Abadio, F.D.B., Domingues, A.M., Borges, S.V., dan Oliveira, V.M. (2004).
Physical properties of powdered pineapple (Ananas comosus) juice effect of malt dextrin concentration and atomization speed. Journal of Food Engineering. 64: 285-287.
Abdelgader, M.O., and Inaam, A.I. (2011). Application of Gum Arabic for coating of dried mango slices. Journal of Nutrition. 10(5): 457-462.
Agoes, G. (2007). Teknologi Bahan Alam. Bandung: Penerbit ITB. Hal. 25-27.
Ansel, H.C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Ke IV.
Terjemahan Oleh: Farida Ibrahim. Jakarta: UI Press. Hal. 606.
Ansel, H.C. (2005). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat.
Jakarta.UI Press. Hal. 217-218.
Arthur, C. (1981). An Intergrated System Of Classification Of Flowering Plants.
Columbia: Columbia University Press. Hal. 477, 481.
Burkil, I.H. (1935). A Dictionary Of The Economic Products Of The Malay Peninsula. Volume II. London: Hal. 889.
Burcham, C.L., Collins, P.C., Jarmer, D.J., dan K.D. Seibert. (2009). Reduction of Particle Size of Drug Substance for Low-Dose Drug Products. In: J. Zheng (eds). Formulation and Analytical Development for Low-Dose Oral Drug Products. Hoboken: John Wiley & Sons, Inc. Hal. 207, 209-216.
Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 639, 649, 748.
Ditjen POM. (1984). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 9,31.
Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 1036.
Ditjen POM RI. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 7-8, 300-304, 306, 321, 325, 333-337.
Ditjen POM RI. (2000). Inventaris Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid I. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 79-80.
Farnsworth, N. R. (1996). Biological and Phytochemical Screening of Plants.
Journal Of Pharmaceutical Science. San Fransisco. Department of Pharmacognosy and Pharmacology. 55(3): 225-276.
Gour, S. (2010). Manufacturing Nano-Sized Powders Using Salt- and Sugar- Assisted Milling. Tesis, Master of Science in Biomedical Engineering.
Philadelphia: Drexel University. Hal. 4-5.
Greco, R.S. (2002). Nanoscale Technology in Biological System. Florida: CRC Press. Hal. 77.
Hakim, A.R., dan Anies Chamidah. (2013). Aplikasi Gum Arab Dan Dekstrin Sebagai Bahan Pengikat Protein Ekstrak Kepala Udang. JPB Kelautan dan Perikanan. 8(1): 45-47.
Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I. Cetakan I. Penerjemah:
Badan Litbang Kehutanan. Jakarta: Penerbit Yayasan Sarana Wanajaya.
Hal. 493-494.
Junghanns, J.U.A.H. dan Müller, R.H. (2008). Nanocrystal Technology, Drug Delivery and Clinical Applications. Int. J. Nanomedicine. 3(3): 295-309.
Lemmens dan Bunyapraphatsara, N. (2003). Plants Resources Of South-East Asia. Leiden: Backhuys Publisher. Hal. 189.
Lewis, R. 1989. Food Additives Hand Book. Chapman and Hall Co. New York.
Mangan, Y. (2003). Cara Bijak Menaklukkan Kanker. Cetakan I. Jakarta. Penerbit PT. Agromedia Pustaka. Hal. 28-32.
Masfria, Dalimunte, C.A., dan Syafridah. (2012). Pemeriksaan Kandungan Mineral Pada Daun Ekor Naga (Rhaphidophora Pinnata (L.F) Schott) Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Badan Lingkungan Hidup Prov.
SU. 11 (2).
Mohanraj, V.J., dan Y Chen. (2006). Nanoparticles- A Review. Trop J Pharm Res.
5(1): 561-573.
Möschwitzher, J., dan R.H. Müller. (2007). Drug Nanocrystals-The Universal Formulation Approach for Poorly Soluble Drugs. In: D. Thassu, M.
