• Tidak ada hasil yang ditemukan

[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2004. Spesifikasi dan Standar Kualitas

Kompos (SNI 19-7030-2004). Badan Standarisasi Nasional, Jakarta.

Cahaya AT dan Nugraha DA. 2008. Pembuatan Kompos dengan Menggunakan Limbah Padat Organik (sampah Sayuran dan Ampas Tebu). Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro, Semarang.

Dalzell, H.W.,A.J Bidlestone, K.R. Gray, and K. Thurairajan. 1987. Soil Management : Compos Productionand Use in Tropical and Subtropical Environment. Soil Bulletin 56, Food and Agricultural Organization of the united National.

[FFTC] Food and Fertilizer Technology Centre. 2005. Compost Production: A Manual For Asian Farmers. Food and Fertilizer Technology Center (FFTC), Taipei.

Fredy A. 2012. Pengaruh perbedaan nilai C/N awal dan laju aerasi pada proses co-composting blotong dan bagas [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Griffiths BS. 1989. The effect of protozoan grazing on nitrification-implication

from the aplication of organic waste aplied to soils. Environmental Engineering Laboratory, University of Aalborg, Denmark, pp37-44.

Haug R.T. 1980. Composting Engineering. Ann Arbor Science, Michigan.

Indrasti NS, Purwoko dan Suherman. 2005. Aplikasi Linear Programming dalam Formulasi Pupuk Organik Berbasis Kompos untuk Berbagai Tanaman. J Tek

Ind Pert. 15(2):60-66.

Indrasti NS dan Rio R Elia. 2004. Pengembangan Media Tumbuh Anggrek dengan Menggunakan Kompos. J Tek Ind Pert. 14(2):40-50.

Indrasti NS. 2003. Penyusunan Standar Mutu dan Sistem Pemasaran Kompos, Laporan Akhir. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

21 Indrasti NS dan Wilmot S. 2001. Second Milestone Report Feasibility Study for

Composting In Indonesia. Ried Crowther International, Indonesia. J Tek Ind Pert. 22(3):173-179.

Ismayana A, Indrasti N S, Suprihatin, Maddu A dan Fredy A. 2012. Faktor Rasio C/N Awal dan Laju Aerasi pada Proses Co-composting Bagasse dan Blotong. J

Tek Ind Pert. 22(3):173-179.

Isroi. 2008. Pengomposan Limbah Padat Organik. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.

Meuchang S, Panichsakpatana S, and Weaver RW. 2004. Co-composting of filter cake and bagasse ; by product from a sugar mill. Bioresource Technology 96 (2005) 437-442.

Mulyadi. 2005. Akuntansi Biaya. Unit Penerbit Dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta

Neto J.T.P, E.I. Stentiford dan D.D. Mara. 1987. Comaprative survival of pathogenic indicators in windrow and static pile. pp. 276-295. Dalam : M.de Bertoldi, M. P. Ferratini, P. L Hermite and F. Zucconi (eds). Compost: Production, Quality and Use. Elsivier Applied Science, London, United Kingdom.

Rynk R, 1992. On-Farm Composting Handbook. Northeast Regional Agricultural Engineering Service Pub. No. 54. Cooperative Extension Service. Ithaca, N.Y. 1992; 186pp. A classic in on-farm composting.

Setyorini D, Saraswati R, dan Anwar EK. 2006. Kompos. BPTP, Yogyakarta Strauss M, Drescher S,Zurbrugg C dan Montangero A.2003. Co-composting of

Faecal Sludge and Municipal. Swiss Federal Institute of Environmental Science & Technology (EAWAG) Dept. of Water & Sanitation in Developing Countries (SANDEC). Switzerland.

Valentas JK, Levine L, Clark JP. 1991. Food Processing Operation and Scale-Up. Marcel Deker Inc., Madison, New York.

Wirakartakusumah MA, Priyanto G, Arpah M, Nurtama B. 1991. Teknik Pangan

Lanjut. Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, Pusat Antar Universitas

22

Lampiran 1 Prosedur analisis mutu kompos A. Kadar Air Bahan (AOAC 1984)

Cawan porselen kosong dan tutupnya dimasukkan ke dalam oven selama 15 menit pada suhu 100oC. Cawan porselen kemudian didinginkan dalam deskikator selama 20 menit. Sampel sebanyak 3 g dimasukan ke dalam cawan porselen yang sebelumnya telah ditimbang beratnya. Cawan beserta isinya dimasukan dalam oven lalu dikeringkan pada suhu 100-105oC hingga beratnya konstan selama 6 jam. Cawan dan isinya dimasukan terlebih dahulu ke dalam deskikator sebelum ditimbang kembali. Kadar air dapat diketahui dengan :

Keterangan : A = berat cawan dan sampel awal (g)

B = berat cawan dan sampel yang telah dikeringkan (g) C = berat sampel (g)

B. Kadar Abu (AOAC 1984)

Sampel sebanyak 3 g ditempatkan pada cawan porselen yang telah diketahui beratnya, kemudian angkat dan dipijarkan pada suhu 600oC selama 5 jam hingga berat tetap lalu dinginkan dan timbang cawan. Kadar abu dihitung dengan rumus :

