• Tidak ada hasil yang ditemukan

Allegina, Aline 2003, Strategi Pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Melalui Lembaga PKK, Skripsi, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Biro Pusat Statistik 1993, Hasil sensus Pertanian Tahun 1993, Jakarta.

Biro Pusat Statistik 1996, Statistik Industri Kecil (Small Scale Manufacturing Industry Statistics), Sensus Ekonomi, Jakarta.

Dharmawan, Arya Hadi 2001, Farm Household Livelihood Strategies and Socioeconomic Changes In Rural Indonesia, Doctoral Disertation Submitted for the Degree of Doctor of Agricultural Sciences of The Faculty of Agricultural Sciences, the Georg-August University of Gottingen-Germany.

Departemen Komunikasi dan Informatika, Pusat Pelayanan Informasi, Obat alami Nasional Yang Perlu Dikembangkan (5 September 2005), http:

LIN.go.id/news.asp.htm

Fakih, Mansour 1999, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Gunarto, A 1999, Memproduktifkan lahan Pekarangan dengan Tanaman Obat Indonesia Melalui tanaman Obat (TOGA), Jurnal Alami, 4 (1) halaman 38-50.

Gunawan, Didik. 2002. Ramuan untuk Keharmonisan Suami Istri (Cetakan Ketiga), Penebar Swadaya, Jakarta.

Handayani dan Sugiarti. 2001, Konsep dan Teknik Penelitian Gender, Universitas Muhammadiyah, Malang.

Januwati, et all 1992, Hasil Penelitian Plasma Nutfah dan Budidaya Tanaman Obat, Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah, Balai Penelitian Tanaman Obat.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (keynote speech) 2005, Peran Perempuan dalam Pembangunan Biofarmaka (16 Juli 2005), http://pemda-diy.go.id/berita/article.php/sid=2118.

Mugniesyah 2002, Petani Lahan Kering, Pusat Studi Wanita, Institut Pertanian Bogor.

Mulyani, Sri dan Didik Gunawan 2003, Ramuan Tradisional Untuk Penyakit Kulit (Cetakan keempat), Penebar Swadaya, Jakarta.

Prasetyaningsih, Nasyi’ah 2004, Dimensi Gender dalam Agroforestry, Skripsi, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Rostiana, Otih dkk. 1992, Hasil Penelitian Plasma Nutfah dan Budidaya Tanaman Obat, Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah.

Santoso dan Didik Gunawan 2002, Ramuan Tradisional Untuk Penderita Asma (Cetakan ketiga), Penebar Swadaya, Jakarta.

Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner 1997, Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial (Cetakan Pertama), Pustaka Utama Grafiti, Jakarta.

Sitepu, D dkk 2000, Pengadaan dan Pengolahan Bahan Baku Obat Tradisional, Warta tumbuhan Obat Indonesia, 6 (2): Halaman 28-32.

Sudiarto, Puti Rosmeilisa 1991, Hasil Penelitian Plasma Nutfah dan Budidaya Tanaman Obat, Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah. Balai Penelitian Tanaman Obat

Tilaar, Martha Innovation Center (Tim) 2002, Budidaya Secara Organik Tanaman Obat Rimpang, Penebar Swadaya, Jakarta.

Wahyuni, Ekawati S. 2000, Pedoman Teknis Penyusunan Karya Ilmiah, Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

White, Benyamin 1990, Rumahtangga Sebagai Unit Analisa. Lokakarya Studi Dinamika Pedesaan dalam Sayogyo dan Mangara Tambunan. Industrialisasi Pedesaan. PT. Sekindo Eka Jaya, Jakarta.

Wungu, Jiwo 1986, Buat Apa Kerja. Majalah Psikologi Populer Anda, Edisi 116, Halaman: 29-31.

Zarida (Penyunting) 2000, Pemberdayaan Terhadap Wanita Pedagang Kecil di Pasar Tradisional Bandung, Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan LIPI, Jakarta.

Lampiran 1. Profil dan Aktivitas Rumahtangga Beben

§ Profil Rumahtangga Beben

Nama Hub dg

KK Usia Jenis

Kel Status kawin Pengalaman pendidikan

3. Rudi Anak 32 L Kawin SLTA Karyawan

§ Aktivitas Rumahtangga Beben

Pengolahan tanaman obat ini merupakan usaha yang ke 8. Sebelumnya usaha yang dikelola atau kerja yang dilakukan adalah usaha menjahit baju, usaha kripik (singkong, tales, pisang) dan cheese stick, usaha susu kambing, usaha jual salak pondoh, usaha tani (tanaman palawija), budidaya tanaman obat (1995) meramu jamu kekerit (1997) pengolahan tanaman obat (2004).

Semua usaha yang masih bertahan adalah usaha kripik pisang dan cheese stick, usaha tani palawija, budidaya dan pengolahan tanaman obat dan sesekali menerima jasa menjahit. Tetapi yang menjadi mata pencaharian utama dan terbesar menyumbang pendapatan keluarga adalah pengolahan tanaman obat.

