• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adha, M. 2015. Analisis Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla Spp.) di Kawasan Mangrove Dukuh Senik Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak . Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang.

Bahri, S. 2015. Bubu dan Pukat: Teknologi Alat Tangkap Kepiting Laut oleh Masyarakat Nelayan di Pajukukang, Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Walasuji. 6 (2): 425-438.

Barus, T. A. 2001. Pengantar Limnologi. Studi Tentang ekosistem Sungai dan Danaui. Departemen Biologi. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bengen, D. G. 1998. Sinopsis Analisis Stasistik Multivariabel/ Multidimensi.

Program Pascasarjana IPB, Bogor.

Boyd C.E. 1995. Shrimp Pond Bottom Soil and Sediment Management. Soil and sediment management. Reviews

Daulay, E. J. 2013. Kepadatan dan Distribusi Kepiting Bakau Scylla Spp. Serta Hubungannya dengan Faktor Fisik Kimia di Ekosistem Mangrove Belawan Sumatera Utara. [Tesis]. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Effendie M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Jakarta Gita, R. S. D. 2016. Keanekaragaman Jenis Kepiting Bakau (Scylla spp.) di

Taman Nasional Alas Purwo. Jurnal Biologi dan Pembelajaran Biologi. 1 (2) : 148-162.

Herliani, N. E dan Zamdial. 2015. Hubungan Lebar Karapas dan Berat Kepiting Bakau (Syclla spp.) Hasil Tangkapan di Desa Kahyapu Pulau Enggano Provinsi Bengkulu. Jurnal Kelautan. 8 (2) : 83-87.

Hidayat, Y. 2001. Tingkat Kesuburan Perairan Berdasarkan Kandungan Unsur Hara N dan P Serta Struktur Komunitas Fitoplankton di Situ Tonjong, Bojonggede Kabupaten Bogor Jawa Barat. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Iskandar, D. 2013. Daya Tangkap Bubu Lipat yang Dioperasikan oleh Nelayan Tradisional di Desa Mayangan Kabupaten Subang. Jurnal Saintek perikanan. 8 (2): 1-5.

Karim, M.Y., Zainuddin dan S. Aslamsyah. 2015 Pengaruh Suhu Terhadap Kelangsungan Hidup dan Percepatan Metamorfosis Larva Kepiting Bakau (Scylla Olivacea). Jurnal Perikanan.17 (2): 84-89.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (Kepmen LH). 2004. Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut. No. 51. Jakarta.

Koolkalya, S., U. Matchakuea dan T. Jutagate. 2016. Comparison of Catch Sizes and Reproductive Biology of Mud Crab Species of The Genus Scylla Coexisting Populations in The Eastern Gulf of Thailand. International Journal of Agricultural Technology. 12 (7): 1645-1655.

Kordi. 2012. Jurus Jitu Pengelolaan Tambak Untuk Budidaya Perikanan Ekonomis. Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.

Krebs, C. J. 1989. Ecological Metodology. Harper Collins Publisher, New York.

Mawarni, M., R. Irnawati, dan A. susanto. 2014. Sebaran Daerah Penangkapan Kepiting Bakau (Scylla sp.) di perairan Karangantu Serang Banten. Jurnal Ilmu Pertanian dan Perikanan. 3(1) : 47-54.

Mulya, M. B. 2000. Kelimpahan dan Distribusi Kepiting Baku (Scylla spp.) dan Keterkaitannya dengan Karakteristik Biofisik Hutan mangrove di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut Provinsi Sumatera Utara. [Tesis]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Mulfizar, Z.A. Muchlisin dan I. Dewiyanti. 2012. Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Tiga Jenis Ikan yang Tertangkap di Perairan Kuala Gigieng Aceh Besar Provinsi Aceh. Jurnal Depik. 1 (1):1- 9.

Moosa, M. K., I. Aswandy dan A. Kasry. 1985. Kepiting Bakau Scylla serrata (Forskal) dari Perairan Indonesia, LON-LIPI, Jakarta.

Nirmala, S 2010. Bilologi popolasi Kepiting Bakau (scylla seratta ) di habitat mangrove. Taman Nasional Kutai Kabupaten Kutai Timur. Institut Pertanian Bogor Pusat Penelitian Oseanografi-Lipi. Jakarta.

Nurdiani, R. and C. Zeng. 2007. Effects of Temperature and Salinity on the Survival and Development of Mud Crab Scylla serrata (Forsskal) larvae.

Aquaculture Research.38 :1529-1538.

Odum, E. P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi. Institut Pertanian Bogor. Gdjah Mada University Press. 625 hlm.

Peraturan Menteri Kelutan dan Perikanan (Permen KP). 2016. Larangan Penangkapan dan Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) dari Wilayah Negara republic Indonesia, Jakarta.

Prianto, E. 2007. Peran Kepiting Sebagai Spesies Kunci (Keystone Spesies) pada Ekosistem Mangrove. Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia IV.

Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Banyuasin.

Romimohtarto. 2009. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut.

Penerbit Jambatan, Jakarta.

Rosmaniar. 2008. Kepadatan dan Distribusi Kepiting Bakau (Scylla spp) serta Hubungannya dengan Faktor Fisika di Perairan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. [Tesis]. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sammana, I.A. 2006. Keberadaan Unsur Hara Dalam Media Air Laut Bersubstrat Zeocrete Pada Tingkat Konsentrasi Berbeda. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sara, L. 2010. Study on The Size Structure and Population Parameters of Mud Crab Scylla Serrata in Lawele Bay Southeast Sulawesi Indonesia. Journal of Coastal Development. 13 (2): 133-147.

Setiawan, F. dan Triyanto. 2012. Studi kesesuaian lahan untuk pengembangan silvofishery kepiting bakau di Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Jurnal Limnotek,19 (2):158-165.

Sentosa, A. A dan A. R. Syam. 2012. Pertumbuhan dan Mortalitas Kepiting Bakau, Scylla Tranquebarica Fabricius, 1798 Di Perairan Pantai Mayangan Kabupaten Subang Jawa Barat. Balai Penellitian Pemulihan Dan Konservasi Sumberdaya Ikan, Purwakarta.

Sharif, N. A. M., N. A. S Kahar., K. Rodrigues., J. Ransangan dan A. Y. S. Kian.

2016. Genetic diversity of mud crabs Scylla tranquebarica in Sabah Malaysia based on Cytochrome C Oxidase (COI) gene sequence. Journal of Scientic Technology. 38 (4): 365-372.

Shelley, C. and A. Lovatelli. 2011. Mud crab aquaculture a practical manual. FAO Fisheries and Aquaculture Technical Paper. 78p.

Siahanenia, L. 2008. Distribusi dan Kelimpahan kepiting Bakau (S.Serrata , S.

oseanica dan S. Tranquebarica) dan Hubungannya dengan Karakteristik Habitat Pada Kawasan Mangrove Teluk Pelita Jaya Seram Barat Maluku.

[Tesis]. Program Pascasarjana IPB, Bogor.

Sparre, P dan S.C Venema . 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Susanto, G.N dan Murwani. 2006. Analisis Secara Ekologis Tambak Alih Lahan pada Kawasan Potensial untuk Habitat Kepiting Bakau (Syclla Spp.) Prosiding Seminar Nasional Limnologi 2006 Puslit Limnologi-LIPI.

Hlm.:284-292.

Suprapto, D., I. Widowati., E. Yudiati dan Subandiyono. 2014. Pertumbuhan Kepiting Bakau Scylla serrata yang diberi Berbagai Jenis Pakan. Jurnal Ilmu Kelautan. 19 (4) : 202-210.

Syahlan, S. L. 2013. Perbandingan Pertumbuhan Kepiting Bakau (Syclla serrata) Jantan dan Betina Pada Metode Kurungan Dasar. Jurnal Mina Laut Indonesia. (12): 29-35.

Tahmid, M. 2016 Kajian Ekologi-Ekonomi Kepiting Bakau (Scylla Serrata - Forsskal, 1775) di Ekosistem Mangrove Teluk Bintan Kabupaten Bintan.

[Tesis]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Thirunavukkarasu, N., S. A. Nesakumari dan C. A. Shanmugam. 2014. Larval Rearing and Seed Production of Mud Crab Scylla Tranquebarica (Fabricius, 1798). International Journal of Fisheries and Aquatic Studies.

2 (2): 19-25.

Trivedi, J. N dan K. D. Vachhrajani. 2013. Taxonomic Account of Genus Scylla (de Haan, 1833) from Gujarat State, India With Two New Records of Species. Journal of Arthropods. 2 (4): 159-171.

Yunus, I., Setiyadi., Kasprijo, dan D. Roza. 1997. Pengaruh pH Air terhadap Sintasan Larva Kepiting Bakau (Scylla serrata). Jurnal Penelian Perikanan Indonesia. 3(4):57-61.

LAMPIRAN

Sechi disk Refraktometer

DO meter Alkohol

Timbangan analitik Milimeter block

Meteran gulung GPS

Coolbox Jangka sorong

Plastik Alat tulis

Alat tangkap bubu

Pengukuran cahaya Pengukuran suhu air

Pengukuran pH air Pengukuran kecerahan air

Peletakkan bubu Pengukuran panjang kepiting

Pengukuran lebar kepiting Pengukuran berat kepiting

Sampling ke 1

Stasiun Suhu Kecerahan Kecepatan Arus Kedalaman pH Salinitas DO

(°C) (cm) (m/det) (m) (‰) (mg/l)

1 30 21 0,97 2,5 6,4 21 4,3

2 28 60 0,65 3,9 6,8 30 4

3 29 68 0,79 4,3 6,5 25 4,1

Sampling ke 2

Stasiun Suhu Kecerahan Kecepatan Arus Kedalaman pH Salinitas DO

(°C) (cm) (m/det) (m) (‰) (mg/l)

