• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adipu A, C. Lumenta, E. Kaligis dan H.J Sinjal. 2013. Kesesuaian lahan budidaya laut di perairan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Selatan. JPKP. 9(1):19-26

Adnan SJ, Tamrin dan Wantasen. 2012. Analisis kelayakan lokasi budidaya rumput laut di perairan Teluk Dodinga Kabupaten Halmahera Barat. JPKP. 8(1):23-27

Affan MJ. 2012. Identifikasi lokasi untuk pengembangan budidaya keramba jaring apung (KJA) berdasarkan faktor lingkungan dan kualitas air di perairan pantai timur Bangka Tengah. J. Depik. 1(1):78-85.

Afrianto E dan E. Liviawati. 1993. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengeolahannya. Jakarta (ID): Bhratara.

Ahda A, A Surono, A Imam, I Batubara, I Ismanadji, IM Suita, R Yunaidar, N Kurnia, E Danakusumah, Sulistijo, A Zatnika, J Basmal, I Effendi, dan N Runtuboy. 2005. Profil Rumput Laut Indonesia. Jakarta (ID): KKP.

Ahmat T, A. Rukyani dan A. Wijono. 1995. Teknik budidaya laut dengan karamba jaring apung. Puslitbang Perikanan. p 69 – 97.

Alder E, MA. Hoon, KL. Mueller, J Chandrashekar, JP Ryba dan CS. Zuker, 2000. A novel family of mammalian taste receptors. Cell, 1(10):693–702 Ali. 2003. Penentuan lokasi dan estimasi daya dukung lingkungan untuk

budidaya ikan kerapu sistem keramba jaring apung di perairan Padang Cermin Lampung Selatan [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Anggadiredja J dan W. Sujatmiko.1996. Ethnobotany dan ethnopharmacology of

indonesia marine macroalgae. Second Asia Pacific Conference on Alga Biotechnology. Singapore. hlm 134.

Ariyati RW. 2007. Analisis kesesuaian perairan pulau Karimunjawa dan pulau Kemujan sebagai lahan budidaya rumput laut. J. Pasir Laut. 3(1): 27-45 Aslan LM. 1988. Budidaya Rumput Laut. Yokyakarta (ID): Kanisius.

Baba I, FF Tilaar dan V. Watung. 2012. Struktur Komunikasi dan biomassa rumput laut (seagrass) di perairan desa Tumbak Kecamatan Pusomaen. J. Ilmiah Platax. 1(1): 19-23.

[Bakosurtanal] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 1996. Pengembangan prototipe wilayah pesisir dan marine Kupang Nusa Tenggara Timur. Pusat Bina Aplikasi Inderaja dan SIG. Jakarta (ID): Bakosurtanal.

[Bakosurtanal] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 2005. Prosedur dan spesifikasi teknis analisis kesesuaian budidaya rumput laut. pusat survei sumberdaya alam laut bakosurtanal Cibinong. Bogor (ID): Bakosurtanal. Bengen DG dan A. Rizal. 2002. Pembangunan wilayah pesisir: antara

pembangunan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Warta Pesisir dan Lautan No.02/ Th. IV.

Bengen DG. 2005. Pentingnya pengelolaan wilayah pesisir terpadu berbasis kesesuaian lingkungan bagi keberlanjutan pembangunan kelautan. perspektif keterpaduan dalam penataan ruang darat-laut. merajut inisiatif lokal menuju kebijakan nasional. mitra pesisir (CRMP II). Jakarta.

Bixler HJ dan H. Porse. 2010. A dekade of change in the seaweed hydrocolloids industry. J.of Applied Phycology. 2(3):321-335.doi:10.1007/s10811-010- 9529-3

Boyd CE. 1988. Water Quality in Pond for Aquaculture. Aquaculture Experiment Station, Auburn University Auburn, Alabana, USA. 462 p.

[BPS] Badan Pusat Statistik KSB. 2013. KSB Dalam Angka. Taliwang (ID): BPS KSB.

[BP3SP] Badan Penelitian dan pengembangan pemanfaatan sumberdaya perairan. 2008. Studi kelayakan untuk pengembangan keramba jaring tancap da rumput laut di wilayah coremap Kabupaten Natuna. Natuna (ID): FPIK Unsri.

