Anonim, 1992, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, 2, Jakarta: Depkes RI.
Anonim, 1994, keputusan Menkes RI No 386/Menkes/IV/1994 tentang Pedoman periklanan Obat Bebas,Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Rumah Tangga dan Makanan Minuman, Depkes RI, Jakarta.
Anonim, 1998, Peraturan Menkes RI. No. 715/Menkes/SK/V/2004 Tentang Persyaratan Higiene Jasa Boga, Depkes RI, Jakarta.
Anonim, 2005, Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No. HK.00.05.4.1380 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik, BPOM RI, Jakarta.
Anonim, 2007, Pemastian Mutu Obat Kompendium Pedoman dan Bahan-Bahan Terkait GMP dan Inspeksi, vol. 2, diterjemahan oleh Fabiola C.R. Hutabarat, 93,144-148, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
Anonim, 2013, Khasiat Kunyit Sebagai Obat Tradisional dan Manfaat Lainnya, Warta Pene;itian dan Pengembangan Tanaman Industri, Vol 19 No. 2.
Aulia, 2012, Medium Pertumbuhan Bakteri, 1-2, Bapelkes, Jakarta.
Bintoro, V. P., 2008, Teknologi Pengelolaan Dagingdan Analisa Produk, Universitas Diponegoro, Semarang, Hal. 137.
Boyd, R. I. and Morr, J. J., 1984, Medical Microbiology, 34-37, Little Bown and Company USA.
BPOM RI, 2006, Metode Analisa Mikrobiologi Suplemen 2000. Pusat pengujian Obat dan Makanan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Repyblik Indonesia, Jakarta.
BPOM RI, 2008, Info POM Vol 9 No 2, Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM RI, 2014, Peraturan Kepala BPOM RI No 12 Tahun 2014 Tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional, Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Jakarta.
35
Buckle, KA., Edwards R.A., Fleet G.H, dan Wooton, M. (1985). Ilmu Pangan. Terjemahan dari Bahasa Inggris oleh H. Purnomo dan Adiono. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Hal. 23-26, 49-50, 57-58. Campbell., Reece dan Mitcheel, 2003, Biologi. Erlangga, Jakarta.
Buckle, K. A., 2008, Ilmu Pangan, UI Press, Jakarta.
Dwidjoseputro, D., 1998, Dasar-dasar Mikrobiologi 1, Djambatan, Jakarta. Dwidjoseputro, D., 2003, Dasar-dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta.
Gruendemann, B. J., dan Fernsebner, B., 2006, Buku Ajar Keperawatan Perioperatif. Kedokteran, EGC, Jakarta.
Fardiaz, S., 1992, Mikrobiologi Pangan 1, 557-608, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Hadioetomo, R., S., 1985, Mikrobiologi Dasar dan Praktek-teknik dan Prosedur Dasar dalam Laboratorium, 42-46, Gramedia, Jakarta.
Hermanto dan Subroto, 2007., Pilih Jamu dan Herbal Tanpa Epek Samping. PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
Katzung, Bertram G., 2007, Basic & Clinical Pharmacology, Tenth Edition., Lange Medical Publications, United States.
Lay, B. W., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, 15-22, 81-85, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Murray, P., R., 1996, Munual of linical Microbiology, 7th ed., 73, American Society for Microbiology, Washington DC.
Pelczar, M.J and E.C.S.Chan, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2, UI Press, Jakarta.
Pratiwi, S. T., 2005, Pengujian Cemaran Bakteri dan Cemaran Kapang/Khamir Pada produk Jamu Gendong di Daerah Istimewa Yogyakarta, PHARMACON, Vol. 6, No. 1, Juni 02-15.
Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi. 38, 135-140, 206-207, Erlangga, Yogyakarta.
Radji, M., 2011, Buku Ajar Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi dan Kedokteran, 127, EGC, Jakarta.