Deleers dan Y. Pathak (eds). Nanoparticulate Drug Delivery Systems.
New York: Informa Healthcare USA, Inc. Hal. 72-73, 77-78.
Müller, R.H., Böhm, B.H.L., dan M.J. Grau. (2000). Nanosuspensions: A
Formulation Approach for Poorly Soluble and Poorly Bioavailable Drugs.
In: D.L. Wise (eds). Handbook of Pharmaceutical Controlled Release Technology. New York: Marcel Dekker, Inc. Hal. 345-346.
Müller, R.H., dan C.M. Keck. (2004). Challenges and Solutions for The Delivery of Biotech Drugs – A Review of Drug Nanocrystal Technology and Lipid Nanoparticles. J. Biotech. 113: 151-170.
Prabandari, W. (2011). Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Bahan Penstabil terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Yoghurt Jagung.
Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Negeri Solo.
Prasetyorini., Zainal, A.E., dan Rofiqoh, S. (2011). Penerapan Teknologi Nanopartikel Propolis Trigona Spp Asal Bogor Sebagai Antibakteri Escherichia coli Secara In Vitro. Jurnal Ekologia. 11(1): 36-43.
Rawat, M.,Singh, D., dan Saraf, S. (2006). Nanocarriers: Promising Vehicle for bioactive drugs. Biological and Pharmaceutical Bulletin. 29(9): 1790.
Ribut, S dan S. Kumalaningsih. (2004). Pembuatan bubuk sari buah sirsak dari bahan baku pasta dengan metode foam-mat drying. Kajian Suhu Pengeringan, Konsentrasi Dekstrin dan Lama Penyimpanan Bahan Baku Pasta. http//www.pustaka-deptan.go.id (16 Oktober 2011).
Rusli, P. R. (2011). Pembuatan dan Karakterisasi Nanopartikel Titanium Dioksida Fase Anatase dengan Metode Sol-Gel. Skripsi. Medan : Unimed.
Sarkar, S., Gupta, S., Variyar, P.S., Sharma, A., and Singhal, R., (2012).
Irradiation depolymerized guar gum as partial replacement of gum Arabic formicroencapsulation of mint oil. Carbohydrate Polymers. 90: 1685–
1694.
Setianawati, H. N., B. Setiawan dan L. N. Yuliati. (2002). Penggunaan Kombinasi Bahan Penstabil dalam Pembuatan Velva Kweni (Mangifera odorata Griff) dan Perubahan Mutu Selama Penyimpanan. Skripsi. Media Gizi dan
Keluarga.
Staniforth, J. (2002). Particle-Size Reduction. In: M.E. Aulton (eds).
Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design, 2nd Edition.
Leicester: Churchill Livingstone. Hal. 169-172.
WHO. (1998). Quality Control Methods For Medicinal Plant Material.
Switzerland: WHO. Hal.19-25.
Winarno, F.G., (1980). Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 65-68.
Yadav, D., Suri, S., Choundhary, A., Sikender, M., dan Beg, NM. (2011). Novel Approach Herbal Remedies And Natural Products In Pharmaceutical Science As Nano Drug Delivery Systems. Int J Pharm Tech. Hal. 116.
Lampiran 1. Surat Identifikasi Tumbuhan
Identifikasi ini memakai data hasil dari peneliti yang sebelumnya karena tempat tumbuh yang sama maka tidak dilakukan lagi identifikasi daun ekor naga.
Lampiran 2. Bagan Pembuatan Serbuk Simplisia dan Karakterisasi Serbuk Daun Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott).
Dicuci hingga bersih
Dikeringkan didalam lemari pengering pada suhu 40-450C
Ditimbang beratnya
Dihaluskan menggunakan blender Daun ekor naga
Simplisia
Serbuk simplisia
Karakterisasi simplisia meliputi:
1. Penetapan kadar air
2. Penetapan kadar sari larut air 3. Penetapan kadar sari larut etanol 4. Penetapan kadar abu total
5. Penetapan kadar abu tidak larut alam asam
Lampiran 3. Bagan Pembuatan Ekstak dan Karakterisasi Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott).