[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2010. SNI 7579.2 tentang produksi rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii) bagian 2: metode long line. Jakarta (ID): BSN

[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2011. SNI 7673.1 tentang produksi rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii) bagian 1: metode lepas dasar. Jakarta (ID): BSN

Budiharsono S, Sunaedi dan Asbar. 2006. Sistem Perencanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan. Jakarta (ID): BPKLN-SJDKP

Budiharsono S. 2007. Manual Penentuan Status dan Faktor Pengungkit PEL. Direktorat Perekonomian Daerah. Jakarta (ID): Bappenas.

Clark WAV dan PL. Hosking. 1986. Statistical method for geographers. John Wiley and Sons, Inc. 513p.

Dahuri R, J. Rais, SP. Ginting dan MJ Sitepu. 1997. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu. Jakarta (ID): Pradnya Paramita.

Dahuri R, J. Rais, SP. Ginting dan MJ. Sitepu. 2004. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta (ID): Pradnya Pratama. Dahuri R, J. Rais, SP. Ginting dan MJ. Sitepu. 2013. Pengelolaan Sumberdaya

Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta (ID): Balai Pustaka. Dawes EY. 1981. Marine Botany. New York (US): John Wiley dan Sons

University of South Florida.

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Rencana strategis pembangunan kelautan dan perikanan 2001-2004. Jakarta (ID): DKP

[DKPPKSB] Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan KSB. 2010. Masterplan minapolitan. Taliwang (ID): DKP KSB.

[DKPPKSB] Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan KSB. 2010. Produksi berbagai jenis komoditas perikanan di KSB tahun 2006 – 2010. Taliwang (ID): DKP KSB.

[DJPB] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2005. Petunjuk teknis budidaya laut budidaya mutiara. Serri IV/BDL/05. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

[DJPB] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2006. Petunjuk teknis budidaya laut budidaya mutiara. Serri IV/BDL/05. Jakarta.

Djais FH, A. Zamawi, S. Purnomo. 2002. Modul sosialisasi dan orientasi penataan ruang laut, pesisir dan pulau-pulau kecil. Edisi tahun 2003. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta.

Effendi H. 2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumber daya dan lingkungan perairan. Yogyakarta (ID): Kanisius.

Eidman HM. 1991. Studi efektivitas bibit algae laut (rumput laut). salah satu upaya peningkatan produksi budidaya algae laut (Eucheuma sp). Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan IPB. Bogor.

Farid A. 2008. Studi lingkungan perairan untuk budidaya rumput laut (Eucheuma cottonii) di perairan branta, Pamekasan, Madura. J.Penelitian Perikanan. 2(1):1-6

Fauzi A. dan S. Anna. 2002. Evaluasi status keberlanjutan pembangunan perikanan: aplikasi pendekatan rapfish (studi kasus perairan pesisir DKI Jakarta). J. Pesisir dan Lautan. 4(3):43-55.

Fauzi A. dan S. Anna. 2005. Pemodelan sumberdaya perikanan dan kelautan untuk analisis kebijakan. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama.

Fisheries. 1999. Rapfish Softwere for exel. the fisheries centre, University of British Columbia, fisheries center research reports.

Framegani V, Nirwana dan GW. Santosa. 2012. Studi herbivori rumput laut (Kappaphycus alvarezii) oleh ikan barongan Siganus sp pada salinitas yang berbeda. J. Of Marine Research. 1(1):48-53.

Hardjowigeno S. 2001. Kesesuaian lahan dan perencanaan tata guna tanah. Bogor (ID): Faperta IPB.

Hartoko. A dan M. Helmi. 2004. Development of digital multilayer ecological model for padang coastal water (West Sumatera). J of Coastal Development. 7.(3):129-136.

Hidayat, A. 1994. Budidaya rumput laut. Surabaya (ID): Usaha Nasional.