36
Sharp, S. E. and idy, S., 2006, Comparison of mannitol salt Agar and Blood agar paltes for identification and susceptibility testing of Staphylococcus aureus in specimen from cystic fibrosis patients. 44(12): 4545-4546, J.Clin. Microbiol.
Soedibyo, M,. 2004, Jamu Obat Sepanjang Zaman, diakses dari http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/mooryatisoedibyo/opi ni.shtml pada tanggal 20 Desember 2015.
Soemarno, 2000, Isolasi dan identifikasi bakteri klinik, Akademi Analis Kesehatan Yogyakarta Departemen Kesehatan RI, Yogyakarta. SNI, 1992, Cara Uji Cemaran Mikroba, 15-16, SNI-012897-1992, Jakarta.
Suharmiati, 2003, Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong, 51, Agromedia Pustaka, Jakarta.
Suharmiati dan Handayani, L., 1998. Bahan Baku, Khasiat dan Cara Pengolahan Jamu Gendong: Studi Kasus di Kotamadya Surabaya, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, http://www.tempo.co.id/medika/arsip/052001/art-1.html, 25 Desember 2015.
Supardi, I dan Sukamto, 1999. Mikrobiologi Dalam Pengolahan dan Keamanan Produk Pangan. Bandung: Yayasan Adhi Karya Dan The Ford Fondation.
Suriawiria, U., 2005, Mikrobiologi dasar, 65, Papas Sinar Sinanti, , Jakarta. Theantena, T., Hyde, K.D., & Lumyong, S., 2007, Asparaginase Production by
Endophytic Fungi Isolated From Some Thai Medical Plants, Jurnal Kmilt Sci. Tech. J. Vol. 7 No S1.
Winarno, F. G., 1997, Sterilisasi Komersial Produk Pangan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Warsito, H., 2011, Obat Tradisional Kekayaan Indonesia, 5,14,17-19,26-27,51,72, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Wattimena, J.R., Sugiarso, N.., Widianto, M.B., Sukandar, E.Y., A.A., Setiabudi, 1991, farmakodinamik dan Terapi Antibiotik, 184,187, Gajah Mada University Press, Yogyakarta,
37
L
A
M
P
I
R
A
N
38
Lampiran 1. Perhitungan Kloramfenikol
Menurut Theantana et al (2007), kloramfenikol 50 mg/L telah memberikan altivitas antibiotik yang optimal. Berikut perhitungan penambahan kloramfenikol
50 mg/L
Jika penggunaan media PDA sebanyak 500 ml, maka kloramfenikol yang digunakan Untuk 500 ml media PDA = 0,05 mg/ml x 500 ml
= 25 mg
39
Lampiran 2. Jumlah koloni yang tumbuh pada media setelah 3 hari inkubasi
Sampel Pengenceran Replikasi Jumlah Koloni
A 10-1 1 26 2 24 10-2 1 0 2 0 10-3 1 0 2 0 10-4 1 0 2 0 B 10-1 1 40 2 36 10-2 1 0 2 0 10-3 1 0 2 0 10-4 1 0 2 0 C 10-1 1 3 2 5 10-2 1 17 2 14 10-3 1 0 2 0 10-4 1 0 2 0 D 10-1 1 3 2 2 10-2 1 0 2 0 10-3 1 0 2 0 10-4 1 0 2 0 E 10-1 1 0 2 0 10-2 1 0 2 0 10-3 1 0 2 0 10-4 1 0 2 0
40
Pelarut
- - 0
41
Lampiran 3 . Perhitungan AKK sampel jamu serbuk kunyit pada inkubasi hari ke-3
1. Sampel jamu serbuk kunyit penjual A a. Sampel jamu A replikasi 1
Dipilih penegnceran 10-1 karena seluruh cawan tidak menunjukkan range 40-60. Sehingga dicatat angka sebenarnya pada tingkat pengenceran terendah yaitu 10-1 Perhitungan sebagai berikut:
Pada pengenceran 10-1 = jumlah koloni x faktor pengenceran = 24 x 10 = 2,4 x 102
b. Sampel jamu A replikasi 2
Dipilih penegnceran 10-1 karena seluruh cawan tidak menunjukkan range 40-60. Sehingga dicatat angka sebenarnya pada tingkat pengenceran terendah yaitu 10-1 Perhitungan sebagai berikut:
Pada pengenceran 10-1 = jumlah koloni x faktor pengenceran = 26 x 10 = 2,6 x 102
Rata-rata nilai AKK =
koloni/gram
2. Sampel jamu serbuk kunyit penjual B
Pada penjual jamu kunyit B hanya salah satu dari kedua cawan petri dari pengenceran yang sama yaitu 10-1 menunjukkan jumlah koloni antara 40-60 buah, dihitung jumlah koloni dari kedua cawan dan dikalikan dengan faktor pengenceran.
