• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anggraeny NY, Krishna NH. 2005. Effektivitas penggunaan formaldehida sebagai pelindung protein terhadap kecernaan in vitro protein kasar bungkil kelapa. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pasuruan (ID): Loka Penelitian Sapi Potong. Hlm.430-437

Arora SP. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada Univ Pr.

Asmarasari SA, Zain WHN. 2008. Respons pemberian probiotik dalam pakan terhadap produksi susu sapi perah. Semiloka Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas – 2020. Bogor (ID): Balitnak. Hlm.192-195.

Chen YJ, Son KS, Min BJ, Cho JH, Kwon OS, Kim IH. 2005. Effects of dietary probiotic on growth performance, nutrients digestibility, blood characteristic and fecal nuxious gas content in growing pigs. Asian-Aust J Anim Sci. 18(10):1464-1468.

Cho SS, Finocchiaro ET. 2010. Handbook of Probiotics and Probiotics Ingredients: Health Benefits and Food Applications. New York (US): CRC Pr.

Dehority BA. 2004. Rumen Microbiology. Nottingham (GB): Nottingham Univ Pr.

Department of Dairy Science. 1969. General Laboratory Procedures. Madison (UK): University of Wisconsin.

18

Diwyanto K, Sitompul DM, Manti I, Mathius IW, Soentoro. 2003. Pengkajian pengembangan usaha sistem integrasi kelapa sawit. Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit. Bengkulu (ID): Agricinal Putri Hijau. Hlm.11-22. [FAO/WHO] Food and Agriculture Organization of the United Nations/World

Health Organization. 2002. Guidelines for the Evaluation of Probiotics in Food. Report of a Joint FAO/WHO Working Group on Drafting Guidelines for the Evaluation of Probiotic in Food. London, Ontario, Canada: FAO/WHO.

France J, Dijkstra J. 2005. Volatille fatty acid production. In: J Dijkstra, JM Forbes and J France (Eds). Quantitative Aspect for Ruminant Digestion and Metabolism. 2nd Ed. London (GB): CABI Publishing.

Gagnon M, Kheadr EE, Le Blay G, Fliss I. 2004. In vitro inhibition of Escherichia coli O157:H7 by bifidobacterial strains of human origin. Int J Food Microbiol. 92(1):69–78.

Haris M. 2012. Evaluasi kecernaan lamtoro (Leucaena leucocephala) sebagai pakan sumber protein bypass dengan ransum berbahan dasar jerami padi amoniasi secara in vitro [tesis]. Padang (ID): Universitas Andalas.

Haryanto B. 2000. Penggunaan probiotik dalam upaya peningkatan efesiensi pakan di dalam rumen. Prosiding Semnas Peternakan dan veteriner. Bogor (ID): Puslitbangnak. 5(4):496-502.

Haryanto TN. 2008. Pengaruh penggantian konsentrat dengan tepung sampah organik dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pada domba lokal jantan [skripsi]. Surakarta (ID): Universitas Sebelas Maret.

Irawan B. 2002. Suplemen Zn dan Cu organik pada ransum berbasis agroindustri untuk memacu pertumbuhan domba [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Jouany JP. 1991. Defaunation of the rumen. In : Rumen Microbial Metabolism. Paris (FR): INRA. Hlm.239-261.

Kamra DN. 2005. Rumen microbial ecosystem. Current Sci. 89: 1-2.

[Kementan] Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2012. Konsumsi daging, telur dan susu [internet]. Jakarta (ID): Departemen Pertanian Indonesia. [diunduh 2012 Juli 24]. Tersedia pada: http://www.deptan.go.id/ infoeksekutif /nak /isi_dt5thn_nak.php.

Khampa S, Wanapat M. 2006. Suplemetation levels of concentrate containing high levels of cassava chip on rumen ecology and microbial protein synthesis in cattle. Pakistan J Nutrition. 5: 501-506.

Krisnan R, Haryanto B, Wiryawan KG. 2009. Pengaruh kombinasi penggunaan probiotik mikroba rumen dengan suplemen katalitik dalam pakan terhadap kecernaan dan karakteristik rumen domba. Bogor (ID): Balitnak. JITV. 14(4):262-269.

