Nomor Halaman
1. Sidik Ragam terhadap Pertambahan Diameter Batang Periode – 1.... 25 2. Sidik Ragam terhadap Pertambahan Diameter Batang Periode –2... 25 3. Sidik Ragam terhadap Pertambahan Jumlah Anakan Periode - 1 ... 25 4. Sidik Ragam terhadap Pertambahan Jumlah Anakan Periode - 2... 25 5. Sidik Ragam terhadap Pertambahan Tinggi Vertikal Periode – 1 ... 26 6. Sidik Ragam terhadap Pertambahan Tinggi Vertikal Periode – 2 ... 26 7. Sidik Ragam terhadap Berat Kering Tajuk Periode – 1 ... 26 8. Sidik Ragam terhadap Berat Kering Tajuk Periode – 2 ... 26 9. Sidik Ragam terhadap Berat Kering Rasio Daun - Batang ... 27 10. Layo ut Penelitian ... 27
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai pakan ternak ruminansia ketersediaan hijauan makanan ternak merupakan hal sangat penting. Hijauan berkualitas dalam jumlah yang memadai sepanjang tahun berpengaruh terhadap produktivitas ternak. Hijauan merupakan sumber makanan utama bagi ternak ruminansia untuk dapat hidup, berproduksi dan berkembang biak. Untuk mendapatkan produksi ternak yang tinggi diperlukan pakan hijauan yang cukup dan memenuhi persyaratan gizi, disamping kebutuhan akan konsentrat.
Hijauan terdiri atas rumput, leguminosa dan sisa hasil pertanian. Pemenuhan kebutuhan rumput segar saat ini belum terjamin ketersediaannya. Hal ini karena samakin sempitnya lahan dan semakin langkanya lahan subur tersedia sehingga produktivitas rumput segar akan semakin sulit untuk didapatkan baik dari segi kuantitas dan kualitas hijauan. Untuk mendapatkannya, perlu dilakukan pemeliharaan yang baik, meliputi pengolahan tanah, pemupukan dan teknik penanaman. Khususnya untuk pemupukan pada tanah latosol yang miskin bahan organik, permasalahan yang umum terjadi adalah konsenterasi pH tanah latosol yang rendah (asam) (Feniara, 1999), sehingga mengakibatkan penyediaan unsur hara yang rendah pula, selain itu kapasitas tukar kation dari tanah latosol yang juga rendah merupakan penyebab permasalahan yang umumnya terjadi yaitu (1) tanah tidak mampu menjerap unsur hara sehingga unsur hara mudah tercuci oleh air hujan dan (2) koloid tanah sulit melepaskan unsur hara karena lemahnya pertukaran kation. Untuk mengatasi kedua masalah tersebut salah satu caranya adalah dengan pemberian asam humik yang merupakan pembenah tanah.
Asam humik merupakan komplemen pupuk yang dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Asam humik merupakan hasil akhir dari proses dekomposisi bahan orga nik yang bersifat stabil. Mekanisme kerja dari asam humik pada prinsipnya sebagai jembatan penghubung antara koloid tanah dan unsur hara yang diberikan. Salah satu produk dari asam humik adalah humegatm dan soils plustm. Humegatm mengandung 8% asam humik dan 92% campuran inert organik sedangkan soils plustm mengandung 5% asam humik dan 95% campuran mineral makro dan mikro.
2 Perumusan Masalah
Tanah latosol mempunyai pH, kadar hara makro dan kapasitas tukar kation yang rendah sehingga menyebabkan tanah tidak mampu menjerap unsur hara yang diberikan dan koloid tanah sulit melepaskan unsur hara karena lemahnya pertukaran kation, untuk mengatasinya perlu diberikan asam humik. Asam humik merupakan salah satu pembenah tanah yang dapat memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan ketersediaan unsur hara. Produk asam humik yang diujicobakan yaitu humegatm dan soil plustm untuk mengetahui produktivitas dan pertumbuhan rumput gajah pada tanah latosol. Sebagai pembandingnya digunakan kontrol yaitu perlakuan tanpa pemberian asam humik.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh asam humik terhadap pertumbuhan dan produktivitas rumput gajah yang ditanam pada tanah latosol yang miskin bahan organik.