Sehingga usaha tanaman obat menurut Ibu Beben sudah berhasil karena menurut ukuran keberhasilannya dia dalam seminggu dulu hanya memproduksi tanaman obat 10 kg tetapi sekarang mampu memproduksi minimal 10 kg (pesanan bertambah)

Proses pembentukan usaha pengolahan tanaman obat diawali dengan penyuluhan Petugas Penyuluh Lapang (PPL) untuk menanam tanaman obat. Jadi

usaha ini bukan merupakan inisiatif sendiri melainkan dari Pemerintah. Setelah mendapat beberapa masukan dari beberapa pihak maka usaha ini tidak berhenti untuk berbudidaya saja tapi dilanjutkan dengan pengolahan. Sebelumnya dengan pengalaman tanaman obat diramu menjadi kekerit dan ramuan racikan seperti jamu untuk sakit pinggang, darah tinggi, diabetes dan lain sebagainya. Namun dalam perkembangannya tanaman obat yang diolah tidak lagi diracik tetapi dalam bentuk per komoditi. Misalnya Umbi Dewa kering, daun Dewa kering dan sebagainya.

Partisipasi anggota rumahtangga dalam lembaga sosial, ekonomi dan politik cukup tinggi. Ibu Beben tahun 1987 menjadi kader PKK sebagai sekretaris dan Pos KB, tahun 1995 ikut berpartisipasi dalam kelompok Wanita Tani(KWT) Melati sebagai sekretaris. Juga berpartisipasi dalam KPK bentukan dari KWT.

Pertemuan rutin setiap bulan yaitu hari Selasa. Lembaga ini merupakan bentukan dari atas (Dinas Pertanian dan Kehutanan). Selain itu Ibu Beben juga ikut beberapa pelatiahan seperti pelatihan PKK, pelatihan pembuatab kripik, mengikuti pameran di BLPP tingkat dunia tentang ramuan kekerit. Anggota keluarga yang lain yaitu Doni (anak laki- lakinya) juga berpartisipasi dalam Bina Taruna sebagai sekretaris.

Faktor-faktor yang menyebabkan usaha pengolahan tanaman obat ini berhasil adalah karena tingginya permintaan tanaman obat. Akan tetapi ada kendala pada prosesing yaitu pisau pemotong yang digunakan kurang higienis dan tidak adanya alat pengering sehingga hanya mengandalkan tenaga matahari. Hal ini berakibat rendahnya kualitas tanaman obat karena tergantung pada cuaca.

Kualitas tanaman obat(umbi dewa kering) yang bagus adalah warna ditengah

putih bersih dan di pinggir berwarna coklat, mahalnya bahan baku yang dibeli dari petani.

Lampiran 2. Profil dan Aktivitas Rumahtangga Sarti

§ Profil Rumahtangga Ibu Sarti

Nama Hub dg KK

Usia (th)

Jenis Kel

Status kawin

Pengalaman

pendidikan Pengalaman pekerjaan

1. Saman KK 49 L Kawin DO sampai

3 SD

Petani budidaya Tanaman Obat

2. Sarti Istri 45 P Kawin DO sampai 3 SD

Pengolah tanaman obat

3. Samawi Anak 22 L Belum

kawin

SMP Budidaya tanaman obat dan petani pengolah kadang menjadi buruh bangunan

4. Imas Anak 20 P Belum

SD Buruh bangunan

6. Mulyati Anak 14 P Belum

Kelas 5 SD Sekolah, membantu prosesing tanaman obat

§ Aktivitas Rumahtangga Sarti

Pengolahan tanaman obat ini merupakan usaha yang ke 5. Sebelumnya usaha yang dikelola atau kerja yang dilakukan adalah ternak kambing, sawah palawija. Ukuran keberhasilan menurut rumahtangga ini adalah harga umbi Dewa yang rendah dijual dengan harga tinggi.

Proses pembentukan usaha pengolahan tanaman obat diawali dengan diajaknya Pak Saman oleh temannya untuk menanam tanaman obat yang diberi bibitnya. Setelah menjadi petani tanaman obat dirasakan keuntungan menjual tanaman obat basah semakin menurun, padahal dulunya cukup tinggi lalu merosot. Akhirnya selain menanam tanaman obat menjalankan pengolahan tanaman obat. Usaha ini dikelola atas inisiatif sendiri berdasarkan masukan dari beberapa konsumen.

Pak Saman menjadi anggota KWT. Sedangkan anak laki- lakinya, Mawi menjadi anggota Bina Taruna. Faktor- faktor yang menurut rumahtangga ini menyebabkan rendahnya harga jual pengolahan tanaman obat ini baik basah maupun kering.

