• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KURIKULUM SMP PADA MASA AWAL

B. DAFTAR PELAJARAN SMP 1947 - 1950

Sejalan dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 4 tahun 1950, istilah Rencana Pelajaran diganti menjadi Daftar Pelajaran. Nama mata pelajaran yang terdapat dalam Daftar Pelajaran berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 1950 tidak jauh berbeda dari mata pelajaran SMP pada masa Jepang, terkecuali bahasa Jepang tidak lagi diajarkan. Menulis indah yang semula diarahkan untuk menulis indah huruf kanji digantikan dengan menulis indah huruf latin. Bahasa Inggris kembali diajarkan. Sejarah diajarkan dengan menghilangkan peristiwa yang terkait dengan sejarah bangsa Jepang dan digantikan dengan peristiwa pendudukan Jepang di Indonesia. Sebaliknya materi sejarah yang terkait dengan peristiwa sejarah Indonesia dan sudah diajarkan pada Rencana Pelajaran SMP di masa Jepang, diperbesar dengan berbagai peristiwa sejarah Indonesia yang dinyatakan sebagai peristiwa dalam sejarah nasional. Selain ada mata pelajaran sejarah (Indonesia) di SMP dikenal ada mata pelajaran sejarah dunia yang fokus pada sejarah Eropa dan Asia.

Apa yang terjadi pada mata pelajaran sejarah terjadi pula pada mata pelajaran geografi di mana bagian-bagian dari geografi Jepang dihilangkan sedangkan materi pelajaran wilayah geografis Indonesia ditambah dari yang sudah ada pada masa Jepang. Mata pelajaran moral diganti dengan mata pelajaran budi pekerti, sedangkan mata pelajaran seperti pekerjaan tangan, olahraga dan kesenian tetap dipertahankan. Bahasa Melayu yang pada dokumen lain disebutkan dengan bahasa Indonesia diganti dengan bahasa Indonesia. Bahasa Melayu tidak lagi diajarkan karena Indonesia sudah secara resmi menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi.

Hakikat kurikulum tetap berorientasi pada aplikasi dan pemanfaatan apa yang sudah dipelajari untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan filosofi rekonstruksi sosial dan humanisme untuk kurikulum tetap digunakan sampai pada kurikulum tahun 1954, dan kemudian digantikan oleh filosofi kurikulum yang lebih berorientasi pada pengembangan kemampuan intelektual dan kemampuan berpikir rasional (esensialisme dan perenialisme). Sejak kurikulum 1954 terlebih-lebih sejak kurikulum 1975, filosofi esensialisme dan perenialisme mendominasi rancangan kurikulum di Indonesia. Untuk SMP, sejak Kurikulum 1975 pilosofi perenialisme lebih banyak digunakan dibandingkan filosofi esensialisme.

- 37 -

Selain Daftar Pelajaran (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996:99), kurikulum SMP pada masa itu mengenal pembagian jurusan di kelas III yaitu bagian A (sosial-ekonomi) dan bagian B (Ilmu Pasti). Pembagian jurusan di kelas III SMP tersebut berangsur hingga tahun 1962 ketika ada pandangan atau ide baru mengenai tujuan pendidikan SMP.

Tabel 4.1: Struktur Daftar Pelajaran SMP 1947-1950

Kelompok Mata Pelajaran Kelas dan Jam Pelajaran

I II IIIA IIIB

I

Bahasa Bahasa Indonesia Bahasa Inggris 5 4 5 4 6 4 5 4

Bahasa Daerah 2 2 2 1

SubJumlah 11 11 12 10

II

Ilmu Pasti Berhitung dan Aljabar Ilmu Ukur 4 4 3 3 2 - 4 4

SubJumlah 8 6 2 8 III Pengetahuan Alam Ilmu Alam/Kimia 2 3 2 2 Ilmu Hayat 2 2 2 2 SubJumlah 4 5 4 4 IV Pengetahuan Sosial Ilmu Bumi 2 2 3 3 Sejarah 2 2 2 2 Sub Jumlah 4 4 5 5 V Pelajaran Ekonomi Hitung Dagang - 1 2 - Pengetahuan Dagang - - 2 - SubJumlah - 1 4 - VI Pelajaran Ekspresi Seni Suara 1 1 1 1 Menggambar 2 2 2 2

Pek. Tangan/Ker. Wanita 2 2 2 2

SubJumlah 5 5 5 5

VII Pendidikan Jasmani 3 3 3 3

VIII Budi Pekerti (bukan mata pelajaran berdiri sendiri tapi terintegrasi dalam kegiatan semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah)

IX Agama 2 2 2 2

Jumlah 37 37 37 37

Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996:100)

Daftar Pelajaran pada table 4.1 di atas menampilkan karakteristik kurikulum yang berbeda dari kurikulum MULO atau pun Shoto Chu Gakko. Pendidikan SMP pada masa kemerdekaan mengenal adanya penjurusan pada kelas terakhir, yaitu jurusan A (sosial-ekonomi) dan B (ilmu Pasti). Pembagian ini memposisikan kurikulum SMP sebagai dasar untuk melanjutkan pelajaran ke SMA. Sementara SMA pada masa itu sudah sejak awal dibedakan dalam jurusan sehingga dikenal adanya SMA-A, SMA-B, dan SMA-C.