3 TINJAUAN PUSTAKA
Tanah Latosol
Tanah latosol memiliki lapisan solum tanah yang tebal sampai sangat tebal yaitu 130 cm sampai 5 m bahkan lebih, sedangkan batas horizon tidak begitu jelas. Warnanya merah, coklat sampai kekuningan dengan kandungan baha n organik berkisar antara 3 – 9%, tapi biasanya 5%, dengan pH agak masam. Tekstur seluruh solum umumya liat (Hardjowigeno ,1995)
Tanah latosol merupakan jenis tanah dengan kadar liat lebih besar dicirikan oleh terjadinya penimbunan liat maksimum, berbentuk remah hingga gumpal namun gembur, warna tana h seragam dengan batas horizon kabur, umumnya memiliki epipedon umbrik. Tanah latosol mempunyai sifat fisik yang kurang baik, miskin unsur hara dengan derajat keasaman yang relatif rendah. Ciri-ciri tersebut merupakan faktor pembatas paling utama bagi pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi aktivitas mikroorganisme pengurai, meningkatkan senyawa beracun dan mengganggu keseimbangan unsur hara dalam tanah (Fatchullah, 1995).
Hasil analisis tanah latosol yang dilakukan Feniara (1999) diperlihatkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Analisis Tanah Latosol.
Jenis Pengukuran Nilai Keterangan
pH 4-5 Asam C organik 1,23 % Rendah N 0,11 % Sangat Rendah P 0,5 ppm Rendah K 0,10 me/100 g Rendah Ca 2,10 me/100 g Rendah Mg 0,76 me/100 g Rendah KTK 13,44 me/100 g Rendah Sumber : Feniara (1999).
Berdasarkan data hasil analisis menunjukkan bahwa semua peubah yang dianalisis nilainya rendah hal ini menandakan bahwa tanah latosol merupakan tanah
4 yang miskin unsur hara. Konsenterasi pH yang rendah akan menyebabkan penyediaan unsur hara juga rendah.
Tanah latosol umumnya memerlukan pemupukan N, P, K, Ca, Mg dan beberapa unsur mikro tertentu. Semakin tua umur tanah maka semakin banyak hara yang perlu ditambahkan karena pada tanah-tanah tua proses pencucian sudah berlangsung lama. Umumnya kandungan unsur hara dari rendah sampai sedang, daya menahan air cukup baik dan agak tahan terhadap erosi (Leiwakabessy, 1988).
Asam Humik
Asam humik merupakan bahan organik terhumifikasi yang dianggap sebagai hasil akhir dekomposisi baha n tanaman dan hewan prasejarah yang telah memfosil dalam selang waktu jutaan tahun di dalam tanah. Bahan organik ini berfungsi sebagai bahan pembenah tanah yang terlibat dalam reaksi kompleks dan dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara langsung memperbaiki kesuburan tanah dengan mengubah kondisi fisik, kimia dan biologi tanah (Tan, 1993). Mekanisme pembentukan bahan humik diperlihatkan pada Gambar 1.
Residu tanaman
Transformasi oleh mikroorganisme
Modifikasi lignin
Gula Polifenol Amino Hasil Dekomposisi Lignin
Quinone Quinone
Bahan Humik
Gambar 1. Mekanisme Pembentukan Bahan Humik (Stevenson, 1994).
Untuk menghasilkan satu liter konsentrat asam humik dibutuhkan 7-8 metrik ton organik manure (Stevenson, 1982).. Asam humik merupakan bagian dari bahan humik yang terdiri dari asam humik, asam fulvik dan humin. Asam humik
5 merupakan bagian terbesar dari bahan humik. Asam humik tidak larut air pada kondisi asam dengan pH <2 tetapi larut air pada kondisi pH diatasnya. Asam humik berwarna coklat gelap sampai hitam (Mac Carthy et al., 1990). Asam humik merupakan hasil akhir dari proses dekomposisi bahan organik yang bersifat stabil (Karti, 2003). Prosedur paling umum untuk ekstraksi dan fraksionasi asam humik dengan NaOH ditunjukkan dalam Gambar 2.
dengan alkali
dengan asam
dengan alkohol
dengan garam netral
Gambar 2. Alur Pemisahan Senyawa Humik Menjadi Berbagai Fraksi Humik (Tan, 1993).