42
Pada pengenceran 10-1 = jumlah koloni x faktor pengenceran = 40 x 10 = 4 x 102
b. Sampel jamu B replikasi 2
Pada pengenceran 10-1 = jumlah koloni x faktor pengenceran = 36 x 10 = 3,6 x 102
Rata-rata nilai AKK =
koloni/gram
3. Sampel jamu serbuk kunyit penjual C a. Sampel jamu C replikasi 1
Dipilih pengenceran 10-1 karena seluruh cawan tidak menunjukkan range 40-60. Sehingga dicatat angka sebenarnya pada tingkat pengenceran terendah yaitu 10-1 Perhitungan sebagai berikut:
Pada pengenceran 10-1 = jumlah koloni x faktor pengenceran = 3 x 10 = 3 x 10
b. Sampel jamu C replikasi 1
Dipilih pengenceran 10-1 karena seluruh cawan tidak menunjukkan range 40-60. Sehingga dicatat angka sebenarnya pada tingkat pengenceran terendah yaitu 10-1 Perhitungan sebagai berikut:
Pada pengenceran 10-1 = jumlah koloni x faktor pengenceran = 5 x 10 = 5 x 10
43
4. Sampel jamu serbuk kunyit D a. Sampel jamu D replikasi 1
Dipilih pengenceran 10-1 karena seluruh cawan tidak menunjukkan range 40-60. Sehingga dicatat angka sebenarnya pada tingkat pengenceran terendah yaitu 10-1 Perhitungan sebagai berikut:
Pada pengenceran 10-1 = jumlah koloni x faktor pengenceran = 3 x 10 = 3 x 10
b. Sampel jamu D replikasi 2
Dipilih pengenceran 10-1 karena seluruh cawan tidak menunjukkan range 40-60. Sehingga dicatat angka sebenarnya pada tingkat pengenceran terendah yaitu 10-1 Perhitungan sebagai berikut:
Pada pengenceran 10-1 = jumlah koloni x faktor pengenceran = 2 x 10 = 2 x 10
Rata-rata nilai AKK = koloni/gram 5. Sampel jamu serbuk kunyit E
Pada penjual jamu kunyit E tidak ada pertumbuhan pada semua cawan bukan disebabkan factor inhibitor, maka angka kapang/khamir dilaporkan sebagai kurang dari satu dikalikan faktor pengenceran.
44
Lampiran. 4. AKK Sampel Jamu Serbuk kunyit
AKK sampel jamu serbuk kunyit setelah 3 hari inkubasi
A B
C D
E F
Ketengan gambar
A : Jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-1 B : Jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-2 C : Jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-3 D : Jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-4 E : Kontrol Media
45
Lampiran 5. Uji Cemaran S.aureus pada sampel jamu serbuk kunyit setelah inkubasi
A B C
Ketengan gambar
A : Hasil inkubasi pada sampel jamu serbuk kunyit B : Hasil inkubasi kontrol media