Laksmi, Brigitta Isworo dkk. 2008. Matahari Olahraga Indonesia. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Maladi R. 1997. Jawaban dan Lampiran Sejarah Sepak Bola di Jawa Tahun 1920-1942. Jakarta.
Srie Agustina Palupi.2004. Politik dan Sepak Bola. Yogjakarta: Ombak.
176 |
Kathrina Salma Thessalonia
OLAHRAGA telah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat Indonesia. Tidak hanya olahraga lari dan sepak bola yang kini semakin digandrungi oleh kalangan anak muda, akan tetapi olahraga panahan pun tengah menjadi aktivitas favorit. Panahan (Inggris : Archery) adalah suatu kegiatan menggunakan busur panah untuk menembakkan anak panah.
Olahraga panahan merupakan suatu cabang olahraga yang menggunakan busur panah dan anak panah dalam penggunaannya, di mana anak panah yang dilepaskan melalui lintasan tertentu menuju sasaran pada jarak tertentu. Olahraga panahan membutuhkan keahlian atau kemampuan tersendiri dalam melakukannya.
Panah dikenal juga sebagai senjata untuk menyerang atau berburu yang terbuat dari bahan yang keras misalnya kayu. Panah juga memiliki beberapa bagian di antaranya anak panah dan busur. Panah terbagi dalam dua jenis yaitu panah tradisional dan panah modern. Panah tradisional terbuat dari bahan yang terdapat di alam misalnya kayu.
Anak panah juga terbuat dari bahan kayu yang ujungnya diruncingkan agar dapat menembus atau menancap pada sasaran. Terkadang ujungnya yang runcing tersebut menggunakan potongan besi yang dibentuk runcing dan dipasang di ujung anak panah dan pangkalnya diberikan sedikit lubang atau ruang untuk menjepit tali busur. Sedangkan pada busurnya terbuat dari bahan kayu juga. Badan busur terbuat dari kayu seperti sebuah contoh kayu merbau, mahoni, dan lainnya. Sedangkan tali busurnya menggunakan serat
Mahasiswa Pendidikan Sejarah-Universitas Sanata Dharma| 177 dari berbagai jenis pohon yang terkadang menggunakan serat pohon rotan.
Tidak dapat dipungkiri, ada juga olahraga tradisional yang menjadi olahraga yang disukai sama seperti halnya olahraga modern saat ini. Sebagai contoh, jemparingan, yaitu tradisi panahan kuno asli Yogyakarta yang sampai sekarang masih dilestarikan. Tidak seperti aktivitas panahan pada umumnya, jemparingan memiliki sejarah, filosofi, dan teknis dasar sendiri.
Jemparing merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti panah, jemparingan yang awalnya hanya sebagai kegiatan latihan prajurit keraton, namun seiring berjalannya waktu
jemparingan dijadikan kegiatan olahraga.189
Olahraga jemparingan memiliki sejumlah ciri khas serta keunikan tersendiri yang menjadi berbeda dengan olahraga panahan yang lain, yaitu adanya puluhan pemanah yang membidik tiga hingga lima buah sasaran secara bersamaan. Target atau sasaran yang dipanah yaitu sebuah objek kecil yang tergantung pada sebuah tali yang dalam bahasa Jawa disebut bandulan. Bentuknya yang begitu relatif kecil yang menjadikannya sulit untuk membidik objek tersebut.190
Tradisi Jemparingan Khas Gagrak Mataraman
Tradisi jemparingan telah ada sejak zaman kerajaan ratusan silam. Dahulu kala, tradisi ini dimainkan oleh para bangsawan kerajaan dan juga keluarganya.191 Raja Kerajaan Mataram pun menjadikan permainan ini sebuah perlombaan wajib di wilayah
189 Diambil dari youtube: Andasta channel. Diakses pada tanggal 26 April 2017 pukul 19.15 WIB.
190 I Wayan Artanayasa, Panahan, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014, hlm 1.
191 Diambil dari youtube : My Trip My Adventure episode Jemparingan Yogyakarta
https://www.youtube.com/watch?v=BtcqGKgDeg4. diakses pada tanggal 26 April 2017 pukul 19.42 WIB.