Iksan KH. 2005. Kajian pertumbuhan, produksi rumput laut (eucheuma cottonii) dan kandungan karaginan pada berbagai bobot bibit dan asal thallus di perairan desa Guruaping Oba Maluku Utara. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Indriani H. dan E. Sumiarsih. 1991. Budidaya Pengelolaan Dan Pemasaran Rumput Laut. Jakarta (ID):Penebar Swadaya

Ismail W, PT Imanto, B Priono dan Lamidi. 1996. Pemilihan lokasi ideal bagi penempatan keramba jaring apung reservat diperairan Kepulauan Riau, Lombok dan Sumbawa. J. Pen. Perikanan Indonesia. 2(4):1-13.

Kadi A dan WS, Atmaja. 1988. Rumput laut (Algae). jenis, reproduksi, produksi, budidaya dan pasca panen. Proyek studi potensi sumberdya alam Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. LIPI Jakarta. 71 hal. Kamlasi. 2008. Kajian ekologis dan biologi untuk pengembangan budidaya

rumput laut K.alvarezii di kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang NTT. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Kasyono FAS. 1992. Keragaman usaha tani petani miskin pada lahan kering dan sawah tanah hujan. Fakultas Pertanian Universitas Undayana.

Kavanagh P, dan TJ. Pitcher. 2004. implementing microsoft excel software for rapfish: a technique for the rapid appraisal of fisheries status. the fisheries centre, University of British Columbia, 2259 Lower Mall. Fisheries Centre Research Reports 12 (2).

Kavanagh P. 2001. Rapid appraisal of fisheries (Rapfish) project. rapfish software description (for microsoft excel). University of British Columbia, Fisheries Centre, Vancouver.

[KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2011. Pedoman Umum Minapolitan. Jakarta (ID): KKP.

[KLH] Kementrian Lingkungan Hidup. 1988. Keputusan Menteri KLH No.02/1988 tentang baku mutu lingkungan. Jakarta (ID): KLH

Kolang M, X Lalu dan H Korah. 1996. Panduan Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut. Manado (ID):DPSU.

Limbong WH dan P. Sitorus. 1987. Pengantar tataniaga pertanian. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Luning K. 1990. Seaweeds. Their Environment, Biogeography and Ecophysiology. New York (US): John Wiley dan Sons University of South Florida.

Marzuki M. 2013. Desain Pengelolaan budidaya laut berkelanjutan di Teluk Saleh Kabupaten Sumbawa, [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Msuya FE dan AM. Neori. 2002. Ulva reticulata and gracilaria crassa macroalgae

that can biofilter effluent from tidal fishponds in tanzania. Western Indian Ocean J. Mar. Sci. 1(2): 117 – 126.

Mubarak. 1978. Kemungkinan-kemungkinan budidaya rumput laut di Kepulauan Aru, Maluku. simposium modernisasi perikanan rakyat. Jakarta (ID): LPPL BLPDP.

Mukhlis I. 2009. Eksternalitas, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan dalam perspektif teoritis. J. Ekonomi Bisnis. 3(14):191-199. Munasinghe, M. 2002. Environmental Economic and Sustainable development.

World Bank Environment Paper No. 3 The World Bank. Washington

Narimawati U. 2008. Teknik-Teknik Analisis Multivariat untuk Riset Ekonomi. Yogyakarta (ID): Graha Ilmu

Nazir M. 1988. Metode Penelitian. Jakarta (ID): Ghalia

Neori A. Shpigel dan DB. Ezra. 2000. A sustainable integrated system for culture of fish, seaweed and abalone. J.aquaculture 1(8):279-291.

Nikijuluw. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Jakarta (ID): Pustaka Cisendo.

Nontji A. 1993. Laut Nusantara. Jakarta (ID): Djambatan Nontji A. 2002. Laut Nusantara. Jakarta (ID): Djambatan.

Nybakken JW. 1992. Biologi laut:suatu pendekatan ekologis. Eidman HM, Koesoebiono, DG. Bengen, M. Hutom dan S. Sukardjo, penerjemah. Jakarta (ID): Gramedia.

Pearce DG dan RM. Kirk. 1986. Carrying capacities for coastal tourism. J Ind, Environ. 9(1):3-7.

Tony JP. 1999. Rapfish, a rapid appraisal technique for fisheries, and its Application to the code of conduct for responsible fisheries. Fisheries Centre, University of British Columbia, Vancouver, Canada. hlm 1-47 Pitcher dan Priekshot. 2001. Rapfish: A rapid appraisal technique to evaluate the

sustainability status of fisheries research. fisheries research. 49(2001):225- 270.