Lee MC, Hwang SY, Chiou PWS. 2001. Application of rumen undegradable protein on early lactating dairy goats. Asian-Aust. J Anim Sci. 14:1549-1554.

Maduningsih GL. 2008. Stabilitas bakteri probiotik lactobacillus acidophilus dan bifidobacterium longum dalam yogurt susu kambing di dalam saluran pencernaan tikus [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

19 Manin F. 2010. Potensi Lactobacillus acidophilus dan Lactobacillus fermentum

dari saluran pencernaan ayam buras asal lahan gambut sebagai sumber probiotik. J Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan. 13(5).

Mariyono. 2012. Teknologi pakan protein rendah untuk sapi potong. Pasuruan (ID): Badan Litbang Pertanian. Agroinovasi. 3483(63):10-16.

Mathius IW, Yulistiani D, Puastuti W. 2002. Pengaruh substitusi protein kasar dalam bentuk bungkil kedelai terproteksi terhadap penampilan domba bunting dan laktasi. Bogor (ID): Balitnak. JITV. 7(1):22-29.

McDonald P, Edwards RA, Greenhalgh JFD, Morgan CA. 2002. Animal Nutrition. 6th Ed. New York (US): Ashford Colour Pr.

Miwada INS, Wirapartha IM, Wirayasa IN. 2008. Kualitas susu sapi terfermentasi dalam bambu ampel dengan penambahan Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Denpasar (ID): Universitas Udayana. J Indon Trop Anim Agric. 33(2):115-119.

Muchayani D. 2013. Efektivitas penggunaan probiotik padat dan cair untuk menurunkan kadar amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) feses sapi potong [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

[NRC] National Research Council. 2000. Nutrient requirements of beef cattle. 8th Ed. London (GB): National Academy Pr.

Ogimoto K, Imai S. 1981. Atlas of Ruminant (Princple and Practices). Tokyo (JP): Japan Scientific Pr.

Pamungkas D, Anggraeni YN, Kusmantorno, Krishna NH. 2008. Produksi asam lemak terbang dan amonia rumen sapi bali pada imbangan daun lamtoro (L. Leucocephala) dan pakan lengkap yang berbeda. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Malang (ID): Universitas Brawijaya. Hlm.197-204.

Puastuti W. 2010. Urea dalam pakan dan implikasinya dalam fermentasi rumen kerbau. Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau. Bogor (ID): Balitnak. Hlm.89-94.

Putro GA. 2010. Pengaruh suplementasi probiotik cair EM4 terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik ransum domba lokal jantan [skripsi]. Surakarta (ID): Universitas Sebelas Maret.

Rahardja DP. 2012 . Strategi pemberian pakan berkualitas rendah (jerami padi) untuk produksi ternak ruminansia [laporan penelitian]. Makasar (ID): Universitas Hasanudin.

Raharjo YC, Haryati T, Gultom D. 2000. Evaluasi nilai nutrisi pollard gandum terfermentasi dengan Aspergillus niger NRRL 337 pada itik alabio dan mojosari. Seminar Nasional Peternakan dan Veleriner. Bogor (ID): Balitnak. Hlm.320-328

Santra A, Karim SA. 2003. Rumen manipulation to improve animal productivity. J Anim Sci. 16(5):748-763.

Shultz TA, Shultz E. 1969. Estimation of rumen microbial nitrogen by three analytical methods. J Dairy Sci. 53:781-784.

Siregar SB. 2008. Penggemukan Sapi. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Soedjana T, Bahri S, Diwyanto K, Priyanti A, Ilham N, Muharsini S, Tiesnamurti B. 2012. Menakar Potensi Penyediaan Daging Sapi dan Kerbau di Dalam Negeri Menuju Swasembada 2014. Jakarta (ID): IAARD Pr.

20

Steel RGD, Torrie JH. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu Pendekatan Biometrik. Edisi ketiga. M Syah, penerjemah. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama.

Supriyati. 2008. Pengaruh suplementasi probiotik dalam peningkatan produksi dan kualitas susu sapi perah di tingkat peternak. Semiloka Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas – 2020. Bogor (ID): Balai penelitian Ternak. Hlm.206-212.

