapat meningkatkan efisiensi ekonomi yang besar dan menekan pen-cemaran lingkungan.
3. Daur ulang: Jika timbulnya limbah tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses, maka harus dicari strategi untuk meminimalkan limbah tersebut sampai batas tertinggi yang mungkin dilakukan, seperti misalnya daur ulang (recycle) dan/atau penggunaan kembali (reuse). Jika limbah tersebut tidak dapat dicegah atau diminimalkan melalui penggunaan kembali atau daur ulang, maka strategi yang bersifat mengurangi volume atau kadar racunnya melalui pengolahan limbah dapat dilakukan. Walaupun strategi ini kadang-kadang dapat mengurangi jumlah limbah, tetapi tidak sama efektifnya dengan mencegah limbah di tahap awal.
4. Pengolahan limbah: Strategi yang terpaksa dilakukan mengingat pada proses perancangan produksi perusahaan belum mengantisipasi adanya teknologi baru yang sudah bebas limbah (zerro waste). Hal ini berarti limbah memang sudah terjadi dan ada dalam sistem produksinya, namun kualitas dan kuantitas limbah yang ada dikendalikan agar tidak melebihi baku mutu yang telah disyaratkan.
5. Pembuangan limbah: strategi terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah metode-metode pembuangan alternatif. Pembuangan limbah yang tepat merupakan suatu komponen penting dari keseluruhan program manajemen lingkungan, meskipun ini adalah teknik yang paling tidak efektif.
6. Remediasi: strategi penggunaan kembali bahan-bahan yang terbuang bersama limbah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar racun dan kuantitas limbah yang ada.
Peluang dan Tantangan Penerapan Produksi Bersih
Produksi bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya perlindungan lingkungan dengan kegiatan pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi. Menurut Djajadiningrat (2001), peluang penerapan Produksi bersih adalah:
1. Memberi keuntungan ekonomi, karena konsep produksi bersih didalamnya terdapat strategi pencegahan pencemaran pada sumbernya (source reduction
dan inprocess recycling) yaitu pencegahan terbentuknya limbah secara dini sehingga dapat mengurangi biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk pengolahan, pembuangan limbah dan upaya perbaikan lingkungan.
2. Mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan.
3. Memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang melalui konservasi sumberdaya, bahan baku dan energi.
4. Mendorong pengembangan teknologi baru yang lebih efisien dan akrab lingkungan
5. Mendukung prinsip ‘environmental equity’ dalam rangka pembangunan ber-kelanjutan.
6. Mencegah atau memperlambat terjadinya proses degradasi lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alam.
7. Memelihara ekosistem lingkungan.
8. Memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Tantangan penerapan produksi bersih, antara lain : 1. Tercapainya efisiensi produksi yang optimal
2. Diperolehnya penghargaan masyarakat terhadap sistem produksi yang akrab lingkungan
3. Mendapatkan insentif.
Pengembangan pelaksanaan dan penerapan produksi bersih intinya adalah mengubah pola pikir tradisional ‘end-of-pipe’ dengan paradigma baru dalam pengelolaan pencemaran lingkungan, yaitu penerapan produksi bersih, yang dapat meningkatkan efisiensi produksi sehingga akan memberikan peningkat-an keuntungpeningkat-an baik secara finpeningkat-ansial, teknik maupun regulasi. Hambatpeningkat-an ekonomi akan timbul bila kalangan pengusaha merasa tidak akan mendapat keuntungan dalam penerapan produksi bersih. Sekecil apapun penerapan
produksi bersih, bila tidak menguntungkan bagi perusahaan maka sulit bagi manajemen untuk membuat keputusan tentang penerapan produksi bersih. Menurut Djajadiningrat (2001), hambatan pada aspek ekonomi dan teknis antara lain:
1. Keperluan biaya tambahan peralatan
2. Tingginya modal/investasi yang dibutuhkan dibanding kan penerapan kontrol pencemaran secara konvensional sekaligus penerapan produksi bersih