Dimasukkan kedalam wadah kaca Ditambahkan etanol 96% sebanyak 2L, lalu diaduk-aduk dan diatas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari
Dibiarkan menetes dengan kecepatan 1mL/menit
Ditambahkan pelarut yang selalu Baru berulang-ulang secukupnya, hingga selalu terdapat selapis cairan penyari diatas simplisia
Dipekatkan hasil perkolat dengan rotary evaporator
Dilanjutkan proses penguapan diatas penangas air
Didapatkan hasil perkolat, perkolat dihentikan jika 500 mg perkolat diuapkan, tidak meninggalkan sisa.
Ekstrak Kental
Karakterisasi ekstrak meliputi:
1. Penetapan kadar air
2. Penetapan kadar sari larut air 3. Penetapan kadar sari larut etanol 4. Penetapan kadar abu total
5. Penetapan kadar abu tidak larut alam asam
Lampiran 4. Bagan Pembuatan Serbuk Nanopartikel Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott).
Dimasukkan ekstrak kedalam lumpang lalu digerus
Dimasukkan gum arab sebanyak 12,33 g dan dekstrin sebanyak 6,17 g Digerus lagi sampai homogen
Diayak menggunakan mesh 100
Dikeringkan di oven selama + 7 hari suhu 40-450C.
Didapatkan hasil granul yang sudah kering
Lampiran 5. Karakterisasi Simplisia Daun Ekor naga dan Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott).
Tabel Hasil Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga
No. Karakterisasi
Hasil
Simplisia EEDEN
1. Penetapan kadar air 6,63 % 5,31%
2. Penetapan kadar sari larut air 15,62% 53,81%
3. Penetapan kadar sari larut etanol 11,27% 61,79%
4. Penetapan kadar abu total 6,40% 11,40%
5. Penetapan kadar abu tidak larut dalam asam 0,82% 0,49%
Lampiran 6. Hasil Pengujian Pertama di UPT. Laboratorium Terpadu Dan Sentra Inovasi Teknologi Universitas Lampung
Lampiran 7. Hasil Pengujian Kedua di UPT. Laboratorium Terpadu Dan Sentra Inovasi Teknologi Universitas Lampung
Lampiran 8. Hasil Pengujian Pertama di Laboratorium FMIPA Kimia Fisika Universitas Sumatera Utara
Lampiran 9. Hasil Pengujian Kedua di Laboratorium FMIPA Kimia Fisika Universitas Sumatera Utara
Lampiran 10. Hasil Pengujian Ketiga di Laboratorium Terpadu Fisika USU
Lampiran 10. (lanjutan)
Lampiran 10. (lanjutan)
Lampiran 11. Gambar Hasil Penghalusan Serbuk EEDEN
Hasil grinding pertama selama 6 jam Hasil grinding kedua selama 10 menit
Hasil grinding kedua selama 4 jam Hasil penggerusan pertama 7 hari
Hasil penggerusan kedua selama 7 hari
Lampiran 12. Gambar Cangkang Kapsul Nomor 4
Lampiran 13. Gambar Tumbuhan Daun Ekor Naga
Gambar daun segar
Gambar simplisia kering
Gambar serbuk simplisia
Lampiran 14. Gambar Proses Ekstraksi
Hasil perendeman simplisia
Proses ekstraksi secara perkolasi
Gambar hasil ekstrak kental
Lampiran 15. Gambar Hasil Orientasi gum Arab Dan Dekstrin
Hasil B1: gum arab (5,33%) : dekstrin (2,67%) = 1 : 0,5
B2: gum arab (2,91%) : dekstrin (5,09%) = 1 : 1,75
Lampiran 15. (lanjutan)
Hasil B3: gum arab (2,00%) : dekstrin (6,00%) = 1 : 3
B4: gum arab (1,52%) : dekstrin (6,46%) = 1 : 4,25
Lampiran 16. Gambar Bahan dan Alat
Dekstrin Gum Arab
Alat-alat gelas Rotary evaporator
Indeks bias Timbangan analitik
Lampiran 16. (lanjutan)
