• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aramo. 2012. Skin and hair diagnosis system. Sungnam: Aram Huvis Korea Ltd.

Halaman 1-10.

Balsam, M.S., dan Sagarin, E. 1972. Cosmetic science and technology volume I.

Edisi Kedua. London: John Wiley and Sons. Halaman 63.

Balsam, M.S., dan Sagarin, E. 2008. Cosmetics science and technology. Second Edition. USA: Wiley Interscience Publication. Halaman 209.

Butler, H. 2000. Pouchers perfumes, cosmetics and soaps. Tenth Edition.

Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Halaman 210.

Denavarre, M.G. 1975. The chemistry and manufacture of cosmetics. Edisi Kedua.

Florida: Continental Press. Halaman 119.

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Depkes RI. Halaman 506.

Ditjen POM. 1985. Formularium kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 82-105.

Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 33.

Draelos, Z.D. 2009. An evaluation of journal of cosmetic dermatology. 8(1): 40-43. Prescription Device Moisturizers.

Fernandes, R.A., Michelli, F.D., Claudineia, A.P.O., Telma, M.K., Andre, R.B., Maria, V.R.V. 2013. Stability evaluation of organic lip balm.

Pharmaceutical Sciences. 49(2): 2-3.

Graf J. 2005. Anti-aging skin care ingredient technologies. Washington: Springer.

Halaman 17-19.

Grompone, M.A. 2005. Sunflower oil. Edisi Keenam. New York: John Willey and Sons Inc. Halaman 664.

Himatin UNIB. 2011. Minyak biji bunga matahari. [online].

http://himatin08.blogspot.com/2011/11/makalah-minyak-biji-bunga-matahari.html. [Diakses 5 agustus 2012].

Husna, N., dan Suryanto. 2012. Efek pelembab minyak biji bunga matahari dalam sediaan krim tangan. Journal of Pharmaceutics and Pharmacology. Vol. 1 (1): 63 – 69.

Hutami, R.A.P., Joshita, D., Abdul, M. 2014. Pemanfaatan ekstrak kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) sebagai pewarna dan antioksidan alami dalam formulasi lipstik dan sediaan oles bibir. Skripsi. Fakultas Farmasi.

Universitas Indonesia.

Idson, B. 1990. Vitamins in cosmetics, an update part II: Vitamin E, drug &

cosmetics industry. 147: 20-21.

Jacobsen, P.L. 2011. The little lip book. USA: Carma Laboratories Incorporated.

Halaman 27.

Kadu, M., Suruchi, V., Sonia, S. 2014. Review on natural lip balm. International Journal of Research in Cosmetic Science. Halaman 1-2.

Kemenkes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 267, 508,760, 809.

Khairunnisa, Hari, R.T., dan Dadang, I.H. 2012. Statistika farmasi aplikasi menggunakan SPSS. Medan: USU Press. Halaman 3.

Kurniati, I. 2011. Minyak bunga matahari lembutkan kulit. [online].

http://kosmo.vivanews.com/news/read/43531-minyak-bunga-matahari-lembutkan-kulit. [Diakses 20 Juni 2012].

Linda. 2012. Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak angkak (Monascus purpureus) sebagai pewarna. Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Monika, T., dan Edityaningrum, C. 2015. Formulasi emulgel minyak biji bunga matahari (Helianthus annuus L.) sebagai sediaan penyembuh luka bakar.

Media Farmasi. Vol. 12 No. 1: 1-16.

Muliyawan D., dan Suriana, N. 2013. A - z tentang kosmetik. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Halaman 39, 134, 146-148.

Ratih, H., Titta, H., Ratna, C. P. 2014. Formulasi lip balm minyak bunga kenanga (Cananga Oil) sebagai emolien. Prosiding Simposium Penelitian.

Yogyakarta: Leutika Prio.

Rawlins, E.A. 2003. Bentley’s textbook of pharmaceutics. 18th edition. London:

Bailierre Tindall. Halaman 355.

Rowe, R.C., Paul, J.S., dan Marian E.Q. 2009. Handbook of pharmaceutical excipients. Edisi keenam. London: Pharmaceutical Press. Halaman 75, 121, 155, 283, 378, 441, 596, 780.