3. Penghematan proses produksi bersih yang belum nyata realisasinya 4. Kurangnya informasi produksi bersih
5. Sistem yang baru ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga dapat menyebabkan gangguan
6. Fasilitas produksi ada kemungkinan sudah penuh sehingga tidak ada tempat lagi untuk tambahan peralatan.
Kendala sumberdaya manusia dalam penerapan produksi bersih dapat
berupa:
1. Kurangnya komitmen manajemen puncak
2. Adanya keengganan untuk berubah baik secara individu maupun organisasi 3. Lemahnya komunikasi internal
4. Pelaksanaan organisasi yang kaku
5. Birokrasi, terutama dalam pengumpulan data. 6. Kurangnya dokumentasi dan penyebaran informasi.
7. Kurangnya pelatihan kepada sumberdaya manusia mengenai produksi bersih. Manfaat penerapan Produksi bersih, antara lain :
1. Lebih efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya alam. 2. Mengurangi biaya-biaya yang berkenaan dengan lingkungan 3. Mengurangi atau mencegah terbentuknya pencemar
4. Mencegah berpindahnya pencemar dari satu media ke media lain 5. Mengurangi risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan
6. Memberikan peluang untuk mencapai sistem manajemen lingkungan pada ISO 14000
7. Memberikan keunggulan daya saing pada tingkat pasar domestik dan internasional.
Saat ini terdapat dua mekanisme yang mendorong terjadinya pendekatan baru dalam hal perdagangan global, yaitu pertama, adanya kekuatan konsumen yang makin meningkat dan makin besarnya rasa solidaritas lingkungan terhadap produk yang dibelinya agar tidak menimbulkan dampak lingkungan dalam pengadaannya, seperti ecolabel atau green label yang menandai bahwa produk tertentu diproduksi melalui produksi bersih. Kedua, sejak awal tahun tujuh puluhan sampai pertengahan delapan puluhan, industri menghadapi penegakan hukum yang konsisten disertai baku mutu yang makin ketat. Oleh karena itu, terjadi kejar-mengejar antara baku mutu dengan kemampuan industri menaati baku mutu. Dari sisi perdagangan terjadi kecenderungan mengaitkan aspek lingkungan hidup, sehingga hal tersebut menjadikan suatu tantangan bagi kalangan industri dan jasa untuk dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerjanya supaya tetap dapat mempertahankan diri dalam situasi persaingan global. Pengusaha juga perlu mempertimbangkan perspektif konsumen mengenai produknya, seperti citra positif yang diperoleh dengan mendapatkan sertifikasi
ecolabel dan ISO 14000. Sebagian konsumen mempunyai pertimbangan yang luas dalam setiap melakukan tindakan berkonsumsi. Mereka tidak hanya memperhatikan mutu, penampilan, harga, garansi ataupun pelayanannya saja, melainkan juga akan mempertimbangkan beberapa masalah baru. Pertama, masalah ekologi, yang ber-kaitan dengan ada tidaknya unsur pencemaran atau perusakan lingkungan mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, serta akibat yang ditimbulkan dari penggunaan barang tersebut. Kedua, masalah etika, setiap kali konsumen memutuskan untuk membeli atau tidak membeli, mereka terlebih dahulu mem-pertimbangkan etika produsennya. Apakah produsen menjalankan usahanya dengan benar atau apakah produsen tidak memanfaatkan kelemahan peraturan yang ada di suatu negara. Contoh dalam hal ini adalah penghargaan yang lebih dari konsumen terhadap suatu perusahaan yang telah menggunakan standar yang diakui secara internasional (misalnya ISO 9000, ISO 14000). Yang ketiga adalah masalah keadilan, yaitu apakah produksi tersebut mengeksploitasi sumberdaya alam dan ekonomi masyarakat lokal, atau apakah pengusaha mengupayakan
pelestarian dengan penghitungan yang tepat antara eksploitasi yang mereka lakukan sejalan dengan upaya perbaikan. Contoh dalam masalah ini adalah kondisi masyarakat sekarang yang semakin kritis sehingga upaya pelestarian lingkungan hidup selalu ditanyakan dalam setiap bentuk produk dan jasa yang ada. Penerapan produksi bersih dapat mendukung ketiga aspek tersebut, terutama dalam kaitannya dengan sertifikasi ecolabel dan ISO 14000.
Sikap Indonesia mengenai perlunya integrasi produksi bersih dengan strategi pemasaran produk dalam menanggapi isu lingkungan sudah jelas. Hal tersebut sudah menjadi komitmen pemerintah. Dalam konteks perdagangan dan industri di Indonesia, pemerintah juga telah memperkenalkan produksi bersih (cleaner production) sejak tahun 1993 melalui program-program yang dikembangkan oleh BAPEDAL untuk menarik minat masyarakat (community awareness) dalam menerapkan produksi bersih.
Tekad pemerintah untuk melaksanakan produksi bersih ini kemudian dicanangkan pada tahun 1995 sebagai komitmen nasional bagi kalangan industri