HORIBA particle size analyzer Vascoγ particle size analyzer
Lampiran 17. Perhitungan Karakterisasi Simplisia Daun Ekor Naga 2. Penetapan Kadar Sari Larut Air
c. Kadar sari larut dalam air =
= 15,93%
3. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
4. Penetapan Kadar Abu Total
a. Kadar abu total = = 5,97%
b. Kadar abu total = = 6,40%
c. Kadar abu total = = 6,83%
5. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
a. Kadar abu tidak larut dalam asam = = 0,99%
b. Kadar abu tidak larut dalam asam = = 0,98%
c. Kadar abu tidak larut dalam asam = = 0,49%
No. Berat sampel (g) Berat abu (g)
1. 2,02 0,02
2. 2,04 0,02
3. 2,01 0,01
Lampiran 18. Perhitungan Karakterisasi Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga
2. Penetapan Kadar Sari Larut Air
c. Kadar sari larut dalam air =
= 51,89%
3. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
4. Penetapan Kadar Abu Total
a. Kadar abu total = = 10,94%
b. Kadar abu total = = 11,88%
c. Kadar abu total = = 11,38%
5. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
a. Kadar abu tidak larut dalam asam = = 0,49%
b. Kadar abu tidak larut dalam asam = = 0,49%
c. Kadar abu tidak larut dalam asam = = 0,49%
No. Berat sampel (g) Berat abu (g)
1. 2,01 0,01
2. 2,02 0,01
3. 2,02 0,01
Lampiran 19. Perhitungan Dosis Formulasi Serbuk EEDEN
Diambil dosis ekstrak 105 mg (diperbanyak untuk 250 kapsul)
- Jumlah kapsul = 250 kapsul
- Ekstrak yang dibutuhkan = 250 x 105 mg = 26,25 g
- Bobot kapsul = 180 mg
- Maka, untuk 250 kapsul = 250 x 180 mg = 45 g berat total - Maka, berat tambahan = 45 g – 26,25 g = 18,75 g
o Gum arab (1) = 1/1,5 x 18,75 = 12,5 g o Dekstrin (0,5) = 0,5/1,5 x 18,75 = 6,25 g
Dosis yang mau dibuat yaitu 105 mg dan 70 mg 2/3 dari dosis 105 mg yaitu 70 mg
Dosis untuk 105 mg untuk per kapsulnya yaitu:
- Ekstrak = 0,105 g - Gum arab = 0,050 g - Dekstrin = 0,025 g
- Berat total 180 mg/ kapsul (F2)
Dosis untuk 70 mg untuk per kapsulnya yaitu:
- Ekstrak = 0,070 g - Gum arab = 0,033 g - Dekstrin = 0,016 g
- Berat total 120 mg/ kapsul (F1)
Lampiran 20. Hasil Perhitungan Keseragaman Bobot
- Keluarkan isinya, timbang cangkang kosong seluruhnya : X = 0,8 g = 800 mg
- Rata-rata 1 cangkang = 800 /20 = 40 mg
- Bobot rata-rata tiap kapsul = ( Rata-rata kapsul – Rata-rata 1 cangkang) = (160,6 – 40) = 120,6 mg
- Bobot isi 1 kapsul = ( Bobot (mg) – Rata-rata 1 cangkang) = (160 – 40) = 120 mg
Kemudian masing kapsul dicari selisih bobotnya terhadap bobot rata-ratanya yaitu 120,6 mg, sebagai berikut :
No. Bobot (mg) Deviasi (mg) No. Bobot (mg) Deviasi (mg) bobot rata-rata paling besar dan kedua besar, yaitu :
1. Kapsul dengan berat 123 mg, yang mempunyai selisih 1,99 mg 2. Kapsul dengan berat 122 mg, yang mempunyai selisih 1,16 mg
Kemudian dicari harga A dan B yaitu:
A1 = 123 – 120,6 x 100 % = 1,99 %
Syarat Keseragaman Bobot Menurut Farmakope Indonesia (FI) edisi III (Ditjen POM, 1979) :
Tidak lebih dari dua kapsul yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan tidak ada satu kapsul yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata dariharga yang ditetapkan pada kolom B.