Satu dari karakteristik yang paling khusus dari asam humik adalah kemampuannya untuk berinteraksi dengan ion logam, oksida, hidroksida, mineral
Bahan Organik
Bahan Humik (larut dalam alkali)
Humin + Bahan bukan Humik (tidak larut)
Asam Fulvik (larut dalam asam)
Asam Humik (tidak larut)
Asam Humik
(tidak larut) Asam
Himatolemanik (larut) Humik Coklat (larut) Humik Kelabu (larut)
6 dan organik, termasuk pencemar beracun, untuk membentuk asosiasi baik yang larut air maupun yang tidak larut air dari berbagai stabilitas kimia dan biologi yang berbeda. Asam humik juga mampu menjerap bahan organik dan anorganik (Huang dan Schnitzer,1997). Struktur molekul dari asam humik diperlihatkan pada Gambar 3.
Gambar 3. Asam Humik (Stevenson, 1982).
Asam humik bukan merupakan pupuk tetapi merupakan komplemen dari pupuk yang berfungsi dalam program keseimbangan pemupukan (Kurbanli et al.,
2001). Asam humik tidak menyediakan zat hara akan tetapi meningkatkan ketersediaannya. Dengan adanya asam humik dapat meningkatkan daya ikat air pada tanah sehingga tanaman tahan terhadap kekeringan dan dapat memproduksi hasil yang lebih baik pada kondisi kekurangan air.
Menurut Tan (1993), keuntungan secara fisik asam humik antara lain, meningkatkan kapasitas memegang air, aerasi tanah, memperbaiki daya kerja tanah, membantu bertahan pada kondisi kekurangan air, memecah masa dormansi benih dan mengurangi erosi tanah. Keuntungan secara kimia meliputi, menahan air terlarut pupuk organik dan melepaskannya ke tanah yang memerlukan, meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) dan kapasitas sangga tanah, pengkhelatan ion logam dibawah kondisi basa, kaya akan bahan organik dan mineral yang penting untuk pertumbuhan dan meningkatkan persentase total nitrogen dalam tanah.
Produk asam humik yang dapat diperoleh di pasaran antara lain yaitu humegatm dan soils plustm yang dirancang untuk mempermudah ketersediaan hara
7 makro dan mikro serta meningkatkan serapan hara oleh tanaman. Produk ini juga mengurangi pencucian hara tanaman (leaching) sehingga efisiensi penggunaan pupuk kimia bisa ditingkatkan, meningkatkan perkembangan akar tanaman, laju serapan hara, serapan N bebas, toleran terhadap kekeringan dan kadar garam tinggi, membantu menggemburkan tanah, memperbaiki drainase dan aerasi sehingga mengurangi run off dan erosi.
Humegatm mengandung 8% asam humik dan 92% campuran inert organik sedangkan soils plustm mengandung 5% asam humik dan 95% campuran mineral makro dan mikro. Produk ini mempunyai fungsi yang menonjol dibandingkan dengan produk-produk organik lainnya, yaitu karena kemampuan dan fungsi gandanya sebagai pupuk biologis, meningkatkan aktivitas bio stimulant, bio protection dan soil conditioner.
(a) (b) Gambar 4. (a). Soils Plustm dan (b). Humegatm
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
Rumput gajah berasal dari Nigeria dan tersebar luas di seluruh Afrika tropika, merupakan tanaman tahunan. Tumbuh tegak membentuk rumpun yang terdiri dari 20–50 batang, diameter batang berkisar 2-3 cm dan memiliki rhizom-rhizom pendek. Dapat tumbuh setinggi 1,4,5 m dan panjang daun mencapai 16-90 cm serta lebar 8-35 mm. Bunga berbentuk tandan dengan warna keemasan (Jayadi, 1991). Mc Ilroy (1976) menyatakan bahwa rumput gajah sangat responsif terhadap pemupukan, tahan
8 kering dan produksinya tinggi. Di daerah lembab dengan irigasi, produksinya lebih dari 290 ton rumput segar/ha/th. Berat kering yang dihasilkan dapat mencapai 2-10 ton/ha untuk tanaman yang tidak dipupuk atau dengan pupuk sedikit, tetapi yang menggunakan banyak pupuk N dan P hasilnya antara 6-40 ton/ha (Mannetje dan Jones, 2000). Hasil penelitian Susetyo (1980) di Bogor menunjukkan bahwa pada tanah latosol, pemberian urea sebesar 300 kg/ha, SP36 dan KCL masing- masing 200 kg/ha memberikan hasil rumput gajah terbaik yaitu 32 ton/ha/ panen produksi berat kering dan 6,4% protein kasar tiap kali pemotonga n.
Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan siang hari yang pendek, dengan fotoperiode kritis antara 13-12 jam. Namun, kelangsungan hidup serbuk sari sangat kurang dan barangkali inilah penyebab utama dari penentuan biji yang lazimnya buruk, disamping itu, kecambahnya lemah dan lambat. Oleh karena itu rumput ini ditanam secara vegetatif. Jika ditanam pada kondisi baik, bibit vegetatif tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian beberapa meter dalam waktu 2 bulan (Mannetje dan Jones, 2000)
Penanaman dapat menggunakan bahan tanam pols/stek. Panjang stek yang dianjurkan adalah 20-50 cm, minimal terdiri dari duah buah buku dan diambil dari tanaman berumur 3-6 bulan (Reksohadiprodjo, 1985). Dapat tumbuh pada ketinggian 0-3000 m diatas permukaan laut (dataran rendah sampai dataran tinggi). Tumbuh baik pada tanah subur dan tidak terlalu liat, pH tanah lebih kurang 6,5 dengan curah hujan sekitar 1000 mm/th.
9 METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Juni 2006 di Laboratorium Lapangan Agrostologi, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi
Bahan yang digunakan adalah rumput gajah varietas Hawaii (yang diperoleh dari Laboratorium Agrostologi Fakultas Peternakan, IPB), pupuk NPK, humegatm (6% asam humik + 94% inert organik) dan soils plustm (5% asam humik + 95% makro mineral) yang diperoleh dari PT. Green Planet Indonesia, tanah latosol sebagai media tanam.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penggaris, jangka sorong, meteran, sarung tangan, cangkul, timbangan 5 kg, timbangan elektrik dan oven 70oC.
Rancangan
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan, yang terdiri dari kontrol (T0) , humegatm 75 ml (T1), humegatm 150 ml (T2), humegatm 225 ml (T3), soils plustm 75 ml (T4), soils plustm 150 ml (T5) dan soils plustm 225 ml (T6), sehingga terdapat 28 satuan percobaan dengan luasan petak 12 m2.
Model matematik yang digunakan adalah:
Yi j = µ + t i + ßj + εij Keterangan :
Yij = nilai pengamatan dari kelompok yang memperoleh perlakuan pemberian dosis humegatm dan soils plustm ke-i dan ulangan ke-j
µ = rataan umum
t i = pengaruh pemberian humegatm dan soils plustm ke-i (i = 1,2...,7) ßj = pengaruh kelompok ke-j
10 Peubah
1. Pertambahan jumlah anakan
Jumlah anakan rumput gajah dihitung dengan mengambil delapan sampel rumpun dari masing- masing petak dan dihitung setiap dua minggu selama periode penanaman. Pertambahan jumlah anakan diperoleh dari selisih jumlah anakan minggu terakhir dengan minggu sebelumnya.
2. Pertambahan diameter batang (cm)
Diameter batang rumput gajah diukur 5 cm dari permukaan tanah dengan mengambil delapan sampel rumpun dari masing- masing petak yang telah ditandai untuk diukur setiap dua minggu selama periode penanaman. Pertambahan diameter batang diperoleh dari selisih diameter batang minggu terakhir dengan minggu sebelumnya.
3. Pertambahan tinggi vertikal (cm)
Tinggi vertikal rumput gajah diukur dengan mengambil delapan sampel rumpun dari masing- masing petak dan diukur setiap dua minggu selama periode penanaman. Pertambahan tinggi vertikal diperoleh dari selisih tinggi vertikal minggu terakhir dengan minggu sebelumnya.