[PPO] Pusat Penelitian Oseanografi. 2002. Penelitian budidaya rumput laut (alga makro/seaweed) di Indonesia. Jakarta (ID): PPO LIPI.

Radiarta IN, SN. Wardoyo, B. Priono dan O. Praseno. 2005. Aplikasi sistem informasi geografis untuk penentuan lokasi pengembangan budidaya laut di Teluk Ekas, Nusa Tenggara Barat. JPPI. 9(1):67-79.

Rauf A. 2008. Pengembangan terpadu pemanfaatan ruang kepulauan tanakeke berbasis daya dukung. [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Rorrer GL dan DP. Cheney. 2004. Bioprocess enginering of cell and tissue

cultures for marine seaweeds. J. aquac enginer. 3(2): 11–41.

Santoso L. dan YT. Nugraha. 2008. Pengendalian penyakit ice-ice untuk meningkatkan produksi rumput laut di Indonesia. J. Saintek Perikanan. 3(2):1-20.

Saveriades A. 2000. Establishing the social carrying capacity for tourism resorts of east coast of Republic of Cyprus, 21 pp 147-156.

Scones BJ. 1993. Global equity and environmental crisis : an argument for reducing working hours in the north. J. World Develop. 19(1):73-78.

Senoaji G. 2009. Daya dukung lingkungan dan kesesuaian lahan dalam pengembangan Pulau Enggano Bengkulu. J.Bumi Lestari. 9(2):159-166. Slamet B, IW. Arthana dan IWB. Suyasa. 2009. Studi kualitas lingkungan

perairan di daerah budidaya perikanan laut di Teluk Kaping dan Teluk Pegametan, Bali. Eutrophic. 3(1): 16-20.

Soegiarto AW, H Mubarak dan Sulistijo. 1978. Rumput Laut (algae) Manfaat Potensi dan Usaha Budidayanya. Jakarta (ID): LIPI

Subandar A, A. Sulaiman dan Lukijanto. 2005. Penentuan daya dukung budidaya keramba jaring apung. Jakarta (ID): BPPT.

Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung (ID): Alfabeta.

Sulistijo. 1987. The harvest quality of alvarezzi culture by floating method in Pari Island Nort Jakarta. research and development center for oceanology Indonesia Institut Of Science. Jakarta.

Susilo SB. 2003. Keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil: studi kasus kelurahan pulau panggang dan pulau pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Umar H. 2003. Metodologi Penelitian: Aplikasi dalam Pemasaran. Jakarta (ID): Gramedia Pusataka Utama.

Utojo A, Mansyur, AM. Pirjan, T. Mulia dan B. Pantjara. 2004. Identifikasi kelayakan lokasi lahan budidaya laut di perairan Teluk Saleh Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat. JPPI. 10(5):1–18.

Utojo A, Mansyur, Mustafa, A. Hasnawi, dan AM. Tangko, 2007. Pemilihan lokasi budidaya ikan, rumput laut dan tiram mutiara yang ramah lingkungan di kepulauan togean Sulawesi Tengah. J. Riset Akuakulture. 2(1):303–318. Wang WL dan YM. Chiang. 1994. Potential economic seaweed of hengchun

peninsula taiwan. J. Economic Botany. 48(2):182–189.

WCED. 1987. World Commission on Enviroment and Development (ed) Our Common Furture. Oxford (US): Oxford University Pr.

Winarno FG. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta (ID): Pustaka Sinar Harapan

Yulianda F, A Fahrudin, AA Hutabarat, S Harteti, HS Kang dan Kusharjani. 2010. Pengelolaan Pesisir dan Laut Secara Terpadu. Bogor (ID): Pusdiklat Kehutanan Departemen Kehutanan RI, SECEM Korea International Cooperation Agency.