Sembiring, M.N., dan Leli, S.L. 2016. Formulasi dan uji efek anti-Aging dari masker wajah yang mengandung minyak biji bunga matahari (Helianthus annuus L.).Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Sintamilia. 2010. Manfaat biji bunga matahari: Kuaci. [online].

http://goorme.com/article/manfaat-biji-bunga-matahari-kuaci/. [Diakses 10 Agustus 2012].

Sulastomo, E. 2013. Kulit cantik dan sehat. Mengenal dan merawat kulit. Jakarta:

Kompas. Halaman 98, 101.

Tranggono, R.I.S., dan Latifah, F. 2007. Buku pegangan ilmu pengetahuan kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Halaman 7-8, 93-96.

Upex. 2009. Kwaci bunga matahari, makanan sehat kaya gizi. [online].

http://mediaonlinenews.com/kesehatan/kwaci-bunga-matahari-makanan-sehat-kaya-gizi. [Diakses 15 juli 2012]

Warner, R.R. dan Boissy, Y.L. (2000). Effect of moisturizing product on the structure of lipid in the outer stratum corneum of human. Dry skin and moisturizer, chemistry and function. In : Loden, M., Maibach, H.I. CRC Press: Boca Raton, London, New York, Washington, DC. Halaman 56.

Wasitaatmadja, S.M. 1997. Penuntun ilmu kosmetik medik. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Halaman 58.

Yeom, G., Dae-Myoung, Y., Yun-Won, K., Ji-Sook, K., In-Oh, K., dan Sun, Y.K.

2011. Clinical efficacy of facial masks containing yoghurt and opuntia humifusa raf. (F-YOP). Journal of Cosmetics Science. 62: 505.

Lampiran 1. Sertifikat hasil uji analisis minyak biji bunga matahari

Lampiran 2. Gambar alat dan bahan 1. Alat

Moisture Checker pH meter

Oven Neraca Analitik

Penangas Air Wadah Lip Balm

Lampiran 2. (Lanjutan) 2. Bahan

Minyak biji bunga matahari

Lampiran 3. Perhitungan modifikasi formula sediaan Lip Balm dari minyak biji Bunga matahari

- F0 yaitu sediaan tanpa minyak biji bunga matahari

 Gliserin 5% = × 100% = 5 g

 Cera Alba 5% = × 100% = 5 g

 Cocoa Butter = × 100% = 10 g

 Lanolin = × 100% = 6 g

 Nipagin = × 100% = 0,2 g

 BHT = × 100% = 0,05 g

 Oleum cacao ad 100 = 100 – (5+5+10+6+0,2+0,05) = 73,75 g

- F1 yaitu sediaan dengan minyak biji bunga matahari 2,5%

 Gliserin 5% = × 100% = 5 g

 Cera Alba 5% = × 100% = 5 g

 Cocoa Butter = × 100% = 10 g

 Lanolin = × 100% = 6 g

 Nipagin = × 100% = 0,2 g

 BHT = × 100% = 0,05 g

 Minyak biji bunga matahari = × 100% = 2,5 g

 Oleum cacao ad 100 = 100–(5+5+10+6+0,2+0,05+2,5) = 71,25 g

Lampiran 3. (Lanjutan)

- F2 yaitu sediaan dengan minyak biji bunga matahari 5%

 Gliserin 5% = × 100% = 5 g

 Cera Alba 5% = × 100% = 5 g

 Cocoa Butter = × 100% = 10 g

 Lanolin =

× 100% = 6 g

 Nipagin = × 100% = 0,2 g

 BHT = × 100% = 0,05 g

 Minyak biji bunga matahari = × 100% = 5 g

 Oleum cacao ad 100 = 100–(5+5+10+6+0,2+0,05+5) = 68,75 g

- F3 yaitu sediaan dengan minyak biji bunga matahari 7,5%

 Gliserin 5% = × 100% = 5 g

 Cera Alba 5% = × 100% = 5 g

 Cocoa Butter = × 100% = 10 g

 Lanolin = × 100% = 6 g

 Nipagin = × 100% = 0,2 g

 BHT = × 100% = 0,05 g

 Minyak biji bunga matahari = × 100% = 7,5 g

 Oleum cacao ad 100 = 100–(5+5+10+6+0,2+0,05+7,5) = 66,25 g

Lampiran 3. (Lanjutan)

