Aji, M.P. & A. Yulianto. 2005. Pengukuran Suseptibilitas Magnetik pada Tanaman Kangkung dari Area yang Tercemar di Semarang. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional Bahan Magnet (SNBM) 4. Semarang: Universitas Diponegoro.
Cahyono, P.H. 2010. Gizi Zat Besi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Cullity, B.D. & C.D. Graham. 2009. Introduction to Magnetic Materials (2th ed.).
Canada: IEEE press.
Dearing, J. 2003. Environmental Magnetic Suceptibility Using the Bartington MS2 System. London: British Library.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya Dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.
Idris, P.Fairuz, & Citrakesumasari. 2008. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Wilaayah Kerja Puskesmas Antara Kota Makassar Tahun 2005. Jurnal Kesehatan Masyarakat Madani. Vol.01, No.01, Hal 25.
Kartamihardja, E. 2008. Anemia Definisi Besi. Surabaya: Universitas Wijaya Kusuma.
Kuncoro, R.A. 2009. Investigasi Kandungan Logam Besi Pada Tanaman Kangkung Dengan Metode Magnetik. Skripsi. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang.
Kusumastiti, M.D. 2013. Kajian Kandungan Logam Magnetik pada Berbagai Macam Sayuran. Skripsi. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang.
Lahuddin. 2007. Aspek unsur Mikro Dalam Kesuburan Tanah. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Mas’ud, H. 2009. Sistem Hidroponik Dengan Nutrisi Dan Media Tanam Berbeda Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Selada. Media Litbang Sulteng 2 (2): 131–136, Desember 2009. ISSN: 1979 – 5971.
Prihatin, S. 2004. Pembuatan Serbuk Barium Ferrite (BaO.6Fe2O3) dengan Bahan Dasar Pasir Besi Pantai Bayuran Jepara Jawa Tengah dan Karakterisasi Sifat Magnetik. Skripsi. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang.
57
Purbayanti, D.P., D.R. Lukiwati, & R.Trimulatsih. 1991. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
57
Purnadhibrata, M. 2011. Upaya Pencegahan Anemia Gizi Besi pada Ibu Hamil. Jurnal Ilmu Gizi. Vol. 2, No.2. Agustus 2011: 118-124.
Rahman, T.P. 2012. Sintesis Pewarna Magnetik Berbahan Dasar Besi Oksida. Skripsi. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang.
Rubatzky, V.E. & M. Yamaguchi. 2000. Sayuran dunia 2 Prinsip Produksi Gizi. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Said, N.I. 2003. Metoda Praktis Penghilang Zat Besi dan Mangan Di Dalam Air Minum. Jakarta: Kelair-BPPT.
Salisbury, F.B. & C.W. Rossy. 2000. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Silvina, F. & Syafrinal. 2008. Penggunaan Berbagai Medium Tanam dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair pada Pertumbuhan dan Produksi Mentimun Jepang. Jurnal Korespondesi. Pekanbaru: Universitas Riau. Solihah, L.K. 2010. Sintesis dan Karakterisasi Partikel Nano Fe3O4 yang Berasal
dari Pasir Besi dan Fe3O4 Bahan Komersial (Aldrich). Skipsi. Surabaya: FMIPA Inisitut Teknologi Sepuluh November.
Suhardjo & C.M. Kushart. 2000. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta: Kanisius. Sulhakudin. 2008. Pengaruh Volume Air Penyiraman da Takaran Mulsa Jerami
terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada Keriting di Lahan Pasir Pantai Bugel. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada.
Susila, A. & Y. Koerniawati. 2004. Pengaruh Volume Jenis Media Tanam pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada dalam Teknologi Hidroponik Sistem Terapung. Makalah dipresentasikan pada Kongres dan Seminar Nasional Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI), Jakarta 22 September 2004.
Tipler, P.A. 2001. Fisika untuk Sains dan Teknik. Translated by Bambang, S. Jakarta: Erlangga.
U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service. 2010. USDA database for the Proanthocyanidin content of selected foods. Nutrient Data Laboratory. Tersedia di http://USDA.or.id (diakses pada tanggal 22 April 2015 pukul 11.20 WIB).
Untara, T. 2014. Pertanian Modern. Tersedia di http://berkebunhidroponik.go.id (diakses pada tanggal 25 April 2015 pukul 07.20 WIB).
Wasiaturrohmah. 2008. Respon Plasma Nutfah Kedelai (Glycine max (L.) Merill) terhaap Keracunan Fe. Skripsi. Malang: Universitas Negeri Malang. Wasonowati, C., S. Sinar, & R. Ade. 2013. Respon Dua Varietas Tanaman Selada
(Lactuca Sativa L.) Terhadap Macam Nutrisi Pada Sistem Hidroponik.
Agrovigor Vol. 6, No.1. ISSN 1979 5777.
WHO. 2012. Guideline: Daily iron and folic acid supplementation in pregnant women. Geneva, World Health Organization. Tersedia di http://www.who.or.id (diakses pada tanggal 7 Juni 2015 pukul 17.17 WIB).
