Halaman
1 Matriks Perlakuan tikus sawah terhadap racun dan umpan... 33
2 Mariks perlakuan tikus rumah terhadap racun dan umpan... 33
3 Matriks Perlakuan tikus pohon terhadap racun dan umpan ... 34
4 Sidik ragam tingkat kejeraan (%) R. argentiventer terhadap
rodentisida dan umpan uji tanpa pilihan... 34
5 Sidik ragam tingkat kejeraan (%) R. argentiventer terhadap
rodentisida brodifakum 3 uji tanpa pilihan... 34
6 Sidik ragam tingkat kejeraan (%) R. rattus diardii terhadap
rodentisida dan umpan uji tanpa pilihan... 35
7 Sidik ragam tingkat kejeraan (%) R. tiomanicus terhadap
rodentisida dan umpan uji tanpa pilihan ... 35
8 Sidik ragam tingkat kejeraan (%) R. tiomanicus dan R. argentiventer terhadap rodentisida dan umpan uji tanpa pilihan ... 36
9 Sidik ragam tingkat kejeraan (%) R. rattus diadii dan R. tiomanicus terhadap rodentisida flokumafen ... 36
10 Sidik ragam tingkat kejeraan (%) R. argentiventer, R. rattus diardii, dan R. tiomanicus terhadap rodentisida
brodifakum 3... 36
11 Sidik ragam tingkat kejeraan (%) R. argentiventer,
PENDAHULUAN
Latar belakang
Tikus merupakan hewan mengerat yang seringkali berhubungan dengan kehidupan manusia. Hubungan tersebut dapat bersifat menguntungkan maupun merugikan. Sifat menguntungkan terutama dalam hal penggunaannya sebagai hewan percobaan di laboratorium (Priyambodo 2003). Sifat merugikan yaitu menjadi hama penting dalam kehidupan manusia, baik dalam bidang pertanian, perkebunan, permukiman, dan juga kesehatan (Meehan 1984). Dalam bidang pertanian tikus menyebabkan kerusakan pada tanaman pangan (padi, gandum, kacang tanah, kedelai, ubi jalar, dan ubi kayu), hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan), tanaman perkebunan (kelapa, kelapa sawit, tebu, kakao, dan sebagainya) (Priyambodo 2003). Ada 29 spesies tikus yang menjadi hama penting di Asia Tenggara yang menyebabkan kehilangan ekonomi, dan dapat menularkan penyakit pada manusia (Hoque et al. 1988). Dari sejumlah spesies tersebut, beberapa spesies tikus terdapat di Indonesia antara lain R. norvegicus (tikus riul), R. rattus diardii (tikus rumah), R. argentiventer (tikus sawah), R. exulans (tikus ladang), R. tiomanicus (tikus pohon) dan Bandicota indica (tikus wirok) (Priyambodo 2003).
Tikus sawah (R. argentiventer) merupakan hama utama padi yang dapat menimbulkan kerusakan besar pada semua stadium pertumbuhan padi dari semai hingga panen, bahkan juga di gudang penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman padi tidak mampu lagi membentuk anakan baru. Tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir dan menyisakan satu sampai dua baris padi di pinggir petakan pada keadaan serangan berat. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah bera, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif.
Tikus pohon biasanya hidup di perkebunan, pekarangan, dan persawahan sedangkan tikus rumah biasanya hidup di permukiman manusia, rumah dan gudang, namun saat ini tikus pohon, dan tikus rumah dapat menyebabkan kerusakan di permukiman maupun di areal perkebunan. Hal ini disebabkan banyaknya areal perkebunan yang tidak jauh dari tempat permukiman manusia, dan tidak tersedianya pakan yang cukup untuk tikus. Tikus pohon dan tikus rumah dapat menyebabkan kerusakan pada bahan pangan yang disimpan di rumah seperti jagung, gandum, gabah, dan beras. Selain itu tikus pohon dan tikus rumah juga dapat menyebabkan kerusakan pada bahan bangunan karena sifat mengeratnya, kemampuannya menurunkan produksi pertanian, dan menyebarkan penyakit pada manusia. Berdasarkan hal tersebut tikus sering dipandang oleh manusia sebagai hewan yang memiliki efek negatif dalam ekosistem alam (Dickman 1988).