- F4 yaitu sediaan dengan minyak biji bunga matahari 10%

 Gliserin 5% = × 100% = 5 g

 Cera Alba 5% = × 100% = 5 g

 Cocoa Butter = × 100% = 10 g

 Lanolin =

× 100% = 6 g

 Nipagin = × 100% = 0,2 g

 BHT = × 100% = 0,05 g

 Minyak biji bunga matahari = × 100% = 10 g

 Oleum cacao ad 100 = 100–(5+5+10+6+0,2+0,05+10) = 63,75 g

Lampiran 4. Bagan pembuatan sediaan lip balm dari minyak biji bunga matahari

Dimasukkan lelehan cera alba ke dalam basis oleum cacao matahari dan BHT sambil diaduk

Hasil

Dimasukkan ke dalam wadah lip balm Dibiarkan pada suhu ruangan sampai membeku

Lip balm minyak biji bunga matahari

Lampiran 5. Gambar sediaan lip balm dari minyak biji bunga matahari

Keterangan :

F0: Sediaan tanpa minyak biji bunga matahari (blanko)

F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 2,5%

F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 5%

F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 7,5%

F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 10%

Tabel warna menurut Standart Paint International

F0 F1 F2 F3 F4

Lampiran 6. Gambar hasil uji homogenitas

Keterangan :

F0: Sediaan tanpa minyak biji bunga matahari (blanko)

F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 2,5%

F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 5%

F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 7,5%

F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 10%

Lampiran 7. Uji efektivitas sediaan pada bibir panelis

- F0: Sediaan tanpa minyak biji bunga matahari

Sebelum:

Kondisi kulit bibir panelis sebelum pemberian Sediaan F0 yaitu normal cenderung kering

- F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 2,5%

Sebelum:

Kondisi kulit bibir panelis sebelum pemberian Sediaan F1 yaitu normal

cenderung kering dan kulit mengelupas titpis

Sesudah:

Kondisi kulit bibir panelis sesudah pemberian sediaan F0 yaitu mengalami peningkatan kelembaban ditandai dengan tekstur kulit bibir sedikit lebih halus

Sesudah:

Kondisi kulit bibir panelis sesudah pemberian Sediaan F1 yaitu mengalami peningkatan kelembaban ditandai dengan tekstur kulit bibir lebih halus

Lampiran 7. (Lanjutan)

- F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 5%

Sebelum:

Kondisi kulit bibir panelis sebelum pemberian Sediaan F3 yaitu normal

cenderung kering dan kulit mengelupas tipis

- F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari 7,5%

Sesudah:

Kondisi kulit bibir panelis sebelum pemberian Sediaan F3 yaitu normal cenderung kering dan kulit

mengelupas tipis

Sesudah:

Kondisi kulit bibir panelis sesudah pemberian Sediaan F3 yaitu mengalami peningkatan mengelupas tipis kelembaban ditandai dengan tekstur kulit bibir lebih halus dan sedikitlebih cerah

Sesudah:

Kondisi kulit bibir panelis sesudah pemberian Sediaan F3 yaitu mengalami peningkatan kelembaban ditandai dengan tekstur kulit bibir lebih halus dan lebih cerah

Lampiran 7. (Lanjutan)

- F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji bunga matahari10%

Sebelum:

Kondisi kulit bibir panelis sebelum pemberian Sediaan F3 yaitu kering, gelap dan kulit mengelupas

Sesudah:

Kondisi kulit bibir panelis sesudah pemberian Sediaan F3 mengalami peningkatan kelembaban ditandai dengan tekstur kulit bibir lebih halus dan lebih cerah

Lampiran 8. Perhitungan Persen Pemulihan

Lampiran 8. (Lanjutan)

 F3 1.

× 100% = 48,14%

2.

× 100% = 42,85%

3.

× 100% = 50%

Rata-rata =

× 100% = 46,88%

 F4 1.

× 100% = 64%

2.