1 30 23 0,65 4,4 6,3 19 4,4

2 29 76 0,45 4,3 6,8 30 4,2

3 29 52 0,63 4,6 6,5 25 4

Sampling ke 3

Stasiun Suhu Kecerahan Kecepatan Arus Kedalaman pH Salinitas DO

(°C) (cm) (m/det) (m) (‰) (mg/l)

1 30 79 0,65 3,9 6,3 15 4,4

2 30 40 0,95 1,7 6,7 28 4,3

3 30 57 0,72 4,1 6,5 24 4,1

perhitungan sebelumnnya selanjutnya tekstur substrat dianalisis berdasarkan perbandingan pasir, liat dan debu pada Segitiga USDA.

Stasiun Fraksi Substrat (%)

Pasir Debu Liat

1 36,56 63,44 25,44

2 34,56 65,44 27,44

3 40,56 59,44 27,44

stasiun 1 = Lempung Liat Berdebu stasiun 2 = Lempung Liat Berdebu stasiun 3 = Lempung Liat Berdebu

Sumber: Hillel, (1982)

No I II III

Lebar (cm) Berat (g) Lebar (cm) Berat (g) Lebar (cm) Berat (g)

1 7.2 51.66 9.8 84.38 6.2 59.7

2 5.6 16.83 7.3 52.42 4.6 71.24

3 7.9 36.78 6 31.18 11.5 88.5

4 5.4 55.3 9 90.28 11.1 115.66

5 4.3 43.7 10.4 83.52 7.8 94.4

6 9.7 93.36 8.8 92.07 4.3 36.9

7 14 96.75 7.5 61.07 8.5 89.7

8 11 82.48 10 119.2 7.9 56.35

9 6.1 44.5 10.1 130.19 11.3 145.6

10 3.1 36.8 7.5 60.47 11.8 103.15

11 10 87.6 9.1 126.15 11.5 98.14

12 11 77.52 7.4 68.24 10.5 78.51

13 7.3 42.4 6.9 47.3 11.2 113.42

14 3.5 19.7 7.5 67.75 3.1 19.8

15 9.5 72.97 8.7 106.51 6.2 59.7

16 10.7 78.56 9 112.38 4.6 71.24

17 15 94.7 7 55.52 0 0

18 0 0 8.5 84.09 0 0

19 0 0 7.5 53.78 0 0

20 0 0 10 118.4 0 0

21 0 0 8.8 104.68 0 0

22 0 0 8.4 88.29 0 0

Lebar 7.2 51.66 0.857332 1.713154 0.925988 8.433115 0.917676 51.61094 1.000950596 1.17577673

5.6 16.83 0.748188 1.226084 0.326093661

7.9 36.78 0.897627 1.565612 0.712639623

5.4 55.3 0.732394 1.742725 1.07147828

4.3 43.7 0.633468 1.640481 0.846719726

9.7 93.36 0.986772 1.970161 1.808918847

14 96.75 1.146128 1.985651 1.874602596

11 82.48 1.041393 1.916349 1.598110823

6.1 44.5 0.78533 1.64836 0.862220316

3.1 36.8 0.491362 1.565848 0.713027137

10 87.6 1 1.942504 1.697314599

11 77.52 1.041393 1.889414 1.502007166

7.3 42.4 0.863323 1.627366 0.821531267

3.5 19.7 0.544068 1.294466 0.381702027

9.5 72.97 0.977724 1.863144 1.41384756

10.7 78.56 1.029384 1.895201 1.522157933

15 94.7 1.176091 1.97635 1.834882335 9.8 84.38 0.991226 1.92624 -0.1866 0.650733 2.261034 113.3962 0.744116 0.73670477

7.3 52.42 0.863323 1.719497 0.462273

Stasiun III

8.4 88.29 0.924279 1.945912 0.778597

Lebar (cm)

Bobot

(gr) Log L Log W Log a a b al^b FK

FK Rata-rata 6.2 59.7 0.792392 1.775974 0.932695 8.564371 1.045835 57.73062 0.967012 0.89124642

4.6 71.24 0.662758 1.852724 0.810368

11.5 88.5 1.060698 1.946943 0.652323

11.1 115.66 1.045323 2.063183 0.499141

7.8 94.4 0.892095 1.974972 0.611553

4.3 36.9 0.633468 1.567026 1.564515

8.5 89.7 0.929419 1.952792 0.643597

7.9 56.35 0.897627 1.750894 1.024501

11.3 145.6 1.053078 2.163161 0.396501

11.8 103.15 1.071882 2.013469 0.559676

11.5 98.14 1.060698 1.991846 0.588248

10.5 78.51 1.021189 1.894925 0.735328

11.2 113.42 1.049218 2.05469 0.508999

3.1 19.8 0.491362 1.296665 2.915688

Dokumen terkait