Upaya pengendalian tikus sawah, tikus pohon, dan tikus rumah sudah banyak dilakukan oleh manusia baik secara non kimia maupun secara kimia terutama dengan menerapkan konsep pengendalian hama terpadu. Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam mengendalikan tikus sawah, tikus pohon, dan tikus rumah yaitu dengan cara kultur teknis, mekanik, dan secara biologis dengan menggunakan musuh alami, sanitasi lahan, pemasangan perangkap, gropyokan, dan menggunakan bahan kimia seperti rodentisida dan fumigan. Secara spesifik pengendalian tikus rumah dapat menggunakan penghalang atau barrier mekanis yang bertujuan untuk mencegah tikus memasuki bangunan atau gudang.
Metode pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan rodentisida dinilai lebih efektif dibandingkan dengan yang lain sehingga cara ini umum dan sering digunakan meskipun cara ini dianggap kurang ramah lingkungan dan dapat membunuh organisme bukan sasaran. Pengendalian dengan menggunakan rodentisida biasanya dilakukan dengan mencampurkan racun dengan umpan yang disukai tikus, sehingga memerlukan jenis umpan yang dapat menahan agar tikus tersebut tetap memakan umpan tersebut lebih banyak (arrestant). Penggunaan umpan tersebut bertujuan untuk mengurangi rasa tidak enak dari racun yang digunakan (Priyambodo 2003). Aplikasi pengendalian dengan menggunakan rodentisida secara intensif ternyata menimbulkan masalah baru. Masalah baru yang timbulkan dalam hal pengaruh konsumsi tikus terhadap rodentisida, karena
dalam proses mengenali dan mengambil pakan yang ditemukan atau disediakan oleh manusia, tikus tidak langsung makan seluruhnya tetapi mencicipi terlebih dahulu untuk melihat reaksi yang terjadi dalam tubuhnya. Selain itu indera penciuman, pendengaran, perasa, serta peraba tikus berkembang sangat baik sehingga sangat mudah untuk tikus mengenali hal-hal yang ada di sekelilingnya termasuk pakan dan racun yang dikonsumsinya.
Sampai saat ini kejadian tingkat kejeraan tikus terhadap aplikasi penggunaan rodentisida menjadi permasalahan yang penting, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengukur tingkat kejeraan tikus khususnya tikus sawah, tikus rumah, dan tikus pohon terhadap rodentisida sehingga dengan dilakukan penelitian tentang ini bisa menjadi bahan rekomendasi untuk melakukan early warning system jika aplikasi penggunaan rodentisida dirasa sudah tidak efektif dan efisien.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkalkulasi tingkat kejeraan tikus sawah, tikus rumah, dan tikus pohon terhadap aplikasi rodentisida baik kronis maupun akut yang sering diaplikasikan di lapang dan di rumah dan juga terhadap umpan.
Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai tingkat kejeraan tikus sawah, tikus rumah, dan tikus pohon terhadap rodentisida yang sering diaplikasikan di lapang maupun permukiman dan juga terhadap umpan serta memberikan informasi untuk melakukan tindakan pengendalian alternatif secara kimiawi.
Tikus Sawah (Rattus argentiventer) Taksonomi dan Morfologi
Tikus sawah (R. argentiventer) digolongkan ke dalam Kelas Mammalia, Ordo Rodentia, Subordo Myomorpha, Famili Muridae, dan Subfamili Murinae, Genus Rattus (Robinson & Kloss 1916)
Tikus sawah mempunyai ciri morfologi yaitu tekstur rambut agak kasar, bentuk hidung kerucut, bentuk badan silindris, warna badan dorsal coklat kelabu kehitaman, warna badan ventral kelabu pucat atau putih kotor, warna ekor ventral coklat gelap, bobot badan antara 70-300 gram, panjang badan 130-210 mm, panjang ekor antara 110-160 mm, panjang secara keseluruhan dari kepala sampai ekor 240-370 mm, lebar daun telinga 19-22 mm, panjang telapak kaki 32-39 mm, lebar sepasang gigi seri yang sering digunakan untuk mengerat 3 mm, formula puting susu 3 + 3 pasang (Priyambodo 2003).