4. Berat kering tajuk (g)
Hasil panen dari rumput gajah dihitung berat segar tajuk dari masing- masing perlakuan. Untuk berat kering tajuk diambil sampel sebanyak 200 g untuk masing – masing daun dan batang, dihitung berat keringnya setelah dioven pada suhu 70oC selama 48 jam kemudian dikonversi dari berat segar tajuk menjadi berat kering tajuk dengan cara perhitungannya sebagai berikut :
) ( ) ( ) ( 12 / ) ( 12 / 2 2 g mpel xBKtajuksa g l tajuksampe beratsegar g m Beratsegar g m BKtajuk =
5. Rasio berat kering daun – batang
Hasil panen dari rumput gajah dipisahkan antara daun dan batangnya dan diambil sebanyak 200 g untuk masing – masing daun dan batang untuk mengukur berat kering kemudian dibuat rasio daun dan batang.
Data yang diperoleh dianalisa dengan sidik ragam (ANOVA) dan jika berbeda nyata akan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan (Mattjik dan Sumertajaya, 2000).
11 Prosedur
Stek Rumput Gajah
Rumput gajah yang digunakan diambil dalam bentuk stek didalam rumpun yang sama dan terdiri atas dua buku yang didapatkan dari kebun Laboratorium Agrostologi, Fakultas Peternakan.
Persiapan Lahan
Lahan disiangi untuk mengurangi pertumbuhan gulma dan vegetasi lain yang tumbuh di petak penelitian yang dapat mempengaruhi penyerapan unsur hara yang tersedia. Lahan digemburkan dengan cangkul untuk memberikan ruangan aerasi bagi ketersediaan oksigen dalam tanah dan untuk memecah agregat-agregat tanah yang mulai keras.
Persiapan Bedengan
Sebelum ditanam, bedengan telah disediakan sebelumnya. Lokasi bedengan dipilih tempat yang terbuka untuk mendapatkan intensitas radiasi matahari yang cukup. Tanah bedengan digemburkan dan dibuat lebih tinggi sekitar 10 cm dari tanah sekelilingnya. Setiap bedengan berukuran 3 x 4 m. Saluran irigasi dibuat setiap bedengan dengan lebar 40 cm dan kedalaman sekitar 15 cm.
Perlakuan dan Pemupukan
Rumput gajah diberi perlakuan dengan menggunakan humegatm dan soils plustm 1 hari setelah tanam yang sebelumnya telah diencerkan dengan air dengan perbandingan 1 : 40 . Pupuk yang digunakan antara lain SP36, KCl dengan dosis 180 g/petak (150 kg/ha tanah), serta urea dengan dosis 240 g/petak (200 kg/ha tanah). Pupuk urea diberikan dua minggu setelah masa tanam.
Penanaman dan Pemeliharaan
Penanaman rumput gajah dengan menggunakan stek yang telah disiapkan dan jarak tanam antar stek yang digunakan 0,5 m. Pemeliharaan dilakukan mulai bulan Januari – Juni 2006 dan dilakukan pengukuran diameter batang, jumlah anakan dan tinggi vertikal empat minggu setelah penanaman selanjutnya setiap dua minggu sekali.
12 Pemanenan dan Pengambilan Sampel
Pemanenan rumput gajah dilakukan sebanyak dua kali pada umur 60 hari .Tajuk yang diperoleh dipisahkan antara daun dan batang lalu diambil sampelnya kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari selama dua hari dan dimasukkan oven 70oC dengan jangka waktu yang sama lalu ditimbang untuk memperoleh berat kering dan rasio daun - batang
13 HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengamatan Umum
Penelitian rumput gajah dilakukan dari bulan Januari sampai Juni 2006. Secara umum keadaan tanaman rumput gajah pada minggu pertama belum memperlihatkan pertumbuhan yang pesat dimana tunas-tunas rumput gajah mulai tumbuh dan beberapa stek memperlihatkan daun yang sudah mulai terbuka. Namun ada beberapa rumput yang mati sebelum dilakukan pengamatan sehingga dilakukan penyulama n. Setelah dilakukan penyulaman, rumput gajah tumbuh dengan baik. Suhu harian rata-rata selama pemeliharaan sekitar 25,80C, kelembaban nisbi 85% dan curah hujan 1700 mm (Stasiun Klimatologi, 2006). Penanaman rumput gajah dengan menggunakan bahan vegetatif stek.