Williams, C.N., J.O. Uzo, & W.T.H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Winarso, S. 2005. Kesuburan tanah: Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Yogyakarta: Gaya Media.
Wisam, A. 2007. Membuat Tanaman Sayuran di Pekarangan. Jakarta: CV.Sinar Cemerlang Abadi.
Yuliani., N.Roska, & S. Arief. 2013. Penggunaan Reduktor Organik Dan Anorganik Pada Proses Sintesis Nanopartikel Fe3o4 Dengan Metode Kopresipitas. Jurnal Kimia Unand. Vol.2, No.1 ISSN No. 2303-3401 Maret 2013.
Yulianto, A. 2007. Fasa Oksida Besi Untuk Sintesis Serbuk Magnet Ferit. Jurnal Sains Materi Indonesia. Vol. 8. ISSN: 1411-1098.
59
Lampiran 1.
Data Perbandingan Nilai Suseptibilitas Magnetik Dengan Kadar Fe Yang Terkandung Dalam Tanaman Sayuran
Kusumastiti, M.D. 2013. Kajian Kandungan Logam Magnetik pada Berbagai Macam Sayuran. Skripsi. Semarang: Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Semarang.
No Sayuran Kadar Fe (mg/kg) Suseptibilitas Magnetik (x 10-8 m3/kg) 1 1 Bayam 494,17 19.8 2 Kangkung 1752,91 10.9 3 Daun singkong 417,09 31.0 4 Selada 1294,87 7.0 5 Sawi 2012,82 23.8 6 Seledri 500,00 8.1 7 Tomat 1256,41 28 8 Daun Ubi 2410,26 17.6
Lampiran 2.
Data Pengukuran Suseptibilitas Magnetik Sampel Tanaman Kangkung Dari Area Yang Tercemar di Semarang
Aji, M.P & A. Yulianto. 2005. Pengukuran Suseptibilitas Magnetik pada Tanaman Kangkung dari Area yang Tercemar di Semarang. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional Bahan Magnet (SNBM) 4. Semarang: Universitas Diponegoro Jenis Lokasi Pengambilan Sampel Simbol Sampel Bagian Tanaman Suseptibilitas Magnetik (x 10-8 m3/kg)
Tak Tercemar A Daun
25.5 – 43.8 Batang 1405.7 – 1556 Tercemar B Daun 72.8 - 84 Batang 45.5 – 50.4 C Daun 137.1 – 383.8 Batang 82 – 145.3 D Daun 99.5 – 146.7 Batang 224 -358.9
61
Lampiran 3.
Hasil Uji Kandungan Unsur Fe Dengan Menggunakan Spektofotometer UV-mini 1240 Shimadzu
Nama : Saptaria Rosa Amalia
NIM : 4211412068
Jurusan/Fakultas : Fisika/FMIPA Jenis Sampel : Selada
Parameter Yang Diukur : Fe
Tanggal Pengukuran : 10 Juli 2015
Tabel Hasil Analisis
Sampel Absorbsi P Fe (mg/L) massa Fe (mg/100g) S-0 0.009 1 0.9412 0.5041 1.8670432 S-1 0.014 1 1.5294 0.5067 3.0183773 S-2 0.016 1 1.7647 0.5162 3.4186476 S-3 0.017 1 1.8824 0.5002 3.7632006
Lampiran 4.
Hasil Uji Kandungan Unsur Fe Dengan Menggunakan Spektofotometer UV-mini 1240 Shimadzu
Nama : Saptaria Rosa Amalia
NIM : 4211412068
Jurusan/Fakultas : Fisika/FMIPA Jenis Sampel : Selada
Parameter Yang Diukur : Fe
Tanggal Pengukuran : 1 Februari 2016
Tabel Hasil Analisis
Sampel Absorbsi P Fe (mg/L) massa Fe (mg/100g) S-0 0.023 2 5.50 0.5020 10.9561753 0 S-1 0.029 2 7.00 0.5113 13.6905926 1 S-2 0.036 2 8.75 0.5107 17.1333463 9 S-3 0.039 2 9.50 0.5099 18.6311041 4
63
Lampiran 5.
Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian
Gambar 2. Semai bibit selada pada media tanah hingga tanaman selada berumur 14
hari.
Gambar 3. Membuat sintesis besi oksida (Fe3O4) dengan asam klorida (HCl).
Gambar 4. Membuat media hidroponik Deep Water Culture.
65
Gambar 5. Pindah tanam tanaman selada dari media tanah ke media hidroponik.
Gambar 6. Memberikan stimulasi emulsi besi oksida pada media tanam hidroponik Deep Water Culture masing-masing sebanyak 10 mL setiap 4 Liter air.
Gambar 7. Hasil tanaman selada yang ditanam menggunakan sistem hidroponik
Deep Water Culture dan distimulasi emulsi besi oksida.
Gambar 8. Pengambilan sampel
67
Lampiran 6.
69