Bioekologi
Tikus sawah mempunyai distribusi geografi yang menyebar di seluruh dunia sehingga disebut sebagai hewan kosmopolit. Tikus sawah mudah ditemukan di perkotaan dan pedesaan di seluruh penjuru Asia Tenggara. Hewan pengerat ini menyukai persawahan, ladang, dan padang rumput tempat tikus ini memperoleh makanannya berupa bulir padi, jagung, atau rumput. Tikus sawah membuat sarang di lubang-lubang, di bawah batu, atau di dalam sisa-sisa kayu. Tikus sawah ini adalah jenis hama pengganggu pertanian utama dan sulit dikendalikan karena tikus ini mampu ”belajar” dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya.
Tikus menyerang padi pada malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah bera sebagian tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat
dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus betina mengalami masa bunting sekitar 21-23 hari dan mampu beranak rata-rata sejumlah 10 ekor. Tikus dapat berkembang biak apabila makanannya banyak mengandung zat tepung. Populasi tikus sawah sangat ditentukan oleh ketersediaan makanan dan tempat persembunyian yang memadai. Tempat persembunyian tikus antara lain tanaman, semak belukar, rumpun bambu, pematang sawah yang ditumbuhi gulma, dan kebun yang kotor (Sudarmaji 2005).
Tikus Pohon (Rattustiomanicus) Taksonomi dan Morfologi
Tikus pohon (R. tiomanicus) digolongkan ke dalam Kelas Mammalia, Ordo Rodentia, Subordo Myomorpha, Famili Muridae, Subfamili Murinae, Genus Rattus (Walker 1999).
Tikus pohon mempunyai ciri khas yang dapat dibedakan dengan spesies tikus yang lain yaitu mempunyai ekor yang lebih panjang daripada kepala dan badan, tubuh bagian dorsal berwarna coklat kekuningan dan bagian ventralnya berwarna putih, putih kekuningan, atau krem (Aplin et al 2003). Hewan betina memiliki puting susu lima pasang yaitu dua pasang pektoral dan tiga pasang inguinal, tekstur rambut agak kasar, bentuk hidung kerucut, bentuk badan silindris, serta warna ekor bagian atas dan bawah coklat hitam. Tikus pohon memiliki bobot tubuh 55-300 gram, panjang kepala + badan 130-200 mm, panjang ekor 180-250 mm, panjang total 310-450 mm, lebar daun telinga 20-23 mm, panjang telapak kaki belakang 32-39 mm, dan lebar sepasang gigi pengerat pada rahang atas 3 mm (Priyambodo 2003).
Bioekologi
Tikus pohon mempunyai distribusi geografi hanya di sekitar Asia Selatan dan Asia Tenggara. Tikus pohon merupakan jenis tikus yang memiliki kemampuan meloncat, mengerat, memanjat, dan berenang dengan baik. Kemampuan tikus pohon dalam memanjat didukung oleh adanya tonjolan pada telapak kaki yang disebut dengan footpad yang relatif besar dan dengan
permukaan yang kasar. Footpad ini masih ditambah oleh cakar yang berguna untuk memperkuat pegangan, serta ekor sebagai alat untuk keseimbangan pada saat memanjat (Priyambodo 2003). Tikus pohon juga memiliki kemampuan mengerat yang tinggi sebagai aktivitas untuk mengurangi panjang gigi seri yang tumbuh terus-menerus (Walker 1999).
Tikus pohon pada umumnya ditemukan pada berbagai tanaman perkebunan seperti kelapa, kelapa sawit, tebu, dan kakao. Pada tanaman kelapa sawit, tikus pohon membuat sarang diantara pelepah daun kelapa sawit atau celah-celah yang ada diantara pohon (Aryata 2006). Selain itu tikus pohon juga ditemukan pada lahan persawahan, areal pertanian, lapangan terbuka, dan pekarangan rumah. Penyebaran dari tikus pohon dipengaruhi oleh penyebaran sumberdaya pakan di lingkungannya. Habitat setiap spesies tikus berbeda-beda, tetapi hal tersebut tidak membatasi wilayah penyebaran dari spesies tikus tersebut (Meehan 1984).
Tikus Rumah (Rattus rattus diardii) Taksonomi dan morfolagi
Tikus rumah (R. rattus diardii) digolongkan ke dalam Kelas Mammalia, Ordo Rodentia, Subordo Myomorpha, Famili Muridae, Subfamili Murinae, Genus R. rattus (Walker1999).