Lampiran 1 Hasil analisis daya dukung perairan budidaya rumput laut metode long line Kecamatan Poto Tano KSB

No Parameter Satuan Data Sumber Data

1 Luas kesesuain perairan berdasarkan SIG ha 1 137 Analisis GIS

2 Lebar unit budidaya yang dikelola m 40 Wawancara

3 Lebar unit budidaya yang sesuai m 50 Wawancara

4 Panjang unit budidaya yang dikelola m 70 Wawancara

5 Panjang unit budidaya yang sesuai m 100 Wawancara

1. Penentuan Kapasitas Perairan menggunakan persamaan : KPRL =

(p2 x l2) – (p1 x l1)

X 100 % (p2 x l2)

Keterangan:

2. Penentuan Daya Dukung menggunakan persamaan : DDRL = LPS x KP

Keterangan:

DDRL = Daya Dukung Perairan untuk budidaya rumput laut (ha) LPS = Luas Perairan Sesuai untuk budidaya rumput laut (ha) KP = Kapasitas Perairan untuk budidaya rumput laut (%) DDRL = 1 137 x 49.09 %

= 558 ha

KPRL = Kapasitas Perairan (%)

L1 = Luas unit budidaya yang dikelola (m2) p1 = Panjang unit budidaya yang dikelola (m) l1 = Lebar unit budidaya yang dikelola (m) L2 = Luas unit budidaya yang sesuai (m2) p2 = Panjang unit budidaya yang sesuai (m) l2 = Lebar unit budidaya yang sesuai (m)

KP = (110 x 50) – (70 x 40) X 100 % (110 x 50) = (5 500) - (2 800) X 100 % (5 500) = 49.09 %

3. Penentuan Luas Unit Budidaya Rumput Laut LUBRL = PUB x LUB

Keterangan:

LUB = Luas Unit Budidaya (ha)

PUB = Panjang Unit Budidaya (m) yang sesuai LUB = Lebar Unit Budidaya (m) sesuai

LUBRL = 110 x 50 = 5 500 m2 = 0.55 ha

4. Penentuan Jumlah Unit Budidaya Rumput Laut menggunakan persamaan : JUBRL =

DDRL LUBRL Keterangan:

JUB = Jumlah Unit Budidaya (unit)

DDRL = Daya Dukung Perairan Budidaya Rumput Laut (ha) LUB = Luas Satu Unit Budidaya Rumput Laut (ha)

JUBRL =

558 ha 0.55 ha = 1 015 unit

Lampiran 2 Hasil analisis daya dukung perairan budidaya rumput laut metode long line Kecamatan Jereweh KSB

No Parameter Satuan Data Sumber Data

1 Luas kesesuain perairan

berdasarkan SIG ha 73 48 Analisis GIS

2 Lebar unit budidaya yang dikelola m 40 Wawancara 3 Lebar unit budidaya yang sesuai m 100 Wawancara 4 Panjang unit budidaya yang

dikelola m 70 Wawancara

5 Panjang unit budidaya yang sesuai m 50 Wawancara 1. Penentuan Kapasitas Perairan menggunakan persamaan :

KPRL = (p2 x l2) – (p1 x l1) X 100 % (p2 x l2) Keterangan: KPRL = Kapasitas Perairan (%)

L1 = Luas unit budidaya yang dikelola (m2) p1 = Panjang unit budidaya yang dikelola (m) l1 = Lebar unit budidaya yang dikelola (m) L2 = Luas unit budidaya yang sesuai (m2) p2 = Panjang unit budidaya yang sesuai (m) l2 = Lebar unit budidaya yang sesuai (m)

KP = (110 x 50) – (70 x 40) X 100 % (110 x 50) = (5 500) - (2 800) X 100 % (5 500) = 49.09 %

2. Penentuan Daya Dukung Rumput Laut menggunakan persamaan : DDRL = LPS x KP

Keterangan:

DDRL = Daya Dukung Perairan untuk budidaya rumput laut (ha) LPS = Luas Perairan Sesuai untuk budidaya rumput laut (ha) KP = Kapasitas Perairan untuk budidaya rumput laut (%)

DDRL = 73.48 x 49.09 % = 36 ha

3. Penentuan Luas Unit Budidaya Rumput Laut LUBRL = PUB x LUB

Keterangan:

LUB = Luas Unit Budidaya (ha)