× 100% = 75%

3.

× 100% = 72%

Rata-rata =

× 100% = 70,31%

Lampiran 9. Perhitungan Uji Kesukaan (Hedonic Test)

Untuk menghitung nilai kesukaan rerata dari setiap panelis digunakan rumus sebagai berikut:

 P ( x – (1.96.s / √ )) ≤ µ ≤ ( x + (1.96.s / √ )) ≅ 95%

x =

 = x

 = √ Keterangan:

n : banyak panelis

: keragaman nilai kesukaan

1,96 : koefisien standar deviasi pada taraf 95%

x : nilai kesukaan rata-rata

𝑋𝑖 : nilai kesukaan dari panelis ke i, dimana i=1,2,3,...,n S : simpangan baku nilai kesukaan

 F1

x =

=

=

3,1

= x

=

=

= 0,35

 = √ = √ = 0,59

P (x – (1.96.s / √ )) ≤ µ ≤ ( x + (1.96.s / √ ))

P (3,1– (1.96.0,59 / √ )) ≤ µ ≤ (3,1+ (1.96.0,59 / √ )) P (3,1– 0,21) ≤ µ ≤ (3,1+ 0,21)

P (2,89 ≤ µ ≤ 3,31)

 F2

x =

=

=

3,63

= x

=

=

= 0,49

 = √ = √ = 0,7

Lampiran 9. (Lanjutan)

P (x – (1.96.s / √ )) ≤ µ ≤ ( x + (1.96.s / √ ))

P (3,63– (1.96.0,7 / √ )) ≤ µ ≤ (3,63+ (1.96.0,7 / √ )) P (3,63– 0,25) ≤ µ ≤ (3,63+ 0,25)

P (3,38 ≤ µ ≤ 3,88) - F3

x =

=

=

4,13

= x

=

=

= 0,5

 = √ = √ = 0,7

P (x – (1.96.s / √ )) ≤ µ ≤ ( x + (1.96.s / √ ))

P (4,13– (1.96.0,7 / √ )) ≤ µ ≤ (4,13+ (1.96.0,7 / √ )) Lampiran 9. (Lanjutan)

P (4,13– 0,25) ≤ µ ≤ (4,13+ 0,25) P (3,88 ≤ µ ≤ 4,38)

- F4

x =

=

=

4,1

= x

=

=

= 0,81

 = √ = √ = 0,9

P (x – (1.96.s / √ )) ≤ µ ≤ ( x + (1.96.s / √ ))

P (4,1– (1.96.0,9 / √ )) ≤ µ ≤ (4,1+ (1.96.0,9 / √ )) P (4,1– 0,32) ≤ µ ≤ (4,1+ 0,32)

P (3,78 ≤ µ ≤ 4,33)

Lampiran 10. Data nilai kelembaban pada skin analyzer

 Kondisi Awal

 Minggu Ke-1

 Minggu Ke-2

Lampiran 10. (Lanjutan)

 Minggu Ke-3

 Minggu Ke-4

Lampiran 11. Kuesioner uji kesukaan (hedonic test)

KUESIONER UJI KESUKAAN

FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN LIP BALM DARI MINYAK

Lampiran 12. Surat pernyataan untuk uji iritasi SURAT PERNYATAAN

Lampiran 13. Data Hasil Uji Statistik 1. Uji Normalitas

Tests of Normalityb

b. Minggu ketiga is constant when Formula = F1. It has been omitted.

2. Uji Kruskal Wallis

Test Statisticsa,b

Kondisi

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula

 F0 dengan F3 a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula

 F1 dengan F2

Test Statisticsb a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties

b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula

 F3 dengan F4

Test Statisticsb Kondisi

awal

Minggu pertama

Minggu kedua

Minggu ketiga

Minggu keempat

Mann-Whitney U .000 1.000 4.000 1.000 .000

Wilcoxon W 6.000 7.000 10.000 7.000 6.000

Z -1.993 -1.623 -.236 -1.623 -1.993

Asymp. Sig. (2-tailed) .046 .105 .814 .105 .046

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

.100a .200a 1.000a .200a .100a a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Formula

Dokumen terkait