Ciri morfologi tikus rumah adalah tekstur rambut agak kasar, bentuk badan silindris, bentuk hidung kerucut, telinga berukuran besar tidak berambut pada bagian dalam dan dapat menutupi mata jika ditekuk ke depan, warna badan bagian perut dan punggung coklat hitam kelabu, warna ekor coklat hitam, bobot tubuh berkisar antara 60-300 gram, ukuran ekor terhadap kepala, dan badan bervariasi (lebih pendek, sama, atau panjang). Seperti tikus pohon, tikus rumah juga memiliki kemampuan memanjat yang baik. Tikus rumah memiliki kemampuan indera yang sangat menunjang aktivitasnya kecuali penglihatan (Priyambodo 2003).
Bioekologi
Tikus rumah mempunyai distribusi geografi yang menyebar di seluruh dunia sehingga disebut sebagai hewan kosmopolit. Tikus rumah biasanya hidup di
lingkungan perumahan, pasar, dan membuat sarang di loteng namun bila bahan makanan berkurang, tikus rumah akan mencari pakan di sawah sekitar rumah maupun di pekarangan sekitar perumahan.
Tikus rumah merupakan hewan yang memiliki kemampuan untuk berkembangbiak dengan cepat. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh faktor habitat, iklim mikro, dan pakan. Selama mempertahankan kelangsungan hidupnya, tikus rumah memanfaatkan pakan yang mengandung karbohidrat (gula dan pati), lemak, protein, mineral, dan vitamin.
Tikus rumah menyukai pakan yang berasal dari biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, umbi-umbian, daging, ikan, dan telur. Dalam sehari tikus biasanya membutuhkan pakan sebanyak 10% dari bobot tubuhnya. Tikus rumah biasanya akan mengenali dan mengambil pakan yang telah tersedia atau yang ditemukan dalam jumlah sedikit (mencicipi) untuk mengetahui reaksi yang terjadi akibat mengonsumsi pakan yang ditemukan (Meehan 1984). Pada saat menghadapi makan, biasanya tikus membentuk kelompok dan gerakan mengelilingi makanan (Anonim 1970).
Kerusakan yang Disebabkan oleh Tikus Sawah, Tikus Pohon dan Tikus Rumah
Serangan tikus menyebabkan kerugian yang cukup besar pada bidang pertanian di Indonesia dan di banyak negara. Tikus sawah paling banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman padi. Tikus sawah (R. argentiventer) merupakan hama utama padi yang dapat menimbulkan kerusakan besar pada semua stadia pertumbuhan padi dari semai hingga panen, bahkan juga di gudang penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada stadia generatif, karena tanaman padi tidak mampu lagi membentuk anakan baru. Tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, dan menyisakan satu sampai dua baris padi di pinggir petakan pada keadaan serangan berat. Tikus menyerang padi pada malam hari sedangkan siang hari bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah bera, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan
kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus berkembangbiak sangat cepat dengan jumlah anak rata-rata 10 ekor setiap kelahiran. Perkembangbiakan hanya terjadi pada periode padi generatif. Satu ekor tikus betina dapat menghasilkan 80 ekor tikus generasi baru dalam satu musim tanam.
Tikus pohon mampu menyerang tanaman kelapa sawit baik yang belum maupun yang sudah menghasilkan. Pada tanaman yang baru ditanam dan belum menghasilkan, tikus mengerat serta memakan bagian pangkal pelepah daun, sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat atau bahkan tanaman dapat mati jika keratan tikus mengenai titik tumbuhnya. Pada tanaman kelapa sawit yang sudah menghasilkan, tikus pohon dapat memakan buahnya (Sipayung 1987). Tikus makan bagian buah kelapa sawit (bagian mesokarp buah) sekitar 4,29-13,6 gram per hari, kerusakan ini dapat menurunkan produksi sekitar 5% pertahun (Wood 1984). Perkembangan tikus sangat dipengaruhi oleh keadaan pakan dan lingkungan sekitar (Aplin et. al. 2003). Bila pakan yang ada di sekitarnya berlimpah, maka tikus akan berkembang biak sangat cepat, sehingga kerusakan yang ditimbulkan juga semakin besar.