Minggu ketiga setelah masa tanam, semua rumput gajah sudah terlihat pertumbuhan tajuk dan pertambahan jumlah anakan. Pertumbuhan paling cepat rumput gajah berlangsung pada minggu kelima setelah penanaman. Hal ini ditandai dengan banyaknya jumlah anakan yang tumbuh, pada minggu keenam, tujuh dan delapan pertumbuhan cenderung lambat.
Rumput gajah perlakuan kontrol (tanpa pemberian asam humik) memperlihatkan pertumbuhan yang sama dengan yang ditambahkan asam humik. Hal ini dapat dilihat dari tinggi vertikal dan jumlah anakan. Gambar rumput gajah dengan perlakuan kontrol dan soil plustm 225 ml dapat dilihat pada Gambar 5.
(a) (b) Gambar 5. (a). Perlakuan kontrol dan (b). Perlakuan T6
14 Rekapitulasi Analisis Ragam
Rekapitulasi analisis ragam produktivitas dari rumput gajah yang berdasarkan perlakuan diberi asam humik ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Rekapitulasi Analisis Ragam
Parameter Waktu Pemanenan
Panen 1 Panen 2
Pertambahan diameter batang tn tn
Pertambahan jumlah anakan tn tn
Pertambahan tinggi vertikal tn tn
Berat kering tajuk tn tn
Rasio daun - batang - tn
Keterangan :
tn : tidak berbeda nyata - : tidak diambil sampel
Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan diame ter batang, pertambahan jumlah anakan, pertambahan tinggi vertikal, berat kering tajuk dan rasio daun-batang untuk panen I dan II tidak berbeda nyata (p<0,05).
Pertambahan Diameter Batang, Pertambahan Jumlah Anakan, Pertambahan Tinggi Vertikal, Berat Kering Tajuk dan Rasio Daun-Batang
Hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa pemberian asam humik terhadap rumput gajah tidak berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah anakan dan pertambahan tinggi vertikal pada panen 1 dan 2. Data mengenai pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah anakan dan pertambahan tinggi vertikal dicantumkan pada Tabel 3.
Nilai pertambahan diameter batang berkisar 0,24-0,35 cm/2 minggu pada panen 1 sedangkan untuk untuk panen 2 nilainya berkisar antara 1,10–1,32 cm/2 minggu. Nilai pertambahan jumlah anakan pada panen 1 berkisar 0,41–0,95 anakan/2 minggu sedangkan panen 2 berkisar antara 2,36-4,38 cm/2 minggu. Pada pertambahan tinggi vertikal nilai yang didapatkan berkisar antara 31,94-48,85 cm/2 minggu untuk panen 1 dan panen 2 nilai yang didapatkan 196,27-233,23 cm/2 minggu.
15 Tabel 3. Rataan Pertambahan Diameter Batang, Jumlah Anakan, dan Tinggi Vertikal. Perlakuan Panen 1 Panen 2 Pertambahan Pertambahan Diameter batang (cm) Jumlah anakan Tinggi vertikal (cm) Diameter batang (cm) Jumlah anakan Tinggi vertikal (cm) T0 0,35 0,44 31,94 1,27 3,61 196,27 T1 0,28 0,97 40,93 1,19 3,78 209,58 T2 0,25 0,64 44,73 1,32 2,36 207,86 T3 0,26 0,95 48,85 1,16 4,33 233,23 T4 0,31 0,41 39,64 1,10 3,68 200,76 T5 0,32 0,85 44,35 1,17 3,47 226,73 T6 0,24 0,82 43,19 1,31 4,38 228,19
Tabel 4. Berat Kering Tajuk dan Rasio Daun-Batang. Perlakuan
Panen I Panen II
Berat kering tajuk (g/12m2)
Berat kering tajuk (g/12m2) Rasio daun-batang T0 489,10 1161,19 0,79 T1 499,43 961,35 0,78 T2 724,45 740,32 0,66 T3 834,36 917,61 0,81 T4 507,48 573,59 0,79 T5 608,35 997,20 0,67 T6 691,94 1018,05 0,68
Keterangan : T0 = kontrol ; T1 = humegatm 75 ml ; T2 = humegatm 150 ml ; T3 = humegatm 225 ml ;
T4 = soils plustm 75 ml ; T5 = soils plustm 150 ml ; T6 = soils plustm 225 ml.