Mereka yang lulus dari SMP jurusan A di kelas III boleh melanjutkan pelajaran ke SMA A (Bahasa) atau ke SMA C (ekonomi) sedangkan mereka

- 38 -

yang lulus dari jurusan B (Ilmu Pasti) boleh masuk ke SMA B (Ilmu Pasti) dan pada masa kemudian boleh pula melanjutkan ke SMA C. Pada masa tersebut nama jurusan yang sebenarnya merupakan jalur program studi menjadi unik sekolah karena satu SMA dibedakan dari SMA lainnya berdasarkan jurusan yang dibinanya (SMA-A, SMA-B, SMA-C). Penjurusan pun sudah dilakukan pada waktu peserta didik mendaftar untuk masuk ke SMA. Tentu saja pemisahan SMA yang demikian sudah tidak dikenal pada masa sekarang karena juruan-jurusan yang ada (IPA, IPS, Bahasa) adalah program dalam satu SMA dan penjurusan baru dilakukan di tahun kedua ketika peserta didik naik kelas XI.

Konsep kurikulum yang menarik dari Daftar Pelajaran SMP pada masa itu adalah pelajaran Budi Pekerti yang tidak diajarkan sebagai suatu mata pelajaran terpisah, tetapi diintegrasikan ke dalam semua kegiatan mata pelajaran lain dan kegiatan sekolah. Konsep ini menggambarkan pemahaman materi kurikulum yang mendalam dan penerapannya dalam suatu desain kurikulum yang sesuai dengan karakteristik materi kurikulum. Konten/materi kurikulum terdiri atas pengetahuan, keterampilan (intelektual, motorik, sosial) dan nilai/moral/sikap. Materi pelajaran Budi Pekerti bukan hanya sekadar pengetahuan tetapi sarat dengan nilai/moral/sikap yang harus dikembangkan dalam cara berpikir, bertindak, berkomunikasi, dan melakukan kegiatan sehari-hari seorang peserta didik. Materi pelajaran yang demikian, sebagaimana halnya dengan materi keterampilan, harus dikembangkan secara konsisten dan berkelanjutan selama seorang peserta didik belajar di sebuah satuan pendidikan atau jenjang pendidikan. Tidak seperti pengetahuan yang dapat dipelajari dan dikuasai dalam setiap pertemuan kelas, materi pelajaran dalam ranah nilai/moral/sikap memerlukan penguatan yang terus menerus baik secara sekuensial dari suatu mata pelajaran maupun penguatan horizontal dari berbagai mata pelajaran. Penguatan-penguatan itu bukan saja dilakukan baik dalam proses interaksi di kelas tetapi juga dalam proses interaksi sesama teman, dengan guru dan pegawai sekolah di lingkungan sekolah (luar kelas). Konsep pendidikan nilai yang demikian telah diterapkan dalam mata pelajaran Budi Pekerti pada kurikulum SMP di awal masa kemerdekaan.

Pemahaman mengenai prinsip pendidikan nilai/moral/sikap dan karakteristik materi nilai/moral/sikap tersebut dirancang dan diterapkan dengan baik untuk berbagai mata pelajaran dalam Daftar Pelajaran SMP tahun 1950. Sayangnya, materi pelajaran agama yang juga sarat dengan nilai/moral/sikap dikembangkan tidak hanya menggunakan prinsip untuk materi nilai/moral/sikap tersebut sehingga pendidikan agama cenderung menjadi mata pelajaran tentang pengetahuan agama semata. Materi mata pelajaran agama yang didominasi oleh materi pengetahuan menjadikan

- 39 -

pelajaran agama lebih mengutamakan hafalan dan kurang pada pengembangan perilaku beragama. Mestinya, prinsip yang sama sebagaimana digunakan untuk pendidikan Budi Pekerti dapat juga diterapkan pada pendidikan agama sehingga materi pelajaran mengenai pengetahuan tentang berbagai ajaran, kaedah dan keterampilan dalam menjalan ibadah dikembangkan melalui mata pelajaran agama sedangkan aspek perilaku beragama dikembangkan melalui mata pelajaran agama dan mata pelajaran lainnya.

Kondisi pendidikan agama yang terjadi pada masa awal kemerdekaan masih berlanjut hingga kini. Kondisi pada masa itu, pendidikan agama bukan wajib bagi seluruh peserta didik (Bab XII Pasal 20 Undang-Undang Pendidikan Nomor 12 Tahun 1954) dan materi pendidikan agama dikembangkan oleh Kementerian Agama, terpisah dari pengembangan materi mata pelajaran lain. Hal ini, kiranya menjadi penyebab perilaku beragama tidak menjadi materi mata pelajaran lain di luar mata pelajaran agama. Pada saat sekarang kebijakan tentang pendidikan agama sudah berubah dan pendidikan agama menjadi pendidikan wajib bagi seluruh peserta didik. Perencanaan kurikulum SMP masa kini sudah dapat menerapkan prinsip pengembangan konten kurikulum yang membedakan organisasi konten pengetahuan, nilai dan keterampilan.

- 40 -

BAB V