Kerugian yang disebabkan oleh tikus rumah adalah kerusakan pada bangunan rumah, kantor, gudang, dan pabrik. Aktivitas tikus dalam mengeratkan gigi serinya dan dalam menggali tanah atau membuat sarang dapat menimbulkan kerusakan pada bangunan kantor, pabrik, gudang, dan rumah. Tikus rumah juga dapat menyebabkan berkurangnya simpanan bahan makanan di rumah dan gudang makanan, kontaminasi pada bahan makanan, terbawanya patogen seperti bakteri Salmonella sp.dan Leptospira sp., amoeba Entamoeba histolytica, Giardia muris dari tikus ke manusia dan hewan pemeliharaan (zoonosis) (Brooks & Rowe 1987).
Metode Pengendalian Tikus Sawah, Tikus Pohon, dan Tikus Rumah
Pengendalian tikus sawah, rumah, dan pohon sering dilakukan oleh manusia. Pengendalian yang dilakukan antara lain dengan kultur teknis, pemanfaatan musuh alami, penggunaan bahan kimia, perangkap, dan sanitasi (Priyambodo
2003). Pengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini (dimulai sebelum tanam), intensif, dan terus menerus dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dengan cakupan sasaran pengendalian dalam skala luas / hamparan (Wigenasantana 1992).
Elemen penting yang harus diperhatikan untuk mengendalikan tikus di permukiman adalah sanitasi lingkungan, konstruksi bangunan yang tahan terhadap masuknya tikus, dan monitoring populasi tikus di sekitar pemukiman. Pengendalian tikus yang sering digunakan di permukiman maupun di perkebunan dengan menggunakan rodentisida. Umumnya pengendalian hama dengan menggunakan rodentisida dapat dikatakan berhasil (Buckle 1994). Pengendalian dengan bahan kimia memberi efek yang positif maupun negatif. Efek positif berupa hasil yang cepat meracuni organisme non target dan efektif sedangkan efek negatifnya antara lain pencemaran lingkungan,dan menimbulkan resistensi hama.
Pengendalian secara fisik mekanik dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain penggunaan perangkap, suara ultrasonik, gelombang elektromagnetik, sinar ultraviolet, penghalang, dan berburu. Penggunaan perangkap dan perburuan merupakan metode yang masih banyak digunakan sebagai metode pengendalian mekanis.
Rodentisida Rodentisida Akut
Berdasarkan kecepatan cara kerja dari bahan aktifnya, rodentisida terdiri atas racun akut dan kronis. Racun akut yaitu rodentisida yang dapat menyebabkan kematian setelah mencapai dosis letal dalam waktu kurang dari 24 jam sedangkan racun kronis adalah rodentisida yang menyebabkan kematian dalam waktu 6 sampai 7 hari setelah perlakuan (Meehan 1984). Menurut Corrigan (1997) rodentisida kronis menyebabkan kematian dalam waktu 3 sampai 10 hari setelah perlakuan.
Rodentisida akut merupakan racun yang sangat berbahaya dan tidak memiliki antidot yang spesifik, oleh karena itu jenis rodentisida ini dibatasi penggunaannya di beberapa negara. Umumnya rodentisida ini hanya diizinkan digunakan oleh profesional. Salah satu rodentisida akut yang sering digunakan dan merupakan satu-satunya rodentisida akut yang diizinkan untuk digunakan oleh non profesional adalah rodentisida yang berbahan aktif seng fosfida.
Bahan aktif rodentisida yang tergolong racun akut seperti seng fosfida, bromatelin, crimidine, dan arsenik trioksida bekerja secara cepat dengan cara merusak jaringan syaraf dalam saluran pencernaan, dan masuk ke dalam aliran darah (Priyambodo 2003). Seng fosfida sudah dikenal sejak dulu dan yang sering digunakan untuk mengendalikan tikus. Seng fosfida berbentuk tepung yang berwarna kelabu kehitaman, dengan bau seperti bawang putih. Seng fosfida diproduksi dengan cara mengarahkan kombinasi antara seng dan fosfor. Seng fosfida telah dikenal sejak dulu sebagai racun tikus yang efektif dapat tercampur dalam karbon disulfida dan benzena, tetapi tidak dapat larut dalam alkohol dan air. Bahan aktif seng fosfida menghasilkan gas fosfin (PH3) yang dapat merusak saluran pencernaan, masuk ke aliran darah dan menghancurkan lever. Rodentisida ini juga dapat membunuh hewan vertebrata lainnya. LD50 seng fosfida pada anjing, kucing, babi, dan itik adalah 20-40 mg/kg (Buckle 1984). Lama kematian tikus setelah mengkonsumsi rodentisida antara 17 menit sampai dengan beberapa jam (Corrigan 1997).