Suryahadi, Tjakradidjaja A. 2012. Pengujian mutu dan efikasi probiotik biofeed dan turrimavita [laporan penelitian]. Bogor (ID): Centras, LPPM Institut Pertanian Bogor.

Sutardi T. 1979. Ketahanan protein bahan makanan terhadap degradasi oleh mikroba rumen dan manfaatnya bagi produktivitas ternak. Proceeding Seminar dan Penunjang Peternakan. Bogor (ID): Lembaga Penelitian Peternakan.

Tamime AY, Robinson RK. 1999. Yoghurt Science and Technology. Oxford (GB): Pergamon Pr.

Tannock GW. 2003. Probiotics: Time for a Dose of Realism. New Zaeland (GB): Horizon Sci Pr.

Thalib A, Haryanto B, Kuswandi, Hamid H, Mulyani. 2001. Teknik penyiapan sediaan mikroba anaerobic: bakteri selulolitik batang.Bogor (ID): Balitnak. JITV. 6(3): 153-157.

Thalib A, Haryanto B, Hamid H. 2002. Efek coating terhadap kemumian, viabilitas dan aktivitas sediaan mikroba (Probiotik SR) selama penyimpanan. Proseeding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor (ID): Puslitbang Peternakan. Hlm.170-173.

Tilley JMA, Terry RA. 1963. A two-stage technique for the in vitro digestion of forage crops. J British Grassland Soc. 18:104-111.

Toure R, Kheadr E, Lacroix C, Moroni O, Fliss I. 2003. Production of antibacterial substances by bifidobacterial isolates from infant stool active against Listeria monocytogenes. J Applied Microbiol. 95:1058–1069.

Widyobroto BP, Budhi SPS, Agus A. 2007. Pengaruh aras undegraded protein dan energi terhadap kinetik fermentasi rumen dan sintesis protein mikroba pada sapi. J Indon Trop Anim Agric. 1:196-200.

21 Lampiran 1 Sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap konsentrasi NH3

Sk Db JK KT Fhit F0.05 F0.01 Total 26 371.224 Kelompok 2 41.105 20.553 2.554 3.634 6.226 ns Perlakuan 8 201.373 25.172 3.128 2.591 3.890 * Faktor A 2 169.399 84.700 10.526 3.634 6.226 ** 2 vs 31 1 166.150 166.150 20.649 4.494 8.531 ** 3 vs 1 1 2.438 2.438 0.303 4.494 8.531 ns Faktor B 2 12.148 6.074 0.755 3.634 6.226 ns A*B 4 19.826 4.956 0.616 3.007 4.773 ns Eror 16 128.746 8.047 ns

menunjukan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05), * menunjukan perbedaan yang nyata (p<0.05), ** menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0.01); SK: sumber keragaman, Db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F.

Lampiran 2 Uji ortogonal kontras konsentrasi NH3

A1 A2 A3

63.937 114.610 70.561 C Q Jk

2 vs 31 1 -2 1 -94.721 6 166.150

3 vs 1 -1 0 1 6.624 2 2.438

168.588

A1 = pakan PK 10%, TDN 60%; A2 = pakan PK 12%, TDN 60%; A3 = pakan PK 14%,TDN 60% Lampiran 3 Sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap konsentrasi VFA

Sk Db JK KT Fhit F0.05 F0.01 Total 26 23161.393 Kelompok 2 1959.570 979.785 0.832 3.6337 6.226 ns Perlakuan 8 2351.752 293.969 0.250 2.5911 3.890 ns Faktor A 2 95.866 47.933 0.041 3.6337 6.226 ns Faktor B 2 853.117 426.559 0.362 3.6337 6.226 ns A*B 4 1402.769 350.692 0.298 3.0069 4.773 ns Eror 16 18850.071 1178.129 ns

menunjukan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05), * menunjukan perbedaan yang nyata (p<0.05), ** menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0.01); SK: sumber keragaman, Db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F.

22

Lampiran 4 Sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap populasi protozoa

Sk Db JK KT Fhit F0.05 F0.01 Total 26 2.09 Kelompok 2 0.48 0.24 2.997 3.63 6.23 ns Perlakuan 8 0.33 0.04 0.522 2.59 3.89 ns Faktor A 2 0.02 0.01 0.103 3.63 6.23 ns Faktor B 2 0.05 0.03 0.336 3.63 6.23 ns A*B 4 0.26 0.07 0.824 3.01 4.77 ns Eror 16 1.281 0.08 ns

menunjukan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05), * menunjukan perbedaan yang nyata (p<0.05), **

menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0.01); SK: sumber keragaman, Db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F.