178 |
kerajaan kala itu. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai dimainkan oleh rakyat biasa sebagai bagian dari hiburan dan juga pelestarian budaya yang sangat berharga. Tradisi panahan jemparingan ini terus bertahan meski dalam beberapa waktu sempat meredup dan jarang dimainkan lagi, dan kini, jemparingan kembali muncul dan diminati oleh generasi muda.
Para prajurit di zaman kerajaan melakukan tradisi jemparingan ini guna melatih ketajaman konsentrasi dalam melesatkan anak panah. Lambat laun, tradisi jemparingan ini menyebar ke kerajaan sebelah bahkan bangsa asing juga melakukannya. Eksistensi tradisi ini semakin menjamur kian hari mengingat panahan juga merupakan olahraga yang bukan hanya berfungsi untuk latihan fisik namun juga latihan jiwa.
Tidak seperti permainan panahan pada umumnya yang dilakukan dengan posisi berdiri seperti yang kita tonton biasanya, jemparingan ini dilakukan dengan posisi duduk bersila. Peserta biasanya duduk dengan gaya mataraman membentuk dua barisan dengan menghadap ke barat. Posisi duduk ini bukan muncul tanpa alasan. Konon katanya, posisi duduk ini disebabkan karena dahulu para bangsawan biasanya memanah sambil bercengkerama membicarakan bisnis sambil menikmati kopi, teh, atau makanan ringan. Oleh karenanya, posisi duduk dirasa paling sesuai dan nyaman.
Selain itu, aktivitas memanah juga mewajibkan para peserta untuk mengenakan pakaian adat tradisional Jawa lengkap dengan jarik, blangkon, kebaya untuk peserta perempuan dan beskap untuk peserta laki-laki.192 Bahkan ada yang melengkapinya dengan keris. Oleh karena itu, tidak jarang nuansa tradisional zaman dahulu kerap dijumpai pada aktivitas panahan jemparingan ini.
192 https://www.youtube.com/watch?v=rHiKljB7OkE. diakses pada tanggal 26 April 2017 pukul 20.20 WIB.
Mahasiswa Pendidikan Sejarah-Universitas Sanata Dharma| 179 Metode memanah ini adalah dengan busur yang terbuat dari bambu ditarik ke arah kepala sebelum akhirnya ditembakkan untuk mengenai sasaran berupa bedor atau wong-wongan yang memiliki panjang 30 cm dan diameter 3,5 cm.193 Jarak antara posisi duduk dengan target adalah 30 meter.
Secara garis besar, olahraga jemparingan ini bukan hanya sekedar permainan namun juga merupakan olahraga yang digunakan untuk melatih ketajaman mata dan konsentrasi. Keberhasilan memanah biasanya tergantung pada suasana hati. Jika suasana hati sedang gembira, anak panah akan lebih mudah mengenai target. Jika suasana hati sedang penuh amarah atau sedih, anak panah akan sulit mengenai target. Oleh karena itu, perlu kesabaran dan konsentrasi yang mendalam dalam melakukan permainan panahan jemparingan ini apalagi dilakukan dengan posisi duduk karena konon katanya panahan akan lebih sulit dengan posisi duduk bersila.
Munculnya Cabang Olahraga Panahan
Pada awalnya, panahan digunakan sebagai alat untuk berburu dan mempertahankan hidup. Namun di era ini, panahan terdaftar sebagai cabang olahraga yang dilombakan di Olimpiade. Dan panahan telah melalui proses yang cukup panjang untuk dapat berkembang menjadi salah satu cabang olahraga seperti saat ini.
Panahan adalah kegiatan menggunakan busur panah untuk menembakkan anak panah. Bukti-bukti menunjukkan panahan dimulai sejak 5.000 tahun lalu. Awalnya, panahan digunakan dalam berburu sebelum berkembang sebagai senjata dalam pertempuran dan kemudian jadi olahraga ketepatan.
Negara pertama yang menganggap panahan sebagai olahraga adalah Inggris. Pada tahun 1676, Raja Charless II menggelar perlombaan panahan. Hal tersebut yang menginspirasi
180 |
negara lain dan mulai mengubah anggapan bahwa panahan tidak hanya dapat digunakan untuk berperang, namun juga dapat menjadi suatu olahraga. Pada tahun 1844 di Inggris diselenggarakan perlombaan panahan kejuaraan nasional yang pertama di bawah nama GNAS (Grand National Archery Society), sedangkan Amerika Serikat menyelenggarakan kejuaraan nasionalnya yang pertama pada tahun 1879 di kota Chicago.