Produksi berat kering merupakan peubah penting untuk menduga produksi total potensial tanaman dan dijadikan pedoman untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena kandungan airnya tidak terlalu beragam (Salisbury dan Ross, 1995). Hasil peubah berat kering tajuk dan rasio daun-batang tidak memberi pengaruh nyata (p<0,05). Nilai berat kering tajuk pada panen 1
16 berkisar antara 489,10-834,36 g/panen/12m2 dan panen 2 573,59-1072,70 g/panen/12m2 sedangkan nilai untuk rasio daun-batang berkisar antara 0,66-0,81.
Pada semua peubah yang diamati didapatkan hasil yang tidak berbeda nyata (p<0,05) diduga terjadi proses pencucian (leaching) oleh air hujan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Stasiun Klimatologi Dramaga (2006), bahwa curah hujan pada saat setelah pemberian perlakuan yaitu pada tanggal 24 Januari cukup tinggi yaitu 59 mm. Data mengenai curah hujan bulan Januari dicantumkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Data Curah Hujan (CH) pada Bulan Januari 2006.
Tanggal CH (mm) Tanggal CH (mm) Tanggal CH (mm)
1 12 12 31 23 24 25 26 27 28 29 30 31 41 59 16 13 27 31 39 4 8 2 5 13 - 3 25 14 - 4 23 15 26 5 6 16 4 6 1 17 17 7 2 18 23 8 11 19 1 9 5 20 - 10 20 21 - 11 25 22 15
Sumber : Stasiun Klimatologi Dramaga (2006).
Curah hujan yang cukup tinggi ini menyebabkan asam humik belum sempat dijerap oleh koloid tanah sehingga terjadi proses pencucian yang menyebabkan unsur hara (NPK) tidak tersedia. Ketiadaan suplai unsur hara berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk NPK yang kurang ( urea sebesar 200 kg/ha, SP36 dan KCL masing- masing 150 kg/ha) juga menambah terhambatnya pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Susetyo (1980) di Bogor menunjukkan bahwa pada tanah latosol, pemberian pupuk NPK (urea sebesar 300 kg/ha, SP36 dan KCL masing- masing 200 kg/ha) menghasilkan hasil rumput gajah terbaik yaitu 32 ton/ha/panen produksi berat kering. Pemberian pupuk yang kurang dilakukan karena berdasarkan hasil penelitian Karti (2004) dan Karti et al. (2005) pada tanaman
17 sayuran dan tembakau, pengurangan pupuk anorganik (N, P, dan K) sebanyak 25%-50% dari standar yang ditambahkan asam humik dapat meningkatkan produktivitas tana man sayuran dan tembakau.
Ketiadaan suplai unsur hara sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, dimana penyerapan unsur-unsur hara ini sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan vegetatif tanaman seperti bagian tajuk dan akar (Salisbury dan Ross, 1992). Adanya unsur N, P, dan K dalam pupuk secara integrasi dan kumulatif telah menghasilkan suatu kerjasama untuk mendapatkan tingkat pertumbuhan sebagai kondisi visual yang baik seperti besarnya diameter batang (Hendarto dan Soedarjo, 2003). Peubah pertambahan jumlah anakan pertumbuhannya juga tidak akan maksimal karena harus didukung oleh penyediaan asimilat dari batang dan helaian daun yang berdekatan dan bahwa pertumbuhannya yang cepat dapat berkaitan dengan katabolisme karbohidrat (Goldsworthy dan Fisher, 1996). Daun juga terhambat pertumbuhannya dikarenakan kurangnya suplai unsur hara hal ini didukung oleh pernyataan Ericsson (1995) yang menyatakan bahwa tersedianya