Lampiran 5 Sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap populasi bakteri total

Sk Db JK KT Fhit F0,05 F0.01 Total 26 3.595 Kelompok 2 2.145 1.073 22.570 3.63 6.23 ** Perlakuan 8 0.689 0.086 1.813 2.59 3.89 ns Faktor A 2 0.656 0.328 6.907 3.63 6.23 ** 1,2 vs 3 1 0.655 0.655 13.792 4.49 8.53 ** 1 vs 2 1 0.001 0.001 0.021 4.49 8.53 ns Faktor B 2 0.019 0.010 0.202 3.63 6.23 ns A*B 4 0.014 0.003 0.072 3.01 4.77 ns Eror 16 0.760 0.048 ns

menunjukan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05), * menunjukan perbedaan yang nyata (p<0.05), **

menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0.01); SK: sumber keragaman, Db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F.

Lampiran 6 Uji ortogonal kontras populasi bakteri total

A1 A2 A3

105.170 105.305 102.263 C Q Jk

12 vs 3 1 1 -2 5.95 6 0.655

1 vs 2 -1 1 0 0.14 2 0.001

0.656

23 Lampiran 7 Sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap sintesis protein mikroba

Sk Db JK KT Fhit F0.05 F0.01 Total 26 101451.878 Kelompok 2 16243.857 8121.93 2.397 3.63 6.23 ns Perlakuan 8 30999.919 3874.99 1.144 2.59 3.89 ns Faktor A 2 790.179 395.09 0.117 3.63 6.23 ns Faktor B 2 24841.225 12420.61 3.666 3.63 6.23 * 12 vs 3 1 18693.870 18693.87 5.518 4.49 8.53 * 1 vs 2 1 6147.356 6147.36 1.814 4.49 8.53 ns A*B 4 5368.515 1342.13 0.396 3.01 4.77 ns Eror 16 54208.102 3388.01 ns

menunjukan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05), * menunjukan perbedaan yang nyata (p<0.05), **

menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0.01); SK: sumber keragaman, Db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F.

Lampiran 8 Uji ortogonal kontras sintesis protein mikroba

B1 B2 B3

1365.905 1698.550 1029.866 C Q JK

12 vs 3 1 1 -2 1004.723 6 18693.870

1 vs 2 1 -1 0 -332.645 2 6147.356

24841.225

B1 = tanpa probiotik; B2 = probiotik padat (0.25%); B3 = probiotik cair (0.1%). Lampiran 9 Sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap KCBK

Sk db JK KT Fhit F0.01 F0.05 Total 26 74405.461 2861.749 Kelompok 2 24.174 12.087 2.337 6.226 3.634 ns Perlakuan 8 112.910 14.114 2.729 3.890 2.591 ns JK A 2 10.581 5.291 1.023 6.226 3.634 ns JK B 2 4.531 2.265 0.438 6.226 3.634 ns A*B 4 9.062 2.265 0.438 4.773 3.007 ns Eror 16 82.738 5.171 ns

menunjukan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05), * menunjukan perbedaan yang nyata (p<0.05), **

menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0.01); SK: sumber keragaman, Db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F.

24

Lampiran 10 Sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap KCBO

Sk db JK KT Fhit F0.01 F0.05 Total 26 115.025 4.424 Kelompok 2 6.285 3.143 0.630 6.226 3.634 ns Perlakuan 8 28.976 3.622 0.727 3.890 2.591 ns Faktor A 2 13.233 6.616 1.327 6.226 3.634 ns Faktor B 2 8.357 4.178 0.838 6.226 3.634 ns A*B 4 7.386 1.847 0.370 4.773 3.007 ns Eror 16 79.763 4.985 ns

menunjukan perbedaan yang tidak nyata (p>0.05), * menunjukan perbedaan yang nyata (p<0.05), **

menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0.01); SK: sumber keragaman, Db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F.

25

Dokumen terkait