Dari buku-buku menjelaskan bahwa orang purbakala telah melakukan panahan yaitu menggunakan busur dan panah untuk berburu dan untuk mempertahankan hidup. Bahkan dari beberapa buku melukiskan bahwa lebih dari 100.000 tahun yang lalu suku Neanderathal telah menggunakan busur dan panah.
Ahli-ahli purbakala dalam penggalian di Mesir juga telah menemukan tubuh seorang prajurit Mesir Kuno yang menemui ajalnya karena ditembus anak panah. Data menunjukkan bahwa kejadian itu terjadi kira-kira 2100 tahun sebelum masehi. Dari beberapa buku juga mengemukakan bahwa sampai kira-kira tahun 1600 sesudah Masehi, busur dan panah merupakan senjata utama setiap negara dan bangsa untuk berperang.
Hingga kini pun masih ada suku-suku bangsa yang mempergunakan busur dan panah dalam penghidupan sehari-hari mereka, seperti : suku-suku bangsa di hutan-hutan daerah hulu sungai Amazone, suku Veda di pedalaman Srilangka, suku-suku Negro di Afrika, suku-suku-suku-suku Irian di Irian Jaya, suku-suku Dayak dan suku Kubu.
Dari buku-buku dan keterangan-keterangan yang diperoleh oleh penulis, maka terdapat dua kelompok ahli yang mengemukakan dua teori yang berbeda. Dalam cerita pewayangan juga dijelaskan sejarah panah dan busur di Indonesia pun telah cukup panjang, melalui tokoh-tokoh pemanah seperti Arjuna, Sumantri, Ekalaya, Dipati Karno, Srikandi demikian pula Dorna
Mahasiswa Pendidikan Sejarah-Universitas Sanata Dharma| 181 sebagai seorang pembina dan pelatih panahan terkenal dalam cerita Mahabharata.
Diceritakan Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera. Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatria Madukara dengan segala isinya.
Dalam perang Bharatayudha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang dendam kepada Bisma. Sehingga di masa kerajaan pun panahan sudah berkembang di negara kita ini.
Organisasi panahan resmi di Indonesia dibentuk pada tanggal 12 Juli 1953 di Yogyakarta atas prakarsa Sri Paku Alam VIII dengan nama PERPANI (Persatuan Panahan Indonesia). Setelah Perpani dibentuk, Indonesia diterima sebagai anggota FITA (Federation International de Tir A L’arc ) dalam kongres di Osio, Norwegia. PERPANI selalu berusaha dan berhasil mengikuti kejuaraan dunia. Kejuaraan nasional pertama sebagai perlombaan yang terorganisir di Indonesia, baru diselenggarakan pada tahun 1959 di Surabaya.
Diterimanya Indonesia sebagai anggota FITA pada tahun 1959, maka pada waktu itu di Indonesia selain dikenal jenis panahan tradisional dengan ciri-ciri menembak dengan gaya duduk dan instinctive juga dikenal pula ronde FITA yang merupakan jenis ronde internasional,yang menggunakan alat-alat bantuan luar negeri yang lebih modern dengan gaya nembak berdiri. Menurut pemanah
182 |
Indonesia, menjadi anggota FITA mempunyai peluang untuk mengikuti pertandingan kelas internasional tersebut.