PUB = Panjang Unit Budidaya (m) yang sesuai LUB = Lebar Unit Budidaya (m) sesuai

LUBRL = 110 x 50 = 5 500 m2 = 0.55 ha

4. Penentuan Jumlah Unit Budidaya Rumput Laut menggunakan persamaan : JUBRL =

DDRL LUB Keterangan:

JUB = Jumlah Unit Budidaya Rumput Laut (unit) DDRL = Daya Dukung Perairan Rumput Laut (ha)

berdasarkan Kapasitas Perairan

LUBRL = Luas Satu Unit Budidaya Rumput Laut (ha)

JUBRL =

36 ha 0.55 ha = 66 unit

Lampiran 3 Hasil analisis daya dukung perairan budidaya rumput laut metode tancap/patok Kecamatan Taliwang KSB

No Parameter Satuan Data Sumber Data

1 Luas kesesuain perairan

berdasarkan SIG ha 258.21 Analisis GIS

2 Lebar unit budidaya yang dikelola m 20 Wawancara 3 Lebar unit budidaya yang sesuai m 30 Wawancara 4 Panjang unit budidaya yang

dikelola m 10 Wawancara

5 Panjang unit budidaya yang sesuai m 20 Wawancara 1. Penentuan Kapasitas Perairan menggunakan persamaan :

KPRL = (p2 x l2) – (p1 x l1) X 100 % (p2 x l2) Dimana: KPRL = Kapasitas Perairan (%)

L1 = Luas unit budidaya yang dikelola (m2) p1 = Panjang unit budidaya yang dikelola (m) l1 = Lebar unit budidaya yang dikelola (m) L2 = Luas unit budidaya yang sesuai (m2) p2 = Panjang unit budidaya yang sesuai (m) l2 = Lebar unit budidaya yang sesuai (m)

KP = (35 x 20) – (20 x 10) X 100 % (35 x 20) = (700) - (200) X 100 % (700) = 71.43 %

2. Penentuan Daya Dukung Rumput Laut menggunakan persamaan : DDRL = LPS x KP

Keterangan:

DDRL = Daya Dukung Perairan untuk budidaya rumput laut (ha) LPS = Luas Perairan Sesuai untuk budidaya rumput laut (ha) KP = Kapasitas Perairan untuk budidaya rumput laut (%)

DDRL = 258.21 x 71.43 % = 184 ha

3. Penentuan Luas Unit Budidaya Rumput Laut LUBRL = PUB x LUB

Keterangan:

LUB = Luas Unit Budidaya (ha)

PUB = Panjang Unit Budidaya (m) yang sesuai LUB = Lebar Unit Budidaya (m) sesuai

LUBRL = 35 x 20 = 700 m2 = 0.07 ha

4. Penentuan Jumlah Unit Budidaya Rumput Laut menggunakan persamaan : JUBRL =

DDRL LUB Keterangan:

JUBRL = Jumlah Unit Budidaya Rumput Laut (unit) DDRL = Daya Dukung Perairan Rumput Laut (ha)

berdasarkan Kapasitas Perairan

LUBRL = Luas Satu Unit Budidaya Rumput Laut (ha)

JUBRL =

172.14 ha 0.07 ha = 2 635 unit

Lampiran 4 Hasil pangukuran kualitas air di KSB

No Stasiun Kedalaman (m) Suhu Hasil Pengukuran Parameter

(C) Salinitas (ppt) Arus (cm/dtk) pH (ppm) DO Kecerahan (m)

ST 01 9 31 35 5 8,3 7,3 8,2 ST 02 15 31 35 7 7,9 7,7 13,8 ST 03 13 31 35 14 8,1 7,5 11,9 ST 04 3,2 30 35 5 8,2 7,3 2,9 ST 05 3 31 35 6 8,1 7,3 2,7 ST 06 10 27 34 11 8,1 7,0 9,2 ST 07 10 28 35 11 8,1 8,2 9,2 ST 08 13 26 34 16 8,1 7,8 11,9 ST 09 7 28 33 16 8,3 7,6 6,4 ST 10 9 28 33 9 8,0 7,3 8,2 ST 11 10 27 34 10 7,7 7,5 9,2 ST 12 10 30 34 7 8,0 7,6 9,2 ST 13 8 29 33 15 7,9 7,4 7,3

Dokumen terkait