Rodentisida Kronis
Bahan aktif rodentisida yang tergolong racun kronis seperti warfarin, kumatetralil, fumarin, difasinon, pival termasuk racun antikoagulan generasi I, serta bromadiolon, difenakum, brodifakum, flokumafen termasuk racun antikoagulan generasi II (Priyambodo 2003). Racun kronis lebih sering digunakan dibandingkan dengan racun akut dalam pengendalian tikus karena dapat mengurangi sifat curiga dari tikus yang lain. Bahan aktif dari racun kronis bekerja dalam tubuh tikus dengan lambat sehingga tikus tidak langsung mati di tempat setelah mengonsumsi racun.
Bromadiolon (C3H22BrO4) sudah dipatenkan sejak tahun 1968 dan dipasarkan pada tahun 1976 (Buckle 1984). Pada konsentrasi 0,0025% bromadiolon dapat membunuh mencit albino. Bromadiolon merupakan jenis rodentisida yang digunakan untuk mengendalikan tikus dan mencit pada bidang pertanian dan perumahan (Meehan 1984). Bromadiolon digunakan dalam bentuk umpan siap pakai dengan konsentrasi rendah, yaitu sekitar 0,005%.
Brodifakum merupakan rodentisida generasi kedua yang paling potensial untuk mengendalikan tikus dan mencit yang sudah kebal terhadap racun jenis lain. Rodentisida ini tidak larut dalam air, LD50 untuk tikus adalah 0,27 mg/kg. Menurut Buckle (1984) brodifakum dengan konsentrasi 0,005% dapat menyebabkan 100% kematian mencit setelah satu hari perlakuan baik yang rentan maupun yang kebal terhadap warfarin. Racun ini memiliki cara kerja mengganggu kerja vitamin K dalam proses pembekuan darah. Hewan pengerat dapat menyerap dosis yang mematikan dengan hanya 50 mg/kg bahan aktif.
Flokumafen merupakan senyawa kimia yang sama dengan brodifakum, tidak larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol dan larut dalam aseton. Senyawa ini direkomendasikan penggunaannya dengan konsentrasi 0,005% pada umpan beracun. Cara kerja dari racun ini adalah mengganggu metabolisme vitamin K dan mengganggu sistem pembekuan darah. Rodentisida ini dapat mengakibatkan kematian pada burung sehingga penggunaannya ilegal di Negara Inggris. Bentuk fisik racun ini adalah bentuk padatan berwarna biru.
Dalam aplikasi rodentisida biasanya digunakan umpan untuk memancing tikus agar mau memakan rodentisida yang disediakan. Dalam memilih umpan tikus yang tepat, ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan antara lain umpan harus menarik bagi tikus, umpan sedapat mungkin tidak menarik bagi hewan lain, umpan harus mudah didapat, serta dapat dicampur dengan racun (Priyambodo 2003).
Umpan Tikus Gabah dan Beras
Gabah adalah bulir atau buah dari tanaman padi. Semua stadia pertumbuhan padi sangat rentan terhadap serangan tikus. Tikus rumah dan tikus pohon dapat menyerang pertanaman padi di sawah, terutama apabila ketersedian pakan di habitatnya berkurang. Biasanya pertanaman tersebut dekat dengan perkebunan dan perumahan (Buckle dan Smith 1984)
Tikus dapat menyerang padi pada berbagai stadia pertumbuhan. Pada stadia persemaian, tikus merusak tanaman padi dengan mencabut benih yang sudah mulai tumbuh (bibit) untuk memakan bagian biji yang masih tersisa (endosperm). Pada stadia vegetatif, tikus memotong bagian pangkal batang untuk memakan bagian batangnya. Pada stadia generatif, tikus dapat menyerang bagian malai atau