Upaya Pelestarian Tradisi Jemparingan
Dalam upaya pelestarian tradisi jemparingan dibentuklah Paseduluran Jemparingan Mataram Jawi Langenastro Ngayogyakarto (Paseduluran Jemparingan Langenastro) yang terbentuk dari kesamaan kegemaran warga Langenastran, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton. Komunitas ini dibentuk dengan bertujuan untuk melestarikan kebudayaan jemparingan tersebut. Kegiatan yang dilakukan dalam komunitas tersebut yaitu kegiatan yang memadukan unsur meditasi, silaturahmi serta untuk pengembangan tujuan wisata di Yogyakarta.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan yang dilakukan oleh Paseduluran Jemparingan Langen Astro untuk memberitahukan kegiatan yang mereka geluti kepada kelompok masyarakat luar. Mereka berinisiatif untuk menjadi pembimbing bagi para turis atau tamu dari luar kota yang ingin mengenal lebih mengenai warisan leluhur Mataram. Pemanah diberi kesempatan melepaskan anak panahnya dalam 20 rambahan (ronde) dengan 4 (empat) anak panah di setiap rambahannya.194 Anak panah yang menancap di bagian atas sasaran yang berwarna merah akan mendapat nilai 3 dan anak panah yang menancap di bagian putih dari sasaran akan mendapatkan nilai 1.
Melalui latihan jemparingan ini diharapkan anak-anak dapat tertarik dan ikut serta dalam pelatihan agar kebudayaan jemparingan dapat terus lestari di Yogyakarta dan dapat berkembang dalam olahraga panahan tradisional dan kegiatan pelestarian budaya tradisional di Yogyakarta.
194 https://www.youtube.com/watch?v=1T0o4F-ujsU. diakses tanggal 26 April 2017 pukul 20.50 WIB.
Mahasiswa Pendidikan Sejarah-Universitas Sanata Dharma| 183 Hingga kini, panahan masih sering dijadikan permainan dan perlombaan di berbagai acara di Yogyakarta, seperti acara HUT Kulon Progo ke-65 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kulon Progo di Alun-alun Wates bulan Oktober lalu, acara Yaqowiyyu yang digelar setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa, juga perlombaan-perlombaan yang diadakan oleh kampus-kampus di Yogyakarta. Perlombaan ini tidak hanya melibatkan para pemuda namun juga anak-anak.
Kesimpulan
Tradisi jemparingan telah ada sejak zaman kerajaan ratusan silam. Dahulu kala, tradisi ini dimainkan oleh para bangsawan kerajaan dan juga keluarganya. Raja Kerajaan Mataram pun menjadikan permainan ini sebuah perlombaan wajib di wilayah kerajaan kala itu. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai dimainkan oleh rakyat biasa sebagai bagian dari hiburan dan juga pelestarian budaya yang sangat berharga. Tradisi panahan jemparingan ini terus bertahan meski dalam beberapa waktu sempat meredup dan jarang dimainkan lagi, dan kini, jemparingan kembali muncul dan diminati oleh generasi muda.
Daftar Pustaka
Artanayasa Wayan I. 2014. Panahan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sumber Internet
Husna Imarotul Nudia. 2016. Filosofi Jemparingan, Tradisi
Panahan Kuno Asli Yogjakarta. 27 April 2017.
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/12/23/filosofi-jemparingan-tradisi-panahan-kuno-asli-yogyakarta, pukul 14:22 WIB.
Maharddhika Wibie, Thia Destiani. 2016. Jemparingan, Antara Meditasi, Silaturahmi dan Destinasi Wisata Panahan Tradisional Mataram. 27 April 2017.
184 |
Puspitha Juni. 2015. Makalah Panahan. 27 April 2017. https://junipuspitha.wordpress.com/2015/03/06/makalah-panahan/. pukul 14.30 WIB.
www.harianbernas.com/berita-8768-Jemparingan-Antara- MeditasiSilaturahmi-dan-Destinasi-Wisata-Panahan-Tradisional-Mataram.html pukul 14:28 WIB.
www.youtube.com andasta channel. diakses pada tanggal 26 April 2017 pukul 19.15 WIB.
www.youtube.com/watch?v=rHiKljB7OkE. diakses pada tanggal 26 April pukul 20.20 WIB.
www.youtube.com/watch?v=1T0o4F-ujsU. diakses pada tanggal 26 April pukul 20.50 WIB.
Mahasiswa Pendidikan Sejarah-Universitas Sanata Dharma| 185
/
Marcellino Richardo Toki Paka
AIDS merupakan suatu penyakit yang disebabkan retrovirus (HIV) yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh seseorang. Kasus AIDS sendiri pertama kali ditemukan oleh Gofflieb di Amerika Serikat pada tahun 1981, sedangkan virusnya (HIV) ditemukan dua tahun setelah ditemukan AIDS, oleh Luc Montagnier pada tahun 1983.