Lampiran 3. Pro fil dan Aktivitas Rumahtangga Iyus

§ Profil Rumahtangga Iyus

Nama Hub dg

KK Usia Jenis Kel

Status kawin

Pengalaman

pendidikan Pengalaman pekerjaan

1. Zaenudin AS KK 45 L Kawin SLTA PNS

2. Iyus Rustiyati Istri 41 P Kawin SLTA Membuat renggining dan

pengolah jahe instan

3. Pramita Anak 19 P Belum

kawin

Kelas 4 Analisis SMAKBO

sekolah

4. Zaenia Anak 16 P Belum

kawin

Kelas 2 SMA 5

sekolah

5. Zaeni Anak 13 L Belum Kelas 2 SMP sekolah

kawin Al Azhar

6. Zella Anak 10 P Belum

kawin

Kelas 4 SD sekolah

§ Aktivitas Rumahtangga Iyus

Pengolahan jahe instan ini merupakan usaha yang ke 6. Sebelumnya usaha yang dikelola adalah: jual beli baju dengan sistem kredit, simpan pinjam uang, pembuatan kripik singkong, pembuatan nata de coco, kemudian pengolahan renggining dan jahe instan sampai dengan sekarang.

Proses pembentukan usaha diawali dengan penyuluhan PPL untuk bekerja di bidang home industri salah satunya adalah bahan makanan atau obat.

Lampiran 4. Profil dan Aktivitas Rumahtangga Yoyoh

§ Profil Rumahtangga Yoyoh

Nama Hub dg

pendidikan Pengalaman pekerjaan

1Marsan KK 45 L Kawin SLTA PNS di kantor

SLTA Cleaning service di Ekalokasri Plaza

3. Maria Ulfa Anak 19 P Belum

§ b. Aktivitas Rumahtangga Yoyoh

Pengolahan jahe instan ini merupakan usaha yang ke 5. Sebelumnya usaha yang dikelola adalah: buka warung makan, usaha toko, membuat keripik, pembuatan nata de coco dan terakhir pembuatan jahe instan sampai dengan sekarang.

Proses pembentukan usaha diawali dengan penyuluha n PPL untuk bekerja di bidang home industri salah satunya adalah bahan makanan atau obat.

e. Lampiran 5. Profil dan Aktivitas Rumahtangga Rodiah

§ Profil Rumahtangga Rodiah

Nama Hub dg

8. Dedi Anak 23 L Belum

kawin

SMEA Masih

nganggur

§ Aktivitas Rumahtangga Rodiah

Pengolahan tanaman jahe (jahe instan) ini merupakan usaha yang ke-10.

Sebelumnya usaha yang dikelola atau kerja yang dilakukan adalah karyawan lepas perkebunan karet (sebelum menikah), usahatani (tanaman kangkung darat), berjualan nasi di terminal Cimulang, usaha tani (tanaman palawija) dan tanaman obat (umbi dewa dan jahe), ternak ayam aksas yang dimodali Pt. Anwar Sirad (bibit ayam, pakan, vaksin dan pembuatan renggining singkong. pembuatan renggining beras pembuatan jahe instan (th. 2004)

Semua usaha diatas yang masih bertahan hanya sawah yang ditanami palawija. Sedangkan usaha renggining dan jahe instan hanya sesekali karena harga jahe mahal dan tidak seimbang dengan hasil penjualan. Sehingga usaha jahe instan menurut ibu Rodiah belum berhasil karena menurut ukuran keberhasilannya dia tidak akan memproduksi jahe instan ini secara kontinyu, sehingga keuntungan bisa didapat untuk menambah pendapatan keluarga.

Proses pembentukan usaha pengolahan jahe instan diawali dengan diajaknya mengikuti pelatihan pembuatan jahe instan di KPK Teratai. Jadi usaha ini bukan merupakan inisiatif sendiri melainkan dari Pemerintah (Dinas Pertanian dan Kehutanan ). Status usha pengolahan jahe instan ini merupakan industri rumahtangga. Sedangkan status pekerja dalam usaha Ibu Rodiah adalah anggota keluarga. Karena dalam pembuatan jahe instan ini hanya dibantu anak perempuannya.

Partisipasi anggota rumahtangga dalam lembaga sosial, ekonomi dan politik cukup rendah. Karena di dalam keluarga hanya Ibu Rodiah yang mengikuti lembaga sosial dan ekonomi yaitu KPK Teratai, itupun sekarang sudah tidak aktif dan tidak pernah menghadiri kegiatan rutin kecuali jika diajak ketua kelompok bahwa akan ada pelatihan. Ibu Rodiah mengikuti lembaga tersebut berdasarkan keputusan yang diambil sendiri. KPK teratai merupakan bentukan dari atas yaitu dari Kelompok Wanita Tani(KWT) Anggrek. Didalam KPK ini Ibu Rodiah

sebagai anggota. Alasan mengikuti lembaga ini karena ajakan tetangga/ anggota yang lain.