2. Dosis 180 mg
Berat 20 kapsul = 4407 mg (isi serbuk + cangkang) Rata-rata kapsul = 220,35 mg
Timbang satu persatu :
No. Bobot (mg) No. Bobot (mg)
1 220 11 220
2 220 12 220
3 220 13 221
4 220 14 220
5 220 15 222
6 220 16 221
7 221 17 220
8 220 18 220
9 222 19 220
10 220 20 220
- Keluarkan isinya, timbang cangkang kosong seluruhnya : X = 0,8 g = 800 mg
- Rata-rata 1 cangkang = 800 /20 = 40 mg
- Bobot rata-rata tiap kapsul = ( Rata-rata kapsul – Rata-rata 1 cangkang) = (220,35 – 40) = 180,35 mg
- Bobot isi 1 kapsul = ( Bobot (mg) – Rata-rata 1 cangkang) = (220 – 40) = 180 mg
Kemudian masing kapsul dicari selisih bobotnya terhadap bobot rata-ratanya yaitu 180,35 mg, sebagai berikut :
No. Bobot (mg) Deviasi (mg) No. Bobot (mg) Deviasi (mg) bobot rata-rata paling besar dan kedua besar, yaitu :
1. Kapsul dengan berat 182 mg, yang mempunyai selisih 0,90 mg
2. Kapsul dengan berat 181 mg, yang mempunyai selisih 0,36 mg Kemudian dicari harga A dan B yaitu:
A1 = 182 – 180,35 x 100 % = 0,90 % 180,35
A2 = 181 – 180,35 x 100 % = 0,36 % 180,35
B1 = 182 – 180,35 x 100 % = 0,90 % 180,35
Syarat Keseragaman Bobot Menurut Farmakope Indonesia edisi III (Ditjen POM, 1979) :
Tidak lebih dari dua kapsul yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan tidak ada satu kapsul yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata dariharga yang ditetapkan pada kolom B.
Lampiran 21. Uji Waktu Hancur
No Evaluasi Kapsul Hasil Syarat
1 Kapsul dosis 120 mg 11.53 menit < 15 menit 2 Kapsul dosis 180 mg 13.12 menit < 15 menit
Syarat: < 15 menit
- Kesimpulan: Memenuhi persyaratan yang ditetapkan dari Farmakope Indonesia edisi III (Ditjen POM, 1979).
Lampiran 22. Perhitungan Kadar Air Isi Kapsul
Hasil dari uji kadar air dari serbuk nanopartikel isi kapsul yaitu : Krus porselen = 44,88 g
Krus porselen + sampel = 46,90 g
Zat = 2,02 g
1. Setelah pemanasan 1 jam = 46,77 – 44,88 = 1,89 g
2. Setelah pemanasan 30 menit selanjutnya = 46,72 – 44,88 = 1,84 g Penyimpangan (%) = bobot akhir – bobot awal x 100%
bobot awal = 46,72 g – 46,77 x 100%
46,77 g
= 0,10%
Kadar air (%) = bobot penimbangan (akhir – awal) x 100%
massa zat = 1,84 g - 2,02 g x 100%
2,02 g = 8,91 %
- Kesimpulan: Memenuhi persyaratan yang ditetapkan dari Farmakope Indonesia edisi IV (Ditjen POM, 1995).