Kasus HIV/AIDS merupakan kasus, yang hampir setiap jam bahkan detik menelan banyak korban jiwa. Kasus ini sendiri tidak hanya menyerang orang dewasa ataupun remaja, bahkan anak-anak maupun balita dapat terjangkit penyakit ini.
HIV/AIDS pun menjadi kasus Internasional, karena hampir di setiap negara di dunia, termasuk Indonesia mengalami kasus yang sama, karena kasus tersebut tidak hanya mengganggu dari aspek kesehatan, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, dan demografi.
Sampai saat ini para pakar kesehatan dunia dan peneliti obat-obatan, belum menemukan obat dan vaksin untuk penyakit HIV/AIDS, yang diharapkan dapat menyembuhkan, atau membantu manusia agar tidak terjangkit penyakit HIV/AIDS.
Latar Belakang Munculnya Virus HIV Penyebab Aids
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh atau imunitas sehingga para penderitanya tidak bisa bertahan terhadap penyakit-penyakit lain
186 |
yang menyerang tubuh, seperti penyakit TBC, diare, sakit kulit, dan lain-lain.
Virus HIV sendiri ditemukan dua tahun setelah ditemukan penyakit AIDS yaitu pada tahun 1983 oleh Luc Montagnies. HIV adalah virus RNA, merupakan retrovirus yang terdiri dari sampul dan inti. Virus HIV terdiri dari 2 sub-type, yaitu HIV-1 dan HIV-2, virus ini menyerang sel limfosit-CD4 (salah satu sel darah putih). Di dalam sel Limfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif.195 Walaupun demikian virus HIV dalam tubuh penderitanya selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut.
Virus HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop). Bagian inti dari virus HIV berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA. Virus HIV hidup dalam darah, air mata, tetapi virus HIV dapat mati jika berada di luar inang atau tubuh penderita virus tersebut, karena virus HIV berkembang di dalam dan bersifat parasitisme.
Gejala HIV mirip dengan flu, hanya saja terjadi selama berminggu-minggu. Virus HIV yang menyebabkan penyakit menular AIDS, harus diwaspadai oleh masyarakat. Bagaimana tidak, tingkat infeksinya meningkat begitu tajam per tahunnya, dan terutama kasus ini sangat berbahaya bagi ibu hamil karena dapat ditularkan kepada anaknya melalui DNA dan RNA yang bereplikasi.
Sedangkan AIDS sendiri ditemukan pada tahun 1981 di Amerika Serikat oleh ditemukan oleh Gofflieb. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sindroma menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan HIV. AIDS merupakan penyakit yang terbilang parah karena belum ditemukannya obat untuk
195 Fazidah A Siregar, Pengenalan dan Pencegahan AIDS, Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara, 2004, hlm 3.
Mahasiswa Pendidikan Sejarah-Universitas Sanata Dharma| 187 mengobati penyakit ini, AIDS sendiri menyebabkan penderitanya bisa mengalami kematian.
Penyakit AIDS muncul pada manusia setelah manusia tersebut terserang virus HIV, butuh waktu 5-10 tahun agar bisa terkena penyakit AIDS, karena gejala yang ditimbulkan oleh virus HIV tidak kelihatan, tidak seperti penyakit AIDS yang memiliki gejala atau tanda-tanda, seperti kehilangan berat badan secara drastis, diare yang berkelanjutan, kurangnya nafsu makan, radang paru-paru, pembengkakan pada leher atau ketiak, dan batuk terus menerus. Jika ada orang yang menunjukkan salah satu dari gejala tersebut bukan berarti terinfeksi HIV/AIDS, tetapi untuk memastikannya ialah dengan memeriksa darah di puskesmas atau rumah sakit.
Secara umum ada lima faktor dalam maslah penularan suatu penyakit, yaitu sumber infeksi, vehikulum yang membawa agen (penyakit), host (kondisi tubuh) yang rentan, tempat keluar kuman serta masuknya kuman (port’d entree).196 Penularan HIV pada faktor pertama dapat dilihat pada sumber infeksi yang menjadi penyebab virus HIV itu sendiri, yang kedua dalam kelima faktor tadi, yaitu vehikulum yang membawa agen, artinya virus HIV menular melalui cairan yang terinfeksi, dan masuk ke dalam tubuh.