C. Kadar Nitrogen (AOAC 1984)

Sebanyak 0.1 g sampel dimasukan ke dalam labu Kjeldahl kemudian ditambahkan 2.5 ml H2SO4 pekat dan 1 g katalis CuSO4.NaSO4. Larutan tersebut kemudian didestruksi hingga jernih. Hasil destruksi ditambahkan dilarutkan dengan akuades <25 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung destilasi. Pasang tabung destilasi dan labu Erlenmeyer pada alat semi destilasi. Atur waktu destilasi selama 4 menit (7 menit pada awal running). Atur proses destilasi secara otomatis dengan menekan tombol auto sehingga proses destilasi otomatis beralan sesuai dengan urutan pengeluaran NaOH 6 N ke dalam tabung destilasi dan pengeluaran asam borat 2% ke dalam labu Erlenmeyer. Biarkan proses destilasi berlangsung hingga warna asam borat 2% dalam labu Erlenmeyer berubah dari ungu menjadi hijau muda. Larutan hasil destilasi dititrasi dengan larutan H2SO4 0.02 N terstandarisasi. Hitung volume H2SO4 yang digunakan untuk titrasi. Lakukan prosedur yang sama pada blanko. Kadar nitrogen dihitung dengan rumus :

23

D. Kadar Nitrat (APHA 2005) 1. Pembuatan kurva standar

Standar kalibrasi NO3- disiapkan dengan range antara 0-7 ppm NO3 -N/L. Bahan dilarutkan pada labu tera 50 ml dengan aquades, lalu . λ 7 . Buat kurva kalibrasi dari hubungan kosentrasi dan absorbansi larutan standar. Dapatkan persamaan regresi linear dari kurva kalibrasi.

2. Analisis utama

Sebanyak 50 ml filtrat sampel ditambahkan 1 ml HCl 1 N lalu dikocok hingga homogen. Sampel dianalisis dengan spektrofotometer ultraviolet dengan absorbansi 220 nm (kadar NO3- ) dan 275 nm (bahan organik terlarut).

E. Kadar Karbon Total (AOAC 1984)

Kadar karbon total dapat diperoleh dengan mengurangi berat kering bahan dengan kadar nitrogen dan kadar abu dibagi 1.82 dimana 1.82 adalah faktor OH-.

F. Pengukuran pH (AOAC, 1984)

Nilai ph diukur dengan menggunakan alat ph meter. Contoh yang akan dianalisa terlebih dahulu diencerkan dalam akuades dengan perbandingan 1:2.5 pH meter harus dikalibrasi terlebih dahulu dengan buffer pH 4 dan 7. Sebelum dan sesudah digunakan elektroda pH meter dibilas dengan akuades.

24

Lampiran 2 Formulasi bahan baku kompos

Total pencampuran bahan baku limbah industri gula yang digunakan pada penelitian adalah 100 kg berat kering. Perhitungan didasarkan hasil karakterisasi bahan baku adalah sebagai berikut

. . . . Blotong = 86.8 kg Bagas = 13.2 kg

25 Lampiran 3 Mutu hasil kompos berdasarkan SNI-19-7030-2004

No. Parameter Satuan Standar Baku Mutu *) Hasil pemeriksaan

Minimal Maksimal Aerasi aktif Aerasi pasif

1 Kadar Air % - 50 12.34 9.71

2 Temperatur oC - suhu air tanah 31 31

3 Warna - - kehitaman Kehitaman kehitaman

4 Bau - - berbau tanah berbau tanah berbau tanah

5 Ukuran partikel mm 0.55 25 <0.50 <0.50

6 Kemampuan ikat air % 58 - 99.67 97.33

7 pH - 6.80 7.49 7.22 7.35

8 Bahan asing % - 1.5 Negatif negatif

Unsur Makro 9 Bahan organik % 27 58 44.98 45.62 10 Nitrogen % 0.40 - 1.38 1.33 11 Karbon % 9.80 32 24.22 24.61 12 Phosfor (P2O5) % 0.1 - 0.52 0.62 13 C/N-rasio 10 20 17.55 18.50 14 Kalium (K2O) % 0.20 - 0.109 0.103 Unsur Mikro 15 Arsen mg/kg - 13 <0.002 <0.002 16 Kadmium (Cd) mg/kg - 3 <0.005 <0.005 17 Kobal (Co ) mg/kg - 34 14.74 9.23 18 Kromium (Cr) mg/kg - 210 22.60 21.90 19 Tembaga (Cu) mg/kg - 100 <0.015 <0.015 20 Merkuri (Hg) mg/kg - 0.8 <0.001 <0.001 21 Nikel (Ni) mg/kg - 62 <0.026 0.666 22 Timbal (Pb) mg/kg - 150 7.33 5.52 23 Selenium (Se) mg/kg - 2 <0.001 <0.001 24 Seng (Zn) Mg/kg - 500 21.42 24.28 Unsur Lain 25 Kalsium % - 25.5 0.0807 0.754 26 Magnesium (Mg) % - 0.6 0.025 0.025 27 Besi (Fe ) % - 2 0.149 0.217 28 Aluminium ( Al) % - 2.2 0.827 0.858 29 Mangan (Mn) % - 0.1 0.025 0.026 Bakteri

30 Fecal Coli MPN/gr - 1000 Negatif Negatif

31 Salmonella sp. MPN/4 gr - 3 Negatif Negatif

26

Lampiran 4 Neraca massa co-composting kapasitas produksi 100 kg

Blotong Bagas Pencampuran Pengomposan Kompos basah Pengeringan Penggilingan Kompos jadi Air Uap air 13.2 kg k.a 48.05% 43 kg k.a 100% 86.8 kg k.a 66.72% 143 kg k.a 75% 99.7 kg k.a 74% KONVERSI 70% 53.7 kg k.a 51.79% CO2 H2O 46 kg k.a 100% Gas lain O2

27

Dokumen terkait