Banyak cara yang diduga pula menjadi cara penularan virus HIV, namun hingga kini ada 2 cara penularan HIV yang diketahui. Cara pertama adalah transmisi seksual, penularan ini terjadi melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun Heteroseksual. Risiko penularan HIV melalui cara ini tergantung pada pemilihan pasangan seks, jumlah pasangan seks dan jenis hubungan seks. Tetapi orang yang sering berhubungan seksual dengan berganti pasangan merupakan kelompok manusia yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV.
Cara kedua adalah Transmisi Non-Seksual, penularan ini terjadi tidak melalui hubungan seksual, ada dua hal mengenai
188 |
penularan HIV yang dibedakan dalam cara kedua ini, yaitu transmisi parenral, yaitu akibat penggunaan jarum suntik atau alat tusuk yang telah terkontaminasi, misalnya pada penyalahgunaan narkotik suntik. Risiko tertular cara transmisi parental ini kurang dari 1%. Kedua transmisi transparental, yaitu penularan dari Ibu yang mengidap HIV, pada saat itu mengandung dan anak tersebut mempunyai risiko sebesar 50%. Penularan terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan menyusui, tetapi penularan melalui ASI termasuk penularan dengan risiko rendah.
Kasus-Kasus HIV/AIDS di Indonesia
Kasus HIV/AIDS di Indonesia sangat bervariasi sesuai dengan negara kita sendiri terdiri dari beragam sosio-budaya termasuk perilaku sehingga merupakan hal yang tidak mungkin untuk menggambarkan hanya dengan satu gambaran saja, serta memaksakan keadaan di seluruh negara ini ke dalam satu kategori epidemi saja. Seperti yang dapat diperkirakan, negara Indonesia yang jumlah penduduknya kurang lebih 257,9 juta jiwa ini, setiap perilaku berisiko dalam penularan HIV/AIDS dapat ditemukan di Indonesia.
Indonesia yang merupakan negara berkembang juga mengalami kasus kesehatan yang sama, Indonesia telah mengenal HIV/AIDS sejak 30 tahun lalu, tetapi penanganannya masih dianggap lambat. Masih banyaknya lokalisasi, dan peredaran NAPZA yang menggunakan jarum suntik, menghambat Indonesia dalam menekan angka penderita HIV/AIDS. Masalah HIV/AIDS di Indonesia sudah menjadi masalah nasional, karena banyak para penderita HIV/AIDS di Indonesia meninggal dan banyak juga yang terjangkit virus ataupun penyakit ini.
HIV/AIDS di Indonesia menduduki peringkat pertama, dalam hal penyakit yang mematikan, bahkan Indonesia pernah menduduki peringkat ketiga dalam penyebaran dan penderita HIV/AIDS di
Mahasiswa Pendidikan Sejarah-Universitas Sanata Dharma| 189 dunia. Kasus HIV/AIDS yang pertama kali diketahui di Indonesia yaitu provinsi Bali pada tahun 1987 seorang wisatawan Belanda yang meninggal dan pada tahun-tahun berikutnya semakin banyak provinsi yang melaporkan.197
Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987 sampai dengan 2002, semakin banyak propinsi yang melaporkan, dan sampai dengan pada tahun 2002, terdapat 27 propinsi dari 30 propinsi telah melaporkan kasus HIV/AIDS. Jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi HIV tidak dapat diketahui. Namun para ahli Indonesia memperkirakan saat ini terdapat antara 80.000 hingga 120.000 orang Indonesia yang hidup dengan HIV.198
Dari tahun 1987 hingga 2002, Laki-laki menempati urutan pertama sebagai penderita virus AIDS (HIV), di ikuti oleh perempuan. Laki-laki yang menderita virus AIDS (HIV) mempunyai resiko tinggi untuk menularkannya kepada lawan jenis atau sejenis karena sifat laki-laki yang berhubungan seksual yang sering bergonta-ganti, dan persentasenya seperti berikut199
197 Achmad Sujudi, Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Jakarta: United Nations Programme on HIV/AIDS, 2002, hlm 5.
198 Achmad Sujudi, Op.Cit., hlm 6.